My Cold Senior

My Cold Senior
Jangan Ditahan



Tinggalkan like dan komentarnya ya


Agar author semangat lanjut ceritanya 😘



Happy Reading ♡♡




"Tunggu" tahan Steffi



"Pasien sangat lemah" jelas Steffi, menjawab ekspresi wajah penasaran dari pria itu



"Maksud dokter?"



"Kenapa anda membiarkan Kekasih anda mendonorkan darah? Sedangkan itu sangat tidak dianjurkan untuk yang sedang mengandung, apalagi tubuh nyonya Mikaela sebelumnya memang sudah lemah" lanjutnya



"Saya tau kekasih saya hamil pun baru sekarang, yang jadi pertanyaan kenapa rumah sakit membiarkan kekasih saya mendonorkan darah?" protes balik Arva



"Mungkin rumah sakit itu tidak tau kalau kekasih anda sedang hamil" ucap Steffi



"Emangnya gak kediteksi apa?" protes Arva lagi



"Yang diperiksa saat mendonorkan darah itu golongan darah dan tekanan darahnya saja, kemungkinan memang tidak terdeteksi. Tapi, apa kekasih anda tau kalau sedang hamil?"



Arva tak bergeming



"Maaf tuan kenapa bengong? kekasih anda butuh penanganan lebih lanjut"



"Lalu apa?"



"Karena kandungannya baru berumur beberapa hari, dengan berat hati harus digugurkan untuk keselamatan pasien sendiri"



"Apa?" kaget Arva



"Tak ada pilihan lain. Kalau tidak, maka nyawa nyonya Mikaela mungkin tidak akan tertolong" jelas Steffi



Arva mengusap rambutnya kasar. Apa Mikaela sengaja melakukan ini agar anaknya mati? apa wanita itu memang tidak menginginkan anaknya?



"Bagaimana tuan?" tanya Steffi lagi



"Lakukan yang terbaik" ucap Arva tanpa ekspresi apapun.



Mikaela tau kalau dirinya hamil dan sengaja melakukan pantrangan itu agar kandungannya dalam bahaya. Ya, Mikaela memang tidak pernah menginginkannya. Ini sudah sangat jelas untuk Arva



_________________________



"Kamu gak perlu segitunya" ucap Mikaela, membuat pria yang duduk di samping ranjangnya itu menoleh



"Gak perlu sampai mengorbankan persahabatan kalian hanya karena aku" lanjut Mikaela



"Bukan karena lo" jawab Melvin



"Itu karena si bajingan itu sendiri" lanjutnya



"Jujur, gue emang bukan cowok baik-baik. Tapi gue gak sebajingan dia sekarang." jelas Vino



Mikaela memeluk kakinya yang ditekuk, lalu menyimpan kepalanya di atasnya.



"Lo tenang aja, lo masih punya kita" ucap Vino sambil melirik Rendra yang ikut memperhatikan obrolan keduanya



"Tapi aku gak mau jadi sebab kalian terpecah belah kayak gini" ucap Mikaela menahan sedih



"Gue rela kehilangan 1 sahabat, demi berada di pihak manusia macam lo" ucap Rendra ikut nimbrung



"Hiks.. hiks.." Mikaela menyembunyikan wajahnya diantara kedua kakinya



"Maaf, tapi aku gak bisa nahan lagi" ucap wanita itu di sela tangisnya



Vino memutar tubuhnya, ia tidak tahan mendengar suara tangis perempuan. Itu menyedihkan



"Jangan ditahan, tangisin aja kalau itu yang bisa bikin hati ko baik" ucap Rendra



"Tapi gue heran, kenapa Arva bisa sampe segininya?" lanjut Rendra mengeluarkan jurus detektifnya



"Heran apa lagi sih? udah jelas kalau dia itu bajingan" timpal Vino naik pitam



"Pasti ada sebabnya" kukuh Rendra



"Sebab apa lagi? apa karena si cewek idaman lo? demi dia? yang bener aja"



"Bukan! bukan Vanya, gue yakin" ucap Rendra



"Terus apa? lo gak usah so belain dia"



"Ogah banget belain orang yang udah bikin gue babak belur" ucap Rendra



"Tapi coba deh lo pikir aja, selama ini dia gak pernah memperlakukan wanita sespesial dia memperlakukan Mikaela" lanjutnya



"Kalau cuman main-main, gakan sampe sejauh ini. Kita kenal dia bukan setahun dua tahun kan?"



"Apapun alesannya gue gak terima. Dia udah dewasa, harusnya mikir mateng. Kalau emang oikihan dia ini, apa boleh buat? siap-siap nanggung akibatnya. Kehilangan banyak hal"



Rendra tak lagi menimpali. Ia memperhatikan wajah Vino yang menampilkan kekhawatiran seolah semua kejadian ini menimpa padanya.



"Aneh, biasanya dia yang bersikap dewasa" gumam Rendra. Pria itu selalu menjadi penengah, penuh pengertian dan paling bisa menerima segala sesuatu dengan lapang.



________________________



"Udah ini temenin aku ke salon ya?" ucap Vanya sambil bergelayutan manja



"Sayang??" panggil Vanya karena tak mendapat sahutan



"Kamu kenapa sih diem aja?" protesnya menghentikan langkahnya



Arva menghela napasnya, raga nya memang disini, tapi jiwa nya hilang entah kemana. Ia seakan kehilangan dirinya sendiri



Sebuah pukulan tiba-tiba mendarat pada pipi pria itu, membuat wajahnya terhempas ke arah pukulan. Membuat pasang mata yang sedang berlalu lalang di koridor melihat penasaran ke arahnya.



"Arva??" kaget Vanya



Arva menggertakkan gigi nya, siapa orang yang berani memukulnya seperti ini? memanfaatkan ketidaksadarannya, sehingga membuat dirinya tak bisa menangkis serangan itu.



Tiba-tiba tatapannya melemah, setelah tau siapa orang yang ingin sekali ia balas.



"Selama ini saya tenang karena Mikaela ada sama kamu, tapi nyatanya kamu malah sama perempuan lain? dimana Mikaela sekarang??" tekan Erik menarik kerah pria itu



Arva tak bergeming



"Dimana Mikaela?? jawab!!" tekannya lagi semakin mengeratkan kerah yang diremasnya



"Heh berani banget lo sama calon suami gue?" protes Vanya yang berusaha melepaskan Arva dari genggaman oria paruh baya itu



"Calon suami??" ulang Erik meminta penjelasan pada pria yang masih bungkam itu



"Gue aduin.."



"Vanya jangan" pinta Arva



"Kenapa? papi kamu pasti.."



"Gue bilang jangan! sekarang lo pergi" tekan Arva



"Tapi.."



"Vanya, pergi!!" titah Arva penuh tekanan



"I-iya" turut Vanya



"Ini keinginan Mikaela" ucap Arva



"Apa? maksud kamu apa?" tanya Erik melemahkan pegangannya



"Saya tidak mau memaksakan perasaannya, itu hanya akan menyakitinya saja" jelas Arva



"Saya tidak yakin, Itu pasti akal-akalanmu saja agar bisa dengan perempuan gatel tadi kan?"



"Enggak, saya bisa meninggalkan apapun demi Mikaela, Bahkan keluarga sendiri. Tapi kalau keponakan paman yang memang tidak menginginkan saya? saya memang mencintainya tapi saya tidak ingin memaksanya"



"Kamu seperti bukan pria yang saya kenal pertama kali" telisik Erik



"Kamu sudah membuat Mikaela pergi dari rumah lalu setelahnya kamu malah membuangnya seperti ini??" tekan Erik kembali menarik kerahnya



"Mikaela pergi karena paman" timpal Arva



"Apa? saya gak mungkin memperlakukan buruk keponakan saya sendiri."



"Tapi kenyataannya begitu. Ibu Mikaela meninggal karena tidak mendapat donor darah secepatnya, karena paman gak datang pada hari itu." jelas Arva



Erik menautkan kedua alisnya. Ia tidak tau menau soal hal ini "Saya sendiri tidak menyangka, paman akan setega itu pada kakak kandung sendiri" ucap Arva sambil melepaskan pegangan Erik dari pakaiannya



"Sebaiknya paman intropeksi diri, jangan buru-buru salahkan oranglain" ucap Arva yang akan segera melengang dari hadapan pria itu



"Kalau begitu, kenapa kamu melakukan kesalahan serupa? kenapa meninggalkan Mikaela?"



"Mikaela?" gumam Rani yang mendengar penuturan kedua orang tersebut



Rani menggigit bibir bawahnya kuat, orang yang masih belum berbaikan dengannya sedang dalam kekalutan. Haruskah ia ada menamani orang itu??



Kesalah pahaman waktu itu memang belum clear, tapi apa ia tega membiarkan orang yang masih diharapkan hatinya untuk kembali itu sendirian??



_________________________



"Gue punya tempat tinggal buat lo, nanti biar barang-barang lo yang ada di rumah itu gue yang bawa" ucap Vino



"Gak usah, aku punya tabungan kok. Aku mau ngontrak aja" sangkal Mikaela



"Tapi Mik, lo kan.."



"Plis, aku gak mau nyusahin siapapun"



"Gue gak ngerasa kesusahan"



"Tapi aku gak mau punya hutang budi"



"Gue gak akan nagih apapun"



"Tapi aku mau sendiri" kukuh Mikaela



"Oke" ucap Vino mengalah



"Tapi kalau barang-barang lo.."



"Iya, mungkin aku akan minta tolong kalau soal itu"



"Rendra, itu tugas lo" ucap Vino membagi tugas



"Weh paan nih? langsung-langsung aja gak pemanasan dulu?"



"Bawel lu" sungut Vino





•


•


•


PLEASE LIKE AND COMMENT


Like Like Like


Comment Comment Comment