
Follow instagramnya @lovelyliy_ untuk tau info tentang cerita yang aku tulis ini😉
Tinggalkan vote dan komentarnya ya
Agar author semangat lanjut ceritanya 😘
Happy Reading ♡♡
Mikaela dan Rani berencena untuk mencari pakaian selepas pulang kuliah. Dan sejak pagi hingga kini Arva benar-benar seperti di telan bumi, gak nampak seujung hidungnya pun selain di kantin tadi
Mikaela berusaha menyingkirkan pikirannya. Berusaha Mengikhlaskan ciuman pertamanya, "tidak .. itu bukan ciuman pertamaku" batin mikaela membantah. Bahkan ciuman itu tidak sedikitpun dibalasnya, Arva itu pemaksa
"Keliatannya lo ga mood Arv.. jangan bilang besok malam lo gakan dateng" ucap Vino menebak
Arva hanya mengngkat kedua alisnya dengan senyum smirk khasnya
"Tapi gue denger si Mikaela bakal dateng" ujar Rendra
"Gadis polos itu?" Batin Arva
"Yang bener? Gue ga nyangka dia anak club juga haha" ucap Vino
"Tadinya dia nolak tapi temennya maksa gitu" jelas Rendra lagi
"Lo tau dari mana?" Tanya Arva yang mulai mengeluarkan suara mahalnya
"Bersuara juga lo" ejek Vino
"Tadi gue denger obrolan mereka" ucap Rendra
"Mustahil"
"Lagian kan ini setaun sekali, gada salahnya dong gadis polos juga ikut. Tapi gue takut aja dia dimanfaatkan cowok brengsek kayak lo" tuduh Rendra melirik ke atah Vino
"Sialan lo. Sedetik kemudian gue mati di tangan dia" ucap Vino melirik ke arah Arva dan diikuti dengan tawa yang bersautan kecuali Arva
Arva tetap dengan diamnya. Jangan nyangka Arva bener-bener diem ! Tubuhnya emang gak gerak tapi otaknya itu lagi muter hebat bekerja keras
______________________
Mikaela dan Rani saling bersautan di sela-sela langkahnya. Pokoknya kalo mereka berdua udah ngobrol, semua keresahan yang ada di benak seakan hilang
Arva menghentikan langkahnya ketika melihat siapa yang ada di depannya yang lagi-lagi tak memperhatikan jalannya karena obrolan asiknya
5 meter lagi tubuh itu bakal nabrak tubuhnya
"Arv.." panggil Vino setengah berbisik
Deg
Rani tiba-tiba menghentikan jalannya dan tidak lama Mikaela pun terhentak, langkahnya terhenti merasa ada sesuatu menahan jidatnya
Arva menahan jidat Mikaela dengan telunjuknya. Tanpa bergeming Arva melanjutkan langkahnya kembali, meninggalkan gadis yang sedang berdiri mematung
"Mikaa.. lo gapapa kan?" Tanya Rani menambah langkahnya mensejajarkan dengan posisi Mikaela
Mikaela hanya menggelengkan kepalanya dengan tatapan kosong. Secepat itu manusia berubah, Mikaela bingung dengan perasaannya yang tidak seperti biasanya. ia menepuk-nepuk dadanya menghilangkan rasa yang mengganggunya
"Ko lo beda Arv.." ucap Vino
"Kemaren lo agresif sama gadis itu" tambahnya
Arva mengernyitkan keningnya "dia bukan tipe gue"
"Tepattt. Gue juga mikir gitu" ucap Rendra
"Tapi ko kemaren lo grecep banget si"
"Maksud lo apa gue ga ngelakuin apapun" sanggah Arva dengan segala tuduhan temannya yang gak masuk akal
Vino dan Rendra hanya saling melempar tatap tak paham. Atau mungkin temennya ini lupa? dia emang cepet ngelupain orang sih. Gada cewe yang tahan lama sama dia, selain Vanya itu. Satu-satunya cewe yang masih sanggup bertahan dan menempel kayak perangko
"Hayy.. besok malem kita jadi pasangan yaa" ajak Vanya yang tiba-tiba muncul di hadapannya udah kayak hantu
"Gak" tolak Arva tanpa ragu
"Kenapa.."
"Gue gakan dateng, lo pilih salah satu antara mereka aja" Arva mendorong tubuh kedua teman yang mengapitnya lalu memutar tubuhnya dan berlalu gitu aja
"Sama gue aja yu" ajak Rendra sambil mengedipkan sebelah matanya
Vanya berekspresi jijik dan bergidik merinding lalu menyusul Arva yang sudah hilang entah kemana.
______________________
"Lo yakin?" Tanya Mikaela sekali lagi.
"Yaampun Mika lo bisa diem ga? Gue yakin lo minggir" ucap Rani jengah. Entah keberapa ratus kali pertanyaan itu terucap darinya. Yakin ? Yakin ? Emang dia pikir ini lagi acara kuis apa?
Rani menggeser tubuh Mikaela yang menghalangi pintu rumahnya.
"Malem om.." sapa Rani yang langsung berhadapan dengan lelaki paruh baya yang sedang membaca koran di sofa
Rani menyenggol lengan Mikaela yang maaih terpaku ragu. Masa harus ngenalin sendiri? Si Mika parnoan emang, padahal kan pamannya keliatannya baik ko tapi kenpa dia segan banget kayaknya
"Emm i ini Rani temen aku, paman" ucap Mikaela
"Oh silakan duduk.. kenapa baru pulang? Udah hampir jam 8 loh" tegurnya
"Maaf paman, tadi kami ada keperluan jadi pulang telat" jelas Mikaela lalu dibalas anggukan paham pamannya
Paman Mikaela tertawa renyah mendengar ucapan Rani yang berusaha meyakinkan
"Kenapa om?" Tanya Rani heran
"Iya.. kamu ajak aja Mikaela. Om takut dia jadi kuper" ucap paman lalu tertawa lagi
"Paman ngizinin?" Tanya Mikaela tak percaya
"Kamu kan sudah besar" ucap paman
"Paman yakin? Gak takut aku kenapa-kenapa? Acaranya malem loh" ucap Mikaela meragukan
Paman mengernyitkan keningnya "kalo kamu gamau ikut yasudah jangan" ucapnya
"Hahaha Mika pengen banget ikut ko om, tadi dia paling exited banget cuman gaenak sama om katanya" sanggah Rani cepat
Mikaela mendengus, padahal dia gamau ikut sebenernya tapi Rani yahh yaa cuman karena dia. Acara begituan itu bukan Mikaela banget. Pernah kejadian Mikaela ikut acara serupa waktu masih di london, ga lebih dari 10 menit ia langsung pulang. Pening, entah musik ataupun suasananya bikin ricuh.
_________________________
Gelap
Arva duduk di sudut kamarnya yang hanya diterangi cahaya bulan yang memantul dari jendela.
Lagi-lagi ia merasakan sakit yang amat sangat di kepalanya. Sprei dan segala yang berada di atas kasurnya sudah berhamburan di lantai tak karuan
"Aaakkkkk" Arva menjambak rambutnya sendiri berharap sakitnya berkurang.
Tingggg
Suara nyaring menusuk pendengarannya sampai kedalam dan tak tertahankan.
Bruk
Tubuhnya ambruk di lantai dengan hembusan angin yang masuk melewati jendela menyapu helaian rambutnya
Tok tok
"Den.."
Tok tok
"Den Arva.. dipanggil nyonya" ucap ART nya lagi sedikit menambah volume suaranya
"Iya" jawab Arva
Arva bangun dari ketidak sadarannya beberapa menit yang lalu. Lensa mata seolah berubah memerah semakin menambah kesan tajam pada sorot matanya.
"Arva .." sapa Shopia hangat penuh kerinduan. Hampir 6 bulan ia tidak bertemu dengan anak semata wayangnya demi mengikuti langkah kerja gila suaminya
"Masih inget ada saya ? Syukurlah" ucap Arva dingin. Singkat tapi penuh makna
"Maksud kamu apa nak? Kenapa ngomongnya formal gitu? Kayak sama.."
"Udah tatap muka kan? Arva capek mau tidur" ucap Arva lalu kembali menaiki tangga menuju kamarnya
Shopia tertegun dengan sikap anaknya yang tidak seperti biasanya. Arva gak pernah ngomong kayak gitu sebelumnya.
"Mih .. kenapa bengong?" Tanya Danu yang baru membawa beberapa dokumen yang ketinggalan di mobilnya tadi.
"Arva pih, kenapa sikap dia sama mami begitu ya?"
"Begitu gimana?"
"Ya gak kayak biasanya pih.." Shopia menautkan kedua tangannya
"Mungkin Arva capek mih, udah gausah dipikirin ya" ucap Danu menenangkan lalu menggiring istrinya ke kamarnya
__________________
Hari yang cerah bagi jiwa yang cerah. Mikaela kembali dengan senyum lebarnya membuat matahari pagi ini iri karena merasa tersaingi
"Mika.." panggil Melvin
"Iya" Mikaela memutar kepalanya ke arah suara
"Nanti malem ikut kan?" Tanya Melvin
"Emmm kayaknya iya deh" Mikaela menggaruk leher belakangnya. Sikap yang aneh, harusnya dia begitu kalo jawabannya "kayaknya enggak deh" tapi ini? Ya itu dia harus digaris bawahi, Mikaela mau cuman karena ajakan Rani
"Ko kayak yang ga seneng gitu sih?" Tanya Melvin heran. Karena obrolan semua cewek yang ia lewati sedari gerbang tadi seputar kostum buat nanti malam dan gandengan yang akan dibawa. Tapi kayaknya Mikaela bukan salah satu diantara mereka
"Mau jadi pasangan gue disana?" Tawar Melvin
"Emang harus berpasangan ya?" Tanya Mikaela
"Yaa gak juga sih tapi.."
"Lo sama gue" potong seorang pria. meraih tangan Mikaela untuk menjauhkan posisi tubuhnya yang dekat dengan Melvin
•
•
•
Please like dan comment !!