My Cold Senior

My Cold Senior
Milik Gue



Happy Reading ♡♡



Rani menggertakkan gigi rapi miliknya. Ternyata gadis yang selalu ia anggap polos itu hanya sebuah topeng??


"Ini yang dimaksudnya gak suka?" geramnya tak habis pikir. Kenapa harus bohong? bukankah Rani sudah merelakan pria yang disukainya?? tapi gak kayak gini caranya


Rani segera merogoh ponselnya lalu memanggil salah satu kontak yang sedari tadi sudah menghubunginya beberapa kali


_______________________


"Bagus" gumam Vanya di sudut lainnya. Padahal rencana awal yang ia buat tak sebagus ini, tapi takdir berkata lain "Kali ini lo gak bisa selamat" lanjutnya menyeringai


Vanya mengabadikan adegan saling pagut itu dengan ponselnya "Arva pasti jijik banget sama lo" cibirnya lagi merasa menang


Kedua lengan yang hampir dikalungkan pada leher Melvin tiba-tiba ditarik seseorang dengan kasar


"********" geram Arva segera menarik kerah pria yang terkejut dengan kedatangannya


Ia menatap nanar pria yang selalu menjaga image nya ini.


"Gue bisa jelasin" ucap Melvin


"Bacot"


Bugh


Pria itu menghantam tubuh Melvin beberapa kali, sampai pria itu terkulai lemas di lantai


"Udahh.." tahan Rani


"please" pintanya lagi pada Arva yang masih belum puas dengan perbuatannya


"Gue gak nyangka lo serendah ini" tekan Rani pada Mikaela yang masih menahan kesadarannya sekuat tenaga


"Ran.." panggil Mikaela susah payah


Rani menepis tangan yang ia anggap sebagai sahabatnya itu. Mungkin setelah ini sebutan itu tak pantas lagi untuk mereka


Arva masih bungkam dan fokus dengan setirnya, ia masih tak percaya dengan apa yang ia lihat tadi. Kelakuan gadisnya yang memang bukan seperti Mikaela sebenarnya


"A aku.."


"Murahan" cibir Arva membuat Mikaela menghentikan ucapannya.


Gadis itu masih merasakan hal aneh pada tubuhnya, ia masih berusaha menahan rasa panas yang sudah menjalar sampai otaknya


Buliran bening mulai berjatuhan dari pelupuk matanya "Murahan?" gumam Mikaela miris


Arva menyeret paksa gadis membangkang itu keluar dari mobilnya "Arva sakit" ringis Mikaela menahan pergelangan tangannya yang sudah merah


"Masuk" tekan Arva. Harusnya jika sakit maka jangan lakukan perlawanan, maka pria itu pun tak akan sampai sekasar itu. Tapi Mikaela? ya gadis itu memang tak mau mengalah


Arva segera mengangkut tubuh kecil itu keatas bahunya, tanpa menghiraukan apapun lagi, telinganya sudah tuli karena amarah yang sudah tak bisa lagi ia tahan


"Arva aku mohon jangan begini" pinta Mikaela lemah ketika pria itu menurunkannya didalam bathtub


Arva meraih shower lalu mengguyur tubuh gadis itu tanpa menghiraukan keluhannya


"Arva udaahhh.." tangis Mikaela. Ia tau betul apa yang sudah membuat pria itu sangat marah terhadapnya, tapi ini bukan perbuatan akal sehatnya


"Kenapa kamu gak percaya sama aku?" keluh Mikaela lagi dengan isakan yang mulai melanda


Arva menghentikan perbuatannya, ia membanting shower yang dipegangnya lalu melengang pergi, meninggalkan gadis yang sudah basah kuyup dengan dress nya


Setelah beberapa menit mematung disana, Mikaela pun memberanikan diri keluar dari ruangan basah itu


Mikaela melangkahkan kaki nya perlahan lalu menampakkan sosok pria yang sedang mondar-mandir menetralkan emosinya. Kali ini kepribadian itu tak muncul ketika ia memukul habis pria tak berprinsip tadi, rahangnya kembali mengeras ketika otaknya kembali mengingat kejadian itu


Mikaela tak bergeming, ia hanya memeluk tubuhnya sendiri tanpa berani mengeluarkan sepatah kata pun


Arva menghembuskan napasnya berat, ia mendekati gadis yang masih terisak itu lalu mengangkat tubuh kecilnya ke atas meja


"Papi kamu bener, aku emang wanita ******" tutur Mikaela menahan isaknya


Arva membungkam mulut gadis itu dengan telunjuknya "Lo gak kayak gitu" sangkal Arva


"Tapi kamu percaya kan dengan apa yang terjadi tadi?"


"Aku benci dengan diriku" ungkap Mikaela sambil memukuli dirinya sendiri


Arva segera meraih selimut tebal miliknya lalu melingkarkannya pada tubuh gadis yang mulai menggigil itu


Mikaela menghentikan pergerakannya "Semua yang terjadi gak seperti yang kamu liat, aku mohon kamu percaya" tuturnya sedih.



"Gue percaya" ucap Arva seraya memeluk gadis yang sudah dirindukannya ini.


"Maaf aku gak bilang" isak Mikaela menyesali kesalahannya. Ia mulai menyadari posisinya sebagai pacar dari seseorang yang harus ia hargai keberadaannya


"Tadi Rani sibuk sama temennya, terus ada cowok yang nyamperin ngasih minuman. Tiba-tiba kak Melvin dateng, bikin cowok yang gangguin aku itu gak nyaman dan pergi. Terus pas aku refleks minum air yang dikasih cowok tadi tiba-tiba.."


Arva melepaskan pelukannya, melihat wajah gadis yang menghentikan penjelasan yang merupakan inti dari permasalahannya


"Tiba-tiba ?" ulang Arva menuntut kelanjutan ceritanya


Mikaela menggelengkan kepalanya, ia tak mampu melanjutkannya. Rasanya itu terlalu menjijikan "Tapi aku gak tau kenapa kak Melvin gak nolak aku" tuturnya lagi meloncati penjelasannya ke tahap selanjutnya


"Tapi kak Melvin gak salah, dia.." Ucapannya terhenti ketika Arva membungkamnya dengan mulutnya


Arva mencecapi mulut gadis itu tanpa sisa, ia akan menghapus jejak pria sialan yang sudah mengambil kesempatan mencekam itu


Mikaela tak melawan, ia mulai mengikuti arah permainan Arva. Gadis itu kembali merasakan hal aneh pada dirinya, ia semakin memperdalam ciuman yang tak kunjung dirasa puas ini


Napas Arva tersengal, dahi yang saling bersentuhan dengan gadis yang saat ini keadaannya tak jauh beda dengannya


Mikaela meremas kuat kerah pria itu, berniat untuk mengulang aktifitasnya.


"Lo yakin? gue gak akan bisa menahan diri lagi" ucap Arva memberi kesempatan pada gadis ini untuk segera mengurungkan niatnya


Mikaela tak bergeming, ia menatap nanar sorot mata yang sudah dipenuhi hasrat itu lalu menganggukkan kepalanya pelan


"Hilangkan ingatan menjijikan di masa laluku" tutur Mikaela sambil meoloskan bulir bening dari ujung matanya


Arva meraih resleting yang ada di bagian belakang dress yang dipakai gadis itu lalu membukanya perlahan


Bersamaan dengan itu Mikaela menutup kuat matanya, sentuhan yang ia terima mengingatkannya pada kejadian kelam waktu itu. Pelecehan yang terjadi pada usianya yang masih sangat kecil, ia mengingat cuplikan itu dengan jelas setelah sekian lama melupakan segalanya


Arva kembali memagut bibir Mikaela lalu menjatuhkan tubuh keduanya di atas kasur king size miliknya.


"Nikmatin semuanya" bisik Arva pada telinga gadis itu sebelum akhirnya memberi rangsangan pada cuping telinganya.


Arva menatap dalam mata Mikaela, seolah meminta izin dan berusaha meyakinkan gadis itu bahwa semuanya akan baik-baik saja


Mikaela menganggukkan kepalanya pelan, untuk memberikan kendali penuh pada pria itu.


Arva mengecup kening Mikaela pelan dengan tangannya yang mulai mencengkram kedua tangan gadis itu


Mikaela mengerutkan keningnya, ia merasa ada sesuatu yang hancur dalam dirinya "Arvaaa" teriaknya menahan sakit yang pertama kali ia rasakan


Arva kembali memagut bibir Mikaela, mengalihkan fokus gadis itu agar menyamarkan rasa sakitnya


"i love you" geram Arva setelah merasakan dirinya yang sudah akan sampai pada puncaknya


"Mikaela.." geramnya lagi sambil menghentakkan tubuhnya beberapa kali


Cup


Arva mengecup dahi Mikaela pelan, ia mengusap butiran bening yang lolos membasahi pipinya


"Lo milik gue" bisik Arva pada telinga Mikaela, memberikan klaim yang sudah tak bisa lagi dibantah oleh siapapun





♡♡PLEASE LIKE AND COMMENT♡♡


Follow instagram


👉@Lovelyliy_👈