Love is Never Wrong

Love is Never Wrong
Sopir untukmu



Kesabaran Deon seakan habis, enak sekali wanita itu menyuruhnya meninggalkan istrinya.


"Ini tidak bisa dibiarkan, Bella itu orangnya nekat, aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi ke Sea" Bathin Deon.


Mendial nomor papanya, Johan. Deon segera melakukan panggilan.Panggilan pertama papanya sudah menjawabnya.


"Ada apa tiba-tiba menelpon papa?" Papa Johan bertanya dari seberang.


"Apa papa sibuk, ada sesuatu hal yang harus aku bicarakan dengan papa" Tanya Deon memastikan


"Tidak begitu sibuk, apa tidak bisa menunggu papa agar berbicara langsung dengan papa?"


"Ini tentang Bella pa, tiba-tiba saja wanita itu muncul kembali, sepertinya dia ingin aku kembali" Deon memberitahu apa yang kini ada di pikirannya


"Terus, apa wanita itu mulai mengusik kamu kembali" tanya papa Johan.


"Kalau dia mengusik aku, aku bisa mengatasinya, ini menyangkut Sea, aku takut berbuat yang tidak tidak kepada Sea" Balas Deon.


"Tidak usah khawatir, papa akan mengirim orang papa untuk berjaga mengawasi Sea"


"Terima kasih pa, itu juga yang tadinya ingin aku sampaikan kepada papa" Deon menghela nafasnya lega.


"Kalau begitu telepon nya aku tutup ya pa, ada pasien" Beritahu Deon.


"Baiklah, dan ingat jangan sampai gara - gara masa lalu membuat hubunganmu dengan menantu papa kacau, jangan kasih celah ke wanita itu" Pesan papa Johan.


"Terima kasih pa" Deon menutup panggilan teleponnya.


Kemudian kembali mendial nomor istrinya dia segera melakukan panggilan memastikan apa yang dikerjakan istrinya.


Panggilan tersambung menampakkan wajah Sea


"Sayang, apa kamu sudah selesai mengajar, lagi dimana sekarang" Tanya Deon beruntun.


Senyum Sea langsung mengembang mendengar pertanyaan suaminya.


"Masih di sekolah mas, ini sudah bersiap akan pulang, ada apa mas? Tanya Dea


"Tidak apa-apa, hanya rindu saja" Ucap Deon.


"Ckk... " Sea berdecak namun tidak menghilangkan senyum yang menghias di wajahnya


"Sayang, sebentar lagi ada sopir yang menjemput, tidak usah menyetir, sekarang dalam perjalanan, mungkin sebentar lagi sampai"


"aku kan bisa bawa mobil sendiri mas" Sea menunjukkan wajah bingungnya.


"Kenapa harus begitu" Tanya Sea lagi.


"Mas hanya ingin kamu tidak kelelahan" Jawab Deon tanpa memberitahu alasan yang sebenarnya.


Deon merasa tidak baik menyampaikan lewat telepon apa yang dikhawatirkan biarlah nanti ketika bertemu dengan istrinya di rumah mereka membicarakannya.


"Tapi mas..."


Belum Sempat Sea menyelesaikan kalimatnya Deon sudah memotong


"Sayang, tidak ada tapi tapi, mulai sekarang kamu pakai sopir atau kamu tidak usah bekerja" Deon berkata dengan nada tanpa ingin dibantah.


Mengerucutkan bibirnya Sea akhirnya mengalah.


"Baiklah, kenapa mas cerewet sekali" Gerutu Sea.


"Semua untuk kebaikan istri mas" Jawab Deon pula.


"Kalau begitu apa aku sudah bisa pulang, terus dimana sopirnya" Tanya Sea.


"Sudah di depan gerbang, ya sudah mas tutup ya, kamu hati-hati di jalan" Pesan Deon


"Baiklah,, sampai bertemu di rumah nanti" Balas Sea dan panggilan pun berakhir.


Sea berjalan meninggalkan kantor setelah saling berpamitan dengan rekan guru yang lain.


Anak-anak juga sudah dijemput orang tuanya menyisakan beberapa anak yang menunggu jemputan.


"Selamat siang bu Sea" Sapa anak-anak melihat Sea berjalan melintas di depannya.


"Selamat siang, apa masih menunggu jemputan" Tanya Sea melihat beberapa anak yang duduk di bangku tunggu depan pos satpam


"Ia bu Sea" Jawab Anak anak


"Kalau begitu ibu duluan ya, jangan berkeliaran, pak tolong anak anak di perhatikan" Sea pamit ke anak muridnya dan sekalian berpesan kepada pos jaga.


"Baik bu" Jawab anak anak


"ia bu, hati-hati di jalan" Pesan Penjaga pos pula.


Sea mengedarkan pandangannya, benar seperti kata suaminya sudah ada sopir yang menunggu Sea.


Sea langsung mengenalinya karena sopir tersebut merupakan sopir mama Agatha.