
Tinggalkan like dan komentarnya ya
Agar author semangat lanjut ceritanya 😘
Happy Reading ♡♡
"Arva mending aku pulang aja ya" tahan Mikaela
"Pulang kemana?"
Mikaela hanya ******** bibir nya tak menjawab, membuat Arva berdecak dan kembali menarik lengannya untuk melanjutkan langkahnya
"Ke rumah.. ke rumah kamu aku janji" tahan Mikaela lagi dengan wajah sungguh-sungguh
Arva menghentikan langkahnya lalu melirik ke arah suara, membuat Mikaela menampilkan puppy eyes nya lalu dibalas dengan senyuman yang serupa olehnya
"Gue gak percaya" ucap Arva, menghapus harapan yang kemungkinan terjadi
"Oyy" suara bariton muncul beserta lambayan tangan dari kejauhan membuat Mikaela melenguh, ia tak bisa berbaur dengan teman-teman Arva yang selalu menggodanya itu
"Hey Mik" sapa Vino
"Sini duduk" ajak Rendra namun segera ditolak mentah-mentah oleh Arva
"Yaelahhh" gumam Rendra
"Gue ganti baju dulu" ucap Arva lembut
"Iyeee sonoooo" celetuk Rendra
"Mulut lo belum pernah ditimpuk sepatu ya?" protes Arva
"Ya lagian so manis banget, jijik gue" ledek Rendra sambil menampilkan ekspresi jijay nya
"Wuahh ngajak ribut lu ya" ucap Arva sambil mengambil kuda-kuda untuk persiapan ala orang akan berkelahi, begitupun dengan Rendra yang melakukan hal serupa
Mikaela mulai tak nyaman "Arva udah" tahannya yang tak dihiraukan sama sekali, seolah tak mendengar
"Udah Mik, biarin aja mereka udah biasa kayak gitu ko" tutur Vino penuh pengertian
"Biasa kamu bilang? biasa apanya?" protes Mikaela
"Arva udaaahhhh" Mikaela memeluk tubuh Arva dari belakang untuk menahan pergerakannya, berbarengan dengan aktifitas telapak tangannya yang membentuk batu sedangkan lawannya membentuk kertas
"Yessss" sorak Rendra dengan keberuntungannya sedangkan Arva terpaku dengan perlakuan Mikaela padanya
Melihat adegan manis itu membuat Vino lebih baik melanjutkan olahraganya mengangkat beban, sedangkan Rendra menghentikan kebanggaannya yang berubah menjadi penyesalan
Mikaela yang menyadari kekeliruannya segera melepaskan lingkaran tangannya pada tubuh tegap itu, ia menundukkan kepalanya seraya menyumpah serapahi tubuhnya yang tak bisa dikendalikan
Arva hanya tersenyum melihat gadis yang sedang dilanda malu itu, ia mengelus rambut Mikaela lembut lalu melanjutkan niatnya yang tertunda
"Gak usah malu kali Mik" goda Rendra yang kalah dalam hal ini
Rona merah masih terlihat jelas pada wajahnya, perlahan Mikaela kembali duduk di posisi awalnya "Dia banyak senyum sekarang, gue salut sama lo" ujar Vino sambil mengusap keringat dengan handuk kecilnya
"Huh" gumam Mikaela mendengar penuturan tak biasa itu
"Sekarang gue percaya dia punya hati, buktinya bisa luluh juga sama cewek" lanjut Vino sambil menarik ujung bibirnya
"Tapi serius gue baru liat perlakuan dia yang lembut banget, lo apain dia sih?" tanya Rendra, menampilkan jiwa kekepoannya
"Jangan gangguin cewek gue" protes Arva karena melihat mimik wajah pacarnya yang tak biasa

Sudah hampir 2 jam Mikaela menunggui yang disebut-sebut sebagai pacarnya ini. Mungkin mulai sekarang ia harus mencoba untuk menerimanya.
Coba saja sifat pemaksanya dikurangi sedikit, mungkin perasaannya akan tumbuh lebih cepat. Menyadari tingkah jantungnya yang memang selalu tak teratur ketika pria itu di dekatnya
"Dapet dari mana kunciran rambut kayak gitu?" gumam Mikaela mulai memikirkan hal-hal yang tak sepantasnya dipikirkan, ia tertawa kecil membayangkan bagaimana pria itu membeli benda yang menguncir rambutnya "Mungkin harganya sama kayak setelanku ini" batinnya lagi
"Ayok" ajak Arva yang tiba-tiba sudah ada di depannya. Sejak kapan? kunciran itu membuat pikiran gadis cantik ini kemana-mana
Deg
Mikaela memalingkan pandangannya, otot di sekitaran tubuh penuh keringat itu berhasil membuat jantungnya berpacu lebih cepat berkali lipat
Dengan susah payah Mikaela meraih handuk yang terjuntai pada kursi yang tadi ia duduki, lalu memberikannya pada pria berkeringat itu tanpa berani melihatnya untuk yang kedua kali, atau mata suci ini akan meminta lebih
Glek
Mikaela menelan ludahnya. tetesan keringat pada pelipisnya kenapa terlihat indah dan enak dipandang? ia baru merasakan hal seperti ini. Bukankah harusnya itu menjijikan??
Mikaela menggelengkan kepalanya, membuyarkan pikirannya yang mulai terkontaminasi.

"Kenapa duduk disitu?" protes Arva tak habis pikir
"Aku capek, kita pulang aja ya?"
"Apa gue harus berbagi baju sama lo?" ucap Arva sambil membawa tubuhnya untuk berjongkok, menyetarakan tingginya dengan gadis yang tak bersemangat di hadapannya
"Aku bawa baju kok" bela Mikaela
Arva menggeleng tak setuju "Apa mau gue gendong?" tanya Arva membuat kesepakatan
Mikaela berdecak, ia bangkit dari posisi nyamannya dan kembali membuntuti pria itu untuk mengelilingi mall yang besarnya akan membuat dirinya tersesat kalau saja pergi sendirian
"Ada yang bisa saya bantu?" tawar salah satu pegawai yang keliatannya sudah umur 30 tahunan, sebab pegawai muda yang lainnya malah sibuk memandangi ke satu arah dengan serempak.
Yup, siapa lagi kalau bukan melihat seseorang yang ada di samping Mikaela?
"Rombak pacar saya" ujar Arva pada pegawai yang tadi menawarkan bantuannya
"Baik tuan, mbak ikut saya" ajaknya pada Mikaela yang terpaksa mengikuti langkahnya
"Rombak?" gumam Mikaela tak terima. Memangnya dandanannya senorak itu? pria ini sungguh membuat otaknya mendidih

Arva mengabsen objek yang dilihatnya dari ujung kaki sampai ujung kepala "cantik" gumamnya pelan
"Good job, nanti saya tambah tips nya" pungkas Arva membuat pegawai tersebut tersenyum sumringah
Mikaela hanya diam, tak memberikan ekspresi apapun, ia sudah merasa jadi boneka barbie sekarang. Bahkan hanya untuk pakaian saja musti dipakaikan orang lain

"Liat apa?"
Mikaela menoleh ka arah suara yang begitu dekat dengan telinganya. Rasa kejutnya bertambah ketika apa yang ia lakukan itu membuat hidungnya menyentuh wajah pria yang berada sangat dekat dengannya
Jantungnya serasa berhenti, waktu pun seketika tak memberi tanda-tanda berjalan dengan semestinya
Cup
Arva mengecup kening Mikaela lembut lalu setelahnya mengelus puncak kepala gadis yang hanya bisa mengerjapkan matanya
Kesadaran Mikaela kembali ketika pria itu mengukir senyumnya "Huh" ia memalingkan pandangannya lalu berusaha menetralkan napas yang seperti tersangkut dalam tenggorokannya
ya ampun sosweet banget sih
beruntung banget si jadi cewek itu
ya tuhaannn udah ganteng maksimal, kaya raya, terus romantis gitu huhu sisakan untukku
Mikaela segera menundukkan kepalanya, ia seketika merasa ciut dan tak pantas berada di posisi yang diidamkan para gadis yang diam-diam melihat iri ke arahnya
Perlu tau, wanita akan tau perasaan wanita yang lainnya. tatapan iri dan dengki atau apapun itu, mereka bisa saling merasakannya satu sama lain.
"Kita pulang" ajak Arva meraih lengan Mikaela lalu menggenggamnya erat tanpa ragu, menjawab anggapan semua yang penasaran. Menunjukkan bahwa gadis ini memang pantas dengan dirinya
Ckiiiitttt
Arva menginjak rem mobilnya tiba-tiba, membuat tubuh Mikaela terpantul hebat dan mungkin akan menabrak dashbord mobilnya kalau saja tubuhnya tidak dihalangi lengan kekar pria yang menyetir di sampingnya
Terlihat jelas rahangnya yang sudah mengeras, dengan tatapan waspada seperti sedang menyusun rencana dalam isi kepalanya. Mikaela mengikuti arah tatap pria itu, ia menghembuskan napasnya lemah "Biarin aku pergi" pintanya
•
•
•
♡♡PLEASE LIKE AND COMMENT♡♡
♡♡♡