My Cold Senior

My Cold Senior
I Love You



Tinggalkan like dan komentarnya ya


Agar author semangat lanjut ceritanya 😘



Happy Reading ♡♡



Arva tak bisa menghentikan senyum yang selama ini hampir tak pernah menunjukkan keberadaannya. Tangan kanannya memegang setir dan yang satunya tentu saja menggenggam tangan orang yang menjadi satu-satunya alasan untuk tersenyum.



"Kenapa tangan lo dingin? lo sakit?" tanya Arva setelah menepikan mobilnya. Pria itu menyentuh kening Mikaela "Lo demam" ucap Arva mulai panik



"Enggak kok, aku cuman.."



"Kita ke rumah sakit" serobot Arva dengan cepat mengambil keputusan



"Aku cuman gugup" ucap Mikaela, membuat pria itu mengurungkan niatnya



"Gugup? kenapa?"



Mikaela menggelengkan kepalanya pelan, ia mengalihkan pandangannya lalu membuka kaca jendela, untuk mendapatkan udara segar agar menerpa wajahnya yang dirasa kaku



Arva meraih dagu Mikaela lalu membawanya untuk kembali menghadap padanya. Ia mengabsen wajah wanita itu dengan teliti "Lo pucat" ucapnya



Mikaela membawa lengan pria itu "Aku cuman malu" ucapnya pelan



"M-malu?" Arva mengedarkan pandangannya ke segala arah "Gak ada siapa-siapa perasaan" lanjutnya



Mikaela mendesah, pria itu memang sengaja membuatnya semakin bertambah malu. "Kamu ngeselin ya" ucapnya merengut



"Lagian kenapa harus malu sih?" tutur Arva sembari mencondongkan tubuhnya, membuat Mikaela terpojok seperti yang biasa ia lakukan. Munkin itu salah satu hoby nya



Kring kring


Dering telepon menggagalkan bibirnya yang hampir saja bersentuhan satu sama lain



Arva berdecak lalu kembali pada posisinya



"Kenapa?" tanyanya malas



"Vanya nanyain lo terus, cepetan balik" ucap Vino



"Lo urus aja tuh nenek sihir, jangan ganggu !" tut tut



"H-Halo" ucap Vino sekali lagi



Vino melihat layar ponselnya lalu mengocok benda tersebut



"Lo abis kejedot atau begimana sih" ucap Rendra melihat tingkah aneh sahabatnya



"Si kampret dikasih hati minta jantung" rutuk Vino



"Dia gak mau balik?" tebak Rendra



Vino mengangguk "Lo gimana sih? katanya pangeran cinta, tapi rebut hati cewek gitu aja gak bisa"



"Lo ngeraguin kemampuan gue?" protes Rendra



"Ya jelas lah"



"Lo gak liat muka gue? ulah temen sialan lo itu kemampuan gue jadi gak berfungsi" sangkalnya



"Bacot"



_________________________



"Vino bener.." ucapan Mikaela terhenti dengan telunjuk Arva yang menyentuh bibirnya



"Gak ada yang lain selain kita" elak Arva, membuat Mikaela mengukum habis bibirnya



"Tapi Vanya.." ucapan itu kembali mengurungkan niat Arva yang akan segera melajukan mobilnya



"Gak usah mikirin siapapun" peringat pria itu lagi



"Kamu bilang kan sampe dia sembuh, aku gak apa-apa kok" ucap Mikaela sambil menampilkan senyum manisnya



Arva melenguh, tak seharusnya ia mengatakan hal seperti itu. "Hati lo terbuat dari apa aih sebenernya" ucapnya tak habis pikir



"Kamu gak usah berlebihan, lagian kan cuman sementara" jawab Mikaela masih bertahan dengan senyumnya



Senyum wanita itu perlahan memudar ketika wajah pria itu semakin dekat dengannya. Arva memegang dagu Mikaela, napas keduanya mulai saling bersentuhan



Arva kembali menjauhkan wajahnya setelah bibir keduanya saling menyentuh "Lo sakit" ucap Arva merasakannya melalui napas Mikaela yang beda dari biasanya



Mikaela segera membingkai wajah pria itu, membuat Arva menautkan kedua alisnya "Kita ke.." ucapannya terhenti ketika Mikaela sudah memagut bibirnya terlebih dahulu



Arva diam terpaku, pikirannya serasa buntu, ia lupa dengan apa yang seharusnya ia lakukan. Pria itu mulai mengikuti pergerakan halus wanitanya, Arva memejamkan kedua matanya lalu memperdalam ciumannya, ia mengabsen tiap sudut rongga mulut Mikaela dengan penuh hasrat.



"i love you" tutur Mikaela menahan kesadarannya



"Mikaela.." panggil Arva ketika wajah wanita itu jatuh ke celuk lehernya



"Lo tidur?" tuduh Arva



"Mikaela.." panggilnya lagi untuk memastikan



"Mik jangan bikin gue takut" tubuh Arva yang sudah menegang kembali melemas ketika kedua lengan Mikaela melingkar pada punggungnya




Arva segera mengembalikan tubuh wanita itu untuk berada di posisi awalnya, dengan sedikit membenarkan jok kursinya agar lebih nyaman. "Aku gak apa-apa" ucap Mikaela tanpa membuka matanya



"Ya, seperti yang lo bilang. Lo gak pernah mengatakan apa yang sebenarnya lo rasakan" ucap Arva sambil bergegas menyalakan mobilnya untuk segera kembali ke rumah sakit.



Dengan tergesa Arva segera membawa Mikaela ke ruang rawat "Dok periksa keadaan pacar saya" ucapnya dengan napas tak karuan



"Oke anda bisa nunggu di luar" pinta Stefi



"Emangnya kenapa sih? gua gak ganggu lo kan" amuk Arva membuat dokter muda itu tersentak dengan perkataan kasarnya



"Anda tunggu di luar, atau pacar anda akan kenapa-napa karena saya gak bisa fokus karena ulah anda" tegas Stefi tak kalah garang



Arva menetralkan emosinya lalu segera keluar ruangan, atau akan terjadi apa-apa dengan Mikaela seperti yang dokter itu bilang



"Arva lo balik" ucap Vino antusias



Arva tak menjawab, ia hanya duduk sambil menunduk dengan mengusap kasar wajahnya.



"Ada masalah?" heran Vino melihat sikap temannya yang berubah 180 derajat dengan 30 menit yang lalu di balik telepon



"Mikaela di dalem" jawab Arva pelan tanpa merubah posisinya



"What? Kok bisa? Lo apain dia?" kaget Rendra



"Maksud gue dia kenapa?" ulangnm Rendra menjelaskan pertanyaan sebelumnya



"Lo pikir gue yang bikin dia sakit?" protes Arva



"Ya tapi tadi kan dia baik-baik aja.."



"Lo bisa diem gak?" protes Vino segera membungkam mulut orang yang terus meracau tanpa henti. Menambah pusing kepala orang yang mendengarnya



"Lo pikir gue bocah TK?" protes Rendra melepas bungkaman Vino dari mulutnya



"Aisshh abis makan apa lo, bau" Sungut Vino memeperkan telapak tangan basahnya pada celana panjangnya



"Makan. ."



"Ngapain lo disini? temenin cewek lo sana" potong Arva



"Pengennya sih, tapi dia ngusir gue ya gimana dong?"



"Dok gimana keadaan pacar saya?" serobot Arva setelah Stefi memunculkan ujung hidungnya keluar dari ruangan.



"Oke.. tapi gak sedeket ini juga" protes Stefi dengan posisi pria yang menanyainya, sampai ujung hidungnya hampir menabrak dada bidang pria itu



"Sorry" ucap Arva mendorong balik kedua orang yang membuat posisi tubuhnya sangat dekat seperti itu



"Dia baru aja mendonorkan darahnya, padahal keadaan tubuhnya tidak mengharuskannya melakukan pendonoran darah"



"Maksud dokter?" tanya Vino ingin penjelasan yang lebih rinci



"Anda pacarnya? saya butuh bicara" tutur dokter tersebut nembuat Arva segera mengekorinya



"Apa? dokter gak salah kan?"



"Saya kuliah kedokteran di Harvard University, dan lulus dengan predikat terbaik, lalu anda meragukan kemampuan saya?" protes Steffi



"Uhh oke, tapi saya baru melakukannya satu kali, kenapa bisa.."



Steffi memutar kedua matanya "Ternyata sekedar tampan itu tidak menjamin rasa tanggung jawab seorang pria" cibirnya



"Dokter jangan salah sangka, maksud saya.."



"Lalu apa? yang penting anda merasa telah melakukan hubungan seperti itu kan?"



Arva diam tak menjawab



"Kalau sampai saya tau anda menyuruh pacar anda menggugurkan kandungannya, saya akan tuntut anda. Sudah sepatutnya pria macan anda musnah dari bumi ini" ucap Steffi dengan napas tak karuan



Arva masih diam tak menjawab



"Anda dengar perkataan saya tidak?" protes Steffi menggebrak meja



Arva mengangkat wajahnya "Maksud dokter , pa-pacar saya, Mikaela hamil?" tanyanya ragu



Steffi menautkan kedua alisnya, lalu penuturan panjangnya sejak tadi dianggao sebagai apa? "Dari tadi.."



"Makasih dok, saya akan jaga pacar saya dengan baik" ucap Arva antusias



"Tunggu.." tahan Steffi






•


•


•


PLEASE LIKE AND COMMENT


Like Like Like


Comment Comment Comment