My Cold Senior

My Cold Senior
Gengsi



Tinggalkan like dan komentarnya ya


Agar author semangat lanjut ceritanya 😘



Happy Reading ♡♡



Bruk


Arva menghentakkan gelas minumannya di atas meja, membuat benda di atasnya ikut bersuara. Orang yang mengelilingi meja? Tentu saja tersentak. Yamasa gempa? Gak mungkin kan





"Lo kenapa?" Tanya Rendra dengan mulut yang penuh cemilan



Arva membuang pandangannya ke arah lain. Vino yang menyadari tatapan anehnya sejak awal mampu paham, ia tau apa yang membuat sobatnya gak jelas begini.



Baru kali ini perubahan sikap yang signifikan terjadi pada pria acuh tak acuh seperti Arva. Tapi sebab itu, dapat dengan mudah membedakan sikap tak biasanya.



"Gue balik ada kerjaan" ucap Arva tanpa pikir panjang



Vino menahan bahu Arva sebelum ia bangkit dari kursinya. "Lo yakin? Gak penasaran mereka disini ngapain?" Bisiknya sambil menggedikkan dagunya ke arah yang bersangkutan



"Apa urusannya sama gue? Gila" sangkal Arva lalu pergi dan menghilang dari pandangan.



Vino hanya menggelengkan kepalanya tak habis pikir "gengsi digedein" gumam Vino



"Apa? Ngomong apa lo?" Tanya Rendra



"Siapa yang gengsi? Gue? Enak aja" protesnya



"Siapa yang ngomong sama lo? Geer najis" protesnya balik



"Eh kunyuk ! Si Arva udeh kabur noh. Terus lo ngomong ama siapa lagi? Gelas? Gila lo ya" celotehnya



"Serah lo" pungkasnya mengakhiri perdebatan. Gak ada untungnya! Gak ada pengaruhnya juga buat kelangsungan pilpres tahun ini



________________________



"Ehh .. ada kak Melvin" sapa Rani yang baru balik dari kamar mandi



"Lama banget si, jangan-jangan mandi lagi" protes Mikaela



"Tadi nyokap nelvon.. jadi telvonan dulu deh" jelasnya



"Eh iya ngapain disini ka?" Tanya Rani lagi pada Melvin yang belum sempet ngomong



"ini kebetulan usaha kecil-kecilan gue, eh liat Mikaela ya disamperin deh"



"Oh ya... ko gak cerita sih?" Serobot Mikaela



"Ya lagian gak nanya! Masa harus bilang-bilang. Tar dibilang sombong lagi" candanya sambil tertawa kecil



"Tapi serius.. lo keren banget si punya usaha sendiri" puji Rani



"Modal awal dari bokap kok ! Gak sekeren itu, masih minta" jelasnya



"Yah kan anak jaman sekarang gitu.. mana ada? Anak dari orangtua berada mana mungkin mikirin usaha? Yang ada ngabisin duit mereka"



"Kayak kamu gitu maksudnya" goda Mikaela



"Ck jangan bilang-bilang dong" Rani menutupi wajahnya seolah malu



"Tapi enggak lah.. gue masih ngehargain usaha mereka ko. Cuman ya kalo bisnis gini sih gak kepikiran" ucapnya sambil menggaruk kepalanya yang gak gatel



"Yaudah sih.. cewek ini! Gue kan cowok, harus punya duit biar bisa nikahin anak orang" ucapnya lalu tertawa kecil



"Wahh udah ada calonnya nih?" Tanya Rani penasaran. Amat sangat penasaran! Kesempatan emas. Kapan lagi bisa nanya begini tanpa dicurigai ada niat terselubung dibaliknya



"Ehmm emang ada yang mau?" Candanya. Keterlaluan sih emang ! Siapa sih yang berani nolak ? Udah ganteng, pinter, rajin, baik, ahh idaman banget dong gimana sih?



"Kalo bercanda kira-kira dong kak" protes Rani



"Gue serius" yakinnya



"Mungkin kakaknya yang terlalu pemilih yaa" tebak Rani asal



"Enggak juga. Gimana ada hati nya aja" pungkasnya. Rani hanya mengangguk mengerti. "Tak ada harapan, ke gue dia biasa aja keknya gada tanda-tanda" batinnya



"Anteng banget sih" ucap Melvin pada Mikaela yang lagi merhatiin isi gelasnya



"Ahh emm iya nih ukirannya bagus" ucapnya melihat hiasan kopi miliknya



"Hahaha gue bisa bikin yang lebih bagus"



"Oh ya??"



"Kalo mau gue bisa bikinin sekarang"



"Eh ya gak sekarang juga" cegah Mikaela pada Melvin yang sudah bersiap untul bangkit



"Lain kali aja sih" lanjutnya



"Berarti kapan-kapan harus ketemu lagi dong ya?" simpulnya



Mikaela menautkan kedua alisnya. ia sadar, seolah memberi kode untuk ada pertemuan selanjutnya diantara mereka



"Ya maksud aku .. emm gak gitu juga sih" ucapnya tergagap. Memikirkan kata yang tepat, tapi tak kunjung muncul



Rani menghembuskan nafasnya pasrah. ia melihat ke arah 2 orang samping kiri dan samping kananya secara bergantian.



Ada tatapan harapan dari sorot mata Melvin, Mikaela? Gak keliatan sih tapi belum tentu gak akan kan? Seiring berjalannya waktu mungkin bisa muncul tanpa diduga



____________________




"Argghhhhh" Arva meringis ketika bunyi nyaring memenuhi rongga telinganya. Gendang telinganya seperti akan pecah karena suara menjelengking yang mulai merembet ke dalam isi kepalanya yang mulai terasa sakit.



"Oh ya aku ke belakang dulu ya" ucap Mikaela yang diberi anggukkan setuju dari kedua temannya yang bakal dikira pasangan kalo diliat cuman berduaan kayak gini.



"Ahwww" Mikaela mempertahankan tubuh di posisinya ketika seorang pria yang tak asing menarik lengannya



"Arva.." protesnya



"Lepasin .. sakit!" Keluhnya



"ikut mangkanya" tegas Arva bersikeras



"Tapi ke...akkk" teriaknya ketika tubuhnya diangkat di atas bahunya.



"Arva.. kamu gila ya" protesnya sambil memukul-mukul bahunya, dan kaki yang menendang-nendang sebisanya



Glek


"Arva" gumamnya



Vino langsung mengikuti arah pandangan temannya "Arva" gumamnya sama persis.



Pemaksaan? Itu bukan Arva banget. Yang ada ceweknya yang langsung mau, bukan kayak yang disaksikannya sekarang



Blug


Arva menutup keras pintu mobilnya setelah memasukkan tubuh yang diangkutnya lalu memutari mobil dan masuk di arah yang berlawanan.



Mikaela mulai ketakutan. ia paham betul dengan situasi ini, ia tau Arva yang tadi memaksanya untuk mengantar belanja gak sekasar ini.



"Kenapa? Takut?" Ucap Arva. Melihat wajah gadis di hadapannya sudah pucat pasi, dengan dihiasi keringat yang mengucur deras



"Kalo lo nurut gue gak akan kasar" ucapnya sambil mengusap keringat Mikaela dengan lengan kaos panjangnya



Arva mulai melanjukan mobilnya. "Kita mau kemana?" Tanya Mikaela memberanikan diri untuk bertanya



"Kemanapun yang gue mau" ucapnya singkat.



Mikaela tak bisa terima ! Emangnya dia cewek apaan keliaran malem-malem berduaan sama cowok yang bukan muhrim "tapi ini.."



"Udah malem?" Potong Arva melanjutkan ucapan Mikaela yang udah bisa ditebak



"Gue gak perduli" pungkasnya.



Mikaela mengusap wajahnya gusar. Dia gak akan bisa kabur dari cengkraman pria ini dalam waktu dekat



"Rani.." gumamnya. Ingat kepergiannya yang udah setengah jam berlalu. Mikaela merogoh ponselnya dalam tas



"Nyari ini?" Tebak Arva sambil memamerkan ponsel yang digenggamnya



"Kok bisa? Sini balikin" pintanya



Bukannya menurut. Arva menekan tombol switch off pada ponselnya lalu dimasukan ke saku celananya



Mikaela ******** bibirnya kuat "tapi Rani.."



"Dia bakal nyusulin lo, jadi mending lo ngilang biar dia gak tau lo dimana" jelasnya



"Tapi nanti dia telvon paman terus paman tau gimana?"



Arva meraih ponsel yang tersimpan di dashboard mobilnya



"Halo paman . . . . . "



Mikaela hanya diam mematung, mendengar percakapan 2 pria yang sudah akrab di telvon itu.



"Kenapa dua kepribadian ini bisa sama-sama dengan mudah akrab dengan paman?" Gerutunya dalam hati



"Gaada alesan lagi" pungkasnya



Glek


Mikaela menelan salivanya berat. Gimana mungkin situasi mencekam ini kembali lagi, bahkan lebih parah. Mikaela gak tau bakal dibawa kemana



Setengah jam lebih mobil ceper ini melaju dengan kecepatan standar. Kini ia sudah memasuki pekarangan rumah yang 5 kali lebih luas dari besar rumahnya.



Tanpa sadar, Arva udah membukakan pintu untuknya sambil mengulurkan tangannya. Mikaela mengabaikannya, ia memilih menahan tubuhnya dengan memegang pintu mobil



Tanpa bicara Arva langsung meraih lengan Mikaela dan mengeratkan pegangannya sampai udara pun tak dizinkan masuk melewati sela-sela jari keduanya



"Ngapain ngajak kesini sih" ucap Mikaela mulai mengkritisinya lagi



"Ke rumah gue"



"Iya tau.. maksudnya ya mau ngapain kesini?" Mikaela menahan langkahnya setelah melewati garis pintu, agar membuat langkah Arva ikut berhenti



"Mau tau?" Arva menarik sebelah alisnya



•


•


•


Please like and comment !!