
Dipertengahan acara entah dari mana datangnya tiba-tiba Ona sahabat Sea menghampiri "wah Sea kamu curang, tau dokternya ganteng ganteng main tinggal aja" sembur Ona
Sea langsung menoleh sumber suara "Ya ampun Ona, tadi juga niatnya ngajak kamu pergi bersama, tapi dirimu menghilang" jawab Sea
Ona memberengut sebal, "Ia tadi periksa adminstrasi dulu baru keluar" jawab Ona yang kebetulan bertugas sebagai tenaga di administrasi di sekolah Sea mengajar.
"Maaf juga deh Ona, tadi lupa ngajak pergi bersama" Sea akhirnya merasa tidak enak
"woww dokternya tampan, dokter jadikan aku ibu dari anakmu" tiba-tiba Ona heboh sendiri melihat dokter Deon
"Apaan sih Ona, jangan terlalu berlebihan deh, biasa saja seperti ABG aja ganjen ingat umur Ona" sembut Sea
"idihhhh memang aku masih ABG kok, lagian sepertinya kedua mataku dimanjakan oleh dokter tampan itu" jawab Ona tidak mau kalah
"terserahmu lah Ona, kalau mau sekalian saja pergi ke depan nempel seperti prangko ke dokter Duda itu" timpal Sea
"Apa... ? duda??" Ona tidak percaya, "eh tapi kalau duda keren begitu, aku tetap mau kok" Ona begitu semangat
Sea hanya berdecak "apa menariknya sih Ona,?"
mata ona menyipit sebelah, "eh tapi tau darimana dokter itu duda.. apa jangan jangan kamu nguntit dokter itu ya"
"Bicara sembarangan, mana mungkin seperti tidak ada kerjaan saja" balas Sea
Di depan Deon yang masih menjadi pembicara sedikit terganggu dengan Sea dan ona yang tidak mendengarkan "dasar ibu ibu, suka menggibah tidak pandang tempat" batin Deon
Merasa diperhatikan Ona segera memberikan senyum terbaiknya, namun tidak mendapatkan balasan dari Deon. "Sepertinya dokternya tidak suka melihat yang bening" kecewa Ona
Sea tertawa melihat wajah cemberut Ona, "lagian kamu juga, pantang liat bening sedikit langsung lebay" jawab Sea
****
Deon yang merasa pemandangannya semakin terganggu menatap tajam dan dingin dia merasa diabaikan “mereka pikir kesehatan itu tidak perlu, melihat undangan yang hadir tampak antusias mendengarkan mereka malah merumpi seperti ini” Deon menggerutu dalam hati. Karena memang Deon apa yang ingin materi yang disampaikan sudah selesai, dia pun mengakhiri dan dilanjutkan dengan dokter yang lain.
Tidak lama acara pun berakhir, semua warga undangan yang hadir tidak terkecuali Sea, Bu Irma dan Ona.
“Rasanya cepat sekali dokter tampan itu menyudahi arahannya” kata Ona
“Ona ona,,,, Bukan arahannya yang kamu harapkan, tapi dokternya ia kan?” Ledek Irma
“Ibu sepertinya tahu apa yang aku pikirkan” canda Ona
Ibu Irma hanya tertawa menanggapi candaan Ona, “Oh ia Sea, Ona saya duluan ya, anak – anak di rumah pasti sudah menunggu, udah sore” Pamit Bu Irma
“oh ia tidak apa apa bu” balas Sea dan Ona
Sepeninggal Bu Irma Ona masih begitu bersemangat membicarakan dokter – dokter yang tampan.
Deon yang juga bersiap hendak pulang, berjalan menuju parkiran. Lagi – lagi dia melihat Ona dan Sea yang berbicara tanpa putus – putus. Deon hanya menggelengkan kepalanya “wanita aneh ini kenapa ada dimana mana?" tanpa sadar Deon mengeluarkan suaranya, Ona langsung melihat arah sumber suara. Sea yang mendengarnya merasa laki laki itu sudah terlalu mengusik kenyamanan nya semenjak acara berlangsung.
“Hallo Pak dokter, maksud bapak apa sih?, dokter yang aneh mencampuri hidup orang lain” Sewot Sea
“Apaan sih Sea, kok marah marah sama dokter tampanku” Ona menimpali.
Deon yang merasa sudah terlalu kesal kepada Sea dari beberapa hari yang lalu angkat bicara “Ibu kalau tidak ada keperluan lain lagi, mending ibu pulang ngurus anak-anak sama suami, ini malah masih betah merumpi”
“eh pak, suka – suka sayalah, memang anda dirugikan gitu???, atau anda mau saya urusi juga” balas Sea.
“Simpan niatan ibu buat ngurusin saya, saya tidak tertarik sama sekali”
Ona yang ada di sana benar benar bingung, “Ada apa diantara mereka ini, apa mereka sudah kenal sebelumnya” tanya Ona dalam hati
“Kalian sebenarnya ada masalah apa sih, kenapa seperti hendak berperang begini, Sea apa kalian sudah saling kenal” tanya Ona berbisik
“Kenal dari mana, saya tidak kenal sama laki –laki ini, saya juga heran ada masalah apa dia sama saya” jawab Sea sekenanya
“Ibu, temannya ibu aneh ini yaa?” tanya Deon ke Ona “tolong lah bu, temannya diingatkan jangan kalau sudah punya suami, jangan menggoda laki –laki lain laigi apalagi meminta jadi suami keduanya” jawab Deon
Ona hanya melongo, setahunya Sea belum punya suami apalagi anak. “Apa mungkin Sea sudah menikah diam-diam seperti Novel-novel yang sering aku baca” batin Ona
Sea yang mendengar semakin meradang “Eh Dokter duda, mulutnya lemes banget sih, seperti perempuan datang bulan, suka – suka saya juga kan mau suami saya ada 5 seperti balon, ribet banget ngurusi hidup orang”
“Ibu – ibu aneh, anda benar –benar keterlaluan lalu kalau saya duda masalah nya kepada anda apa? Berharap saya tergoda dengan anda, jangan harap wanita aneh” Balas Deon
Deon benar-benar terkejut dengan kata Duda yang disematkan Sea, “tau dari mana wanita aneh in?” batin Deon
“bahkan seribu kali pun didunia sudah tidak ada pilihan laki –laki selain anda, saya tidak akan pernah memilih laki – laki bermulut lemes seperti anda” Seru Sea berapi api
Sambil menarik tangan Ona, Sea seakan lupa dengan pekerjaannya sebagai guru yang seharusnya menjadi teladan, Ona yang ditarik tarik semakin bingung.
Sementara Deon yang ditinggal mengembuskan nafasnya dengan kasar, amarah bergemuruh dalam hatinya, “berani sekali wanita aneh itu menguntit, bahkan berkenalan pun tidak, bisa – bisanya dia tau kalau aku memang duda” Deon berusaha meredam amarahnya.
Deon merasa ketenangannya terusik, pembatasan diri yang selama ninidibentengi dengan kuat seakan-akan runtuh seketika. Memasuki mobilnya dia meremas kuat setir hingga tangannya memerah. Entah perkataan Sea yang menyebutnya duda membuatnya tersinggung atau kekecewaan yang dirasa ketika Bella menghianatinya.
Menyandarkan kepalanya di kemudi, Deon mencoba menenangkan hatinya. “Drrt,, drrt, drrt” bunyi benda persegi di kantong nya menyadarkan lamunan nya. Ares, sahabatnya memanggil, mengusap layarnya keatas “ dr. Deon, kamu di mana, aku sudah di rumah sakit, kamu kok belum menampakkan batang hidungmu?” pertanyaan dari seberang
“Maaf Res ada sedikit urusan tadi makanya tidak langsung ke rumah sakit” jawab Deon melanjutkan “ini juga sebentar jalan ke rumah sakit, dr. Beni masih standbye kan?” Tanya Deon. Beni yang juga juga dokter kandungan di rumah sakit milik Deon.
Deon sengaja tidak memberitahu insiden tidak mengenakkan yang baru saja dia alami dengan wanita yang dia sebut aneh itu. Melajukan mobilnya, Deon melesat pergi meninggalkan parkiran menuju rumah sakit sebelum kembali ke rumah.
***
Sepulang dari rumah sakit, Deon memilih pulang ke rumah Orang tuanya sudah seminggu dia belum mengunjungi. Deon memilih tinggal di apartemennya sendiri meskipun di awal orang tuanya terutama mamanya keberatan dengan keputusan Deon.
Memasuki Halaman, Pagar segera terbuka “Selamat Sore tuan” begitu sapaan sopan Satpam yang berjaga kepada Deon
“Sore mang” Balas Deon dengan sopan. Sebagaimana pun juga Deon dan keluarganya selalu memperlakukan semua pekerja yang ada di kediaman mereka. Bukankah mereka juga sama – sama Ciptaan Tuhan yang memiliki derajat yang sama.
Memarkirkan mobil ke garasi, Deon melangkahkan kakinya menuju pintu, belum sempat mengetuk pintu mamanya sudah di depan pintu “Deon, kenapa lama sekali baru kemari? Apa kau tidak merindukan mamamu?”keluh Agatha. Deon segera memeluk mamanya, bagaimana mungkin Deon tidak merindukan wanita yang paling dia cintai itu, “maafkan Deon ma, akhir – akhir ini Deon sibuk, ada banyak pekerjaan, sekali gus ini kan juga Deon harus banyak banyak standbye di rumah sakit ada banyak hal yang harus Deon benahi” Sesal Deon sambil menuntun mamanya masuk.
Marni sang pelayan di rumah keluarga Deon, segera mengambilkan minum untuk Deon.
“Mama kenapa tiba-tiba murung begitu, Deon kan sudah kemari” tanya Deon melihat mamanya yang tiba – tiba mendesah
Ragu – ragu Agatha bertanya “Nak, ini sudah 4 tahuh kamu sendiri, apa tidak sebaiknya kamu menikah lagi”
Deon tidak menjawab, ini yang Deon hindari, dia tahu keinginan orang tuanya sama dengan selayaknya orang tua lainnya yang menginginkan kebahagiaan anaknya dan memiliki menantu untuk memberikan cucu.
Deon mendesah pelan “maafkan Deon ma, Deon masih belum berpikir untuk ke sana, Deon takut salah memilih lagi, takut gagal lagi ma”
“maafkan mama juga nak, tapi mama ingin yang terbaik untuk kamu, cobalah tata hatimu, setidaknya jangan menutup hatimu untuk wanita, kita tidak tau tadir yang Tuhan rencanakan untuk kita” ucap Agatha
Ada perasaan lega ketika sudah menyampaikan kepada anaknya yang terlihat hanya diam saja. Tapi sebagai ibu Agatha bisa memahaminya meskipun harapannya begitu besar agar anaknya bisa membuka lembaran yang baru menemukan pasangan hidupnya.