Love is Never Wrong

Love is Never Wrong
Meminta hadiah



Sea Berada dalam satu ruangan dengan Dosen penguji 6 orang. Sea berusaha untuk terlihat tenang meskipun hatinya dan pikirannya saat ini tegang. Dia cemas memikirkan tiba-tiba saja otaknya blank dan melupakan materi apa yang sudah dituangkannya dalam tesisnya.


Menghadap Dosen penguji, Sea mulai duduk dengan tenang. Perlahan dia mulai menguasai hatinya agar bisa se rileks mungkin.


"Saudara Sea Mahendra, apa anda sudah siap" Tanya Salah satu dosen penguji.


"Siap pak" Jawab Sea mantap


Dosen mulai membuka tesis Sea, meneliti dan kemudian menanyakan apa yang dianggap perlu dipertanyakan.


Sejauh ini Sea mampu menguasai dan mempertanggungjawabkan apa yang sudah tertuang dalam tesisnya.


Saat ini Sea diuji oleh Dosen penguji terakhir. Sea memberikan jawaban dengan tenang, mantap dan lugas.


1 setengah jam Sea berada dalam ruangan, akhirnya Sea dapat keluar dari ruangan tersebut dengan bernafas lega. Sea hanya mendapat beberapa bab yang perlu untuk direvisi itupun tidak banyak banyak.


Dengan mengucap syukur, Sea keluar dari ruangan dengan wajah berseri seri. Bagaimana tidak, Sea dinyatakan lulus.


Begitu keluar ruangan, Sea berniat ke Toilet. Namun, dia dikejutkan dengan keberadaan Deon yang sudah menunggunya.


Deon berdiri menunggu Sea keluar dari ruangan.


Melihat Deon, Sea segera menemui Deon.


"kamu kenapa ada di sini? tanya Sea


"Selamat Se, kamu sudah lulus" Jawab Deon tanpa menjawab pertanyaan Sea.


Mata Sea mulai berkaca-kaca, dia senang sekaligus terharu. "Terima kasih dokter, semua berkat doa dan dukungan kalian juga" Sontak Sea memeluk Deon.


Sea merasa hidupnya begitu dimudahkan oleng sang pencipta, dilengkapi dengan orang orang yang menyanyanginya dengan tulus.


Deon membalas pelukan Sea, dia ikutan senang melihat kelulusan Sea.


"Setelah ini kita ke rumah mama Ratih ya, kira harus memberitahu kabar bahagia ini" ajak Deon


"kamu tidak ada niatkah dokter, memberikan aku hadiah kelulusan" tanya Sea dengan cemberut.


bagaimana tidak, Deo hanya mengucapkan selamat namun tidak ada membawa hadiah, bukankah setidaknya mereka sudah janji menjadi teman.


"Maaf, tadi tidak tepikir ke sana, yang aku pikirkan, aku ada saat kamu menangis jika saja gagal ujiannya" Jawab Deon.


"Jawaban macam apa itu" Sea cemberut


"Iya, nanti malam setelah pulang kerja kita makan malam diluar, bagaimana?" tawar Deon


"Benarkah?" tanya Sea dengan wajah berbinar


"Ia, tapi kita ke rumah mama Ratih dulu, oke?" kata Deon


"Ia, dan jangan mencoba melupakan hadiah untukku" kata Sea dengan semangat


"Siap bu guru" Jawab Deon.


Setelah itu Sea mengiakan ajakan Deon untuk ke rumah mamanya.


"Ia, pergilah aku tunggu di depan gedung" jawab Deon


Sea berjalan menuju toilet sedangkan Deon menuju depan gedung menunggu Sea.


Deon tidak merasakan lelah sedikitpun, entahlah demi melihat Sea, Deon tidak peduli betapa lelahnya dia. Bayangkan saja, hari ini dua kali masuk ke ruang meja persalinan untuk operasi caesar.


Begitu keluar dari ruangan operasi segera dia menanyakan jadwalnya selanjutnya ke suster yang biasa berjaga di ruangannya.


Mendapat jawaban jadwal operasi ada di sore nanti pukul 6 segera dia mendatangi Ares ke ruangannya, meminta Ares agar mewakilkan dirinya untuk pertemuan beberapa investor yang sudah dijanjikan pertemuannya sebelumnya.


Pertemuan yang dijadwalkan siang hari, bersamaan dengan makan siang Deon putuskan agar mengutus Ares saja.


karena pertemuan kali ini hanya tanda tangan kontrak yang sudah disepakati.


"Apa ada hal penting mendadak sehingga kamu harus diwakilkan" Tanya Ares.


"Ia aku ada hal penting yang harus diurus" Jawab Deon "Jadi aku percayakan padamu ya Res, aku tahu kamu pasti bisa diandalkan" lanjut Deon.


"Tidak masalah, bukankah ini hanya untuk melanjutkan pembicaraan kemarin, dan setelah tanda tangan kontrak, dan sepertinya ini juga diwakilkan asisten pemilik perusahaan tersebut, aku sudah mendapat telepon sebelum kamu kemari" Terang Ares.


"Baguslah kalau seperti itu, aku percayakan padamu" Jawab Deon.


Deo melirik jam yang bertengger di tangannya, waktu menujukkan pukul 11 itu artinya Sea sedang dalam proses sidangnya.


"Tapi tunggu dulu, memangnya ada proyek lain kah yang tidak aku ketahui?" tanya Ares.


"Bukan masalah proyek, tapi aku mau ke kampus Sea, hari ini dia sedang ujian". Jawab Deon dengan jujur.


"Bukankah sebelumnya hubungan kalian tidak sedekat itu?, Apa sekarang kamu sudah menyadari kalau Sea itu benar - benar berlian yang akan sangat rugi besar kalau dilepaskan" Ares bertanya dengan nada meledak.


"Bukan urusanmu, dan kamu tidak perlu tahu alasannya" jawab Deon dengan ketus. ada rasa tidak terima dihatinya Ares memuji istrinya dengan terang terangan.


"Ckkk.... akan jadi urusanku kalau menyangkut Sea, kamu ingat bukan? kalau Sea itu sahabatku" Balas Ares.


"Dan kamu juga harus ingat, kalau Sea sudah punya aku sebagai suaminya jadi tidak perlu terlalu memikirkan istri orang lain" sarkas Deon.


"Santai bos santai,, aku tidak akan membawa lari Sea, asal kamu membuat dia nyaman berada di dekatmu" Jawab Ares


"Ah sudahlah aku buru - buru, kabari segera jika ada suatu hal yang darurat dan mendesak" Pesan Deon


"Siap bos, aku yakin Sea pasti berhasil, tidak usah khawatir, Sea itu anak yang cerdas" Jawab Ares.


"Good luck bos, semangat memikat hati Sea" Seloroh Ares. "Kabari aku kalau hati bos sudah jatuh sejatuh kepada Sea" Ledek Ares dengan tawa terbahak bahak.


Deon mendengus "Sialan kamu Res" Deon segera meninggalkan Ares.


Ares benar- benar menyukai ekspresi wajah Deon, "Kalau sudah begini, aku yakin sikap posesif mu akan Ikutan menjadi jadi, semoga kalian bahagia dengan saling menerima satu sama yang lain" batin Ares


Meskipun Ares menyukai Sea, tapi bukan berarti dia akan tetap mengejar Sea.


Melihat Deon yang mulai membuka hati ke Sea, Ares ikut senang itu artinya Sea tidak akan dilepaskan oleh Deon sampai kapanpun.