
Tinggalkan like dan komentarnya ya
Agar author semangat lanjut ceritanya 😘
Happy Reading ♡♡
"Mikaela.." panggilnya spontan terbangun dari tidurnya. ia melihat tak ada siapapun di sampingnya
jam menunjukkan masih pukul 2 pagi. tidak mungkin Mikaela sudah bangun tanpa memprotes keberadaan pria yang tanpa izin tidur di kamarnya dan bahkan memeluknya.
Arva keluar kamar untuk menemukan gadisnya. ia mendengar suara kucuran shower dari dalam kamar mandi. "sepagi ini?" gumamnya
"Mik.." panggilnya pelan di balik pintu
hening
tak ada jawaban selain suara air
Cklek
pintunya tak dikunci. Arva membuka lebar pintu itu
"Mikaela.." Arva segera mematikan shower itu lalu merengkuh tubuh gadis yang sedang duduk memeluk kakinya yang ditekuk dengan pandangan kosong dibawah guyuran shower
Arva menepuk-nepuk pipi Mikaela agar segera tersadar entah dari alam mana yang sedang menganggunya. yang jelas ini bukan masalah sepele
Mikaela terlihat sangat mengkhawatirkan, ia seperti mayat hidup, tak ada respon yang diberikan tubuhnya namun masih bernafas layaknya orang sehat
Arva segera meraih handuk yang menggantung dibalik pintu lalu dibalutkannya pada gadis yang sudah pucat pasi dan segera membawanya ke kamar
"Mikaela.." panggil Arva lagi setelah mendudukannya di kursi depan cermin besar samping ranjangnya
Arva menggosok lengan dingin Mikaela dengan lengannya, untuk membuatnya hangat. ia menggosok rambut basah Mikaela dengan handuk kering yang lain
"Bajunya juga basah, gak mungkin kan kalo gue yang ganti? gue harus ngapain??" pikirnya frustasi
Gak mungkin juga harus bangunin orang rumah di jam segini
Arva ******** bibirnya kuat "Tak ada pilihan lain" putusnya. Hanya ini yang nisa membuat suhu tubuhnya kembali normal
Arva memegang tengkuk Mikaela lalu mendekatkan wajahnya sampai bibirnya menyentuh benda kenyal milik Mikaela yang sudah pucat pasi
Tiba-tiba rasa sakit pada kepalanya mencuat. Arva tak menghiraukannya, ia menahan kesakitan yang amat sangat tak tertahan itu.
Arva menekan kedua matanya kuat, alam sadarnya serasa berganti.
Perlahan Arva membuka matanya lalu mengerjapkannya beberapa kali ketika melihat gadis yang sedang sda dalam rengkuhannya
Ia melepaskan pagutannya yang sudah lama berhenti, ia mengabsen wajah gadis itu kemudian menyadari apa tujuan dari perbuatan kepribadiannya yang baru saja hilang dari tubuhnya
Mencium orang tanpa disadari oleh orang yang menerimanya itu lebih buruk dibanding mendapatkan penolakan. tapi apa boleh buat??
Arva kembali memagut bibir Mikaela dan memperdalamnya. Kelembutan menjadi sebuah tuntutan, membuat gadis itu mulai membalas ciumannya.
Arva menarik pinggang Mikaela agar duduk dipangkuannya, dan itu lebih cepat membuat suhu tubuhnya panas
Mikaela yang seakan baru terbangun dari mimpinya melakukan perlawanan yang seperti biasa ia lakukan. ia mendorong tubuh Arva dan segera bangkit dari pangkuannya
"Kamu ngapain?" amuknya segera menutup dan melap mulutnya dengan kasar
Arva terpsku, ia senduri bingung dengan apa yang sudah terjadi padanya, ia hanya melanjutkan pesan dari dirinya yang lain
"Tunggu disini" titah Arva sambil mengelus pipi gadis yang terus terang langsung menolak sentuhan yang membuatnya risih tak nyaman
"Dan cepat ganti baju basah lo itu sebelum gue balik kesini ! atau gue bakal ngeliat semuanya" sosok itu muncul lagi di balik pintu dan segera pergi ntah kemana
Mikaela masih dengan ekspresi dongkolnya. Ia malu sekaligus kesal dengan tingkah pria yang selalu seenaknya ini. ingin sekali ia meringkus dan membungkusnya kedalam karung lalu membuangnya ke kali besar di belakang rumahnya
"Gue mau nanya sesuatu" Arva memecah keheningan
Glek
tatapan serius pria yang melontarkan pernyataan itu membuat Mikaela menelan salivanya berat
"Sebenernya lo kenapa?" tanya Arva to the point
"Kenapa? siapa yang kenapa??"
"Lo jangan bohong" sargah Arva. ia tau pasti kalau Mikaela menyembunyikan sesuatu darinya
"Tadi lo ngurung diri di kamar mandi Mikaela, gue yakin lo pasti tau apa yang lo lakuin"
"Di kamar mandi? ngapain?"
"Ya itu, lo ngapain malem-malem disana?? basah kuyup sampe badan lo menggigil kayak tadi" Arva membawa bahunya untuk membuat gadis itu berhadapan dengannya
"Kalo gue gak sadar tadi, mungkin lo bakal mati kedinginan disana"
Mikaela tertawa kecil karena penuturan Arva yang dianggapnya terlalu lebay "yah enggak lah" sangkalnya "lagian cuman air doang. ini indonesia! suhu disini normal" lanjutnya
"Oke terserah. yang mau gue tanyain, kenapa lo sampe kayak gitu?"
Mikaela berdeham sedang memilah alasan apa yang tepat untuk menjawab pertanyaan Arva yang mulai mengusik kehidupannya ini
"Mungkin aku ngigo" bohongnya dengan mimik wajah yang meyakinkan
"Oh ya aku belum beresin kamar kamu! kalo bibi tau nanti aku kena marah" ucap Mikaela sambil keluar dari kamarnya sebelum pria itu menyelidiknya lebih dalam
Mikaela sendiri gak tau apa yang terjadi dengan dirinya. yang jelas ia harus hidup dengan ketenangan, jauh dari kekerasan dan kepanikan atau ia akan kesulitan bernafas sampai obat yang menemaninya sejak kecil itu memasuki kerongkongannya.
yang ia ingat, semalam ia mimpi hal aneh.
_____________________
"Hemmm bagus yaaa.. setelah kabur ninggalin gue di kafe lo bisa senyum tanpa beban kayak gitu??" protes Rani yang melihat kedatangan Mikaela di tempat duduknya
"Aduuhh maaf Rannn" ucapnya menyesali
"Ngasih kabar atau apa kek gitu dihubungin malah gak aktif"
ia ingat, waktu itu Arva mencegahnya untuk menghubungi sahabatnya ini.

"Ceritanya panjaaang Ran.." ucap Mikaela merajuk
"Terus emangnya lo kemana? gue kan takut lo kenapa-napa"
Dengan berat hati Mikaela menceritakan apa dan kenapa ia bisa hilang pada saat itu. Mikaela bercerita dari A sampai Z dengan apa yang menimpanya tanpa terkecuali.
Rani membulatkan bola matanya terkejut "Sumpahhhh??"
"Gue heran deh sama tu cowok. kenapa tingkahnya berubah-ubah kayak gitu" ucapnya menelisik
Mikaela hanya menggedikkan bahunya sebagai jawaban. ia tak mungkin menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada Arva, itu bukan bagiannya. biar cukup dirinya saja yang tau, itu bukan sesuatu yang harus dibanggakan
___________________
"Hey.." sapa Melvin yang langsung duduk di samping kursi Mikaela. bergabung di tengah-tengah kedua gadis yang sedang menunggu pesanan baso nya datang
"Rani bilang lo gak ada kabar sejak malam itu? lo gapapa kan?" tanya Melvin dengan kekhawatiran yang tersirat di wajahnya sambil menyentuh lengan Mikaela yang ada di atas meja
Melihat hal itu membuat batin Rani serasa disayat kecil. pasalnya belakangan ini perasaannya mulai aneh, ia melihat sesuatu yang berbeda dari Melvin. memang benar sejak pertama kali bertemu ia sudah menyimpan rasa kagum. tapi kali ini perasaannya seperti jauh lebih besar, jauh lebih penting dari sekedar rasa kagum
Ia tau tak akan punya kesempatan. sudah terlihat jelas kalau kakak tingkatnya ini menyukai sahabatnya. itu sudah sangat kentara dengan perhatian yang pria itu berikan dengan suka rela. walaupun pada dasarnya memang Melvin selalu baik pada semua orang, tapi lain lagi dengan Mikaela. kebaikannya bukan hanya sekedar sifatnya saja, ada yang lain disana
"Ngapain lo megang-megang tangan pacar gue?"
•
•
•
Please like and comment !!