
Tinggalkan like dan komentarnya ya
Agar author semangat lanjut ceritanya 😘
Happy Reading ♡♡
"Suka?" tanya Arva mengawali percakapan dalam perjalanan kembali ke kampus setelah 5 menit sunyi
"Huh.." Mikaela menoleh ke arah suara
"Gue gak nyangka lo milih boneka yang ini, padahal bagusan yang dikasih anak-anak tadi" ucap Arva setengah meledek dengan tawa kecilnya
"Ck.." Mikaela hanya berdecak tak suka. Lagian tadi cuman asal nunjuk, siapa juga yang suka sama boneka kayak gini.
Melihat ekspresi Mikaela membuat Arva semakin gencar ingin menggoda gadisnya yang pasti sedang berceloteh di dalam hatinya.
"Gue bisa beliin berapapun boneka yang lo mau! jadi jangan manyun kayak gitu" ucap Arva sambil mengapit hidung bengirnya membuat Mikaela melirik sinis
"Gak usah!" tekan Mikaela
"Emang aku suka boneka yang kayak gini ko! kenapa? baru nemuin cewek yang seleranya kampungan gini kan? kalo gak suka yaudah turunin aku sekarang!" tekannya
Ckiiitt
Arva menginjak rem mendadak, berhubung sedang melewati jalanan sepi jadi bebas dari protes para pengguna jalan raya yang lainnya
Mikaela menekan kuat kedua matanya sambil memegang erat seat bell yang melindunginya dari pantulan yang bisa menyebabkan tubuhnya menabrak kaca mobil.
Jantungnya mulai berdetak normal, perlahan Mikaela mulai membuka sebelah matanya untuk melihat apa yang terjadi, jangan-jangan ini sudah di alam lain ? kan bisa jadi
Senyum miring Arva jadi pemandangan yang pertama ia lihat dengan jarak yang sangat dekat, hampir menyentuh hidung, membuat Mikaela menekan kepalanya ke belakang berharap jok mobilnya bisa membantu meregangkan jarak intim antara mereka
"Katanya mau turun" ucap Arva sambil menaikkan sebelah alisnya
Mikaela ******** bibirnya kuat, mempertimbangkan ucapannya tadi. Dengan tekad Mikaela meyakinkan dirinya untuk turun disini saja, mungkin ada orang baik hati yang akan menolongnya nanti. Mungkin cuman bakal terlambat masuk mata kuliahnya yang kedua aja
Mikaela segera mendorong tubuh Arva ke tempat duduk yang seharusnya
Cklek cklek
Mikaela berusaha membuka pintu mobilnya berkali-kali
"Gue gak mau liat lo susah! mana mungkin gue bisa bikin lo susah" ucap Arva sambil memasangkan kembali seat bell pada Mikaela yang tadi sudah dilepasnya
"Bacot" cibir Mikaela pelan
Arva yang sudah siap melajukan mobilnya kembali mengurungkan niatnya lagi setelah mendengar bisikan kasar dari mulut gadis yang baru satu hari menyandang sebagai kekasihnya itu
"Bilang apa?" tanya Arva sambil menyampingkan tubuhnya menghadap perempuan yang ada di sampingnya
"Siapa? gak ada yang bilang apa-apa" bohong Mikaela
Arva mendekati wajah itu, membingkainya dengan kedua tangannya lalu memiringkan kepalanya "Kayaknya bibir ini perlu dikasih tau gimana cara ngomong ke pacarnya" jelas Arva sambil mengusap permukaan bibir Mikaela dengan ibu jarinya membuat yang empunya ******** bibirnya kuat, berjaga-jaga untuk hal yang akan terjadi setelah ini
Arva tak menyerah, ia hendak melakukan hal yang gadis ini takutkan. Arva semakin mendekatkan wajahnya sampai bibirnya menyentuh benda kenyal yang jadi tujuannya.
"Arvaaa.. mmphhh" ronta Mikaela
Bersama dengan sentuhan itu Arva merasakan kesakitan di kepalanya. Dengan segala kekuatan yang tersisa Arva berusaha keras untuk tetap mencium gadis ini, menahan kesakitannya dengan susah payah.
Nafas keduanya saling beradu menyentuh hidung masing-masing. Kedua tangan Arva masih membingkai wajah Mikaela, perlahan Arva membuka matanya dan segera menarik dirinya sendiri.
Satu bulir bening berhasil lolos di pipi mulus Mikaela. ia mengusap kasar bibir basahnya, berusaha menghilangkan jejak yang baru saja terjadi padanya.
"Kenapa disini?" Arva mengedarkan pandangannya. ia menyentuh bibirnya yang keadaannya tak jauh beda dari milik gadis di sampingnya.
"Buka pintu mobilnya" tekan Mikaela seraya menahan isak
Tanpa menunggu respon Arva yang masih linglung, Mikaela segera mencondongkan tubuhnya ke arah Arva untuk membuka kunci pintu mobilnya.
"Kenapa lo nangis" tanya Arva yang tak tau menau soal ini
Mikaela menepis usapan Arva pada pipi mulusnya. "Masih tanya kenapa? bisa gak sih kamu pergi dari hidup aku?? gak usah ganggu aku! sekarang aku mau turun" amuknya dengan nafas tersengal
Tanpa menghiraukan permintaan Mikaela, Arva segera melajukan mobilnya. Ini bukan kali pertama terjadi pada mereka berdua, ia seringkali tiba-tiba berada di samping Mikaela yang menangis entah apa sebabnya. Tanpa harus bertanya ini pasti ulah sisi lain dari dirinya.
"Aku bilang aku mau turun!" tekan Mikaela lagi
"DIEM !!" gertak Arva. membuat Mikaela terkejut dan menghentikan bualannya.
Mikaela semakin terisak, ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya lalu menangis sepuasnya disana
Melihat itu, Arva hanya bisa menghembuskan nafasnya susah payah lalu dengan gusar mengacak rambutnya, membuat jambulnya tak terbentuk
Sesampainya di parkiran kampus Mikaela segera turun dari mobil itu dengan sangat tergesa-gesa, yang penting cepat terjauh dari pria ini
Arva menarik bahu Mikaela yang sudah menginjak tanah, membuat si yang punya badan kembali terduduk pada jok mobilnya lagi
"Gue minta maaf" ucapnya sambil mengusap jejak air mata yang jelas terlihat pada pipi mulus gadis itu
Mikaela segera menggantikan lengan Arva untuk mengusap pipinya. "Aku gapapa" ucapnya singkat disusul dengan suara ditutupnya pintu mobil
"Mik.." panggil Melvin dari belakang menyusul langkah Mikaela
"Lo gak apa-apa kan?" tanyanya curiga melihat matanya yang sembab
Tanpa mendengar jawaban sang gadis, Melvin segera melirik ke arah pria yang baru keluar dari mobilnya dengan santai
"Sialan" geram Melvin segera menghampiri saingannya
"Lo ngapain Mikaela?" tekan Melvin sambil menarik kerah bajunya
Tanpa rasa bersalah Arva menepis tarikan pada bajunya lalu merapikannya lagi. Ia melewati tubuh pria yang menghampirinya untuk menghindari pertikaian
"Kak Melvin.." cegah Mikaela
"Brengsek" teriak Melvin sambil meraih baju pria itu dari belakang lalu menariknya dan berhasil mendaratkan satu pukulan pada pipi kirinya
Bugh
Darah segar menetes di ujung bibir pria yang dipukulnya
Melihat itu membuat Mikaela melebarkan matanya sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya yang bergetar
"Udahh berhenti.." pinta Mikaela susah payah sambil memegangi dadanya dan jontai ke bawah
Melihat Mikaela yang sudah terduduk di tanah membuat Arva yang akan melakukan pembalasan segera menghentikannya dan menghampiri gadis yang tak jauh dari tempatnya itu
"Lo kenapa?" khawatir Arva sambil memegangi bahu Mikaela yang terkulai lemas memegangi dadanya
"Minggir!" Melvin mendorong tubuh Arva ke belakang lalu segera mengambil alih Mikaela dan segera menggendongnya untuk dibawa ke ruang kesehatan
Arva masih terduduk di tanah dengan mengepalkan kedua lengannya, matanya mengikuti langkah pria yang membawa pergi gadis itu
"Arv.. lo gapapa?" tanya Vino sambil mengulurkan tangannya untuk membantunya berdiri
Arva menaikkan sebelah alisnya lalu menerima uluran tangan sahabatnya, lalu menggelengkan kepalanya sebagai jawaban dari pertanyaan Vino tadi. Wajah flat nya membuat semua orang tak bisa mengira perasaan pria ini sekarang. Sedang marah ataukah kesal ataupun yang lainnya itu sama sekali tidak tergambarkan
"Woyy.. lo kenapa?" rusuh Rendra yang baru sampai di tempat Kejadian
"Lo dipukul?" kaget Rendra melihat ujung bibir Arva yang sedikit sobek
"Siapa yang berani mukul lo anjir" kecam Rendra ikut merasakan kesal karenanya. walaupun Arva itu satu-satunya saingan untuk mendapatkan wanita pujaannya tapi meski begitu Arva tetap sahabat sehidup sematinya
Vino hanya mendelik singkat, melihat kelakuan Rendra yang suka lebay. padahal yang dibogem biasa aja tuh malah jadi si Rendra yang hebring. Kebiasaan
_____________________
"Obat.." pinta Mikaela di sela sesak nafasnya. ia merogoh tas kecil miliknya dengan susah payah, membuat Melvin segera membantu untuk mencarinya
"Lo gak apa-apa?" tanya Melvin, Mikaela menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
"Lo sakit apa sebenernya?" tanya Melvin lagi setelah Mikaela sudah bisa bernafas normal
Sekali lagi Mikaela menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
"aku gapapa" jawab Mikaela sambil melepaskan lengan Melvin dari wajahnya
"Sorry"
•
•
•
Please like and comment !!