
Nungguin yaa?? kangen gakk?? i am so so sorry to late..
jangan lupa like dan komentar yang bejibun eaakkkk ππ
Tinggalkan like dan komentarnya ya
Agar author semangat lanjut ceritanya π
Happy Reading β‘β‘
Berusaha sekeras apapun untuk tidak melihat pria itu, matanya seolah menolak, tatapannya tetap jatuh pada pria yang terlihat sedang tidur dengan posisi duduk menggunakan kedua lengan sebagai alas kepalanya di samping tubuhnya
Mikaela sedikit meringis ketika melihat luka pada pelipisnya masih ada dan sudah mengering tanpa diobati terlebih dahulu. Memangnya gak bisa ngobatin sendiri? cowok manja
Cklek
"Maaf bu.."
"Ssstt" Mikaela berdesis pada wanita muda yang baru masuk tersebut agar memelankan suaranya
"Saatnya ganti infus" lanjut perawat itu sedikit berbisik.
"Sus, tolong obatin luka dia" tunjuk Mikaela pada sosok pria yang masih lelap itu yang langsung diangguki karena luka nya memang terlihat jelas
Arva sedikit meringis dalam tidurnya ketika mendapati pengobatan dari suster tadi, tapi tidak sampai bangun. Mungkin kelelahan karena harus menungguinya beberapa hari di tempat ini
"Bu, sepertinya suami ibu sedikit demam" ujar suster
"S-suami.." gumam Mikaela
"Bu??" buyar suster tadi atas lamunan tak beralasan wanita itu
"Umm maaf sus" sahut Mikaela mengusap pelan wajahnya
"Demam ya?" ulang Mikaela dengan perlahan menyentuh kening pria itu untuk sekedar memastikan
"Ya ampun" keluhnya. Bukankah sebelumnya pria itu memang sudah demam dan menolak pengobatan darinya?? apakah masih belum juga sembuh? bagaimana mungkin bisa menahan sakit selama itu?
"Arva bangun" Mikaela sedikit menggoyangkan tubuh pria itu agar sadar
"Hmm" jawab pria itu berdeham
"Sus tolong dong, bawa kursi roda aja biar dia pindah ke kamar perawatan juga" pinta Mikaela yang langsung dituruti
Suster tadi sudah kembali bersama beberapa perawat pria untuk memindahkan Arva ke kursi roda yang dibawanya. Berselang berapa menit pintu kamarnya kembali terbuka membuat Mikaela berdecak, pria itu pasti tak mau diurus lagi
"Ar.." ucapannya terhenti karena mendapati pelukan yang tiba-tiba dari pria lain
"Sorry gue gak tau lo sakit" ucap Vino
"Kenapa lo sampe begini? Arva ngapain lo? huh" tanya Vino bertubi-tubi setelah beralih membingkai wajah Mikaela
"A-aku gak apa-apa" jawab Mikaela sambil menetralkan wajahnya yang tak terbiasa dengan jarak sedekat itu dengan pria selain Arva
"Bayi lo?" tanya Vino ragu, sontak membuat air mata Mikaela kembali meleleh seolah diingatkan kembali
Mikaela segera menutup mulutnya untuk menahan segukan tangisnya "Dia udah gaada" adu Mikaela pilu penuh duka
"Brengsek" gumam Vino penuh amarah yang ia tujukan pada pembuat onar
Seketika rasa panas yang menjalar ke seluruh tubuhnya memudar ketika Mikaela memakai bahu nya sebagai sandaran, hati nya seolah ikut menangis, duka itu tersalur padanya. Alih-alih marah, Vino lebih ikut merasakan kesedihan yang sama
Tubuh Vino kembali tegang ketika mendapati sosok pria yang berdiri di celah pintu, ingin sekali ia menghajar habis wajah datar itu untuk membalaskan luka wanita ini, rasanya itu pun belum cukup
Vino mulai melingkarkan kedua lengannya pada wanita yang masih hanyut dalam sedihnya. Ia megelus lembut punggung Mikaela yang sontak membuat ekspresi wajah pria yang masih berdiri di luar itu berubah dan segera memilih hilang dari tempatnya. Ya, agar setimpal sekarang ia tau harus apa
"Sekarang lo makan" ucap Vino sembari meraih semangkok bubur khas rumah sakit tanpa rasa itu dari atas nakas
Mikaela menggelengkan kepalanya
"Sus Arva gimana?" tanya Mikaela pada seorang perawat yang baru saja akan keluar dari ruangannya
"A-arva?" ulang suster tersebut kenbali mengingat-ingat
"Suami saya" jelas Mikaela. Ya, suster itu hanya hafal sebutan suami bukan nama milik pria itu
"Ohhh suami ibu" ucap suster tersebut
"Loh bukannya tadi suami ibu balik lagi kesini ya?" ujar suster itu malah mempertanyakan kembali
"Huh, balik lagi kesini?"
"Iya, soalnya pas mau diangkat ke ranjang beliau bangun dan pergi gitu aja" jelas suster
"Terus sekarang?"
Suster itu hanya menggaruk kepalanya pertanda tak tau menau "Kok bisa sih?" keluh Mikaela
"Kalau begitu saya permisi bu, nanti saya kabari lagi kalau ketemu suami ibu" terang susternya yang beranjak pergi
"Suami?" tanya Vino menuntut penjelasan
"Uhmm, mereka menganggap kita sepasang suami istri" jawab Mikaela di sela kebingungannya
"Kenapa gak dibantah?" tanya Vino
Mikaela diam, bukan tak bisa menjawab hanya saja pikirannya sedang berkelana, ulah siapa lagi kalau bukan Arva?
"Udahlah gak usah dipikirin, dia bukan anak kecil, gak akan tersesat" jelas Vino membuyarkan lamunan Mikaela
"Sekarang lo makan" ucap Vino lagi melanjutkan niat awalnya yang terpotong hal-hal tak mesti
"Aku gak laper" ucap Mikaela mengindari sendok yang diarahkan padanya
"Keras kepala" gumam Vino
"Biar cepet sembuh dan bisa bebas dari Arva, lo gak mau? lo masih mau dikekang cowok itu?" tegas Vino memberi pilihan yang menggiurkan
________________________
"Kok lo disini?" heran Rendra mendapati Arva yang duduk di depan ruangan Mikaela
"Arv, kok lo biarin mereka berduaan?" protes Rendra setelah mengintip dari jendela pintu
"Woyy" Rendra menyenggol tubuh menunduk pria itu
"Bisa diem gak?" protes Arva
"Lo biarin Mikaela sama Vino?" tanya Rendra, Arva kembali menunduk tak menjawab
Rendra berdecak "Yang dijagain aja bisa hilang, apalagi enggak dijagain" ucap Rendra
"Bekas temen bukan hal yang menjijikan, hanya kurang kesetiaan" lanjut Rendra
"Setia itu memang mahal tapi apa harus setia pada orang yang tak menghiraukan ?" lanjut Rendra lagi
"Gue cuman ngasih Mikaela space" timpal Arva
"Sejak kapan? rasanya aneh kalo orang yang biasa ngekang tiba-tiba jadi slow kek gini, kesannya tuh jadi kayak lo yang udah gak niat lagi" jelas Rendra
Arva menghela napas "Gue cuman mau jadi apa yang dia mau" sahutnya
"Terserah lo sih cuman sesuatu yang udah gak digenggam kuat bisa lepas kapan aja"
"Sus" panggil Rendra pada seseorang yang lewat di depannya
"Iya pak?" sahutnya
"Eh ini suaminya bu Mikaela kan ya?" tanyanya pada pria yang mulai menegakkan tubuhnya
"Loh pak kemana aja? bukannya tadi mau kembali ke kamarnya bu Mikaela? kenapa gak bilang? tadi bu Mikaela nanyain loh pak, saya gak bisa jawab kan jadinya" tutur perawat itu panjang lebar dengan kecepatan penuh
Arva diam
"Mikaela nanyain lo" tegas Rendra pada pria yang mungkin kepalanya agak terganggu jadi tak bisa menangkap penuturan perawat di depannya ini
"Nanyain? ngarang lo. Tadi gue lagi tidur aja dipindahin, karena ada orang yang mau besuk" sangkal Arva
"Bapak tadi demam, jadi istri anda nyuruh saya memindahkan bapak ke ruangan perawatan" jelas perawat dengan wajah datar. Jaman sekarang mungkin sedang musim cemburu dalam diam
"Astaga" Rendra meremas rambutnya gusar "Bisa gak sih lo gak usah suudzon?" protesnya. "Arva??" Rendra mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan pria yang sudah tak ada di tempatnya
"Apa kan gue bilang? gak bisa dibilangin, mentang-mentang gue sering salah kan bukan berarti gak pernah bener" rutuk Rendra ketika melihat sosok pria yang dicarinya sudah kembali menunjukkan sisi posesifnya
Kedua mata Rendra membulat sempurna ketika melihat sosok wanita yang menghampirinya "Ehh Van" sapa Rendra menghampiri
"Ruangan Mikaela dimana?" tanyanya ketus
"M-Mikaela? emang dia disini?" tanya Rendra balik
"Terus lo ngapain disini? lo habis dari dia kan?" tuduh Vanya
Rendra tertawa kikuk "Gue habis ke.." ucapannya terhenti "Van kok muka lo.."
Vanya segera menyentuh wajahnya "Kenapa?" tanyanya panik
"Emm apasih namanya itu, kayak ganti kulit gitu sih lo salah perawatan?"
"Serius lo?" kegetnya segera mengeluarkan cermin kecil dari tas nya
"Astaga" kaget Vanya segera balik kanan.
Rendra menghembuskan napasnya lega, namun tiba-tiba langkahnya terhenti "Lo harus anterin gue" tegas Vanya segera meraih lengan Rendra untuk mengikuti langkahnya
__________________________
"Kamu kemana aja?" protes Mikaela pada pria yang baru menunjukkan batang hidungnya
Hening
Suasana menjadi canggung
"Selamat sore, apa ada keluhan?" tanya seorang dokter memecah keterdiaman
"Enggak ada dok" jawab Mikaela
"Syukurlah, besok pagi anda udah bisa pulang" ucap Steffi to the point, membuat Mikaela tersenyum tipis karenanya
"Makasih dok" ucap Arva
"Besok gue jemput" tutur Vino
Arva menarik ujung bibirnya "Ngapain lo repot-repot ngurusin pacar orang?" ketusnya
"Hubungan kalian udah sampe sini. Lagipula lo gak punya tanggungjawab apa-apa lagi, lo sendiri yang melenyapkan semuanya" timpal Vino
"Sejak kapan sebuah hubungan diakhiri oleh selain orang yang menjalin hubungan? lo cuman orang luar, gak usah ikut campur"
"Kalian berdua bisa diem gak sih?" geram Mikaela
"Bukannya kalian temen baik?"
"Itu dulu, sebelum tau dia mau apa yang gue punya" jawab Arva
β’
β’
β’
PLEASE LIKE AND COMMENT
Like Like Like
Comment Comment Comment