
follow instagram @Lovelyliy_
Tinggalkan vote dan komentarnya ya
Agar author semangat lanjut ceritanya 😘
Happy Reading ♡♡
Ting tong
"Buka pintunya Nay" titah Sinta
"Naylaaaaa.." panggil Sinta lagi
"Ishh apasi mahh?"
"Buka pintunya sayang"
Dengan penuh kemalasan Nayla menghentakkan kakinya menuju pintu
Cklek
Arva mengedarkan pandangannya dan langsung masuk begitu saja "kamarnya mana?"
"Kamar? Si siapa?" Tanya Nayla yang speechless melihat pria tampan di depannya. tapi kenapa bisa Mikaela bersama dengan pria ini? Apalagi gadis itu sedang berada di pangkuannya
"Kamar Mikaela" tegas Arva
"Oh ya.. sebelah sini" ucap Nayla sambil mengarahkan arah kamarnya.
Arva menidurkan Mikaela di atas kasurnya, ia menatap sebentar lalu menyelimuti tubuh Mikaela dengan selimut yang tak begitu tebal karena disini tidak ada Ac, hanya ada kipas angin yang mungkin akan dinyalakan kalau merasa gerah.
Arva menutup pintu kamar Mikaela pelan.
"Kamu siapa?" Tanya Nayla
"Mikaela kenapa?" Tanya pamannya yang baru tau kalau Mikaela diantar dalam keadaan tak sadarkan diri.
"Mikaela kurang enak badan, terus tadi di jalan dia tertidur dan emmm .."
"Oh ya.. Mikaela emang susah bangun kalo udah tidur" ucap pamannya sambil tertawa kecil
"Kamu temannya?" Tanya Erik
" ahh emm.."
Erik tertawa melihat Arva yang gugup dan tak kunjung menjawab
"Baiklah .. kita ngopi dulu" ajak paman ke arah ruang tamu yang diikuti oleh Arva
"Ganteng banget sih" gumam Nayla yang masih berdiri di depan kamar Mikaela
"Siapa Nay?" Tanya Sinta. Nayla hanya menggedikkan bahunya pertanda tak tau menau sambil mencuri pandang ke arah pria yang sedang diajak ngobrol oleh papa nya
"Itu tangan kamu kenapa?" Tanya Erik ketika melihat tangan Arva yang dibalut perban
"Hanya luka ringan om" jawab Arva
"Oh begitu, minumannya diminum dong. Gak pake sianida ko" ucap Erik sedikit bercanda
"Eh Ran.. sini" ucap paman yang menyadari kedatangan Rani
"Halo om.." sapa Rani kemudian, yang sempat terpaku melihat keakraban antara Arva dan pamannya Mikaela. Apalagi melihat dua gelas kopi yang terhidang disana? Apa keakraban bisa dirajut dengan waktu yang sesingkat itu?
"Kamu sama..."
"Oh ini Melvin, temenku om. Temen Mikaela juga" ucap Rani
"Om.." sapa Melvin pada paman Mikaela dengan menganggukkan kepalanya
"Sini duduk" ucap paman.
"Ahh .. Mikaela nya kan lagi istirahat lebih baik kita pamit aja" ucap Arva mewakili.
"Tapi kita.."
"Lain kali lagi paman, nanti kita atur waktunya" ucap Arva yang sudah bangkit dari sofa. Membuat Rani yang baru saja menjatuhkan bokongnya kembali berdiri lagi.
Rani menarik nafasnya berat " yaudah om kita pulang aja " susul Rani terpaksa mengikuti Arva.
Melvin melirik Arva yang so deket sama pamannya Mikaela, membuat Melvin gregetan dengan ekspresinya itu. Dasar fake face ! Sejak kapan ia punya wajah sehangat itu? Biasanya wajahnya selalu dingin
Arva sengaja menunggu Melvin dan Rani lebih dulu keluar dari rumah sederhana ini.
"Pamit om" ucap Arva sekali lagi. Paman Mikaela mengangguk dan mengantarkannya sampai depan pintu
Melvin memutar tubuhnya, ia mengedarkan pandangannya untuk melihat setiap detail rumah itu.
Arva menghalangi pandangan Melvin, membuat pria itu membuang tatapannya dan kembali melanjutkan langkahnya.
"Jangan pernah berpikir untuk bisa kesini lagi" peringat Arva yang kini berada di sampingnya.
Melvin menghentikan langkahnya lalu berhadapan dengan Arva.
"Lo bikin gue jadi semakin ingin sering datang kemari" ucap Melvin menantang
Arva menarik ujung bibirnya "Coba aja kalo bisa" tantang Arva
Rani merasakan ketegangan yang tercipta antara mereka lalu segera mengambil alih, ia kini berdiri di tengah-tengah, antara Arva dan Melvin.
"Stop please" ucap Rani yang mendeteksi akan segera terjadi adegan saling pukul-memukul jika tidak segera dihentikan
"urusin" ucap Arva melirik Rani ketus. Arva melanjutkan langkah menuju mobilnya, meninggalkan Melvin dengan segala niat terselubungnya. Yahh niat untuk menghalangi Arva tepatnya
"Pria licik" gumam Melvin ketika mobil Arva melaju melewatinya
______________________
Ia menutup wajahnya yang merasa silau. Arva membulak-balikkan tangan kanannya. "Ini kenapa?" Tanyanya pada diri sendiri ketika melihat perban yang melekan pada lengannya.
Arva mencoba untuk mengepalkan tangan itu, dan ya.. memang terasa sakit. Tangannya terluka, tapi gara-gara apa? Arva terduduk dengan menyenderkan punggungnya di kepala ranjang
Arva mencoba mengingat kejadian kemarin yang dilupakannya. Hal yang terakhir ia ingat adalah .. "Gue mukul gadis itu?" Arva menekan kuat kepalanya
"Kenapa gue bisa mukul dia?" Sesalnya. Tapi, apa karena mukul dia, tangan Arva jadi luka separah ini? Arva yang penasaran dengannya, membuka balutan perban yang melekan pada tangannya
"Mustahil" ucapnya. Apa yang ia lihat di punggung tangannya itu bukan sekedar memar, tapi beberapa luka goresan.
Arva segera mengambil handphone yang ada di atas nakas lalu menekan salah satu kontak yag sudah lama tak ia hiraukan
______________________
"Ada apa?" Tanya seorang dokter yang sudah lama tak ia temui
"Mimpi itu balik lagi" jawab Arva
"Lalu kemana saja kamu selama ini?" Tanya dokter lagi, mencoba menghilangkan rasa penasarannya
"Karena mimpi itu sudah hilang dan oranglain dalam diriku pun tak pernah keluar lagi"
"Tapi sekarang?" Tanya dokter memastikan
"Semua kembali lagi. Tidurku tidak pernah nyenyak karena mimpi itu, dan seringkali waktuku dirampas oleh seseorang dalam diriku, aku tak bisa mengingat semua yang aku lakukan ketika waktuku dirampasnya."
"Muncul lagi? Sejak kapan?"
Arva menerawang waktu kebelakang, setelah sekian lama hidupnya tenang, kepalanya mulai sakit ketika.. "Ketika bertemu dengan gadis itu.." Gumam Arva, ketika ingat waktu dimana ia menyelamatkan Mikaela dari para preman pada tengah malam, ia ingat setelah menyelamatkannya untuk pertama kali kepalanya dihadang rasa sakit yang amat sangat, tapi waktu itu ia mengingat semuanya
"Kapan?" Tanya dokternya lagi
"Aku gak yakin" jawab Arva
" DID ini gak bisa dianggap remeh, kenapa kamu menghentikan perawatan? Walaupun sudah merasa lebih baik sekurangnya setiap tahun kamu harus kontrol. Terakhir kamu kesini itu ketika akan mengikuti ujian di SMA.
Dissociative Identity Disorder (DID) sebelumnya dikenal dengan gangguan kepribadian ganda. DID merupakan salah satu sekelompok kondisi yang disebut Gangguan Disosiatif; amnesia, fugue, depersonalisasi dan gangguan identitas disosiatif (Dissociative Identity Disorder).
Gangguan disosiatif merupakan penyakit mental dengan gangguan kerusakan memori, kesadaran, identitas dan persepsi. Ketika satu atau lebih fungsi tersebut terganggu, simtom dapat muncul. Gejala-gejala tersebut dapat mengganggu fungsi umum manusia, termasuk fungsi kerja, aktivitas dan relasi sosial.
Arva menyenderkan punggungnya di senderan kursi kayu yang didudukinya lalu mengusap wajahnya kasar.
"Apa kamu sudah memberi tau orangtuamu?" Tanya dokter lagi. Sudah sejak lama Arva menyembunyikan hal sebesar ini dari keluarganya, padahal dukungan keluarga itu sangat penting untuk membantu agar meringankan penyakitnya.
Untuk sembuh total itu mungkin tidak akan mungkin tapi setidaknya dukungan keluarga itu dapat mengurangi tekanan yang dapat memperparah keadaannya.
"Sebenarnya trauma apa yang pernah kau alami?" Tanya dokter lagi. Sejak dulu Arva tak mengetahui kejadian apa yang sudah menimpanya sehingga membuatnya mengerikan seperti ini.
"Aku tak yakin. Tapi aku tak ingat ketika umurku 7 tahun"
"Sudah bertanya pada orangtuamu?"
"Aku sendiri bingung, sepertinya mereka menyembunyikan sesuatu dariku"
"Kenapa bisa begitu"
"Jika itu menyakitkan maka lupakan saja jangan diingat" ucap Arva
"Apa?"
"Iya .. itu yang dikatakan mami padaku setiap kali aku menanyakan hal itu."
"Kamu harus mencari taunya, itu satu-satunya cara agar kamu bisa menelusuri sebabnya"
Arva mengangguk paham.
"Untuk sementara, kau harus mengkonsumsi obat ini lagi, untuk menghilangkan kecemasan dan membuat tidurmu nyenyak." Ucap dokter itu sambil menuliskan resep pada selembar kertas lalu menyerahkannya pada Arva
"Makasih dok"
Dokter mengangguk dan menepuk bahu Arva sebelum akhirnya Arva keluar dari ruangannya.
Arva mengusap rambutnya yang sudah mulai memanjang kebelakang, "sebenarnya apa yang terjadi?" Batin Arva frustasi
Bugghh
"Ahwww" Mikaela mengelus jidatnya yang tak sengaja menabrak tubuh seseorang
"Ma maaf" ucap Mikaela tanpa melihat siapa orang yang sudah ia tabrak.
"Tunggu" ucap Arva
Deg
"Suara itu?.." batin Mikaela
"Arva?" Gumamnya kemudian ketika melihat siapa yang ada di hadapannya
Arva memegang dagu Mikaela lalu sedikit mengangkatnya "bengkak" ucapnya
"Sorry gue gak sengaja" ucapnya kemudian setelah melihat pipi Mikaela yang masih sedikit bengkak
Mikaela menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal "padahal kemaren dia yang nganter aku pulang, tapi seolah ia lupa semuanya" batin Mikaela semakin heran "siapa sebenernya lelaki ini?" Batinnya. Atau ini dua pria berbeda dengan wajah yang sama? Tapi itu mustahil
"Kenapa?"
•
•
•
Please like and comment !!