
Happy Reading ♡♡
"Pemenangnya adalah kelompok tigaaa" ucap Melvin dari ujung toa
Mikaela dan Rani menarik kedua ujung bibirnya. Antara senang atau ogah, beda tipis sih soalnya gak kentara gitu ekspresinya
"Pengumpul sampah terbanyak" gelar yang membanggakan bukan?
Tepuk tangan malas dari para maba mulai saling menyaut. Yah jelas menang lah, kelompok tiga ini didominasi oleh lelaki jadi matanya gak jelalatan liat senior ganteng
"Rewardnya.."
Deg deg
"Yang menang akan berkesempatan untuk bergabung dengan kami, menjadi anggota baru di BEM" ucap Melvin
Mikaela menganga sambil mengaitkan alisnya. Ko hadiah gada bagus-bagusnya sih, misalkan diistirahatkan dari 2 hari terakhir ospek ? Kan lebih menyenangkan. Kenapa harus ikut-ikutan organisasi? Bikin capek aja, Ini bukan Mikaela banget
Ehh kan bisa deket-deket senior tau
Tukan lo sih ah ga niat banget mulung
Ishh tau gitu gue puasa mata sih tadi
Yahhhhhhhhh
"Serius hadiahnya itu doang??" Ucap Mikaela
"Itu doang?" Tanya balik Rani
"Jadi anggota BEM disini tuh susah banget, pokonya itu harus sempurna" jelas Rani antusias
"Terus ya emang kenapa?" Tanya Mikaela lagi
"Kamu emang ga berminat ya?" Sangka Rani yang dibalas anggukkan langsung tanpa ragu
________________
Bugg
"Ahww" Mikaela mengusap dahinya yang beradu dengan badan seseorang ketika hendak berbelok mengikuti dinding koridor
Hening
Hanya tatapan yang seperkian detik saling bertautan lalu terlepas dan berlalu tanpa kata
"Ma ma af" ucapan Mikaela yang memutar tubuhnya membuat Arva menghentikan langkahnya sebentar. Tak ambil pusing, tanpa menoleh langkah itu dilanjutkannya lagi
Mikaela memutar matanya lalu bergidik merinding dengan sosok apa yang sudah berlalu di depannya tadi. seakan berada di kutub utara, Bagaimana bisa cuaca dingin menjadi hal yang diidamkan?
____________________
Seperti biasa, Mikaela harus bangun lebih awal dari semua orang yang berada di rumah sederhana ini. Bahkan kokokan ayam pertama saja mampu membuatnya terbangun dari tidur lelapnya
Tinggal di rumah orang memang harus banyak tau diri. Meskipun masih anggota keluarga, tapi? Yah begitulah istri pamannya sangat itungan.
Tidak mungkin kan ia harus membayar uang sewa? Itu akan menurunkan derajat pamannya. Jadi, Mikaela memilih untuk membantu pekerjaan rumah ya walaupun hampir semua hal ia yang kerjakan sendiri
Sinar matahari mulai menyerobot masuk dari jendela. Semua makanan sudah dihidangkan di atas meja makan tinggal menunggu para penyantap yang masih sibuk membersihkan dirinya atau bahkan masih meregangkan ototny di atas kasur dan kembali menyelimuti dirinya
"Kenapa pagi sekali?" Tanya Erik, paman yang melihat kesigapan Mikaela dengan kesiapannya
"Ini hari pertamaku di kampus hehe" jawab Mikaela dengan wajah yang berseri
Nayla yang baru keluar dari kamarnya melangkah malas. Anak yang baru masuk SMA ini memang seperti ibunya, tidak suka dengan kehadiran Mikaela yang dianggapnya sebagai pengganggu ketenangan mereka.
__________________
"Apa aku harus ngekost aja ya?" Pikir Mikaela sambil melangkahkan kakinya di lantai koridor panjang nan megah
"Welcome" sapa Melvin dengan wajah cerahnya
Mikaela terkesiap dengan kemunculan pria yang tak terduga ini "ahh .. ya .. hehe" jawab Mikaela sedikit gugup
"Melvin" ucap Melvin sambil mengulurkan telapak tangannya
"Emm.. Mikaela" Mikaela membalas uluran tangannya.
Siapa sih yang gatau pria ini? Kenapa repot-repot ngenalin diri? Semua orang pasti udah kenal siapa dia kan?
"Emm gimana ya? Baru masuk sih belum kerasa" jawab Mikaela polos
Melvin tertawa membenarkan, pertanyaannya terlalu cepat. Harusnya minimal ya nanya pas istirahat lah kalo gak pas jam pulang. Tapi yah namanya juga basa-basi, nyari topik itu susah bos
Mikaela mulai tak nyaman dengan langkahnya yang berbarengan dengan Melvin di sampingnya. Ia jadi perhatian pasang mata yang terlewati
"Bukannya kelas kaka arah sana ya?" Tanya Mikaela. Ingin memisahkan diri tapi tidak tau harus dengan cara apa
"Masih kepagian, gapapa ngulur waktu dikit" ucap Melvin tak menyerah
"Mikaa" panggil Rani dari belakang
"Ran" balas Mikaela antusias yang langsung memutar tubuhnya
Mikaela menghembuskan napasnya lega. Akhirnya datang juga sang penyelamat hidupnya kali ini
Melvin ikut menghentikan langkahnya menunggu Mikaela yang sedang menunggu. Hemm
"Kak .." sapa Rani
"Hai Ran.." balas Melvin
Rani menyatukan alisnya "ko.. ko bisa tau namaku?" Tanya Rani malu
"Barusan denger Mikaela manggil kamu" ucapnya
"Ooooohhhh" mulut Rani terbentuk huruf O sempurna
"Aku Rani ka.." Rani menegaskan marena tadi Mikaela hanya menyebutnya dengan sebutan Ran saja
"Emm ya .. Rani" ulang Melvin
"Ko bisa bareng" bisik Rani di telinga kiri Mikaela
Mikaela membalasnya dengan gelengan cepat dan tertahan agar Melvin tidak merasa dibicarakan.
_______________
Hari pertama memang belum disibukkan dengan mata kuliah yang akan segera menumpuk di minggu depan
Hanya perkenalan mahasiswa dan dosennya secara bergantian. Setelah itu berdatangan perwakilan berbagai macam organisasi yang mempromosikan kegiatannya untuk menarik anggota baru
Mikaela tidak begitu berminat dengan kegiatan semacam organisasi, ia lebih suka belajar di rumah dan menghabiskan waktunya bersama keluarga dan orang tersayang
Tapi sekarang? Rumah memang sudah bukan lagi menjadi tempat ternyamannya. Ibu tidak ikut pulang bersamanya karena sedang menjalani berbagai pengobatan yang tidak bisa ia tinggalkan, memang merasa bersalah karena tidak dapat menemaninya. Tapi mau gimana lagi? Sahabat terbaiknya pun berada di negara yang ia tinggali beberapa waktu lalu
Sedangkan disini? Meskipun tempat kelahiran tapi karena sekian lama tidak tinggal disini membuatnya merasa asing dan harus membiasakan diri
Ka Arva ko ga ikut masuk ya
Ganteng banget ya tuhan
Ikutan yuuuah biar barengan
Bisikkan dari berbagai arah membuat tatapan Mikaela beralih ke arah pintu kelas. Menampilkan pria dingin yang beberapa waktu lalu bertabrakan dengannya
Mikaela menajamkan tatapannya, mengabsen tiap sudut tubuh pria yang disebut sebagai idaman ini
"Ga ada yang menarik, cuman modal ganteng doang. Mungkin karena tajir juga" gumamnya
"Serius banget?" Ucap Rani ikut melihat apa yang sedang diperhatikan teman di sampingnya
Mikaela membuang tatapannya ketika pria tersebut mulai merasa diperhatikan. Yang merhatiin kan banyak, kenapa harus liat ke Mikaela? Yahh mungkin aja kebetulan jatuhnya kesitu duluan kan gatau
"Eh ko jadi gue?" Ucap Rani yang ikut memalingkan tatapannya
"Gue yang kepergok" tambah Rani yang tak terima karena sudah merasa terjebak
Mikaela ******** bibirnya dan memfokuskan diri kedepan mendengarkan penuturan perwakilan dari Organisasi teater, berusaha sekeras mungkin menahan tawanya karena ekspresi Rani saat ini sangat melilit perutnya.
Mikaela menarik tangan Rani yang sedang menutupi wajahnya sendiri sejak tadi "pede banget sih udah kali" ucap Mikaela sambil ngekeh pelan
"Sialan banget si" Rani masih menggerutu
Tap tap
Langkah seseorang terhenti di depannya