
Jangan lupa ✔Follow ✔Like ✔Comment
Find me on instagram : @Lovelyliy_
Happy Reading ♡♡
"Kamu mau kemana?" tahan Shopia
"Mau nyamperin Mikaela" jawab Arva bangga. Entah kapan terakhirkali ia melihat anaknya dalam keadaan sebaik ini, bahkan Shopia sendiri lupa dengan hal itu.
"Ibu macam apa aku ini" gumam Shopia lirih sambil membingkai wajah Arva
"Mami bicara apa sih, kenapa sedih? Arva gak bikin salah kan?" heran Arva sambil mengusap pipi ibu nya yang mulai basah
Shopia menggeleng "Mami yang salah nak, maafkan mami sayang, mami menyesal" ungkapnya
Arva segera merengkuh tubuh mungil ibunya yang hanya setinggi dada nya "Semua sudah berlalu, gak usah diungkit lagi. Yang penting adalah hari ini dan hari yang akan datang, hari yang lalu biar berlalu, jadikan pelajaran." tutur Arva sambil mengelus punggung ibunya yang masih sesegukan dalam pelukannya
Shopia melepas pelukannya lalu mengangguk setuju "Kamu benar" ucapnya sambil mengusap bekas tangisnya
Arva mengangkat tangannya untuk melihat jam yang melingkar disana "Emm kalau gitu Arva pergi dulu, jangan nangis lagi" pamitnya sambil mencolek ujung hidung wanita paruh baya di depannya
"Jangan" tahan Shopia, menghalangi jalan Arva
"Kok jangan?" heran Arva
"Kamu gak boleh menemui Mikaela" jelas Shopia
"Mih, besok Arva sama Mikaela mau nikah. Apa mami berubah pikiran?" kejutnya
"Astaga mami, Arva gak habis pikir. Bukannya mami mau Arva bahagia? kenapa sekarang begini lagi? cukup mih, Arva tetep bakal nikahin Mikaela dan gak perduli apapun yang terjadi."
Shopia menghela nafas panjang "Kenapa kamu terus bicara? gak kasih waktu buat mami ngomong dulu" protesnya
"Hanya untuk hari ini" ucap Shopia penuh tekanan
"Maksud mami apa sih? Arva gak paham"
"Kalian dipingit" jelas Shopia
"Di pingit?" ulang Arva
Shopia mengangguk "Gak boleh ketemu, jadi nanti kalian ketemu pas hariha."
"Loh kenapa begitu? memang ada undang-undangnya?" protes Arva
"Ini hanya tradisi, dulu mami sama papi juga gak dibolehkan ketemu selama seminggu full. Kamu hanya satu hari loh, pokoknya kamu harus nurut. Sekarang masuk kedalam"
"Tapi mih.." elak Arva
"Memangnya mau ngapain sih? kan kemarin kalian sudah ketemu" protes Shopia
"Emm Arva cuman mau mastiin kalo dia udah makan apa belum, gak ada yang boleh ajak dia makan selain Arva"
"Mikaela bisa makan sendiri" sahut Shopia
"Hahh umm tapi .."
"Di hotel semua sudah lengkap, mau makan atau butuh apapun kan tinggal pesan via telepon, gak akan repot." jelas Shopia
"Tapi ada yang gak bisa dikasih di hotel mih" kukuh anak itu
Shopia yang kewalahan memberi tau hanya menyilangkan kedua tangannya di dada "Apa?" tanyanya
"Kalau Mikaela kangen? kan cuman Arva yang bisa menuhin" jawab Arva, membuat Shopia tertawa karena tingkahnya
"Pede banget ya kamu"
"Soalnya Arva kangen banget sama dia mih, pasti Mikaela lagi mikirin Arva. Rindu itu berat mih, kasian Mikaela, Arva gak mau calon istri Arva susah. Kalau gitu .."
"Nooooo" tahan Shopia "Mami bilang enggak tetep enggak. Untuk kali ini aja kamu nurut yaa, mulai besok kan gak akan ada yang bisa ganggu kalian lagi." jelasnya
Arva menghembuskan nafasnya berat "Harus banget ya mih?" tanyanya sekali lagi dengan tak bersemangat
Shopia mengangguk "Yup, harus"
________________________
"Ciee yang mau nikah, selamat ya" ucap Melvin sambil memberi buket bunga
Mikaela tersenyum "Makasih ya kak" ucapnya
Melvin mengangguk "Do'akan juga agar kami cepat menyusul" tuturnya
"Oh ya? maksudnya sama.." Mikaela mengikuti arah pandang Melvin yang melirik ke arah Rani "Kalian??"
"Lo apaan sih?" protes Rani pada pria lancang itu "Enggak Mik, bohong" sangkalnya
"Loh kok gak beneran sih Ran?" sesal Mikaela
"Gue gak mau jadi pelarian" jawab Rani
"Gue gak jadiin lo pelarian" protes Melvin "Kenapa lo masih aja gak percaya sih?"
"Terserah gue dong" sahut Rani sambil menjulurkan lidahnya
"Astaga, Mik temen lo. Gue mohon plis bikin dia normal lagi" keluh Melvin. Pasalnya ketika gadis itu masih menunjukkan rasa suka padanya, Rani adalah gadis yang amat sangat manis dan menggemaskan, tidak yang menyebalkan seperti sekarang
"Maksud lo gue gila?" protes Rani
"Lagian orang ngomong serius malah dibercandain"
Rani mendorong tubuh Melvin keluar "Mendingan lo pulang deh ya.. babayyy"
"Kok lo ngusir sih? yang punya tempat juga santai aja kok" protesnya
"Kita butuh privasi, semalam sebelum nikah cewek pasti butuh temen cewek nya. Jadi lo jangan ganggu kita okee"
Brukk
Pintu kamar tertutup
"Ran, jangan segitunya dong kan kasian"
"Biarin, biar hidup lo tenang. Jangan ada yang ngerecokin" sahut Rani
"Apaan sih? orang biasa aja. Aku cuman mau ngingetin, berjuang sendirian itu gak enak loh. Sebelum dia capek dan memutuskan untuk pergi, nanti kamu nyesel." tutur Mikaela
Rani mengangguk "Gue bakal pikirin nanti, sekarang waktunya gue untuk ikut bahagia karena bentar lagi lo married" ucapnya antusias "Gue masih gak percaya sih Mik, akhirnya kalian bersatu juga." lanjutnya
Mikaela tersenyum dan mulai berkaca-kaca mendengar ucapan Rani "Kok lo sedih?" heran Rani
"Aku cuman terharu aja Ran, aku pikir semuanya akan berakhir dengan perpisahan. Tapi ternyata tuhan dengerin aku Ran, dia baik banget" tutur Mikaela dengan butiran bening yang jatuh tanpa diminta
"Lo pasti seneng banget"
Mikaela mengangguk "Amat sangat, dan mungkin ini titik terbahagia dalam hidup aku"
"Gue ikut seneng ya, semoga Arva bisa bahagiain lo seterusnya" tutur Rani sambil memeluk sahabatnya
"Thank's ya Ran, kamu selalu ada untuk aku. Kalau gak ada kamu mungkin aku udah bakalan nyerah dari kapan tau"
"Hahaha iya, gue juga seneng lo mau jadi temen gue. Gue seneng lo ada di hidup gue, lo juga nguatin gue." sahut Rani
Drrd ddrrtt
Ponsel Mikaela bergetar
"Bentar ya Ran" ucap Mikaela yang segera melepas pelukannya lalu meraih ponsel yang ada di atas nakas
cowo aneh is calling muncul pada layar ponselnya
Mikaela tersenyum "Kayaknya nama kontak ini sebentar lagi akan berganti jadi.. apa yah?" batin Mikaela malah asik berkhayal "Sayang? Honey? atau Husband?" pikirnya lalu tertawa sendiri karena merasa geli
"Eh" panggilannya selesai karena terlalu lama, Mikaela melenguh "Apa aku telepon balik ya?" pikirnya. Baru saja akan menekan tombol untuk memanggil namun orang yang sedang memenuhi ruang pikirannya kembali muncul di layar.
Mikaela segera menekan tombol hijau untuk menjawab
"Kok tadi gak diangkat?" protes Arva
"Emm teleponnya keburu mati" jawab Mikaela
"Emang kamu lagi ngapain?" tanyanya
"Lagi ngobrol sama Rani"
"Seasik itu?"
"Maaf"
Arva menghela nafas "Aku gak bisa kesana" ucapnya parau
"Kenapa?" kaget Mikaela
"Mami bilang kita gak boleh ketemu" jawab Arva
"Maksud kamu kita gak jadi nikah?" tanya Mikaela pelan. Sudah dipastikan luka itu lebih dulu tergores dalam pertanyaannya
Arva tertawa "Bodoh hahaha"
"Kenapa ketawa?" protes Mikaela "Arva ini gak lucu, ini gak main-main"
"Lagian kenapa pikiran kamu sesempit itu sih? mana mungkin aku biarin ada orang yang bakal ngerusak rencana besar kita? gak akan sayang"
"Terus maksud dari perkataan kamu tadi itu apa?"
"Untuk hari ini, kata mami kita harus dipingit" jelas Arva "Astaga ini menyebalkan" keluhnya
"Oohh aku kira apa haha" Sekarang giliran Mikaela yang tertawa
"Kenapa ketawa?"
"Lucu hehe"
"Ini bukan main-main" protes Arva
"Memang bukan"
Arva berdecak "Gimana kalau kamu aja yang bilang sama mami, yah? bilang kalo gak usah ada pingit-pingitan segala"
"Kenapa gak usah?"
"Ya bilang kalau kamu kangen banget sama aku, kamu gak bisa gak liat aku walau sehari"
"Arva apa sih"
"Emangnya kamu gak kangen aku?"
"Hemm"
"Kok hemm? gak kangen?"
"Kangen sih" jawab Mikaela sangat pelan. Ia takut kalau Rani dengar, itu memalukan
"Tuh kan, kamu pasti kangen sama aku. Tapi mama gak percaya, coba kalau kamu yang bilang mama pasti mau denger."
"Tapi kan cuman sehari" elak Mikaela
"Tapi tetep"
"Tetep apa sih?"
"Aku kangen kamu, mau mati aja rasanya" keluh Arva setengah berteriak, membuat Mikaela menjauhkan ponselnya yang hampir membuat gendang telinganya pecah
"Haha kamu kok lebay sih" ejek Mikaela
"Mikaela, gak lucu. Aku serius"
"Sabar ya sayang, kan cuman sehari"
"A-apa? kamu barusan panggil aku apa?" kaget Arva yang segera antusias
Mikaela segera menutup mulut nakalnya itu dengan kedua tangannya "Panggil apa?" tanyanya pura-pura tidak tau
"Coba ulang sekali lagi, aku mau dengar" pinta Arva
"Aku gak bilang apa-apa kok"
"Bilang sekarang atau aku bakal kabur sekarang juga"
"Nyamperin kamu lah, biar denger langsung"
"Kita gak boleh ketemu kan"
"Bodo amat, kalo kamu.."
"Sayang" potong Mikaela
Arva diam. Hatinya mencelos, seolah merasakan sesuatu yang luar biasa, yang tak pernah ia rasakan sebelumnya
"Sekali lagi" pinta Arva
Mikaela melenguh "Udah, disini ada Rani" memelankan intonasi suaranya
"Sekali lagi" kukuh Arva
"Sayang sayaang sayaaangg" ucap Mikaela "Puas?"
"Belum"
"Kok gitu ishh"
"Astaga aku kangen, aku bakal kesana sekarang juga"
"Jangan. Kamu dengerin apa kata mami kamu dong, gimana sih?" protes Mikaela "Mungkin kalo ibu aku masih ada, dia juga bakal kayak mami kamu" lanjutnya sedih
"Iya aku nurut. Maaf, kamu jangan nangis."
"Enggak kok, aku cuman inget aja"
"I love you Mikaela" ucap Arva
Mikaela tertawa "Iya aku tau"
"Gak ada balasan?"
"Balasan apa?"
"Cinta itu perlu balasan, mana aku mau dengar"
"I love you more Arva " ucap Mikaela
"Ahhh kenapa waktu berjalan sangat lamban" keluh Arva lagi
________________________
"Mikaela" sapa Erik
"Paman" sambut Mikaela senang
"Keponakan paman cantik sekali" ucapnya lalu mengecup kening Mikaela pelan "Maafkan paman sayang, paman belum bisa jadi paman yang baik"
"Enggak paman. Kalau gak ada paman, Mikaela gak mungkin ada disini sekarang" sangkalnya
"Tapi.."
"Udah paman, jangan bikin aku nangis"
Erik segera mengusap pipi nya yang mulai basah "Kamu benar, hari ini gak boleh ada air mata dan semoga kedepannya kamu gak akan pernah menangis sedih lagi"
"Aamiin, makasih paman"
"Emm bibi?"
Sinta segera menghampiri gadis yang baru saja menyadari keberadaannya lalu menangis sejadi-jadinya "Maafkan bibi sayang, bibi sangat berdosa sama kamu, sama ibu kamu hiks" sesalnya
"Semua sudah berlalu bi, lupain aja" ucap Mikaela
"Gimana bibi bisa lupa? bibi yang bikin hiks yang bikin ibu kamu meninggal hiks mas maafin aku, Mikaela maafin bibi"
"Bibi gak salah, jangan menyalahkan diri sendiri lagi bi. Lagian ibu pasti udah bahagia disana"
"Selama ini bibi salah menilaimu sayang, maafkan bibi ya? mulai sekarang kamu bukan keponakan bibi, bukan keponakan paman, kamu adalah anak kami" tuturnya
Mikaela tersenyum bahagia "Terima kasih bi"
Cup
Sinta mengecup kening Mikaela "Semoga kamu bahagia" ucapnya "Dan jangan membuat makeup mu luntur" lanjutnya sambil mengusap kedua ujung mata Mikaela yang mulai berair.
"Mikaela" kaget Nayla
"Astaga lo kayak princess" tilainya antusias
Mikaela tertawa "Terima kasih pujiannya"
Nayla berdecak "Gak ada kurangnya sih, orang kalem kalo didandanin gini ya sempurna lah udahh. Mana ngomong alus banget, kesel gue" gerutunya
"Hahahaha Kamu salah, kalau aku tidur udah kayak orang mati" sangkalnya
"Eh iya benerr hahaha di dunia ini emang gak ada yang sempurna"
Nayla segera menghentikan kicauannya dan seketika menjadi pendiam ketika melihat siapa yang datang ke arahnya
"Eghemm" Dehaman Vino membuat Mikaela memutar tubuhnya "Kak Vino" sambut Mikaela senang
"Lo orang atau bidadari?" kaget Rendra
"Lo Mikaela kan? apa bidadari yang lagi nyamar jadi manusia? atau emang lo yang mirip bidadari?" tuturnya yang diakhiri ringisan karena kepalanya memantul kedepan akibat ulah teman yang ada di sampingnya
"Lo sirik aja sih Vin? kalau gak bisa berkata-kata manis tuh gak usah iri" protesnya
"Jijik gue" delik Vino
"Elo yang jijik, Mikaela kan seneng, ya kan?"
"Geli" jawab Mikaela
"Tuh denger, masih berfungsi kan kuping lo??" puas Vino
"Ahh Mik sekali-kali dukung gue sih" keluh Rendra, membuat Mikaela tertawa karena melihat ekspresi yang terlihat lucu menurutnya
"Iya-iyaa aku sukaa, lagian cewek mana sih yang gak seneng kalau dipuji" ucap Mikaela
"Tuhh dengerrrr, kuping lo masih berfungsi dengan baik kan?"
"Ngebales"
"Bodo"
"Ayo Mik, acaranya udah mau dimulai" ajak Nayla dengan penuh kelembutan dan kasih sayang.
Selain hal ini yang memang harus dilakukan antar saudara, tapi ini lebih ke untuk membuat kesan oranglain yang melihat perlakuannya juga menjadi baik. Seperti sekarang ini contohnya
"Mikaela, lo udah siap?" tanya Rani
Mikaela diam sebentar lalu mengangguk
Rani segera meraih lengan temannya ini "Tangan lo dingin" gumamnya
"Aku gugup banget Ran, gemeteran" keluh Mikaela
"Lo harus percaya diri, ketika lo udah ketemu Arva, perasaan tak mengenakan ini akan hilang" tutur Rani sebelum akhirnya menyerahkan lengan Mikaela pada Erik, pria yang akan menggantikan posisi ayahnya, pria yang akan mengantarkannya ke depan pintu kehidupannya yang baru
"Ayo sayang" ajak Erik yang sudah mengambil alih lengannya
_________________________
Cup
Shopia mengecup kening Arva
"Rasanya baru kemarin mami gendong kamu" tuturnya haru "Atau mungkin karena mami terlalu sibuk dengan hal lain, sampai-sampai bukan jadi orang pertama yang mengetahui perkembangan kamu" lanjutnya pilu
"Mami udah, jangan mulai" protes Arva
"Mami adalah mami yang terbaik untuk Arva, kalau gak ada mami maka gak akan ada Arva, dan kalau gak ada Arva kan kasihan Mikaela" tuturnya
Shopia menyiku perut anaknya yang entah sejak kapan menjadi sering berguyon. Ya, ini karena ia terlalu lama jauh dengan anaknya.
"Ahww" ringis Arva
"Semoga menantu mami akan tahan dengan sikap tengil kamu" ucap Shopia
"Oh jangan salah, bahkan sikap tengil anak mami ini yang bikin menantu mami mau nikahin anak mami" jawab Arva yang kembali membuat Shopia tertawa
"Egrhhhmmm" Danu berdeham, membuat pelukan antar anak dan mama itu terlepas
Danu segera menahannya lalu ikut memeluk keduanya
Cup
Danu mengecup puncak kepala istrinya, dan ketika akan mengecup yang satunya lagi maka Arva sudah lebih dulu menghindar dan menjauh darinya
"Loh kenapa?"
"Arva bukan anak kecil lagi" ketus Arva
"Memangnya siapa yang bilang kamu anak kecil?"
"Gak usah cium-cium" keluhnya
"Loh, tadi papi cium Mikaela biasa aja dia"
"Apa? papi cium Mikaela?" kagetnya
Danu mengangguk "Kan sebentar lagi dia bakal jadi anak papi juga"
Arva menghela nafasnya panjang "Stop Arvaaa!! masa lo mau cemburu sama bokap sendiri" keluh batinnya
"Kan kalo lelaki beda pih" balas Arva
Danu mengangguk "Oke" ucapnya "Kalau gitu nanti kamu harus kasih papi cucu cewek, biar bisa papi cium" lanjutnya
Arva mengerjapkan matanya karena mendengar ucapan frontal pria yang berumur 23 tahun di atasnya itu
"Kenapa? sanggup kan?" tanya Danu lagi
Arva tertawa "Iyalah, turunan papi. Apasih yang gak bisa" sahutnya
Danu mengusap ujung matanya yang berair, sejak tadi ia berusaha mengalihkan rasa haru nya dengan tawa.
"Pih, are you ok ?"
Danu menggelengkan kepalanya "Not fine" jawabnya sambil melentangkan kedua tangannya. Arva menghampiri lalu menerima pelukannya, pelukan yang hampir ia lupakan bagaimana rasanya. "Thank's pih" ucap Arva
Danu menepuk-nepuk punggu Arva "Semoga kamu bahagia, jaga menantuku, bahagiakan dia" Arva mengangguk "Pasti"
Namun tiba-tiba ada yang menarik perhatiannya, membuat Arva menyudahi pelukan haru itu.
"Mari sayang, kamu harus menunggu pengantin wanita disana" ajak Shopia
"Sialan" geram Arva
"Ini hari bahagiamu, kenapa menggerutu?" protes Shopia yang menggandeng lengan Arva di sela langkahnya
"Teman-temanku gak ada otaknya mih" jawab Arva
"Kenapa?"
"Mereka sudah lebih dulu melihat pengantinku" geramnya
"Hanya melihat, asal tidak lebih dari itu"
"Awas aja, setelah ini jangankan melihat, berani melirik sedikit saja akan ku pukul matanya"
•
•
•
PLEASE LIKE AND COMMENT