Love is Never Wrong

Love is Never Wrong
Eps 90



.


.


Di ruang keluarga, Tari sedang berkumpul bersama Resa dan juga Tante Leni. Setelah berusaha menyuruh Rafik pergi, akhirnya akhirnya lelaki itu mau juga. Ia terpaksa mengalah setelah Tante Leni yang akhirnya ikut berbicara.


Meski Resa dan Tante Leni memperlakukannya sangat baik, namun tetap saja Tari belum bisa tenang. Suaminya sendiri membuatnya tak nyaman. Pagi ini tak ada interaksi yang wajar yang dilakukan suami istri, walau hanya sekedar menyapa. Lelaki itu sepertinya benar-benar dingin jika selain pada Tante Leni. Itulah yang dilihat oleh Tari. Meski dengan Resa, suaminya iu cukup banyak bicara.


"Gimana kalau kita ajak Tari jalan-jalan ke mall, tan?" Resa meminta persetujuan mertuanya. Ya, Resa juga sangat dekat dan akrab dengan Tante Leni.


"Ide bagus. Tante setuju. Gimana, Tari? Kamu mau, kan?" Tanya Tante Leni pada Tari.


Tari tak merespon. Ia hanya diam dan sibuk dengan pikirannya. Hal itu membuat Tante Leni dan Resa bingung sehingga mereka saling melempar pandangan.


"Tari. Kamu dengar kita ngomong, kan?" Tanya Resa hati-hati.


"Eh, iya mbak. Gimana tadi?" Kata Tari gelagapan.


Tante Leni tersenyum. "Tante sama Resa mau mengajak kamu jalan-jalan. Mungkin ke mall, atau kita bisa ke salon nanti." Kata Tante Leni.


"Tapi,, apa dibolehin sama Mas Rafik, tante?" Tanya Tari terlihat takut-takut.


"Pasti boleh, sayang. Biar tante yang bilang ke dia." Kata Tante Leni.


Resa mengangguk membenarkan perkataan mertuanya itu. Benar. Memang Rafik takkan bisa berkutik jika sudah Tante Leni yang bicara. Tante Leni adalah pawang adik iparnya itu. Begitulah ia dan suaminya sering berbicara.


Sementara itu, Rafik tengah berkutat dengan pekerjaannya di kantor. Ia tidak fokus. Bahkan, untuk sekedar memeriksa laporan yang dibawakan oleh sekretarisnya. Rafik melakukan beberapa kesalahan dalam menandatangani dokumen-dokumen itu. Ia kesal karena kini sudah yang ketiga kalinya ia salah tempat membubuhi tanda tangan.


"Arghh,,," Geramnya sembari melempar pulpen yang ia pegang, disusul dengan berkas ditangannya yang akan ia remukkan.


"Bos!" Sergah Keanu mencegah Rafik yang hendak mencengkeram berkas di tangannya.


"Bos, kenapa sih? Hari ini nggak karuan begini." Tanya Keanu yang ikut kesal karena ia harus memperbaiki lagi dokumen itu.


Rafik hanya berdecak. "Kamu,,, jangan banyak tanya. Sekarang kamu perbaiki semua yang salah ini, dan nanti bawa kesini." Titahnya pada Sekretarisnya itu.


"Oke, bos." Jawab Keanu akhirnya. Si sekretaris muda itu terpaksa berlalu meski dengan hati yang masih kesal karena kelakuan bosnya yang benar-benar aneh hari ini. Menurutnya, Rafik seperti suami yang tidak mendapat jat*h dari istrinya.


"Ckk,,," Rafik kembali berdecak setelah kepergian Keanu. Ia benar-benar resah karena kedatangan Resa ke rumahnya. Belum lagi Tante Leni yang tiba-tiba datang dan menginap. Ia takut jika semuanya terbongkar. Ia tak ingin wanita paruh baya itu tahu kalau selama beberapa hari ini Tari menjadi istrinya, gadis itu merasa tertekan.


Bisa habis dirinya jika Tante kesayangannya itu tahu. Rafik yakin Tante Leni akan sangat marah jika Tari mengadu padanya.


"Apa gue pulang aja ya?" Gumamnya. "Hah, Gue telfon Mario aja."


Rafik menyambar benda pipih canggih yang tergeletak di atas mejanya. Ia menekan nomor dan mendialnya.


"Halo, gimana?" Tanya Rafik tanpa basa-basi.


"Sejauh ini aman, bos. Bu Resa masih di dalam." Kata Mario di seberang telepon.


"Oke. Kamu awasi terus. Jangan sampai kalian kecolongan sedikitpun. Saya nggak mau kalau sampai Tari kabur." Tegasnya.


"Siap, bos!"


Rafik bernapas lega setelah obrolan singkatnya dengan Mario berakhir. Kini ia sedikit tenang. Tadinya Rafik benar-benar resah dan gelisah tak menentu. Ada rasa yang begitu mengganjal di hatinya. Rasa takut akan kehilangan wanita yang berstatuskan sebagai istrinya itu.


.


.


Sepertinya waktu makan siang adalah saat yang tepat untuk membuat janji. Rania pun mengirimkan pesan kepada kedua sahabatnya itu.


"Ran, ngapain sih? Diem bae lo disini." Seru Yanti yang muncul dari ruang desaign.


"Ini, Yan. Aku lagi ngidam makan puding stroberi buatan Tari sama Debby." Kata Rania sembari mengelus perutnya yang masih rata.


"Oh,,, dedek bayinya banyak mau ternyata, ya." Yanti yang merasa gemas pun membelai perut datar sahabatnya. Meski kini perutnya juga lebih besar dibanding perut Rania, karena usia kandungan Yanti sudah memasuki 5 bulan.


Karena tak ada jawaban dari Tari, Rania pun meneleponnya.


"Kayaknya Tari lagi sibuk, deh. Aku udah chat dia, tapi nggak dibalas. Dan aku telfon dia juga nggak diangkat." Kata Rania kepada Yanti.


"Mungkin iya, deh."


Dini keluar mendorong stroller Aina. Rania dan Yanti terlihat antusias menyambut balita kecil itu. Rania yang sangat gemas pun mengambil Aina dari stroller dan menimangnya.


Sementara Yanti ikut menghibur Aina. Namun, ia juga memperhatikan Dini. Raut mukanya terlihat lelah. Ia sangat prihatin. Rasa kepeduliannya karena mereka sangat dekat membuat Yanti tergerak dengan sendirinya merapat pada sahabatnya itu. Ia merengkuhnya dari samping, sembari mengusap bahu Dini.


Dini tak pernah mengeluhkan apa yang ia rasakan. Namun, Yanti dan Rania memahaminya. Sebagai sahabat dan sesama wanita, ia bisa merasakan apa yang dirasakan Dini.


"Istirahat dulu, deh." Ucap Yanti pada Dini dengan tatapan tulus.


Selalu saja ada kebetulan yang diluar dugaan. Saat mereka tengah berkumpul bertiga seperti sekarang, Adrian datang membuat raut wajah Dini menegang. Yanti dan Rania melirik Dini bergantian melihat ke arah depan butik dimana mobil hitam itu terparkir.


"Dokter Adrian, kan?" Ucap Yanti sarat akan pertanyaan.


"Iyaa." Jawab Rania. "Udah jam makan siang, pantesan udah muncul aja." Lanjut Rania.


Dini tak berkutik sedikitpun. Yanti dan Rania hanya bisa pasrah dengan sikap sahabatnya yang kini benar-benar berubah. Dini tidak seheboh dulu. Gadis itu kini telah jauh berbeda.


"Assalamu'alaikum.." Ucap Adrian yang kini telah memasuki butik. Ia menatap canggung ketiga wanita berhijab itu.


"Wa'alaikumussalam." Jawab mereka hampir bersamaan.


"Apa kabar, dok? Ada yang bisa dibantu?" Tanya Yanti ramah. Hanya sekedar basa-basi. Karena mereka pun tahu maksud dan tujuan Adrian datang kesini.


"Alhamdulillah, baik. Hai, Aina." Sapanya pada Balita itu. Aina kecil itu menanggapinya dengan ocehan lucu khas bayi. Nampaknya ia sangat senang bertemu dengan Adrian.


"Boleh saya gendong Aina?" Tanyanya entah kepada siapa, karena Adrian tak menyebut namanya.


"Boleh kok, dok." Jawab Rania cepat. Ia pun memberikan Rania pada Adrian. Bocah kecil itu pun bertepuk tangan saat ia sudah berpindah ke gendongan Adrian.


"Halo Aina? Gemes banget, ya." Adrian mengajaknya berbicara meski tak kan ada balasan dari bocah kecil yang belum bisa berkata-kata itu.


Melihat interaksi dua orang berbeda generasi tersebut Rania dan Yanti merasa tersentuh. Berbeda dengan Dini. Ada desiran aneh yang semakin mendesak di dadanya. Antara senang dan sedih, kini dirasakan oleh Dini. Ia juga terharu melihat keakraban yang diciptakan Adrian dengan balita itu, layaknya seperti seorang ayah dan putrinya.


.


.


Bersambung.....


.


.