
Jangan lupa ✔Follow ✔Like ✔Comment
Happy Reading ♡♡
Tap tap tap
Langkah Mikaela dan Erik menjadi perhatian semua hadirin, mereka serempak untuk berdiri dengan tatapan yang mengikuti langkahnya
Suasana hening, bahkan suara nafas pun seakan tak terdengar satu sama lain karena fokus yang hanya pada satu titik mengagumkan.
Mikaela semakin gugup ketika ia melihat punggung pria yang sedang menungguinya. "Pegang erat tanganku" bisik Erik, seolah tahu dengan jelas apa yang sedang dirasakan keponakannya saat ini
Genggaman Mikaela pada lengan pamannya semakin kuat "Kenapa banyak sekali orang" keluh batinnya, karena tatapan dari banyak orang ini menambah rasa gugupnya
Tiba-tiba langkah pamannya terhenti, membuat ia segera menoleh ke arah Erik untuk menampilkan ekspresi penuh tanya, namun pria paruh baya itu hanya menjawabnya dengan senyuman
Sebuah tangan muncul dari arah depan seolah meminta tangannya beralih, dengan sedikit ragu Mikaela melihat keseluruhannya, sebuah tangan yang berani memintanya beralih seperti ini
Deg
Tatapan Mikaela beradu dengan milik pria yang mencintainya, bahkan Mikaela bisa melihat gambaran dirinya dalam manik mata pria itu.
Ternyata apa yang dikatakan sahabatnya itu benar, rasa gugup itu seketika hilang ketika ia menemukan tatapan Arva, tatapan pria yang memiliki perasaan yang sama dengannya
Kini Arva sudah membawa calon mempelai wanita untuk berdampingan dengannya, satu langkah lagi impian terbesarnya akan segera terwujud
Perlahan Mikaela membuka veil pengantin yang menutupi kepalanya, membuat garis senyum Arva yang dilihatnya itu menjadi jelas. Sangat indah
"Sebentar lagi senyum itu akan menjadi milikku sepenuhnya" batin Mikaela
Memang tadinya ia kesal karena sebelum dirinya pengantinnya ini dilihat oleh banyak pasang mata. Tapi sekarang, setelah sosok pengantin itu hadir tepat di hadapannya seperti ini, membuat Arva hampir tak bisa mengedipkan matanya, bukan tak bisa karena memang tak mau. Rasanya terlalu sayang untuk melewatkan pemandangan yang saat ini membuatnya terpaku
"Silahkan saling tukar cincin" ujar seseorang, dengan sigap Mikaela mengulurkan tangannya sebelum Arva memintanya.
Arva tertawa kecil melihatnya, begitupun dengan beberapa orang yang bisa melihatnya dari dekat. "Sudah gak sabar?" bisik Arva
"Sa-ngat" jawab gadis itu
Tepuk tangan hadirin mengakhiri kegiatan bertukar cincin, dan ini lah saatnya untuk keduanya saling mengucap janji sehidup semati, berjanji untuk terus mencintai satu sama lain, berusaha untuk tak saling menyakiti atau bahkan meninggalkan, serta saling menjaga sampai maut memisahkan.
"Kalian sah menjadi sepasang suami isteri"
Tepuk tangan para hadirin kembali terdengar, dan itu artinya mereka sudah masuk ke dalam pintu kehidupannya yang baru, mereka disambut dengan meriah dan penuh suka cita
Arva dan Mikaela menghembuskan nafasnya lega, masa-masa menegangkan itu akhirnya berhasil mereka lalui bersama-sama. Dan mulai saat ini akan terus begitu, tak ada lagi sepi, tak ada lagi sendiri, semua hal yang menyedihkan seperti itu menjadi sirna
"Istriku cantik" bisik Arva pada Mikaela yang masih menampilkan senyum sumringahnya pada banyak orang yang ada di depannya
"Tapi aku kesal" lanjut Arva
"Kenapa?" tanya Mikaela segera melihat ke arah pria itu
"Kenapa hari ini aku dibiarkan menjadi orang yang terakhir untuk melihatmu?"
"Karena hari ini aku memutuskan untuk menjadikanmu sebagai orang terakhir di dalam hidupku" jawab Mikaela.
Arva terpaku, hatinya dibuat melayang, sejak kapan ia dibuat baper begini?? sejak saat ini, dan oleh gadis ini.
Sedetik kemudian Arva sudah mekingkarkan lengannya pada pinggang Mikaela lalu menariknya.
Cup
Arva mencium bibirnya di depan umum. Walaupun rasa kejut dan tak siap yang dialami Mikaela tapi itu tak membuatnya untuk menolak. Mikaela mulai memejamkan matanya dan terbuai kedalam dunia milik pria yang mulai sekarang sudah sah menjadi suaminya.
Suara hadirin yang membuncah untuk menyambutnya seolah menjadi alunan musik romantis. Setidaknya kegiatan seperti ini dipertontonkan satu kali dalam seumur hidup
Arva melepaskan ciumannya "Aku tidak lama" bisiknya pada Mikaela yang masih belum membuka matanya
Mikaela tertawa kecil "Aku percaya" jawabnya
"Ayo kita sambut mereka, biar acaranya cepat selesai agar aku bisa menculikmu" gumam Arva sambil meraih lengan Mikaela untuk menghampiri para tamu undangan yang sudah berpindah ke tempat yang telah disiapkan untuk berbagai macam makanan dan hidangan
"Congrats babe" ucap Rani dengan suara bergetar yang langsung disambut pelukan oleh si penerima selamat "Sorry, ini air mata bahagia" jelasnya
Mikaela mengangguk "Aku gak bisa bilang apapun selain kata terima kasih" ucapnya
"Jangan bikin istri gue nangis" protes Arva, membuat pelukan keduanya berakhir
"Ini yang terakhir, karena setelah ini cuman lo yang bakal nemenin Mikaela"
Arva mengangguk "Kalau gitu silahkan lanjut" ucapnya, membuat perutnya mendapat sikutan dari gadis yang mulai saat ini disebut sebagai istrinya
"Well, gue nunggu banget Arva junior" suara Rendra mencuat
"Acara aja belum selese" protes Vino
"Gue gak minta sekarang kali, protes aja lo kerjaannya kek netizen" sahut Rendra
"Gak usah didngerin" ucap Vino pada Mikaela yang menunduk malu
"Harus didengerin" bisik Arva kemudian di pendengaran yang satunya
Vino berdecak "Kalo suami lo yang minta, gue gak bisa ngomong apa-apa" keluhnya
"Oh mainannya bergerombol nih? mentang-mentang usia muda jadi yang tua gak diajak nimbrung? padahal kan pengantin harus belajar banyak dari yang berpengalaman" tutur Sinta
"Mama apaan sih?" protes Nayla
"Anak kecil jangan denger, sana main lagi" titah Arva
"Kak Arva apa sih? gue bukan anak kecil" protes Nayla garang, membuat Arva tertawa gemas melihatnya
"Kak jangan ketawa" keluh Nayla
"Kenapa?"
"Ketawanya bagus, biar buat Mikaela aja, jangan dikasih liat sama yang lain, nanti pada mau" tuturnya polos
"Sejak kapan kamu belajar ngomong kayak gini? siapa yang ngajarin?? hemm"
"Orang serius kok" gumam Nayla ketika Arva malah mengacak rambut badai nya
"Aakkhh kakaaakkk" protes Nayla menjauhkan dirinya dari monster penyuka memberantaki rambut orang
"Oh ya, selama ini kan gue selalu bilang sama Mikaela kalo jangan ninggalin lo, tapi sekarang gue minta lo yang jangan pernah ninggalin Mikaela" tutur Nayla
"Will never"
"Janji?"
"Gak usah diminta" sahut Arva
"Yup bener banget, Mikaela udah bikin hati cowok yang udah lama beku ini tiba-tiba meleleh eh malah sampe cair. Yang tadinya gak pernah ngelirik siapapun jadi dibikin ngejar-ngejar" sahut Rendra yang dibenarkan semua pendengar
"Tapi gue heran deh, biasanya kan ceweknya ngebet dulu buat dapetin si cowok dingin, tapi ini Mikaela yang anteng kalem bisa bikin Arva tiba-tiba kek jadi orang gila. Lo gak guna-guna temen gue kan Mik?" lanjutnya
"Kalau emang iya, berarti gue harus berterima kasih sama dukun itu" sahut Arva
"****** lo dibikin mati kutu" puas Rani
"Coba aja dukunnya gue, gak akan gue kabulin permintaan lo Mik, malah gue yang bakal guna-guna lo"
"Untung Mikaela rajin do'a, jadi dia gak bisa diganggu setan" timpal Vino
"Terus aja teroooosss, bahagia lo emang nginjek-nginjek gue" sahut Rendra
"Tenang aja kak, aku ada dipihak kakak" ucap Nayla sambil mengelus bahu Rendra
"Ett, gue udah punya pacar" ujar Rendra segera menjauhkan diri
"Dih pede banget si" protes Nayla
"Oke silahkan nikmati pestanya, kami mau pamit" ucap Arva segera meraih lengan Mikaela untuk membawanya pergi
"Loh kan mereka yang punya acara, kok pamit duluan sih?" protes Nayla
"Kakk.." langkah Nayla terhenti
"Mau kemana?" tanya Vino yang sudah menarik kerah baju nya dari belakang, seperti anak kucing
"Mau nyusulin.."
"Ikut gue"
Rumah Arva
"Selamat datang di rumah kita" ucap Arva setelah membuka pintu rumahnya
"Kita?" ulang Mikaela
Arva mengangguk "Semua yang menjadi milikku adalah milikmu juga" jelasnya sambil membawa gadis itu untuk berkeliling.
Mikaela tertawa "Oke" jawabnya
"Kenapa ketawa?" heran Arva
"Kan aku pernah kesini" jawab Mikaela. Menjadi lucu rasanya ketika diberitahu tentang apa yang sudah diketahui
"Waktu kabur-kaburan?" tanya Arva, mengulas masa itu. "No problem, karena sekarang aku akan perkenalkan semua ruangan yang ada di rumah ini dengan resmi" jelasnya kembali ke ruangan selanjutnya
"Oh ya, satu lagi. Untuk kali ini aku gak akan membiarkanmu kabur lagi. Dan kamu gak punya alasan untuk itu." peringat Arva
"Jangan dibahas lagi" keluh Mikaela tak suka, membuat Arva mengacak rambutnya gemas.
"Ini tempatku menunggu makanan sambil melihatmu masak" ucap Arva sambil duduk di kuri pantry
Mikaela menyentuh belakang lehernya ketika membayangkan apa yang dikatakan pria itu "Bukankah itu akan mengganggu?" gumamnya
"Tidak sama sekali, tapi kalau kamu merasa terganggu itu masalahmu. Paling kamu masaknya bakal sedikit lama, tapi aku bisa melihatmu lebih lama juga" sahut Arva diikuti dengan tawanya karena melihat ekspresi keberatan dari wanita itu
Cup
Arva mengecup singkat kening Mikaela
"Kamu akan terbiasa" ucapnya sambil mengelus pipinya lembut
Cklek
Ruangan utama dari semua ruangan. Latar yang menenangkan, perpaduan antara warna putih dan abu-abu. Begitupun semua barang yang ada di dalamnya, tak ada warna lain selain kedua warna tadi.
"Welcome, ini kamar kita" jelas Arva
"Tempat dimana tak akan ada jarak antara kita" bisiknya
Tak ada jawaban, Mikaela malah masuk kedalamnya karena terpesona dengan beberapa lilin putih yang ada disana. Beserta lampu tumblr yang menghias ranjang, membuat kesan romantis itu benar-benar hidup.
"Kamu yang hias?" tanya Mikaela takjub
"Siapa lagi? tak ada oranglain yang kubiarkan masuk" balas Arva. Bahkan pelayan yang biasa membersihkan rumahnya saja tidak diizinkan masuk kesini.
Arva meraih lengan istrinya lagi untuk membawa ke ruangan lain yang ada di dalam kamarnya

"Disini tempat kamu menyimpan barang-barangmu" jelas Arva setelah menunjukkan walk in closet
Mikaela mengedarkan pandangannya ke berbagai penjuru yang sudah penuh dengan barang-barang yang bukan miliknya
"Semua itu milikmu" ujar Arva yang lagi-lagi menjawab pertanyaan yang sama sekali tidak dilontarkan
"A-aku?" ulang Mikaela
"Semuanya baru, maaf karena aku tidak izin untuk itu"
"Tapi ini .."
"Terlalu banyak?"
Mikaela mengangguk
"Kamu tidak akan memakai semuanya secara bersamaan sayangku" jelas Arva sambil memeluknya dari belakang
Mikaela menghela nafas "Tapi jangan kayak gini lagi" pintanya
"Kenapa? kamu istriku dan kamu berhak meminta apapun dariku" sahut pria yang menyimpan dagunya pada bahu Mikaela
Mikaela memutar tubuhnya untuk melihat sosok yang membuatnya spesial "Bukan mau menolak atau tidak menghargai tapi aku terbiasa hidup sederhana, dan aku tidak begitu auka dengan hal yang berlebihan?"
"Tidak suka? apa semuanya harus aku buang?"
"Enggak, untuk kali ini aku terima. Tapi .."
"Untuk lain kali aku harus bilang padamu dulu?" potong Arva untuk melengkapi kalimat Mikaela
Mikaela mengangguk "Aku tidak akan membeli apa yang tidak aku butuh" jelasnya
Arva mengangguk "Kelihatannya keberuntunganku bertambah" ucapnya
"Maksudnya?"
"Karena istriku bisa mengontrol keuangan dengan baik, tapi.."
"Tapi apa?"
"Aku butuh orang yang bisa menghabiskan uangku" timpal Arva dengan nada sombong "Karena istriku ini tidak mau mungkin aku harus cari yang bisa meng-cover?" lanjutnya lalu segera pergi dari sana membuat Mikaela menghembuskan nafasnya kasar
"Kenapa begitu?" protes Mikaela menyusul langkah suaminya
"Setiap detik aku menghasilkan uang, kalau kamu terlalu berhemat nanti bisa-bisa aku jadi masuk dalam orang terkaya se-ASIA." timpal Arva
"Loh, kan bagus. Bukannya cewek matre itu gak disukain ya? kok kamu malah sebaliknya sih"
Arva menghela nafas lalu membingkai wajah Mikaela "Yang bilang matre itu hanya para orang yang tidak mampu. Contoh, beli tas harga 15 juta. Orang bilang mahal, buang-buang uang, mending uangnya dipake makan. Nah itu menurut orang yang gak mampu, kalau yang mampu beli ya biasa saja." jelas pria itu dengan penuh kesabaran
"Lagipula pengeluaran itu harus seimbang dengan penghasilan, karena itu namanya perputaran uang. Kan orang lain juga mendapat pemasukan dari hasil yang kita keluarkan" tambahnya
Trekk
Arva menjentikkan ibu jari dan telunjuknya di depan wajah gadis yang malah bengong itu, membuat Mikaela tersadar
"Kenapa?" tanya Arva
"Aku lagi mikirin apa aja yang harus aku beli" jawab Mikaela polos
Arva mendesah lalu kembali melanjutkan langkahnya "Padahal aku memintanya untuk menikmati, kenapa malah jadi beban? aneh" gumamnya
"Dan ini tempat dimana kita akan membersihkan tubuh kita karena keringat dan bergadang semalaman" bisik Arva
"Bergadang?" ulang Mikaela
Arva memutar matanya malas, tidak harus menjelaskan lagi kan? biarkan mengerti dengan sendirinya.
"Dan itu" Arva menunjuk ruang kaca yang tak begitu besar dengan shower didalamnya "Sengaja, biar .." ucapannya terhenti ketika Mikaela segera menyilangkan tangannya di depan dada "Kenapa?" heran Arva
"B-biar apa?"
"Apa yang kamu pikirkan? huh" tanya Arva
Mikaela mengerjapkan matanya dan segera membenarkan tangannya "En-enggak mikir apa-apa" jawabnya gugup
Arva tertawa "Ini kan ada pintu, jangan mesum" bisiknya kemudian meninggalkan Mikaela yang tak terima dengan anggapannya
Hahahaha
Arva yang sudah terlentang di kasurnya masih betah tertawa "Istriku ternyata.."
"Arvaaaaa" protes Mikaela yang sudah ada di hadapannya
Arva segera menghentikan tawanya lalu berdeham untuk mengontrol rasa ingin melanjutkan tawanya karena melihat wajah Mikaela yang sudah merah padam "Sini duduk" pintanya sambil menepuk-nepuk area sampingnya
Mikaela menurut
"Hemm ganti baju gih, pasti gak nyaman kan?"
"Uhh tapi.."
"Kamu bisa ganti di toilet" tunjuk Arva ke arah toilet "Atau di walk in closet, aku gak akan ngintip, kamu tenang aja" jelas Arva sambil kembali menjatuhkan dirinya ke atas kasur
"Sekarang atau aku yang akan.."
"I-iya" potong Mikaela segera menurut, sebelum pria itu berubah pikiran
Arva menarik kedua ujung bibirnya lalu perlahan kedua matanya terpejam
Mikaela yang sudah mengganti gaun super panjangnya menjadi pakaian santai menghampiri pria yang sudah tak bergerak "Pasti capek" gumamnya
Kaki pria itu masih berjuntai ke bawah, membuat Mikaela harus menarik keatas tubuh berat Arva dengan tenaga seadanya agar pria itu tidur dengan nyaman
"Huhh hhh hh" Mikaela mengontrol nafas nya yang ngos-ngosan sambil mengusap keringat pada pelipisnya "Berat banget sih" keluhnya yang ikut membaringkan badannya di samping Arva.
Perlahan matanya pun ikut terpejam, rasanya kelopak matanya sangat berat untuk kembali terbuka. Tidurlah, tidak usah risau lagi. Hatimu sudah utuh, jiwamu sudah kembali.
•
•
•
PLEASE LIKE AND COMMENT ❤❤❤