
Rania tengah berkutik dengan masakannya di dapur. Setelah membatalkan perjalanannya menuju butik tadi, ia dan Gian hanya menghabiskan waktu di rumah saja.
Saat ini Gian tengah rebahan di depan televisi dengan pakaian santainya. Rania sendiri tengah membuat smoothies atas permintaan sang suami.
Mood Gian juga terpengaruh oleh kehamilan Rania. Kadang ia akan bersikap manja seperti saat ini. Ingin terus berada di dekat sang istri.
Rania mematikan blender dan menuangkan smooties tersebut ke dalam mangkuk yang sudah berisi potongan buah. Ia membawanya ke hadapan Gian.
"Nih, udah jadi." Ujarnya lalu ikut duduk bersama sang suami.
"Makasih, sayang." Gian mengecup pipi Rania.
"Suka tiba-tiba gitu." Protes Rania.
Gian terkekeh. Ia menikmati smoothies buatan sang istri.
"Kamu pintar banget masak, ya." Pujinya Membuat Rania mencebikan bibirnya.
"Nggak juga." jawab Rania cuek. Entah lah, moodnya suka berubah tidak jelas.
"Nggak apanya. Kamu bisa bikin semua masakan yang aku minta. Aku memang nggak salah cinta sama kamu, dan menikah sama kamu adalah pilihan terbaik." Ucapnya bangga.
Rania hanya tersenyum geli melihat tingkah sang suami. Pintar juga suaminya menggombal. Pikir Rania.
"Mm,, mas. Aku pengen ke Pekanbaru. Pergi, yuk. Sekalian jalan-jalan. Kita kan sibuk terus." Ujar Rania.
"Kayaknya ide bagus. Maunya berangkat kapan?" Tanya Gian.
Rania tampak berpikir. "Gimana kalau lusa?" Usulnya.
"Boleh. Aku kabarin Adit kalau gitu. Biar dia handle jadwal seminggu kedepan." Kata Gian yang diangguki Rania.
"Eh, tapi emangnya nggak apa-apa kalau Bang Adit yang ngehandle semuanya? Kasihan loh, mas." Ucap Rania dengan wajah puppy.
"Nggak ada kasihan-kasihan. Dia bisa kok, sayang. Adit itu pintar di segala hal. Ya,, di urusan perasaan aja dia yang agak minus." Ucap Gian dengan gaya meremehkannya.
Rania menyipitkan mata menatap Gian setelah mendengar pernyataan suaminya itu. Yang benar saja. Bisa-bisanya Gian mengejek Adit sementara dirinya jauh lebih bodoh mengenai percintaan.
"Mas nggak salah nih ngeledek Bang Adit? Bukannya yang nggak sadar dan nggak ngerti sama perasaannya sendiri itu mas, ya?" celetuk Rania membuat Gian seketika terultimatum.
Ia mengalihkan pandangannya ke arah lain, menghindari wajah menjengkelkan sang istri.
"Ya udah, lah sayang! Ngapain juga kita bahas itu." Elaknya.
Rania mendelik malas. Suaminya memang selalu mengelak jika dirinya sudah terjebak dalam perkataannya sendiri. Apa lagi jika mereka membahas masa lalu, dimana Gian yang tak peka dengan perasaannya sendiri dna juga sang istri.
.
.
Tari kembali termenung. Ia duduk di kursi yang ada di teras samping rumah.
Sebenarnya apa tujuan Rafik menikahinya? Bahkan sekarang lelaki itu terus mengabaikannya setelah apa yang dilakukannya sejak semalam. Tidakkah Rafik menyadari bahwa Tari benar-benar ketakutan karena sikapnya yang berubah tak menentu.
Kembali menangis tentu bukan suatu hal yang berguna. Hanya membuang waktu dan tenaga. Lebih baik ia mencari tahu semua hal tentang suaminya yang belum ia ketahui.
Rafik benar-benar penuh rahasia. Sulit sekali ia pahami. Tapi bagaimana caranya agar ia bisa mengetahui jati diri sang suami?
Temperamental. Itu jelas sekali berbeda dengan watak Nabil, kakak sang suami. Apa yang membuat suaminya itu demikian? Tentu ada penyebabnya.
Tari mencoba mengingat lagi awal mula mereka bertemu hingga proses sampai mereka menikah. Tak ada yang begitu berarti menurutnya. Toh saat itu Tari menolak langsung lelaki itu.
"Kayaknya nggak mungkin kalau Mas Rafik membenci aku cuma karena penolakan itu, dan bahkan sampai nikahin aku. Alasannya klise banget." Tari bergumam dengan wajah pensarannya.
"Sebenarnya Mas Rafik ini siapa? Kenapa dia nikah aku kalau dia nggak ada perasaan apapun untukku."
Amukan Rafik semalam benar-benar membuat mental Tari menciut. Ia tak berani untuk mendekati lelaki itu, walaupun Rafik adalah suaminya. Bahkan, saat ini Tari malah berpikir untuk pergi dari kehidupan lelaki itu.
Ia tak ingin menjadi korban karena sikap temperamental sang suami yang kapan saja bisa murka dan melakukan segala hal untuk meluapkan amarahnya.
"Kalau aku kabur, aku yakin Mas Rafik nggak akan mengganggu teman-temanku. Mereka pasti ada yang akan melindungi." Gumamnya lagi.
Bukannya Tari egois karena hanya memikirkan dirinya sendiri. Namun, untuk saat ini hanya itu yang bisa ia lakukan untuk melindungi dirinya. Dengan pergi meninggalkan Rafik, mengurungkan niatnya untuk mencoba menjadi istri yang baik untuk lelaki itu.
Jika Rafik berbuat nekat dengan mengganggu teman-temannya, Rasanya nggak mungkin nggak ada yang melindungi mereka. Tari harus mengubur dalam keinginannya beberapa jam yang lalu untuk menjadi istri yang baik untuk Rafik.
Tante Leni menghampiri Tari, membuatnya terusik. Tari pun bangkit dari duduknya.
"Tari, tante mau mengajak kamu jalan-jalan keluar. Tante rasa kamu butuh hiburan keluar, nak. Jadi, ayo kita pergi!" Ajaknya pada sang menantu.
Tari gelagapan karena bingung harus menjawab apa. Jujur saja ia sangat ingin pergi dari rumah ini. Bahkan, sekaeang mungkin adalah kesempatan untuknya. Tapi, jika ia pergi bersama Tante Leni tentu ia tak akan bisa kabur.
Atau lebih baik ia mengikuti saja ajakan Tante Leni. Mungkin nanti ada kesempatan lain untuknya.
"Mm,, tapi gimana Mas Rafik, tante?" tanyanya ragu.
"Kamu tenang aja. Kalau sama tante, Rafik nggak akan marah kamu pergi." Jawab Tante Leni yakin.
Tari mengangguk. Lalu mereka pun bersiap untuk pergi.
Tante Leni sengaja mengajak Tari ke sebuah pusat perbelanjaan di ibukota. Mereka memasuki bangunan tinggu tersebut.
Hingga setelah hampir setengah jam berkeliling, mereka pun mampir ke salah satu restoran. Selagi memesan makanan, Tati pamit untuk ke toilet. Tante Leni pun membiarkan Tari ke toilet sendirian.
Kesempatan tak disia-siakan oleh Tari. Ia memang pergi ke arah toilet. Namun hanya untuk pengalihan saja. Setelah merasa aman, Tari segera mencari jalan untuk keluar dari mall tersebut dengan perasaan gusar.
"Yaa Allah, bantu aku." Ucapnya lirih.
Tari terus berjalan menerobos keramaian. Ia juga menuruni eskalator untuk bisa cepat sampai di lantai bawah.
Namun, saat diujung eskalator di lantai 3, inderanya tak sengaja menangkap sosok Marko, asister sang suami. Dengan rasa cemas Tari segera beranjak dari tempat tersebut. Ia tak boleh ketahuan oleh Marko. Bagaimanapun ia harus kabur.
Tari kembali menyusuri keramaian di pusat perbelanjaan tersebut. Sudah sampai di lantai 1, ia segera keluar dari sana dengan sedikit berlari.
"Taksi,," Gumamnya. Ia pun mencari taksi, berlari ke pinggir jalan.
Sebuah mobil berhenti di hadapan Tari saat kakinya baru saja menginjak trotoar. Ia sangat kenal dengan mobil tersebut. Dengan detak jantung yang semakin cepat, Tari merutuki nasibnya saat ini.
"Mau kemana kamu?" Ucap Rafik saat ia sudah berdiri di hadapan Tari dengan wajah datar.
.
.
.
Next......
.
.