My Cold Senior

My Cold Senior
Cukup





Tinggalkan vote dan komentarnya ya


Agar author semangat lanjut ceritanya 😘



Happy Reading ♡♡



"Gue dimana?" Tekan Arva lagi.



Menggagalkan Mikaela yang baru saja memasuki gerbang mimpi, gadis itu terhenyak dengan suara bariton yang mengusiknya



Mikaela menggeram, kesadarannya sudah terkumpul tapi harus menghadapi manusia tak berperasaan macam ini? "Apa dosaku ya tuhan?" Kesalnya frustasi membuat Arva menghentikan pertanyaan bodohnya. Ya.. sangat bodoh ketika diperhatikan dari luar



"Kenapa kita tidur berdua?" Tanya Arva lagi sambil memegang kedua bahu gadis yang masih teduduk di lantai itu lalu mengangkatnya agar ikut berdiri sejajar dengan tubuhnya



Plak


Mikaela menepuk jidat Arva dengan telapak tangannya



"Sembarangan ! Aku tidur di bawah" tegasnya. Pertanyaan Arva itu membuatnya merasa seperti gadis nakal



"Tetep aja ini di dalam satu kamar" timpal Arva sambil mengelus puncak kepalanya yang dipukul tadi



"Sekarang jawab. Ini dimana? Kenapa kita bisa bareng? Sejak kapan? Lo.."



Mikaela mengacak rambutnya tak tahan dengan pertanyaan yang keluar secara bertubi-tubi seperti itu. ia menutup mulut Arva dengan tangannya agar berhenti



Hening


Arva sudah tak bergeming, Mikaela dapat bernafas lega mengistirahatkan telinganya dan melepas bungkaman tangannya



"Kenapa.."



"Arrrhhhh.." kesal Mikaela kembali mendengar suara Arva



"Cukup" bentaknya. Tau kan pas tidur lagi nyenyak terus kebangun karena rasa kaget? Gak enak kan? Rasanya pengen marah-marah dan ngacak-ngacak si pembuat onar. Nah ini yang sedang terjadi



"Gaada yang salah disini ! Masalahnya ada di kamu !" Tegas gadis itu menunjuk wajah Arva



"Sekarang kamu pergi" titahnya lagi sambil menunjuk ke arah pintu kamarnya



Arva tak bergeming ketika Mikaela mengeluarkan amarahnya, sampai gadis itu menyelesaikan ucapannya.



Arva memegang jari telunjuk Mikaela yang menunjuk-nunjuk wajahnya tadi, ia menggenggamnya kuat membuat Mikaela mengerutkan keningnya "Apa yang akan dia lakukan?" itu yang dipikirkannya



"Kenapa lo marah kayak gini?" Tanya Arva seraya menyudutkan tubuh mungil Mikaela hingga menabrak tembok di belakangnya



Mikaela tersentak, ia sadar apa yang baru saja ia lakukan. Kesadarannya sekarang membuat Mikaela tak berani berbicara lagi, bahkan melihat wajahnya pun ia tak berani.



Tok tok



"Ehmm.." Mikaela segera memalingkan wajahnya dan bangkit dari posisi duduknya



"Kael.." panggil pamannya, karena ketukan pintu tak membuat Mikaela menjawab



"I iya .. paman sebentar" Mikaela segera menghampiri pintu kmarnya



Cklek cklek


ia lupa, kalau pintunya terkunci. Dan kuncinya? "Arva" panggil Mikaela. Pria itu malah berbaring di atas kasur



"Arva mana kuncinya?" Mikaela menghampiri Arva dan menarik-narik lengannya agar segera bangkit dari tidurnya



Tok tok


"Iya paman sebentar"



"Ishh" Mikaela mencubit paha lelaki itu, membuat Arva meringis dan spontan mengubah posisinya menjadi duduk



"Mik.." keluh Arva karena cubitan itu belum juga dilepasnya



"Mana kuncinya.."



"Iya lepasin dulu"



Arva mengusap-ngusap bekas cubitannya.



"Mana?" Mikaela menyodorkan lengannya meminta kunci



Arva merongoh saku celananya dan mengeluarkan benda itu, ketika Mikaela hendak meraihnya maka Arva dengan cepat menyembunyikan benda itu di genggaman tangannya. Mikaela masih berusaha tapi Arva tak habis akal, ia berdiri.. maka Mikaela hanya biaa menggapai sebagian lengannya walau audah berjinjit



"Jangan main-main" keluh Mikaela yang tak sabar, ia takut pamannya berpikir macam-macam



Arva sedikit membungkukkan tubuhnya lalu menunjuk-nunjuk pipi kirinya berulangkali



Mikaela yang mengerti apa maksud dari pria menyebalkan ini hanya bisa melenguh, apa lagi kalau harus menurutinya? Kalau enggak ya dia gak akan nyerah



Mikaela mendekati pipi Arva untuk mengecupnya, sesingkat mungkin.



"Ya ampun lama banget.. lagi pada ngapain?" gumam Erik penasaran





"Ada apa paman?" Tanya Arva dari balik pintu yang baru saja terbuka



"Ini.. tadi buka pintunya kok lama? Kan paman khawatir.. takutnya kalian.."



"Ehmm gak ko kita gak ngapa-ngapain" serobot Mikaela



"Huh.. memangnya kalian ngapain?" Tanya Erik kemudian, bukannya terhindar Mikaela malah membuat pamannya menjadi curiga



"Itu bibir kamu kenapa berdarah?" Tanya Erik pada Arva



"Huh .." Arva menyentuh bibirnya, dan benar saja bercak merah menempel pada jarinya



"Ehmm.." Arva berdeham lalu melirik Mikaela yang wajahnya sudah sangat merah



"Tadi Arva kepeleset terus kepentok nakas" jawab Mikaela



"Huh.." Erik segera melirik ke arah Arva untuk memastikan jawabannya



Arva hanya menarik ujung bibirnya sebagai jawaban. Bukankah gadis itu yang mendorongnya? "kepeleset pala lo peyang" gumam Arva pelan, mungkin hanya Mikaela yang dapat mendengarnya, terbukti dengan mendaratmya sebuah cubitan pada pinggangnya



"Oohh .." Erik ber oh ria yang akhirnya membuat Mikaela bernafas lega



"Sudah mau tengah malam, apa kamu mau pulang atau menginap saja?" Tanya Erik sekaligus menawarkan sesuatu yang membuat Mikaela melebarkan matanya



"Enggak paman, Arva harus pulang.. ya kan?" jawab Mikaela segera



"Huh,"



"Kalau gak pulang ibu nya pasti marah" lanjutnya lagi



"Tap.."



"Ahh ayo aku antar kedepan" potong Mikaela lagi sambil mendorong tubuh Arva melewati pamannya.



Sampai di ujung pintu, Arva memutar tubuhnya "Iya gue pulang" putusnya.



Arva memegang kedua bahu Mikaela lalu meremasnya "Dia pernah lukain lo, jadi kalo dia macem-macem selagi gue gaada, Gue ga akan biarin dia muncul lagi" pungkasnya



Mikaela tak bergeming "Apa maksud pria ini? Batinnya



"Ke.. kenapa begitu?" Tanya Mikaela membuat Arva yang sudah berniat untuk pergi kembali mengurungkan niatnya



Glek


Mikaela menelan ludahnya berat ketika Arva menatap tak suka dan menghampirinya kembali



Mikaela menjatuhkan pandangannya lalu menggigit bibir bawahnya




Arva membawa dagu Mikaela yang mengarah ke samping untuk mengarah kedepan



"Lo gak suka? ini demi kebaikan lo" Tanyanya



"Oke aku mulai paham, tapi kamu gak punya hak. Lagian waktu itu dia mukul aku karena gak sengaja.."



Arva berdeham ketika mendengar pembelaan dari gadis itu lalu lalu mengusap rambut panjangnya



"Heyyy.." panggil Mikaela ketika Arva menyerobot kembali masuk kedalam



"Ar.. va.." panggil Mikaela tertahan ketika melihat Arva sedang terduduk lemas di sofa dengan pamannya yang mau-maunya memijit leher belakang pria itu yang terkesan kayak orang masuk ngin



"Kamu nginep aja dari pada kenapa-napa di jalan" ucap Erik



"Maunya sih paman, tapi Mikaela.." Arva menggantung ucapannya lalu melirik ke arah pintu, dimana gadis itu masih mematung disana



"Kayaknya Mikaela gak ngebolehin" lanjutnya dengan nada memelas



"Siapa bilang?" Erik menyadari Mikaela yang akan kabur ke kamarnya



"Kael .. kamu tidur sama Nayla ! Biar Arva tidur di kamarmu" titahnya



Mikaela mengernyitkan keningnya "Gimana mungkin? lagian Nayla pasti gamau" keluhnya dalam hati



"Iya pah.. Mikaela biar tidur di kamarku" ucap gadis yang tak ada angin tak ada hujan tiba-tiba nongol di balik pintu kamarnya



"Huh? Gak salah denger?" Mikaela menatap heran melihat sikap manis Nayla yang gak pernah ia dapatkan sejak pertama disini



Arva menggaruk lehernya, berniat ingin berduaan tetep gak bisa kekabul. Ya lagian ini di rumah si cewek "kalo mau bebas harusnya di rumah gue" batinnya pasrah



"Kaka udah mau tidur?" Tanya Nayla pada Arva yang sudah bangkit dari sofa. Arva hanya tersenyum lalu mengangguk mengiyakan.



Seketika gadis itu seperti dipaku. Tubuhnya menempel di posisinya, senyum itu bener-bener bikin meleleh kalo seandainya dia jadi es batu.



Mikaela memutar matanya, sudah pasti gadis itu terkena sihir pria sakti itu. Sama seperti semua gadis di kampusnya, menyukai keindahan hanya dari penampilan luar "Oekk mau muntah" tanpa ba bi bu Mikaela segera masuk ke kamar Nayla dan menjatuhkan tubuhnya di kasur yang lebih besar dibandingkan miliknya



"Eehhh suruh siapa lo tidur disitu?" Protes Nayla setelah menutup pintu kamarnya



"Ya terus dimana?"



"Di bawah !!" Titahnya



"Ckk" Mikaela bangun dari baringannya mengarah ke pintu mau keluar



"Eeehhh lo mau kemana?" Cegahnya



"Mending tidur di sofa"



"Enggakk! Ntar papa kira gue ngusir lo lagi"



"Emang kenyataannya" gumam Mikaela pelan



"Gak! Lo tidur disini titik" ucap Nayla memaksa



"Daripada di bawah? mending di sofa" putus Mikaela tetap dengan pendiriannya. Ngapain dia so baik coba kalo akhirnya nyuruh tidur di bawah kan?



"Plis jangan" Nayla menghalangi pintu dengan tubuhnya



"Apaan si ni anak aneh banget" gerutu Mikaela dalam hati



"Nanti cowok ganteng itu suudzon sama gue" ucapnya pelan



"Apa??" Mikaela menarik nafas sedalam mungkin lebih dari apa yang pernah ia lakukan selama ini



"Cowok rese itu?"



"Ko rese sih?" Lawan Nayla tak terima



"Dia ganteng banget!! lo buta ya?" protes Nayla segera



"Terus kayaknya dia perhatian gitu pas tadi gendong lo kesini, ishh kenapa gak gue aja sih?" ucapnha iri



"Ambil aja kalo mau"



"Serius?" Tanyanya sambil memegang tangan Mikaela dan meremasnya



Mikaela bergidik ngeri dengan perlakuan sepupunya saat ini. Kalo boleh milih kayaknya mending dijudesin kayak biasanya dari pada begini



Nayla masih setia menunggu jawaban dengan tatapan berharapnya. "Bohong kan lo" lanjut Nayla menghempaskan tangannya kasar



"Kamu yakin?" Mikaela melipat tangannya di depan dada membuat sepupunya memicingkan matanya



"Di kampus banyak banget yang lebih keren" bohongnya, padahal sudah jelas pria itu paling idaman disana



"Serius?" Tanya Nayla meyakinkan dengan mata berbinar



"Lo serius ? Beneran ?" Tanyanya lagi sambil memegang lipatan lengan Mikaela



Mikaela mengangguk mengiyakan



"Ya ampun.. jadi gak sabar gue pengen cepet lulus" Nayla merangkul bahu Mikaela menuju kasurnya



"Eh ceritain dong .. gue juga kan pengen, apalagi itu temen lo kayaknya tajir melintir gitu. Sempurna banget keknya hidup dia gada susah-susahnya" celoteh Nayla membuat Mikaela mendengus malas



"Heyy.. ceritaaa"



"Hoaaamm .. gue ngantuk" Mikaela menguap sambil meregangkan tubuhnya, ia menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang yg sedikit lebih besar dibanding miliknya.



Nayla segera membenahi bantal dan menepuk-nepuknya mempersilakan gadis yang mulai sekarang jadi sumber info baginya



"Cuman karena cowok dia begini?" Batin Mikaela sambil menarik ujung bibirnya dan segera membaringkan tubuh juga pikiran lelahnya


_____________________



Tap tap


Suara derap langkah di bangunan kosong itu menggema jelas di telinga



Arva menutup kuat telinganya, kakinya ditekuk dan kepalanya terbenam disana.



"Anak kecil" panggil wanita itu



"Kamu mirip sekali dengan pria yang kucintai" ucapnya sambil mengelus kepala Arva kecil yang menunduk



Seluruh tubuh Arva bergetar, ketakutan yang amat sangat menyelimutinya. Ia mengangkat kepalanya, berusaha melawan ketakutannya tapi tatapan wanita itu membuat ketakutannya semakin bertambah, dengan riasan wajah yang mencolok itu membuatnya seperti hantu bagi Arva



"Ssssttt" ucapnya pada gadis kecil di sebelah Arva yang terisak



"Aku bilang berisik!!" Teriaknya berbarengan dengan bantingan keras kursi kayu di sebelahnya



Nafas Arva berderu kencang. ia membuka matanya terbangun dari sebuah kilasan tak jelas. Sebuah mimpi yang belakangan ini terus muncul






Please votement !!