My Cold Senior

My Cold Senior
Keharusan



Happy Reading ♡♡


"Hari ini anda bisa pulang" ucap dokter Seno pada Arva


"Loh kok? emangnya udah gak kenapa-kenapa dok?" tanya Mikaela


Seno mengangguk "Luka nya tidak terlalu dalam, hanya saja tadi memang butuh sedikit tambahan darah" jawab Seno


"Tapi dok kalo nanti tambah parah gimana?" tambah Mikaela lagi


"Dari tadi aku udah bilang kalo aku baik-baik aja, eh gak percaya. Sekarang dokter yang bilang langsung masih aja enggak terima, gimana sih" sahut Arva


Mikaela hanya berdelik tak perduli, ia malah menghampiri posisi Seno "Satu malem aja dok, nanggung banget kan, biar dia bisa istirahat total" ucapnya


"Boleh, itu lebih baik" jawab Seno


"Tadi saya hanya bilang kalau Arva sudah baik-baik saja, jadi tidak perlu terlalu khawatir karena sekarang sudah bisa pulang. Tapi kalau mau istirahat lebih lama, itu lebih bagus" jelasnya


Mikaela mengangguk paham. "Makasih, Dok!"


Arva hanya menghela napas, wanita itu memang selalu maunya sendiri. Kepala batu


"Kenapa? kamu gak suka? aku cuman khawatir" rengut Mikaela


"Iya" sahut Arva


"Aku gak suka ekspresi wajah kamu" protes Mikaela


Arva mengerutkan keningnya "Wajahku kenapa?" tanyanya


Mikaela mengalihkan pandangannya tanpa menjawab lagi


Arva tertawa


"Kok ketawa sih?" delik Mikaela


"Kamu lucu kalo lagi kesel" ledeknya


"Aku gak kesel" elaknya


"Kamu pikir aku gak bisa bedain ekspresi wajah kamu? aku tau semuanya. Luar dan dalam" ucap Arva penuh percaya diri


Mikaela mengerjapkan matanya "Ka-kamu ngomong apa?? jangan sembarangan" protesnya


"Memang kenyataan, aku gak ngarang" timpalnya, membuat eajah Mikaela mulai bersemu merah akibat ulahnya


"Aku bercanda, kenapa serius begitu" goda Arva


"Gak lucu, kalo ada yang denger gimana?" protesnya sembari mendaratkan sebuah cubitan pada lengan atasnya


"Ah ahww sayang sakit" ringis Arva "Kita kan lagi berdua" lanjutnya


Wajah Mikaela bertambah merah akibat sebutan yang jarang didengar itu "Kenapa muka kamu merah sih? salah makan?" tanya Arva


Mikaela segera mengatur rambutnya agar bisa menyembunyikan wajahnya "A-aku mau pulang" ucapnya


"Pulang? maksudnya kamu mau ninggalin aku disini?" tanya Arva tak terima


"Besok aku kesini lagi"


"Gak bisa, enak aja. Kamu sendiri yang gak ngebolehin aku pulang, itu artinya kamu harus disini juga" tuntut Arva


"Kok gitu? kan kamu yang sakit, lagian.." ucapannya terhenti ketika Arva menarik lengannya



"Arvv.." Mulut Mikaela dibungkam oleh lengan pria itu, membuatnya tak dapat bersuara lagi


"Terlalu banyak omong" ucap Arva


Mikaela diam.


Diam karena berusaha mengontrol detak jantungnya yang seakan bersahutan, apa pria itu dapat merasakan detakan jantungnya? itu pasti memalukan


"A-aku bakal nemenin kamu" ucap Mikaela


"Keharusan" jawab Arva


"Aku mau turun" pinta Mikaela karena tak bisa menggerakkan tubuhnya yang tak dibiarkan bebas


"Permintaan ditolak" jawab Arva


"Kalo ada yang liat gimana?" keluhnya


"Apa masalahnya? kita gak ngapa-ngapain kan" timpal Arva masih tak mau kalah


"Tapi.."


"Dengar.." potong Arva sembari membalikkan tubuh gadis itu agar berhadapan dengannya


"Aku gak terlalu suka dengan kamu yang selalu mikirin orang lain" tuturnya


"Aku cuman mau peluk kamu seperti ini" lanjutnya sembari menenggelamkan kepala gadis itu untuk lebih menyentuh dada nya "Aku gak sabar bisa kayak gini setiap hari" lanjutnya


Tubuh Mikaela tak lagi menegang, ia mulai menerimanya perlahan. "Apa hanya aku aja yang ingin?" suara Arva kembari mencuat


"Ingin apa?" tanya Mikaela


"Ingin seperti ini terus" jawab Arva


"Ya memang gak bisa" ucap Mikaela


"Kenapa begitu? kamu udah terima lamaran aku ya, gak bisa dibatalkan" timpal Arva melonggarkan pelukannya


"Kan kamu harus kerja, harus kuliah, aku juga, jadi mana bisa pelukan setiap saat?"


Arva tertawa kecil "Kamu gak punya bakat melawak Mikaela" ujarnya


"Yang penting udah usaha" jawabnya tak perduli


Arva merubah posisinya menjadi terlentang "Mikaelaaaa" teriaknya


"Kenapa teriak begitu?" protes Mikaela, sebab situasi di rumah sakit sudah sunyi sepi


Arva tiba-tiba mengukung kembali tubuh Mikaela yang akan turun dari ranjangnya "Kenapa kamu menggemaskan? huh" seringainya


Deg


Jantungnya kembali berdetak sangat cepat, sungguh Mikaela tidak dapat mengontrolnya lagi, ini sudah di luar kendalinya.


Pria itu sedang menempelkan telinganya tepat di letak jantungnya "Sejak kapan jantungmu memberontak seperti ini?" tanyanya, membuat Mikaela segera menyentuh dada nya lalu membelakangi pria itu


Arva tertawa "Jangan malu, kadang aku juga seperti itu. Rasanya ada di dekatmu jantung ini udah kayak mau meledak" ujarnya "Sekarang pun, kamu gak mau dengar?" tawarnya


Tak ada jawaban


"Hey, udah tidur?" tanyanya


Ya, ia lupa kalau gadisnya ini si raja tidur. Bisa tidur dalam keadaan apapun, mungkin ia harus lebih berhati-hati untuk menjaganya, orang jahat bertebaran dimana-mana dan akan meluangkan kesempatan sekecil apapun


"Selamat tidur" bisik Arva


_____________________________


Cklek


"Sayang.." sapa Shopia


"Sssstt" Arva berdesis pada mama nya agar lebih memelankan suaranya


"Kenapa?" tanya Shopia


Arva hanya menggedikan dagu nya ke arah ranjang, yang menunjukkan bahwa ada seseorang disana "Ya ampun, ini udah siang. Kenapa gak dibangunin?" protes Shopia


"Mam jangan dulu, kasian dia kecapean jagain Arva dari kemaren" tahan Arva, membuat Shopia mengurungkan niatnya dan mengangguk paham


"Arva udah boleh pulang" ucap Arva


"Makanya itu mami kesini, untuk jemput kamu" jelas Shopia


"Mami tau dari siapa?"


"Mikaela yang bilang" jawabnya


"Kalian udah saling berhubungan?"


Shopia mengangguk lalu tersenyum penuh arti "Mami seneng, kamu pinter pilih pasangan" puji Shopia "Selain cantik, dia juga perhatian" lanjutnya


Arva tersenyum "Syukurlah, dari awal Arva udah yakin kalo mami pasti suka sama Mikaela" tuturnya


"Kalo udah bangun jangan pura-pura tidur" ucap Arva tiba-tiba, membuat Mikaela segera menghalangi wajahnya dengan bantal


"M-maaf tante, Mikaela gak tau kalo tante bakal dateng sepagi ini" sesal Mikaela setelah mengubah posisinya menjadi duduk


"Pagi?" tanya Arva segera melihat ke arah jendela yang sudah menunjukkan matahari full disana


Mikaela segera melihat jam dinding di atasnya, jarum jam sudah mengarah pada angka 9 "Kenapa kamu gak bangunin aku sih?" protesnya setelah turun dari tempatnya


"Kamu aja yang susah dibangunin" jawab Arva tanpa beban, menambah rasa malu gadis itu di hadapan Shopia


"Arva, jangan digodain gitu kan kasian" protes Shopia pada anaknya yang sudah tertawa senang melihat kepergian gadisnya kedalam toilet


"Maaf mih, Arva cuman suka aja godain dia" ucapnya


Shopia menghela napasnya "Tapi jangan keseringan, nanti dia capek di deket kamu"


"Hehe iya mih, Arva gak akan biarin dia pergi kemanapun"


"Yaudah kalo gitu mami ngurusin administrasinya dulu sebentar ya" ucapnya


"Hati-hati"


Shopia tersenyum "Kamu ada-ada aja sih, kan deket"


"Biarpun deket kan harus hati-hati, kalau kepeleset gimana?"


Shopia mengangguk "Oke, anak baik" turutnya


Cklek


"Apa lagi mih?" tanya Arva


"Arva.." panggil seseorang yang sudah pasti bukan suara milik mami nya


"Lo gak apa-apa kan?" tanya Vanya


"Seperti yang lo liat" jawab Arva santai


"Lo ada waktu? gue mau ngomong sebentar" ucap Vanya


"Ngomong aja"


"Gue mau ngomong berdua" ucap Vanya sembari melihat ke arah gadis yang berada di belakang pria itu


"Enggak" tahan Mikaela sudah menjadu penghalang diantara keduanya


"Penting?" tanya Arva


Vanya mengangguk "Bagi gue" jawabnya


"Enggak, aku bilang enggak" protes Mikaela pada pria itu


"Sebentar ya, gak akan lama aku janji" ucap pria itu sembari mengelus rambutnya


"Kalo kamu pergi, aku bakal pulang sekarang juga" ancam Mikaela


"Untuk yang terakhir kali nya, gue mohon" pinta Vanya


Arva menghela napasnya "Nanti aku temuin kamu di rumah" putus Arva sebelum akhirnya memenuhi permintaan gadis psyco itu


Mikaela menggigit bibir bawahnya, berusaha mengatur napasnya yang sudah tak karuan


"Eh sayang, Arva mana?" tanya Shopia yang sudah kembali


Mikaela segera memudarkan emosinya yang tersirat di wajahnya "Mikaela pamit tante" pamit gadis itu segera berlalu tanpa menoleh lagi wanita yang berusaha menahan kepergiannya


"Eh Mik, Arva mana?" tanya Rendra "Kok lo sendiri?" lanjutnya lagi mengkorek


"Masih di dalem" jawab Mikaela "Aku ada perlu, jadi harus pulang duluan, maaf ya. Kesana aja, ada tante Shopia kok" lanjutnya





PLEASE LIKE AND COMMENT