
Arva memijat keningnya, kepalanya masih terasa sangat pusing, bahkan ubin dan langit-langit seperti berputar.
Tunggu, dimana ini? kenapa banyak sekali orang? Arva berusaha untuk bangun
"Jangan dipaksa" tahan Rendra, menekan tubuh pria itu agar kembali pada peristirahatannya
"Lo?" Arva mengerjapkan matanya, sepertinya ia hafal suara yang baru saja ia dengar. Hanya saja kenapa bayangannya banyak sekali
"Lo lupa sama gue?" tanya Rendra tak terima
Ah, ia tau sekarang. Dari sikapnya sudah sangat membuka siapa orang itu.
"Arv, lo itu.."
"Orang masih mabok lo ajak ngomong, sama gak warasnya" celetuk Vino
"Gue gak mabok" elak Arva, ia tak mau mengakui. Hanya saja ada sesuatu dalam dirinya yang memaksanya untuk melakukan hal ini
"Mau gue telpon orang club? udah hampir habis 1 kontainer juga. Gila, masi untung gak mati"
"Arv, kita temenan udah lama. Selama ini lo bisa ngontrol kalo minum, gak pernah kayak gini. Ada masalah apa?" tanya Rendra penasaran
Arva diam, ia masih menjambak rambutnya sendiri, agar rasa pusing pada kepalanya sedikit berkurang
"Mikaela?" tebak Rendra yang langsung membuat Arva melirik ke arahnya
"Gak usah ikut campur" ucap Arva dingin
"Kalo ada masalah itu diomongin, jangan ngindar. Gue rasa itu bakal bikin perasaan cinta antara lo berdua sedikit demi sedikit berkurang, lalu hilang" timbrung Vino
"Lo bukan type orang kayak gitu, kenapa tiba-tiba.."
"Bisa gak lo berdua urusin urusan kalian aja? gak usah ngurusin hidup gue" tegas Arva
Vino mengangguk "Oke, tapi lain kali kalo mabok kayak gini lo urus diri lo sendiri. Lo gak butuh orang lain kan?"
Arva mengusap kasar wajahnya "Sorry" ucapnya pelan, membuat langkah Vino terhenti
"Kasih gue waktu sendiri" lanjutnya
"Setiap hubungan pasti akan selalu ada masalah, tapi gak dengan melarikan diri begini." ucap Rendra menambahkan
"Gue gak melarikan diri, gue cuman butuh waktu buat ngerti Mikaela" jelas Arva melenguh
"Lo lupa?" tanya Rendra
Arva mendongakkan wajahnya, melihat ke arah suara "Ketika lo memutuskan untuk memilih Mikaela buat jadi pendamping lo, lo juga memutuskan untuk mengerti semua tentangnya." tutur Rendra
"Tapi kenapa dia gak mau punya anak dari gue? gue gak paham, gue gak bisa paham" ungkap Arva, mengeluarkan sesuatu yang sudah menggoncang keyakinannya.
Rendra menopang dagu, sepertinya memikirkan hal seperti ini cukup sulit bagi orang yang belum berkelurga seperti dirinya.
"Arva Arvaa, kenapa sekarang lo liat sesuatu cuman di satu sisi" keluh Vino
"Maksud lo?"
"Lo yang udah bikin dia kehilangan anaknya, itu anak lo juga kan?"
Arva mengepal kuat tangannya, kali ini ucapan temannya itu terlalu berlebihan, ia seperti dianggap pembunuh
"Gue ngelakuin itu karena Mikaela"
"Alasannya karena lo gak mau kehilangan dia?" Vino tersenyum miring "Lalu sekarang Mikaela udah sama lo, and see? lo kayak gini" lanjutnya.
Vino mendekati pria yang sudah dipenuhi asap di sekeliling kepalanya "Jangan bikin gue semakin ingin ngerebut dia dari lo"
"B*NGS*T"
Bugh
Arva membuat pria yang sudah banyak omong itu tersungkur karena pukulannya.
Rendra terpaku sendiri melihat kejadian yang tak disangka-sangka terjadi di hadapannya. Ia segera menahan pria yang sedang tersulut emosi itu "Arv, maksud Vino gak gitu"
Vino mengusap ujung bibirnya yang mulai mengeluarkan cairan kental berwarna merah
"Lo berhenti bela dia, jelas-jelas dia mau sesuatu yang udah jadi milik gue" geram Arva
Bugh
Satu pukulan mendarat pada perut Arva "Itu untuk keegoisan lo" geram Vino
"Lo udah dapet apa yang lo mau, dan lo masih menuntut lebih? apa adanya Mikaela masih gak cukup buat lo?" lanjut Vino
Kepalan tangan Arva melemah, sepertinya ia melupakan banyak hal
"Jangan menuntut terlalu banyak, lo gak sehebat itu untuk bisa dapet semuanya" tegas Vino, mendorong tubuh pria yang sudah melemah itu hingga terjatuh ke lantai
"Vin, lo apa-apaan sih?" protes Rendra
"Ngingetin boleh, tapi gak kayak gini caranya"
Vino tak menghiraukan ucapan Rendra, tatapannya masih terfokus pada pria egois yang tiba-tiba terdiam seribu bahasa.
"Ini peringatan, sebelum gue bener-bener mengorbankan hubungan pertemanan sialan ini dengan membawa pergi wanita yang seharusnya dijaga dengan baik" tegas Vino sambil menunjuk-nunjuk pria itu, tanda bahwa ia serius dengan segala ucapannya sebelum akhirnya berlalu meninggalkan ruangan.
"Arv.." Rendra membantu pria yang sedang berusaha berdiri "Gak usah dipikirin, si Vino lagi gila, cuman omong kosong" lanjutnya menenangkan
Semua perkataan temannya itu benar "Gue egois" pungkas Arva lemah, membuat Rendra memicingkan matanya tak paham "Maksud..."
Arva segera mangkir, secepat mungkin ia harus segera menemukan dimana wanita yang tak seharusnya dibuat sedemikian rupa olehnya, sebelum orang lain yang ingin menjadikan hal ini sebagai peluang menemukannya lebih dulu
"Arva lo kemana?" teriak Rendra, mengiringi kepergian pria itu yang hilang secepat kilat
"Tunggu, ngapain gue disini sendiri?" gumam Rendra menyadari keberadaannya, sebelum hal yang tak diinginkan kembali terjadi. Memalukan
________________________
"Makan yuk" ajak Rani
Mikaela yang masih menutupi tubuhnya dengan selimut hanya menggeleng tak bersemangat
"Gak usah terlalu dipikirin, nanti lo sakit" tutur Rani menasehati
Mikaela menghembuskan nafasnya panjang "Aku emang gak laper aja Ran" sahut Mikaela
Rani menggelengkan kepalanya "Gak betul, ayo bangunn" kukuhnya sambil menarik paksa gadis itu
"Rannn aku lemes"
"Itu karena lo gak makan. Mau gue ambilin? makan disini? ya?"
"Apaan sih Ran, aku gak sakit"
"Ya terus gimana?" keluh Rani yang dibuat serba salah
"Non, maaf ganggu tapi di luar ada yang nyari" ucap asisten rumah tangga nya Rani di ujung pintu
"Nyari siapa bi?"
"Nyari temen non Mikaela katanya"
Mendengar itu membuat Mikaela penasaran, ia membuka lebar telinganya walau seluruh tubuhnya sudah ditelan selimut
"Nyari Mikaela? dia kan gak punya temen selain gue" gumam Rani ngomong sendiri, membuat Mikaela tersindir karenanya "Cewek atau cowok bi?" tanya Rani lagi
"Cowok non, ganteng lagi" jawab wanita umur 30 an akhir itu sambil cengengesan
"Mik.." ucapan Rani terhenti, gadis itu sekarang sudah berkaca sambil memperbaiki tampilan seadanya.
Mikaela melewati tubuh Rani begitu saja, bahkan sekarang senyum nya sudah menghiasi wajah cantiknya, tidak seperti 1 menit sebelum kabar ini berhembus.
Rani juga penasaran, mungkinkah suami tercinta dari temannya itu memang betul-betul menjemput? semoga iya, ia merasa kasihan melihat Mikaela yang dari kemarin tak bersemangat untuk hidup.
"Vino??" gumam Rani, melihat pria lain yang menemui sahabatnya. Apa mungkin seorang suami bisa mengutus sahabat nya untuk hal pribadi seperti ini??
Rani menelan saliva nya berat lalu membasahi bibirnya yang terasa kering, sepertinya akan ada sesuatu terjadi disini. Haruskah ia melarikan diri? tapi ini rumahnya sendiri, kenapa ia yang harus pergi? atau biar saja jadi saksi akan hal besar yang akan terjadi.
**Bersambung ...
Apa harapanmu?? tolong yaa like nya tingkatkann hemm komentarnya juga lohhh, tentang isi dari cerita, obrolin aja obrolinn di komenn, aku suka baca komentar kaliannn ♡♡♡**