
Tinggalkan like dan komentarnya ya
Agar author semangat lanjut ceritanya 😘
Happy Reading ♡♡
"Ndra.." heran Vino dengan keadaan temannya. padahal belum setengah jam tak bersama, wajah pria itu sudah babak belur tak tersisa.
"Mikaela, kok lo disini?" tanya Vino bertambah bingung karena tak mendapati Arva bersamanya. "Gak mungkin lo yang hajar si kunyuk ini kan?" sangkal Vino menyalahi tuduhannya sendiri
Mikaela menggelengkan kepalanya pelan "Kamu mending bawa dia ke UKS aja" usulnya yang akan segera melengang pergi
"Ehh tunggu.. lo mau kemana?" tahan Vino
"Mau pulang"
"Maksud lo gue harus ngobatin dia gitu? aishh enggak enggakk" elak Vino
"Loh, kalian kan temenan"
"Emang lo gak termasuk temennya? enak aja"
"Eh sialan buruan gue udah gak kuat berdiri" protes Rendra menoyor kepala Vino yang masih tak mau mengurusinya
"Bukannya memohon, gak tau diri jadi orang" ketus Vino
"Ayo Mik bantuin gue, mana bisa gue makein dia betadin?" keluh Vino
"Gak bisa emangnya?"
"Ya pokoknya ayokk, gue jijay kalo ngurusin dia sendirian takut kebablasan"
"Jomblo akut lu, emang napsu sama gu .. ahww ahhh" Rendra meringis dengan pergerakan mulutnya yang kelewatan
"Rasain haha nyusahin sih" ledek Vino sambil membantu Rendra untuk berdiri lalu membopongnya
"Kalo bukan temen lu, gua gak akan kayak gini anj*rr" sungut Rendra dengan ucapan tak jelasnya karena pergerakan mulutnya yang terbatas
"Maksud lo siapa?" tanya Vino
"Kalian mau jalan apa ngerumpi sih?" protes Mikaela yang membuntuti keduanya dari belakang
____________________
"Van lo ngapain sih?" tanya Vera ketika melihat temannya mengeluarkan pisau cutter
"Ssssttt.. lo jangan berisik" protes Vanya
"Bentar lagi dia lewat, nanti lo kasih tau dia kalo gue lagi coba bunuh diri" titah Vanya terburu-buru
"Di-dia siapa Van?"
Vanya memutar bola matanya malas, padahal mereka kenal bukan sehari duahari, tapi cewek loading lama ini masih belom hapal dengan apa yang dimaksudkannya. "Kek nya gue salah pilih temen" geram Vanya
"Arva lah, siapa lagi?" jelasnya
"Tuh dia dateng cepet sanaa" lanjutnya segera mendorong tubuh temannya untuk keluar kelas
Vera yang segera menepuk-nepuk pipi wajahnya agar tidak kaku. "Arva" panggilnya kemudian
"V-Vanya .. tolongin dia Arv cepetan" gelisah Vera
"Vanya dimana?" tanya pria itu
"Di dalem .. dia bawa, bawa cuter Arv tolongin" keluh Vera lagi pada pria yang sudah menghampiri gadis sakau itu
Di pojok kelas Vanya sudah memegang erat pisau kecil sambil menempelkannya pada urat nadi pergelangan tangan satunya.
"Vanya stop" tahan Arva dengan tangannya yang ikut memberi kode agar wanita itu mengurungkan niatnya
Vanya mendongakkan wajahnya "Arva" gumamnya sambil menarik ujung bibirnya tapi ia kembali memudarkannya lalu menggelengkan kepalanya "Gue gak mau lo pergi" tuturnya dengan air mata yang sudah merembet membasahi pipi nya
"Gue gak kemana-mana" ucap Arva mencoba menenangkan wanita yang masih memegang erat pisaunya
"Sekarang lo buang pisau itu" ucap Arva dengan menatap mata wanita itu untuk menyalurkan sugesti penuh ketenangan, dengan tinggi tubuh yang sudah ia sepantarkan karena lututnya menyentuh tanah
"Lo gak bohong kan?" tanyanya minta diyakinkan
"Gue janji" yakin Arva
Vanya kembali menampilkan senyumnya "Gue tau lo gak akan ninggalin gue" ucap Vanya tersenyum senang.
"Ssshh Ahhw" ringis Vanya tiba-tiba kembali memudarkan senyumnya karena merasa perih pada pergelangan tangannya. "Darah?" kaget Vanya yang segera menjatuhkan pisau yang yang dipegangnya, membuat Arva yang masih belum menyadarinya pun ikut terperanjat
"Da-darah" teriak Vanya histeris. Melihat betapa kental dan merahnya darah itu mengalir keluar dari nadinya yang mungkin sudah terputus dibuatnya
Pandangan Vanya meremang "A-arva" panggilnya lemah. "Lo tenang.." Ucap Arva sambil berusaha mengangkat tubuhnya
"A-aku gak mau mati" ucap wanita itu yang langsung kehilangan kesadarannya.
"Kok aktingnya kayak beneran" batin Vera meringis ngeri
________________________
"Den Arva?" panggil seorang pengasuh Vanya yang baru datang
"Non Vanya kenapa den? kok bisa begini?" tanyanya panik
"Aduhh, nanti bibik harus bilang apa sama nyonya??" keluhnya dengan masalah lain yang akan segera dihadapinya
"Tante Dewi tau?" tanya Arva
"Tau den, sebelum bibik bilang juga nyonya udah tau duluan" jelasnya
"Bibik tenang aja, nanti saya yang jelasin" ucap Arva
"Aduhh enggak den, kan aden yang selamatin non Vanya"
Arva tak bergeming. Penyelamat atau penyebab? ia sendiri tak tau termasuk kepada yang mana. Arva kembali menyandarkan kepalanya pada tembok yang ada di belakangnya dengan mata terpejam dan mendongakkan kepalanya keatas. Sebuah terapy yang selalu membuatnya sedikit tenang
"Mikaela" gumamnya mengingat seseorang yang sudah terlupakan
Arva kembali mengusap kasar wajahnya. Ia tidak mungkin meninggalkan Vanya sebelum bisa memastikan kalau keadaan wanita itu baik-baik saja
"Dok gimana keadaan majikan saya?" tanya wanita berumur 40 tahunan itu
Dokter yang baru keluar dari ruangan tersebut menghembuskan napasnya lalu membuka stetoskop yang masih menyumpal pada telinganya "Ia memerlukan donor darah" ucapnya
"Untung saja pasien segera dilarikan ke rumah sakit, jadi darah yang ia butuhkan tak begitu banyak" lanjutnya lagi menjelaskan
"Tapi.. kami kehabisan stok golongan darah AB, mungkin bisa segera dihubungi keluarganya" tutur Steffi
"AB?" ulang Arva.
"Kalau bisa hari ini juga" tambah dokter muda berbakat itu
"Tante Dewi.."
"Nyonya gak akan mungkin sampai ke indonesia hari ini juga den" ucap bik Rini
"Vanya gimana Arv?" tanya Vino yang baru sampai
"Dia butuh donor darah" jelas Arva
"Mikaela.."
Vino menunjukkan keberadaan wanita yang ditanyakan sahabatnya itu dengan menggedikkan dagu nya
Mikaela yang berjalan terhalang pria dengan wajah babak belur
"Dia butuh darah apa?"
"AB" jawab Arva
"Arggghhh" geram Rendra mengepal kuat tangannya. Ia yang menyebabkan semua ini tapi tak ada yang bisa ia bantu, kalau darahnya satu golongan maka ia rela memberikan semua darah yang mengalir pada tubuhnya
"Disini gak ada yang darahnya cocok" ucap Vino
Arva melihat pergerakan Mikaela yang entah mau pergi kemana "Mikaela?" panggil Arva
"Pasien siuman" ucap suster yang keluar dari ruangannya
"Den.." tahan bik Rini membuat Arva tak jadi menyusul pergerakkan kekasihnya
"Non Vanya mau ketemu" lanjutnya
Arva menghembuskan napasnya, lagi-lagi ia harus mengabaikan wanitanya itu.
"Arva?" panggil Vanya pelan
"Lo jangan banyak ngomong dulu" tahan Arva
Vanya tersenyum "Gue seneng lo ada disini" tuturnya
Arva mengangguk "Sekarang lo istirahat"
"Tapi lo jangan kemana-mana" pinta wanita itu
Arva lagi-lagi mengangguk mengiyakan permintaannya. Ia heran, kenapa harus merasa bersalah seperti ini?? dan parahnya lagi semua itu membuat dirinya tunduk.
Tak ada yang bisa disalahkan dalam hal ini. Hanya saja, bisakah ia egois untuk hanya memikirkan cintanya saja?? hatinya juga butuh dipuaskan
"Lo susul Mikaela" bisik Vino
Arva melirik ke arah suara dan sedikit butuh waktu untuk mengerti maksud sahabatnya itu
"Biar gue yang disini" jelas Vino
"Gue bisa pura-pura jadi lo" lanjutnya lagi sambil menarik kedua ujung bibirnya
Arva mengedarkan pandangannya "Rendra??"
"Sejak kapan lo mikirin dia?"
Arva mengangguk "Thanks"
•
•
•
PLEASE LIKE AND COMMENT
Like Like Like
Comment Comment Comment