
Deon segera tersadar dan memutus pandangannya dari Sea. memilih beranjak meninggalkan Sea. “istirahatlah, aku harus bersiap untuk ke rumah sakit, aku akan telepon mama agar kamu ada yang menemani” Ujar Deon berusaha menetralkan detak jantung yang mulai tidak beraturan.
“I..iya, tapi apa tidak merepotkan mama?” Tanya Sea
“Tidak apa-apa, dari pada kamu sendirian di sini, nanti kalau mama tahu kamu sendirian di sini juga pasti akan marah - marah, udah jangan membantah”
Deon keluar dari kamar Sea dan segera melakukan panggilan ke mama Agatha. Mama yang baru dapat telepon mendengar Sea sakit dengan segera berangkat menuju Apartemen Deon.
Deon telah siap mandi dan berganti pakaian yang rapi akan berangkat ke Rumah sakit, Namun, karena mama Agatha belum sampai dia memutuskan mendatangi Sea ke kamarnya.
“Kenapa belum berangkat? Apa tidak terlambat? Tanya Sea
“Mama sepertinya belum sampai, tunggu mama datang aku akan berangkat” jawab Deon
Suasana seketika canggung, tidak ada yang melanjutkan percakapan lagi. Di tengah kecanggungan tiba - tiba bel apartemen berbunyi Deon segera beranjak dan membukakan dan ternyata mama Agatha sudah sampai.
Begitu pintu terbuka mama Agatha langsung masuk “Sea sakit apa Deon, kok bisa sihh… semalam di rumah mama dia baik baik saja?” mama Agatha khawatir
“Sea demam ma… aku juga tidak tega meninggalkan dia sendiri di sini”
Mama Agatha segera menuju kamar Sea, “ya ampun sayang, kenapa bisa sakit, apa masih sangat sakit, kalau ia kita ke rumah sakit saja, lagian Deon sudah tahu istri sakit bukannya bawa ke rumah sakit, mentang mentang dokter”
“Bukan gitu ma… Sea cuma demam kok.. Nggak apa - apa kok sekarang udah baikan” jawab Sea begitu tautan pipinya lepas dari mama Agatha.
“Benar nggak apa - apa kan?, suami kamu ini benar - benar nggak bisa diandelin, sudah tahu istri lelah bolak balik kampus, capek buat tesis bukannya diperhatikan, kalau ada waktu kan bisa diantar’’ Mama Agatha kembali menyemprot Deon
“Deon kan juga sibuk ma…” Sea akhirnya tidak tega karena Deon selalu disalahkan mertuanya.
Deon yang mendengar mamanya mengatakan Sea kelelahan sedikit tersentil hatinya. Dia memang sering melihat Sea bolak balik pergi namun sekalipun dia tidak pernah menanyakannya.
Entah aba - aba dari mana, Deon mendekati ranjang Sea… Mengusap lembut kening dan rambut Sea…. “Maaf karena aku tidak tahu kamu benar benar kelelahan, aku ke rumah sakit nanti kabari kalau kamu butuh apa-apa “
Sea menganga…. “Apakah ini Deon yang sehari-hari suka mengajak debat” batin Sea
“Kenapa?” Deon Mengernyitkan keningnya melihat Sea hanya terbengong
“Tidak apa -apa, pergilah nanti kamu terlambat” Jawab Sea akhirnya dengan gelagapan.
Mama Agatha yang melihat Deon mulai menunjukkan rasa pedulinya, seketika senyum merekah dari bibirnya. “Semoga saja kalian segera semakin dekat”. Harap mama Agatha
“Maa… aku berangkat titip Sea ya ma,, nanti kalau ada apa-apa langsung kabari” Pamit Deon
“Ia… tenang aja, hati - hati”
Sepeninggal Deon, Mama Agatha senyum - senyum melihat Sea.
“Kenapa mama senyum-senyum?” Tanya Sea
“Nggak apa -apa, mama senang aja melihat kalian mulai saling peduli.. Sebenarnya Deon itu anaknya baik, hangat, kalau udah nyaman dengan seseorang akan berani mengekspresikan perasaannya, apalagi sudah jatuh cinta dia akan sangat total, dia tidak pernah main - main soal perasaan” terang mama Agatha
Sea yang mendengarnya merasa sedikit bersalah karena sering sekali mengajak berdebat dengan Deon.
“Mama yakin kalau kalian sering berkomunikasi dengan baik, lama - lama pasti kalian saling menerima satu dengan yang lain, ya meskipun mama sering kesal dengan kerasnya hati Deon”
“Ehhh mama jadi lupa, mama buati kamu sop dulu, untuk siang nanti.. Nanti kita ngobrol lagi, kamu istahat ya mama ke dapur dulu” Mama Agatha menyelimuti Sea dan meninggalkan Sea di kamar.
“Terima kasih ma…mama udah sangat baik ke Sea” Jawab Sea