My Cold Senior

My Cold Senior
Jangan Pergi



Tinggalkan like dan komentarnya ya


Agar author semangat lanjut ceritanya 😘



Happy Reading ♡♡



Arva mengedarkan pandangannya ke segala arah. Ia takut, sangat takut kalau sampai kehilangan wanita itu sekali lagi.



Setiap sudut sudah terabsen oleh pandangannya, tapi tak kunjung menemukan walaupun hanya sekedar bayangannya



"Mikaelaaaa" teriaknya frustasi. Semua pasang mata sudah melihat aneh ke arahnya, apa perdulinya? ia hanya ingin mendengar jawaban dari wanita itu.



Arva menghentikan langkah besarnya, entah apa, tapi hatinya seolah meminta untuk melakukan itu. Perlahan pria itu memutar tubuhnya dan matanya langsung mengunci pada satu orang yang sedang bersandar pada sudut dinding, seketika sudut bibirnya pun berhasil terangkat, seolah menemukan sinar cahaya dari sana



Mikaela menyandarkan tubuhnya sekejap, ia merasa lelah dengan semua yang terjadi padanya. Rasa ingin menyerah untuk hidup terus saja menghantuinya, meski seringkali ia berusaha bangkit tapi sesering itu pula hal yang melemahkan itu menyerang



Mata wanita itu membulat ketika tak sengaja melihat ke arah seorang pria yang sedang menghampirinya. Mikaela mengerjapkan matanya, ia tak siap kalau harus berhadapan dengannya saat ini.



Mikaela menggigit kuat bibir bawahnya ketika langkahnya tak bisa ia lanjutkan, lengannya sudah dicengkram oleh seseorang itu. "Biarin aku sendiri dulu" pinta Mikaela, namun sedetik kemudian tubuhnya sudah terkunci menyentuh tembok, dengan lengannya yang dicengkram tadi ditekan kuat di samping kepalanya



Mikaela menjatuhkan pandangannya ke bawah, ia tak mau melihat sorot mata yang selalu membuatnya tak bisa melawan.



Hening



"Mau ngomong apa?" tanya Mikaela yang masih mempertahankan alihan pandangannya



"Gue gak suka ngomong sama orang yang gak natap mata lawan bicaranya." ucap Arva dengan nada dinginnya



"Ngomong aja, aku masih bisa denger" elak Mikaela



"Lo marah?"



Pertanyaan itu sontak membuat Mikaela segera menautkan kedua alisnya "Marah untuk apa?" sangkalnya dengan memaksa tawanya



"Sampe kapan lo menyalahi perasaan lo sendiri?"



Mikaela tak bergeming. Kalau saja pria itu berpikir demikian tentangnya, lalu kenapa sikapnya berbeda dengan ucapannya? harusnya kalau pikiran tampannya sampai dengan pikiran seperti itu, lalu mengapa tak bersikap untuk tak membuat orang yang dimaksudkan itu sakit? walaupun seandainya orang itu tak pernah mengatakan atau mengakui apapun tapi bukankah pria itu sudah sangat meyakini?



"Ka.." ucapan Mikaela terpotong oleh bibir kenyal yang tiba-tiba menyambarnya.



Serapat apapun Mikaela menutup bibirnya, itu hanya akan membuat Arva semakin gencar dengan aksinya



Mikaela berontak, ia menggelengkan kepalanya, sampai pria itu melepaskan ciumannya. "Kamu salah" ucap wanita itu dengan napas terengahnya. "Aku sama sekali gak pernah merasakan hal yang seperti kamu yakini" lanjutnya.



Perkataan wanita itu berhasil membuat Arva melemahkan cengkramannya, sampai Mikaela bisa segera terlepas dari kukungannya. Tanpa kata lebih, Mikaela berniat untuk segera membawa tubuhnya pergi dari hadapan pria itu



Seakan ada yang berontak dari tubuhnya, Arva refleks memeluk tubuh wanita yang akan segera melengang pergi itu dari arah belakang. "Maaf" Ucapnya.



"Lo harus ngerti posisi gue sekarang" lanjutnya



"Tunggu sampe Vanya sembuh, dan gue gak akan pernah biarin dia ada di sekitar gue lagi. jelas Arva



Mikaela menahan tangisnya sekuat tenaga "Bagaimana mungkin?" ringis batinnya. "Dia rela mempertaruhkan nyawanya agar kamu gak pergi dari sisinya" ucap Mikaela



"Aku bisa hidup tanpa kamu, dia lebih butuh kamu" lanjutnya segera melepaskan pelukan pria itu



Arva menggertakkan gigi rapi nya "Lo mungkin bakal baik-baik aja, tapi gue enggak" ucapnya, membuat Mikaela kembali menghentikan langkahnya



"Gak ada lagi alasan gue untuk hidup, selama ini gue bertahan karena ada hal yang gue tunggu" lanjutnya



"Tapi kalau hanya itu yang bisa buat lo bahagia, gue akan mewujudkannya. Selamanya lo gak akan ngeliat gue lagi, seperti apa yang lo harapkan. Hidup tanpa ada gue"



Air mata Mikaela tak bisa lagi terbendung, ia tak mau kehilangan pria itu. Sekuat apapun ia menyangkal perasaannya selama ini, sekuat itu juga perasaannya memberontak.



Tidak. Mikaela tidak bisa lagi menahan perasaannya, ia tak mau mengalah untuk kehilangan kebahagiaannya lagi.



Langkah Arva terhenti ketika wanita itu melingkarkan lengannya pada perut ratanya.



"Jangan pergi" ucap Mikaela dengan suara bergetar



"Lo yang minta" ucap Arva masih diam pada posisinya



Mikaela semakin mengeratkan pelukannya, ia takut kalau pria itu akan tetap pergi darinya. Seringkali ia tak bisa mengatakan apa yang sebenarnya ia rasakan, ia tak benar-benar menginginkan hal seperti itu



Arva berniat untuk memutar tubuhnya, tapi pergerakannya terkunci oleh pelukan wanita dari belakang tubuhnya yang bertambah kuat. "Mik.." panggilnya



Mikaela masih terisak di balik punggungnya "Enggak, jangan kemana-mana" ucapnya




"Kenapa harus terus disini kalau.." ucapan Arva terhenti ketika tiba-tiba wanita itu sudah berada di hadapannya. Ia melihat jelas bagaimana air mata itu jatuh pada pipi mulus wanitanya.



Mikaela menjinjitkan kaki nya, kedua tangannya memegang erat bahu pria itu sambil memejamkan kedua matanya. Wanita itu mempertemukan bibirnya dengan bibir prianya. Ya, mulai hari ini pria ini adalah miliknya.



Arva melebarkan matanya, bibir yang menjadi kesukaannya kali ini menyapanya terlebih dulu. Pria itu segera memegang tengkuk wanitanya lalu memperdalam ciumannya.



Tak ada tuntutan, hanya kelembutan dan penyembuhan luka antara keduanya. Seketika kenangan dulu terlintas dalam ingatannya. Bagaimana pertama kali bertemu, bagaimana mereka saling menemani lalu saling menguatkan dan saling menyelamatkan.



Selama hidupnya Mikaela tak pernah berpikir kalau kepahitan akan menguatkannya. Ingatan itu telah lama bersembunyi hanya untuk menunggu pria yang akan membuatnya bertahan



Napas keduanya terengah saling menyentuh kulit wajah. Arva menyentuh pipi mulus wanita cantik itu, yang begitu beraninya berada sedekat ini dengannya



Pria itu membawa wajah gadis itu untuk melihat matanya "Gue sayang sama lo" ungkapnya, membuat satu aliran jatuh lagi pada pipi wanitanya.



"Gue gak akan pernah pergi kemana-mana" lanjutnya.



Kedua ujung bibir Mikaela tertarik dengan sendirinya, tanpa diminta sang pemiliknya.



Arva menyentuh garis senyum Mikaela "Bisa, gue liat lo senyum kayak gini terus?"



Mikaela menganggukkan kepalanya lalu kembali memeluk tubuh pria itu. Ia tak mau melepaskannya lagi, tak akan pernah dengan bodohnya menyuruh pria itu pergi dari sisinya.



_______________________



"Lo udah sadar?" sambut Rendra ketika wanita yang masih terlemah di ranjang pasien itu membuka matanya



Raut wajah Vanya langsung muram, ia mengalihkan pandangannya "Kenapa lo? Arva mana?" protesnya



"Arva lagi ke .." Rendra memutar otak dangkalnya untuk bisa menjawab pertanyaan yang jauh lebih sulit ketimbang meluluhkan hati wanita-wanita yang ada di club



"Toilet" lanjut Vino. Teman yang selalu menyelamatkannya pada saat-saat mencekam seperti ini. Namun entah kenapa pria itu tak muncul, ketika teman satunya kehilangan kesadaran untuk memukulinya sampai wajah tampannya tak terbentuk seperti ini. Bahkan mungkin para simpanannya akan menolaknya mentah-mentah kalau saja ditemui dalam keadaannya sekarang



"Arva manusia lah Van, masa harus kencing disini" jelas Vino



Vanya tak bergeming



Ia tak suka melihat Rendra, apalagi dengan posisi yang sangat dekat seperti ini.



Gara-gara pria itu, insiden mengerikan ini berakhir menimpanya. Bagaimana kalau nyawanya benar-benar melayang? bagaimana mungkin seorang hantu bisa mencintai seorang manusia? Tapi kalau melihat orang yang dicintainya bahagia dengan yang lain, itu yang akan terjadi padanya nanti.



Vanya merutuki dirinya sendiri, bagaimana mungkin pisau itu bergerak sendiri sehingga memotong urat nadinya seperti itu? Ia tak sebodoh itu. Lebih baik melenyapkan semua orang yang menghalanginya, dari pada menyia-nyiakan kehidupan berharganya. Itu bodoh



"Kok di toilet sampe stengah jam gini sih?" celetuk Vanya lagi



"Mandi keknya" timpal Rendra refleks



"Ppffttt" Vino menahan tawa menggelegarnya "Bego" ucapnya menoyor kepala Rendra



"Eh kambing, lo maen noyor-noyor aja" protes Rendra



Seketika perseteruan kedua pria itu terhenti ketika tiba-tiba mendengar suara tawa wanita yang ada di hadapannya.



"Toyor aja hahaha" ucap Vanya masih melanjutkan tawanya



Seketika Rendra terpaku, tubuhnya seakan beku. Baru kali ini ia melihat wanita itu tertawa seindah yang ia lihat saat ini



"Gue rela jadi bahan tertawaan, asalkan orang yang ngetawain gue itu lo orangnya" ucapnya



"Lo ? siapa?" tanya Vino



"Gue?" lanjutnya mengklaim sangkaan



Rendra merutuki dirinya sendiri, bagaimana mungkin ia tak bisa menjaga mulutnya untuk mengatakan hal yang harusnya dikatakan dalam hatinya.





•


•


•


PLEASE LIKE AND COMMENT


Like Like Like


Comment Comment Comment