Love is Never Wrong

Love is Never Wrong
Eps 97



.


.


.


Welcome back....


And Happy reading.....


.


.


Tari tiba-tiba terkejut hingga membuatnya terbangun. Matanya terbuka begitu saja saat ia merasa ada sesuatu yang terasa mendorong tubuhnya.


Ia terdiam mencerna apa yang baru saja terjadi. Ternyata hanya mimpi. Dan Tari bisa bernapas lega.


"Ya ampun, udah pagi aja." Gumamnya menyadari jika di luar sudah terang.


Tari tadi tertidur setelah menunaikan shalat subuh. Setelah kejadian Rafik yang mengamuk, Tari berlari ke kamarnya. Lalu ia langsung membersihkan diri dan menunaikan kewajibannya.


Bersimpuh di hadapan sang pencipta dan mengadukan segala keluh dan kesahnya. Selepas itu Tari tertidur di atas sajadah.


"Mungkin sebaiknya aku ke dapur. Semoga aja Mas Rafik udah lebih tenang." Ucapnya.


Di dapur Tari melihat seorang wanita paruh baya tengah menata isi kulkas. Tari belum menyadari waktu sekarang. Ia pun menghampiri wanita paruh baya tersebut.


"Tante,, tante lagi ngapain?" Tanya Tari.


Wanita itu tersenyum. "Ini, tante lagi merapikan kulkas." Jawab tante Leni yang diangguki oleh Tari. Ia lalu melihat sekeliling, dan ternyata sudah ada makanan di meja dapur.


"Loh, tante udah masak, ya. Maaf ya tante, aku nggak sempat bantuin. Tadi ketiduran abis subuh." Ucapnya merasa tak enak.


"Nggak apa-apa, sayang. Lagian sesekali kan nggak apa kalau tante yang masak. Oh, iya. Kita langsung makan aja ya. Nanti keburu dingin." Ajak Tante Leni.


"Mm, kalau gitu aku panggil mas Rafik dulu." Ucapnya.


"Rafik kan udah berangkat." Sergah tante Leni. Tari terpaku mendengarnya.


"Ya udah, yuk. Kamu bantu tante bawa ini aja ke meja makan." Titah tante Leni.


Tari menurutinya. Ia membantu Tante Leni membawa dan menata makanan tersebut di meja makan. Pikirannya kini berkelana. Di satu sisi ia merasa tak enak pada Tante Leni, takut dianggap istri pemalas.


Di sisi lain ia juga merasa sedih karena teringat hubungannya dengan Rafik.


.


.


.


Rafik menatap jendela dengan tatapan kosong. Pikirannya berkelana jauh. Semenjak pernikahannya terjadi, hari Rafik terasa semakin sulit.


Hatinya semakin merasakan ada yang mengganjal. Bahkan lebih berat. Ia menghela napas berat dan menghembuskannya.


Dulu ia kira menikahi Tari adalah pilihan yang tepat. Karena, dengan begitu ia bisa menjamin keselamatan gadis itu karena selalu berada di dalam pantauannya.


Namun, ternyata tidak. Semua semakin sulit. Mungkin keamanan Tari bisa ia jamin, tapi tidak dengan kebahagiaannya.


Yang terjadi, gadis yang kini telah menjadi istrinya itu selalu menangis setelah menjadi istrinya. Tak ada kebahagiaan yang terlihat dari wajahnya.


Rafik merasa menyesal karena telah gegabah mengambil keputusan. Ia merutuki kebodohannya karena terpancing oleh pengkhianatan yang dilakukan salah satu anak buahnya, Jefri.


Flashback on.....


Bugh... Pukulan mentah itu mendarat di perut seorang lelaki muda yang kini sudah semakin lemas.


"Kamu masih mau menutup rapat mulut kamu?" Ujar lelaki itu yang tak lain adalah Rafik, dengan nada mengejek.


Lelaki yang sudah babak belur itu hanya tersenyum miring di sisa tenaganya.


"Bagus. Dengan begitu saya akan puas menghancurkan kamu. Manusia pengkhianat seperti kamu nggak akan saya biarkan lepas." Kata Rafik lagi.


Seseorang berlari menghampiri Rafik. Lalu, memberikan sebuah benda pipih dan kecil ke tangan lelaki itu.


"Bos,, ini!" Ucapnya.


"Apa ini?" Tanya Rafik. "Perlihatkan!" Perintahnya yang langsung diangguki lelaki yang menghampirinya beberapa saat yang lalu.


Benda tersebut adalah USB drive, berisi rekaman percakapan antara Jefri dan musuh Rafik. Dimana isinya adalah Jefri memberikan ide untuk menghancurkan Rafik.


"Kalian bisa memulai dari kelemahannya." Terdengar suara Jefri. Rafik menatap lelaki itu tajam.


"Apa itu?" Tanya lelaki lain di dalam rekaman tersebut.


"Dia jatuh cinta pada seorang wanita. Tentu bukan hal yang sulit bagi anda untuk menemukan wanita itu. Namanya Mentari Handayani. Seorang guru privat di ******."


Rafik mengepalkan tangannya mendengar hal itu. Jefri mendengus dengan tatapan miringnya pada Rafik. Setidaknya jika ia mati ditangan lelaki Rafik, ia puas karena telah membuatnya kelabakan mencemaskan gadis yang dicintainya.


.


Suara ketukan pintu terdengar, membuat Ia sedikit melunak.


"Masuk!" Pintu terbuka. Mario masuk.


"Bos. Saatnya berangkat." Ucapnya. Rafik kemudian melihat jam tangannya. Ternyata benar.


Ia pun membereskan meja kerjanya dan memakai jasnya. Lalu ia berangkat bersama Mario.


.


.


.


Gian tengah fokus mengendarai mobil. Namun, tiba-tiba ia merasa perutnya begejolak. Dengan terpaksa ia menepikan mobilnya lalu buru-buru turun.


Rania yang melihat hal itu panik dan menyusul Sang suami. Ia mengusap punggung Gian saat mendapati suaminya itu mun*ah.


"Udah, mas?" Tanyanya saat Gian kini sudah berhenti dan menormalkan pernapasannya.


"Aduh,,, Aku nggak sanggup ke kantor." Ujarnya.


Ia menyandarkan kepalanya ke bahu Rania. Sang empunya mengusap iba kepala sang suami.


Ia merasa terharu karena Gian juga merasakan hormon bawaan kehamilannya. Suaminya juga merasa ngidam dan morning sickness.


"Ya udah. Kita pulang aja. Biar aku yang nyetir." Kata Rania.


"Aku aja. Aku kuat kok." Sanggah Gian, ia tak ingin Rania menyetir, karena kehamilannya masih sangat muda.


"Kuat apanya, mas. Udah lemas begini masih aja nggak mau dibilangin." Rania mulai terpancing.


"Iya, deh." Gian yang menyadari amarah Sang istri mulai terpancing pun memilih mengalah dan menuruti saja. Ia tak ingin bertengkar dalam kondisi seperti ini.


"Ayo, masuk!" Sahutnya yang segera dituruti oleh Gian.


Rania mulai mengendarai mobil dengan kecepatan sedang. Gian duduk diam di sebelahnya sambil sesekalu melirik sang istri yang terlihat fokus.


"Sayang,,, kamu nggak pengen sesuatu?" Tanyanya memecah keheningan mereka.


"Enggak." Jawab Rania singkat.


Gian tak berkata lagi. Ia lebih memilih diam. Namun, Rania memutar arah perjalanan mereka. Dan kemudian ia berhenti di depan lapak Ketoprak.


Hal itu membuat Gian bingung. lelaki itu hanya bisa melongo saat snag istri turun dan menghampiri penjual makanan tersebut.


"Barusan aja bilangnya enggak. Sekarang malah berhenti disini. Dasar cewek. Misterius, nggak konsisten, nggak jelas maunya,,, nggak,,,,"


Pintu terbuka dan Bugh,, tertutup kembali. Sedangkan mulut Gian masih setengah terbuka.


"Kenapa?" Tanya Rania.


"Enggak. Nggak apa-apa." Jawabnya.


Rania kembali melajukan mobilnya. Kali ini dengan kecepatan lebih, niatnya ingin lebih cepat sampai. Karena lidahnya sudah tak sabar mencicipi ketoprak, yang sudha diinginkannya semenjak subuh.


"Mas,, besok kita check up ya. Temenin." Kata Rania.


"Besok? "


"Iya. Jangan nolak." Katanya dengan menyipitkan mata.


"Enggak. Suudzhon aja." Cibir Gian. "Jam berapa?"


""Bagusnya jam berapa ya. Aku minta tolong Kak Alfi aja buat rekomendasiin dokternya."


"Asalkan perempuan. Aku nggak mau dokternya laki-laki, ya." Gian terlihat sewot membayangkan jika dokternya laki-laki.


"Ya, aku maunya juga dokter perempuan." Kata Rania.


Obrolan berakhir dan mereka sampai di rumah. Rania langsung masuk dan menuju ke dapur. Sementara Gian kini pusing dan mualnya sudah lenyap begitu saja. Dan bahkan ia kini merasa sangat sehat.


Ia hanya menggeleng menyadari hal itu. Bawaan bayi, pikirnya..


.


.


.


Next.........


.


.