
Tinggalkan like dan komentarnya ya
Agar author semangat lanjut ceritanya 😘
Happy Reading ♡♡
"kesini hanya untuk ini?" gerutunya lagi. ia melanjutkan langkahnya tanpa ragu, tanpa merasa harus menunggu pria itu. bukannya bagus? dengan begini ia bisa langsung pulang
Mikaela menghentikan langkah besarnya ketika tangannya digenggam erat oleh seseorang yang mungkin sudah selesai menyenangkan fans nya
Arva mendahului langkah Mikaela, ia jadi penentu kemana mereka akan pergi saat ini. ini artinya? niat pulangnya sudah pasti gagal
"Ahww" ringis Mikaela yang otomatis itu seperti alarm alami, yang membuat Arva menghentikan langkahnya
"Kenapa?" tanya Arva
Mikaela menggelengkan kepalanya. menolak menjawab atau menolak mengaku itu tidak pasti karena Arva hanya dapat menerka jawaban dari gelengan kepalanya saja
Arva kembali melanjutkan langkah besarnya membuat Mikaela mau tak mau harus menahan rasa sakit pada kakinya.
Bugh
"ahww" Arva segera mengusap pangkal kepala Mikaela yang menabrak dadanya karena berhenti mendadak saat Mikaela berjalan sambil menunduk. tapi bukankah sudah jadi kebiasaannya sejak awal pertemuan??
Arva menekan bahu Mikaela agar duduk di kursi panjang samping timezone
Arva berdiri di depannya, dan itu membuat mnya tak nyaman. "Kenapa?" tanyanya seolah tak ada apa-apa
Tanpa bergeming Arva langsung berjongkok dan melepas high heels yang dipakai Mikaela
"Aku gapapa" Mikaela berusaha menghentikan inisiatif pria yang dianggapnya terlalu berlebihan ini
Arva tak mengindahkan ucapan Mikaela, ia tetap melakukan apa yang ingin ia lakukan.
"Udah tau gini kenapa masih dipake?" protesnya ketika mendapati luka lecet pada tumit kakinya
Prangg
Protes Arva sambil membanting sepatunya ke tong sampah besar yang ada di pojokan. menghasilkan suara yang berhasil membuat orang melirik mencari tau kearahnya
Mikaela mengusap wajahnya pelan. rasa sakitnya seakan hilang tergantikan dengan rasa malu karena jadi bahan perhatian, termasuk anak kecil yang lagi menyetir mobil bombongkar di sampingnya
"Tunggu disini" tegas Arva yang entah berniat pergi kemana. yang jelas Mikaela akan menunggu atau kabur dengan kaki lecet sambil nyeker atau harus ngambil lagi sepatunya yang sudah ada di tong sampah? ia masih punya malu
5 menit berlalu Arva audah kembali dengan membawa sepasang sepatu sneaker di tangannya
"Pas" pungkas Arva ketika sudah memakaikannya pada Mikaela
"Lain kali lo harus bilang" lanjutnya sambil menjatuhkan bokongnya di samping Mikaela
"Huh .. bilang?" ulang Mikaela
"Tadi lo bilang gapapa? nyatanya?"
"Kalo sakit bilang sakit" lanjutnya lagi
"Tadi kamu jalannya cepet banget" ujar Mikaela
"maaf" ucap Arva.
Ekspresi wajah Arva yang memang seperti tulus mengucapkannya, membuat Mikaela seketika memandanginya. memangnya manusia perfect kayak dia bisa mengakui kesalahan?
Arva menggedikkan dagunya, menunggu anggukan dari Mikaela yang masih tertegun karena permintaan maaf darinya barusan
Mikaela menganggukkan kepalanya, lebih baik diiyakan saja agar masalahnya cepat kelar.
"kemana?" tanya Mikaela yang tangannya sudah diraih lagi
"Karena kaki lo lagi sakit jadi kita nikmatin yang ada sekitaran sini aja" jelasnya dengan mensejajarkan kakinya dengan milik Mikaela.
Tidak lagi jadi yang egois dengan langkahnya tanpa tau akan membuat gadisnya terluka.
"Naik ini?" tanya Mikaela bersemangat
"Gak mau?"
Mikaela menganggukkan kepalanya senang "Yaudah" jawab Arva hendak mengurungkan niatnya
"enggak !! maksud aku iya mauuu" sargah Mikaela menahan lengan pria itu
"Kok pisah?" protes Mikaela
Akhirnya Arva menyetiri bombongkar yang mereka naiki.
"Katanya suka ko gak bisa?"
"Gak pernah naik" jawabnya
"Gak pernah ko bisa suka? aneh"
"ck.. ayoo jalan" titah Mikaela menghentikan ejekan Arva.
"Ayooo kesanaaa" ajak Mikaela lagi. dengan banyaknya permainan yang ia senangi sampai lupa waktu yang tanpa terasa 2 jam audah terlalui begitu saja
"Istirahat dulu.. lo belum makan dari pagi" tahan Arva yang baru turun dari motor balapnya
Mikaela menggelengkan kepalanya "Kamu capek?" tanya Mikaela sambil memiringkan kepalanya
Arva tertawa kecil melihat tingkah polos Mikaela "Kita makan dulu" tegasnya.
"Emm kamu duluan aja, aku belum laper" pungkasnya yang akan kembali berpetualang dengan permainan lainnya
Arva berdecak tak suka lalu meraih lengan Mikaela yang baru saja memutar tubuhnya untuk kembali bersenang-senang
Mikaela menghembuskan nafasnya pasrah. kebaikan pria ini memang sudah terlihat tapi tidak berlaku selamanya. karena tetap akan ada unsur-unsur pemaksaan didalamnya
Mikaela sudah tidur lelap di jok belakang. ia mengancam akan pulang dengan taksi kalau Arva kukuh menyuruhnya duduk di kursi sampingnya
Sehabis makan Arva memutuskan untuk pulang, ia tidak menepati janjinya yang akan meneruskan aktifitas menyenangkannya lagi, itu membuat Mikaela memilih untuk marah padanya.
Bukannya perempuan seusianya harusnya lebih milih belanja kalau ada di mall?? kenapa dia hanya ingin ke tempat yang disukai oleh anak yang 10 tahun berada di bawahnya?
Masa kecilnya pasti bahagia, karena wajah cerianya tak menyiratkan ada penderitaan yang tersimpan. hidupnya pasti lancar tak ada halangan walaupun dengan keluarga yang keuangannya pas-pasan
Kacamata hitam yang ia dapat di kantong belakang jok yang diduduki Arva dipakainya. bahkan Arva sampai lupa kalau benda yang dicarinya semingguan ini ternyata ada disana
Mikaela sengaja memakai jaket besar milik Arva dengan kupluk yang dikaitkan ke kepalanya dengan alasan agar wajahnya tertutup, terhindar dari pandangan Arva yang sesekali menatapnya dari kaca spion di depannya
Arva menghentikan laju mobilnya karena lampu merah menghambatnya
ia mlihat ke bangku belakang yang habis dihuni oleh tubuh gadis yang sedang marah padanya.
"Capek banget kayaknya" gumam Arva melihat Mikaela yang sepertinya sudah sangat lelap
_______________________
Mikaela meregangkan otot tubuhnya. ia menggelinjang lalu membuka matanya yang masih buram.
Ia mengerjapkan matanya beberapa kali untuk membuat pandangannya awas. ia mengedarkan pandangannya dan ini tak lain adalah kamarnya yang ia tinggalkan seharian kemarin.
Padahal kamarnya adalah tempat yang nyaris tak pernah membuatnya bosan untuk tetap berada disana, apapun alasannya. kalau bukan karena alasan Rani kemarin, mungkin kejadian kemarin gakan terjadi
Mikaela membenamkan kepalanya di bawah bantal yang ia tiduri ketika mengingat Arva yang hampir melihat tubuh polosnya, walaupun masih terhalang dalaman atasannya itu tetap saja menyalahi aturan
Mikaela segera bagun dari kasurnya, berusaha mengingat kejadian sebelum ia bisa sampai di kamar ini "Kenapa bisa disini?" gumamnya pelan
Mikaela melihat jam weker nya yang sudah menunjukkan pukul 7 malam. Ia turun dari kasurnya lalu mendengar samar-samar suara tertawa pria yang berasal dari ruang tamu
"Ada apa?" gumamnya. ia tak pernah menyaksikan keramaian di rumah kecil ini, atau memang gara-gara kehadirannya di tengah-tengah keluarga ini? tapi Mikaela akan sangat bersalah kalau memang itu semua karenanya
Mikaela mengendap keluar dari kamarnya lalu mengintip di balik tembok yang jadi penghalang antara kamarnya dan ruang tamu
"Kok ?" Mikaela tertegun dengan apa yang dilihatnya
•
•
•
Please like and comment !!