
.
.
Happy Reading
.
.
Malam hari Gian tengah berkutat dengan pekerjaannya. Ia terlihat sangat fokus mengerjakan desaign arsitektur proyek barunya.
Bunyi gagang pintu terdengar, membuat Gian enyah sesaat dari fokusnya. Pintu terbuka menampilkan wanita cantik dengan gaun rumahan panjang dan rambut yang dijepit asal. Namun, tetap saja istrinya itu terlihat cantik dan menggemaskan.
Ya, Rania berjalan menghampirinya dengan wajah datar. Feelingnya sudah tak enak.
"Mas, Nia lagi pengen banget makan Soto Padang." Ucapnya tiba-tiba.
Benar saja perkiraannnya. Istrinya tengah mengidam. Dengan penuh kesadaran, Gian meletakkan pensilnya di atas meja lalu bangkit berdiri.
"Sekarang?" Tanyanya menatap lekat sang istri.
Rania mengangguk dengan wajah polosnya. "Sekarang ya?" Gumam Gian sembari menatap jam di dinding.
"Jam segini apa masih ada yang jual?" Tanyanya.
"Ihh,, mas nggak mau ya beliin?" Rengek Rania dengan wajah kesal.
"Bukan gitu, sayang. Tapi, ini udah jam 11 loh. Pasti udah pada tutup." Jelasnya membujuk sang istri yang tengah dimasa labil.
"Ya, usaha dulu lah, mas. Aku pengen banget makan Sotonya sekarang. Ah, mas udah nggak sayang lagi sama Nia, ya. " Rania memasang wajah merajuk.
Gian yang melihat tingkah Istrinya itu hanya bisa menatapnya aneh. Ia menghela naps panjang dan mencoba membujuk sang istri.
"Oke. Aku cariin sekarang, ya. Tapi, kamu ke kamar lagi, istirahat sambil nunggu aku beli sotonya." Bujuk Gian.
"Enggak. Nia ikut. Maunya makan di tempat langsung."
"Sayang. Ini udah hampir tengah malam, loh. Kamu pasti bakalan masuk angin nanti kalau ikut. Apalagi sekarang tubuh kamu lagi sensitif." Kata Gian lagi.
"Enggak, mas. Aku maunya makan disana." Ucap Rania bersikeras.
Dengan menghela napas sambil berusaha menahan dirinya agar tak emosi, Gian menyentuh pipi istrinya yang menggemaskan itu. Mau tak mau, ia harus menuruti keinginan istrinya ini. Jika tidak, ia yakin Rania akan kembali merajuk.
"Ah,, mas lama banget mikirnya. Bilang aja mas nggak mau beliin. Tuh kan, mas Gian udah nggak sayang lagi sama aku." Rania yang melihat Gian tak kunjung merespon dirinya pun kini merengek.
"Iya iya, sayang. Oke. Kita pergi. Tapi, sekarang ambil jaketnya dulu." Akhirnya Gian menuruti saja permintaan istrinya yang sukit sekali untuk ia tolak.
Setelah Rania mengambil jaketnya di kamar, kini mereka langsung pergi mencari soto Padang yang sangat diinginkan bumil muda itu. Selama perjalanan hanya ada keheningan. Gian yang tadinya tidak menyadari keadaan mereka kini mulai terpanggil hatinya untuk melihat ke arah samping kirinya. Ternyata Rania tengah terpekur dengan mata terpejam.
Dengan wajah cengonya Gian kini menatap sang istri yang ternyata sudah tertidur, setelah menepikan mobilnya. Ia lalu, melihat sekitar yang memang sudah tidak terlalu ramai kendaraan.
Meski Rania telah tertidur, namun Gian tak mengurungkan rencananya tadi untuk membeli Soto. Ia melanjutkan perjalanan menyusuri jalan raya untuk mendapatkan apa yang ia cari. Ternyata masih ada sebuah kedai soto yang masih buka. Ia pun membeli 2 bungkus dan dibawa pulang. Hal itu karena ia ingin berjaga-jaga kalau istrinya terbangun dan teringat akan ngidamnya.
Sesampai di rumah, Gian langsung memarkir mobilnya di garasi. Sebelum turun dari mobil, ia membangunkan Rania terlebih dahulu. Tatapannya terfokus menatap wajah sang istri yang terlihat sangat teduh. Sudut bibirnya terangkat menampilkan senyuman.
"Kalau lagi tidur beda banget sama waktu bangun. Tapi, tetap aja dua-duanya cantik. Aku bersyukur bisa memiliki kamu, sayang." Bisik Gian pelan tanpa mau mengalihkan tatapannya dari wajah Rania yang begitu damai.
"Rania. Sayang! Bangun, yuk! Sayang.." Panggilnya sembari memegang bahu Rania.
"Hmmmmm,,,,, Mas?" Tiba-tiba matanya membulat sempurna.
"Apa?" Jawab Gian.
"Kok kita masih disini? Aku kan mau soto mas...." Lagi-lagi ia merengek.
"Iya, sayang. Ini sotonya. Kita makan di rumah aja. Tadi kamu tidurnya pulas banget, makanya aku nggak bangunin kamu waktu sampai di tempat yang jual." Jelas Gian.
Rania hanya diam mendengar penjelasan suaminya itu. Ia memikirkan dan mempertimbangkannya. Akhirnya ia bisa melawan moodnya yang tadinya sangat tidak mau mengalah. Ia juga merasa kasihan melihat wajah lelah suaminya itu.
Sembari menatap Gian lekat, tiba-tiba Rania mengulurkan tangannya menyentuh wajah Gian. Ia mengusapnya dengan penuh rasa iba.
"Mas. Maafin aku, ya. Aku sering nyusahin Mas Gian, sering bikin mas Gian repot dan kesulitan. Maafin aku belum bisa jadi istri yang baik." Ucap Rania yang matanya sudah berkaca-kaca.
Gian menautkan alisnya melihat tingkah sang istri yang mudah sekali berubah. Ia lalu tersenyum.
"Aku,,," Gian memegang tangan Rania yang masih ada di pipinya. "Nggak pernah ngerasa kalau kamu nyusahin aku. Kamu adslah tanggung jawab aku, sayang. Aku nggak keberatan dengan semua permintaan kamu. Untuk sekarang kamu dan calon anak kita adalah prioritas aku. Aku akan ngelakuin apapun yang kalian mau selagi aku mampu, kalau itu untuk kebahagiaan kalian."
Mendengar pernyataan Gian tersebut lantas membuat Rania terharu. Moodnya yang kini melow membuatnya mudah menangis. Ia pun memeluk Gian.
.
.
Di sebuah kamar tampak seorang gadis berhijab terduduk di atas sofa tunggal di dekat jendela. Sudah pukul setengah 12 malam. Sebenarnya Tari sudah sangat mengantuk, namun ia tetap menahan matanya agar tidak tidur.
Ya, bagaimana tidak. Semenjak tadi sore, ia tak melihat wajah lelaki yang berstatuskan suaminya itu. Ia merasa cemas jika saat ia tertidur suaminya masuk kamar, maka lelaki itu akan berbuat buruk padanya. Oh, bukan ia ingin berprasangka buruk. Hanya saja ketakutan-ketakutan itu muncul sekarang dan seperti menghantui pikirannya.
Tari kembali melihat jam di dinding. Ia semakin kalut saja. Entah dimana suaminya itu sekarang, dan apa yang dilakukannya sehingga belum juga masuk ke kamar.
"Apa dia di ruang kerja?" Tanya Tari pada dirinya sendiri.
Tari menghela napas berat. "Aku coba lihat aja, deh. Kalau memang dia di ruang kerja, berarti aku bisa tidur. " Gumam Tari.
Ya, jika Rafik sudah berada di ruang kerja sampai selarut ini, setau Tari ia takkan masuk ke kamar hingga pagi datang.
Tari pun melangkah keluar dari kamarnya dan Rafik. Kemudian perlahan ia berjalan ke arah ruang kerja suaminya. Dengan perlahan, Tari menendap mendekat. Ssat sampai ia langsung menarik gagang pintu. Pintu pun terbuka menampilkan ruangan yang pencahayaannya redup.
Tari melihat sekeliling. Meja kerja suaminya masih rapi. Sepertinya tak ada tanda-tanda keberadaan Rafik disana. Entah mengapa Tari merasa ada yang mengganjal di hatinya. Ia merasa tak senang sekarang.
Pelan, ia melangkah keluar dari ruangan tersebut dan kembali ke kamar. Di dalam kamar ia terdiam memastikan sekeliling. Juga tak ada tanda keberadaan suaminya.
"Dia kemana, ya?" Ucapnya membatin.
Tari yang sudah sangat lelah dan mengantuk pun kini merebahkan tubuhnya di ranjang. Akhirnya ia benar-benar terlelap setelah menahan kantuknya.
.
.
Bersambung....
.
.