
Tinggalkan vote dan komentarnya ya
Agar author semangat lanjut ceritanya 😘
Happy Reading ♡♡
Deg
Mikaela membuang wajahnya ke samping, melihat pemandangan gelap dan sepi di luar jendela. Sebenarnya hanya mengalihkan kegugupannya biar gak terlalu ketara
Arva melirik ke arah Mikaela, ia menarik sebelah ujung bibirnya keatas "Pppffttt" dan teryawa setelahnya
Mikaela yang sedang dilanda rasa malu segera berusaha memudarkannya "Ke kenapa ketawa?" protesnya terbata, sambil menyembunyikan pipi nya yang merah
Arva tak memberi jawaban, ia hanya tertawa sampai mengeluarkan air mata karenanya "Kamu jangan bercanda" protes Mikaela sambil memukul lengan atasnya dengan kepalan tangannya
"Aahh aaa ahww" ringis Arva yang merasa nyeri, karena disana bekas tonjokan pria tak tau ajaran tadi
Mikaela ikut meringis "Ma maaf" ucapnya merasa bersalah.
Vanya mengedarkan pandangannya ke setiap penjuru ruangan, bahkan ke sudut yang sangat tersudut sekalipun ia lihat satu persatu, tapi apa yang dicarinya tak kunjung ditemukan
"Nyari Arva?" Tanya Rendra. Vanya hanya melirik tanpa menjawab lalu kembali dengan pencariannya
"Dia udah pulang" ucap Rendra lagi
"Pulang?" respon Vanya yang langsung dijawab kembali dengan anggukkan "sama Mikaela" tambahnya
"Apa?" kaget Vanya yang refleka meninggikan suaranya
"Ya udah biarin aja sih" ucap Rendra lagi. Ya tentu bukan solusi, itu malah bikin Vanya makin marah dan pasti ngancurin mood nya yang rapi
"Van ko lo disini? Ayo ke panggung" ajak temannya
Vanya masih tetap mematung tanpa menghiraukan ajakan temannya itu, seolah tak mendengar apapun padahal suara musik aja udah bikin gendang telinga seperti terkoyak-koyak
"Vanya.." panggil temannya lagi. Bukan sekedar manggil tapi dia teriak tepat di depan telinganya
"Astaga ! Lo pikir gue tuli?"
"Ya lagian gue panggil dari tadi, lo kenapa sih?"
Vanya hanya menggelengkan kepalanya pelan. Perlu tau, Vanya itu paling benci dikasihani. Mangkanya dia gak pernah mau keliatan sedih di depan siapapun, sekalipun itu depan cermin
"Yaudah ayoo" Vera menarik tangan Vanya tanpa aba-aba, sekali lagi bikin Vanya kaget dan mau gak mau harus ngikutin langkahnya
_________________
"Ka.." Rani menepuk bahu Melvin dari belakang
"Ah ya.." Melvin memutar tubuhnya
"Kenapa Ran?" tanya nya
Rani mengabsen tiap sudut wajahnya yang gak seperti tadi, sekarang ia terlihat murung
"Udah ka.. gausah dipikirin" ucap Rani
"Maksud kamu? Haha aku emang mikirin apa" sanggah Melvin menepis tuduhan Rani yang memang kenyataan
"Udah lah ka jujur aja, suka sama Mikaela ya?" tebak Rani
Melvin menyisir rambutnya ke belakang, dan lo tau? Itu keren banget "Kamu ngomong apa sih, suka ngasal" Melvin menarik ujung bibirnya lalu mengacak pangkal rambut gadis yang dilanda rasa penasaran tersebut dan kemudian berlalu
Deg
Rani mengedipkan matanya perlahan bahkan kayak gak rela untuk melewatkan momen ini walau hanya satu kedipan. Itu merugikan
"Astaga gue kenapa" Rani mengerjapkan matanya segera, menyadarkan dirinya yang akan segera terhanyut
Rani mengatur nafasnya, menarik dan mengeluarkan nafas berulang kali berharap perasaannya dapat terkendali. Setelah dirasa sedikit normal, ia kembali masuk kedalam ruangan itu lagi, tenpatnya para pembuat dosa
___________________
Udara dingin seakan mengiris kulit secara perlahan, ruangan gelap dan penuh dengan debu, bau tanah dan hanya suara dentingan jam yang terdengar. Sungguh menakutkan
"Dasar anak sialan" sosok perempuan dewasa membanting tubuh anak kecil yang tak henti menangis
"Diaaammmmmm" teriak perempuan gila yang penuh dengan makeup itu
Tiba-tiba muncul bayangan lain dari belakang makhluk mengerikan itu, badannya tegap dan besar.
Wajahnya tak terlihat jelas, tapi laki-laki itu segera menarik gadis kecilnya tanpa perasaan, ia hanya menjinjing kerah bajunya untuk membawa tubuh kecil itu
Dengan susah payah Arva berusaha menggapai lengan gadis kecil yang meminta pertolongan dalan tangisnya, tapi sulit, tenaga pria dewasa itu jauh lebih besar darinya
"Lepas.. lepassssss !! Arggghhh" teriak Arva yang seketika terbangun dari tidurnya. Peluh yang mengucur deras di sekitaran wajah dan pakaiannya pun ikut basah karenanya
Nafasnya masih tersengal dan sesekali ia mengusap keringatnya yang menetes
Tok tok
"Arvaaa.."
Hening
"Sayang.. kamu kenapa?" Panggil mama nya lagi di balik pintu kamar
Cklek
Arva membuka pintu, menampakkan tubuh wanita paruh baya dengan wajah yang penuh kekhawatiran
"Kamu kenapa?" tanyanya sambil mengusap pangkal kepala anaknya yang sudah sangat basah
"Gapapa mih" jawab Arva dengan menampilkan sedikit senyumnya
"Mami pulang?" tanya Arva penasaran
"I iya, mami baru sampe kemarin. kita kan kemarin udah ketemu sayang" Tanya Shopia sedikit heran
"Oh iya hehe.."
Arva menutup pintu kamarnya lalu bersandar disana. Kepura-puraan yang terjadi sejak lama
Arva mengecek notifikasi ponselnya dan mengklik salah satunya
From : dr.Kurnia
"Arva.. kenapa beberapa bulan ini tidak pernah konsultasi, apa sudah baik-baik saja?"
Arva memijit keningnya, kepalanya pusing. Mungkin akibat alkohol di club yang ia minum cukup banyak. Tidak membuatnya mabuk tapi setelah tidur rasa pusing itu pasti terasa
"Kenapa mimpi buruk itu muncul lagi?" Batinnya
______________________
"Ka Melvin.." panggil Mikaela yang setengah berlari untuk menyusul kaka tingkatnya
Seolah tak mendengar apapun, Melvin tidak berniat untuk menghentikan langkahnya "Kaa.." Mikaela memegang bahu Melvin sambil ngos-ngosan lalu dengan sekejap posisinya kini ada di depan Melvin
"Emm soal semalem aku.."
"Kenapa?" Tanya Melvin seolah tak terjadi apa-apa
"Aku minta maaf, bukan maksud aku untuk.."
"Udah lupain aja, gapapa kok.. aku orangnya gampang lupa" ucapnya tersenyum
Mikaela terpaku melihat Melvin yang terlihat baik-baik aja "yaudah" Mikaela membalas senyum manis yang didapatnya
"Mika.." panggil Rani dari depan kelasnya yang hanya berjarak beberapa meter dari posisinya saat ini
"Kak aku duluan ya" pamit Mikaela
Mikaela memutar tubuhnya dan perlahan senyum Melvin pun ikut pudar lalu kembali melanjutkan langkahnya menuju perpustakaan.
Ia berniat bolos di jam pertama, hanya gudang ilmu ini yang bisa membuat keadaan Melvin membaik, entah seburuk apapun pasti akan hilang jika berdiam disana
Bugh
Vanya menyenggol tubuh Mikaela, membuat gadis itu hampir kehilangan keseimbangan tubuhnya
"Oppss.. lo punya mata gak sih?" Omel Vanya
"Ma maaf ka" ucap Mikaela menundukkan wajahnya
"Maaf lo bilang? enak aja" sungutnya
"Tadi lo kan yang nabrak?" sanggah Rani menghampiri temannya yang dihadang 2 makhluk jadi-jadian di kampusnya itu
"Berani banget lo anak baru, apa perlu gue kasih pelajaran?" ancam Vera, teman segeng Vanya. Mungkin lebih ke teman yang mau disuruh-suruh oleh si cewek sadis ini
"Boleh banget tuh, gue request pelajaran matematika yaa biar pinteran dikit" jawab Rani
Vanya yang merasa dipermainkan mengusap rambutnya keatas "Lo pikir gue main-main?" ucapnya mengambil alih
"Ya emang gue salah ya? Terus ngasih pelajaran apa emangnya?" tanya Rani dengan wajah polos yang dibuat-buatnya
"Songong ya lo! Gue gada urusan sama lo, minggir" Vanya menempelkan telunjuknya di jidat Rani lalu menekannya kuat, membuat gadis itu mundur beberapa langkah karenanya
Rani menekan giginya, dia paling gakbisa diinjak-injak oleh siapapun. Apalagi hanya seorang cewek manja kayak Vanya, itu bukan masalah besar baginya. Mengingat Rani memang datang dari keluarga kaya, membuat ia tak takut dengan siapapun
"U udah Ran" Mikaela menarik lengan sahabatnya yang emosinya mulai tersulut
"Lepasin Mik"
"Rannnn" Mikaela menatap dalam mata Rani. Bukan takut, tapi tatapan lembut gadis itu selalu membuatnya luluh
Rani menghembuskan nafasnya berat lalu menuruti permintaan sahabatnya
"Liat tuh anak banyak gaya kan?" Ucap Vera dengan nada ala orang mengkompori, membuat emosi semakin parah
Vanya yang menyilangkan tangannya di dada masih setia menatap langkah Mikaela yang sudah lenyap ditean ruang kelasnya "gak akan gue biarin" batinnya
_______________________
"Tumben lo telat?" Tanya Rendra pada Arva yang baru menduduki tempat duduknya
"Gue dihadang nenek sihir tadi" jawab Arva dengan mata yang tetap mengarah kedepan seolah memperhatikan penjelasan dosen yang entah sudah sampai mana
"Vanya?" Tanya Rendra cengok
"Ya emang ada lagi?"
Rendra terkekeh. "Gimana gak dihadang, noh mulutnya ember" ucap Vino ikut nimbrung
Arva melirik kearah Rendra yang wajahnya gak ketara, wajah yang tidak terlihat niat terselubungnya.
"Si kampret" umpat Arva menoyor kepala Rendra
"Si *****" Rendra mengusap kepalanya
"Ya dia nanya kan gue jawab" tambahnya
Arva menatap tajam Rendra "Iya iya sorry" ucap Rendra karena mendapat tatapan menakutkan
"Besok-besok lo gitu lagi" Vino masih mengompori
"Si ***** lu yang ember" umpat Rendra tak terima, berasa diadu domba. Vino hanya terkekeh melihat ekspresinya
"Arv .. pipi lo.." pipi Rendra mengembung "Pppfft" ia menahan tawanya yang akan segera meledak kalau tak segera ditahan lengannya
Arva berdecak lalu menyentuh pipi kebiruannya "lo dihajar?" Tanya Vino yang baru ngeuh
•
•
•
200 like + 20 comment langsung update part😉