Love is Never Wrong

Love is Never Wrong
Episode 76



.


.


Gian berjalan dengan gayanya yang cuek menyusuri area Bandara. Ia hendak pulang ke rumahnya, menghampiri sang istri dan memastikan keadaan sebenarnya istrinya itu saat ini. Jujur saja ia sangat cemas, apalagi dengan kandungan istrinya.


Mengenai kepulangannya ini, Gian sengaja tak memberitahukan pada Rania. Karena, awalnya ia lupa dan berujung dengan niatnya ingin memberi kejutan setelah mengetahui dari Mang Pardi, bahwa istrinya itu baik-baik saja. Meskipun tadinya Rania sempat syok saat membuka paket misterius itu.


Mengingat hal itu, Gian kini menjadi ragu untuk meninggalkan snag istri tanpa dirinya. Mulai sekarang ia tak ingin lagi bepergian jauh tanpa menjamin keamanan istrinya. Mungkin ia akan mengajak serta Rania saat mengurus pekerjaannya di luar kota, ide yang bagus.


"Makasih, Mang." Ucap Gian saat melewati gerbang setelah Mang Pardi membukakan pagar besi itu.


"Iya, Mas."Jawab lelaki paruh baya itu.


Gian memarkir mobil di garasi dan langsung masuk ke dalam rumah. Ia mencari keberadaan istrinya. Saat tak menemukan sang istri di tengah rumahnya, Gian melirik jam tangannya yang ternyata telah menunjukkan pukul 4 sore. Ia tahu istrinya ada dimana.


Dengan langkah pasti, Gian berjalan ke halaman belakang. Benar saja, ternyata istri tercintanya itu tengah berada di mini gardennya.


"Assalamu'alaikum. Paket." Sahut Gian membuat Rani sontsk menoleh.


"Wa'alaikussalam. Mas Gian." Ucap Rania berbinar.


"Mas udah pulang? Katanya besok." Rania memeluk Gian yang sudah berada di dekatnya.


Gian tersenyum. "Surprise. Aku pulang lebih cepat." Katanya.


"Kenapa nggak bilang?" tanya Rania.


"Sengaja." Jawabnya dengan gaya dibuat-buat arogan.


Rania menatapnya sewot. Namun sesaat kemudian, wanita hamil itu kembali memeluk suaminya.


Gian tergerak untuk membawa Rania duduk di kursi yang ada di taman itu. Ia ingin berbicara dengan istrinya mengenai masalah tadi.


"Mm,, kamu nggak mau cerita apa gitu?" Pancing Gian.


Wajah Rania berubah menegang. Rania menelan salivanya susah payah. Ia takut Gian akan marah saat tahu apa yang tadi terjadi padanya.


"Hmm?" Gian berdehem.


"Eh, nggak ada." Kata Rania tersenyum.


Gian menggenggam tangan istrinya itu dan menatapnya. "Jangan sungkan berbagi sama suami sendiri. Semua keluh kesah kamu juga harus aku rasain. Kamu cerita apa yang terjadi sama kamu. Mas akan dengerin dan mungkin bisa kasih solusi." Gian mulai berbicara panjang. Dan itu adalah kelemahan Rania saat menahan diri untuk tidak bercerita dengan suaminya.


"Ada yang neror aku, mas." Kata Rania yang akhirnya mau bercerita.


Gian menghela napas panjang dan membuangnya. "Itu yang kemaren bikin mas berat ninggalin kamu. Antika udah merencanakan semua ini. Dia pasti punya rencana yang lebih jahat dari ini. Karena dia sendiri yang bilang kalau dia akan gangguin kamu terus." Jelas Gian.


"Tapi, kenapa mas? Aku nggak pernah cari masalah sama dia." Rania merasa tak terima dengan apa yang dikatakan Gian.


Gian mendengus pelan. Ini semua karena dirinya. Karena dulu ia menolak Antika, dan gadis itu menjadi dendam dan menjadikan istrinya sebagai objek balas dendamnya.


Rania memejamkan matanya dan beralih menatao ke arah lain. Jika Antika orangnya, maka ia sudah tahu apa motif Antika melakukan hal itu. Tentu saja karena suaminya. Ia tahu betapa terobsesinya Wanita itu pada suaminya.


"Nia mau kedalam, mas." Kata Rania dengan cairan bening yang sudah menggenang di pelupuk matanya.


"Sayang. Tunggu.!" Gian menyahut saat Rania berlalu ke dalam rumah. Mungkin istrinya butuh waktu untuk menenangkan diri.


.


.


Di Kediaman keluarganya, Tari duduk bermenung di pinggir ranjang. Ya, hanya seorang diri. Semua anggota keluarga dan beberapa orang yang hadir di acara ijab qabulnya tadi sudah pergi. Mama dan Papanya berada di bawah. Suaminya? Entahlah. Tari tak tahu kemana lelaki misterius itu pergi.


"Saya ada urusan. Jangan coba-coba kabur. Kamu ingat sahabat-sahabat kamu, kan?"


Kalimat ancaman itu masih terngiang-ngiang di kepalanya. Tari benar-benar tak menyangka hidupnya akan berubah drastis dalam waktu 24 jam. Di luar dugaan.


Kini yang ia cemaskan bagaimana kehidupannya kedepan. Apakah semua akan tetap berjalan seperti ini? Atau mungkin akan ia bisa bahagia nantinya dengan pernikahan terpaksanya ini?


Tak bisa berkata apapun, Tari hanya diam dan tetap membisu. Satu-satunya hal yang dapat ia lakukan. Dan ini demi keselamatan sahabat-sahabatnya.


"Ya Allah. Apa dosaku di masala lalu sangat besar, sehingga jalan hidupku sekarang berubah seperti ini? Kuatkan aku ya Rabb. Berikan aku ketabahan menjalani semua ini. Hamba yakin engkau telah menyiapkan sesuatu yang indaha untuk hamba hadapi nanti." Tari berdoa penuh kepasrahan.


Ia hanya berharap kebaikan dan kebahagiaan didapatinya setelah ujian hidup yang sangat berat ini.


Drrttt... drrttt.. drrtt.. Ponselnya bergetar. Dan Tari baru tersadar sekarang bahwa seharian ini ia belum memegang ponsel sama sekali. Entah berapa banyak pesan masuk yang ia abaikan.


Mata Tari membulat melihat begitu banyak notifikasi panggilan dan pesan yang masuk ke ponselnya. Ia berhembus berat saat melihat lebih dari 10 panggilan tak terjawab dari Rania. Lalu ada panggilan lainnya yang bernasib sama. Dan barus saja pesan Spam dari sahabat-sahabatnya di grup whatsapp.


Kringg.... Kring... Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Panggilan masuk dari nomoe yang tak dikenal. Tari merasa gentar untuk mengangkat panggilan itu. Namun, dengan keberanian yang ia paksakan, Tari pun terpaksa mengangkatnya.


"Ha,, halo." Ucapnya.


"Halo. Ini saya. Saya cuma mau kasih tau kamu, kalau hari ini saya ke Malang." Ucapnya.


Tari hanya memejamkan mata malas menanggapi lelaki itu. Akan lebih baik jika begitu. Sekalian saja suaminya itu tidak pulang dan menetap disana.


"I,," Baru Tari akan menjawab, panggilan sudah terputus.


Ia bernapas lega. Setidaknya hari pertama pernikahannya ia tak harus menghadapi kecanggungan bersama lelaki itu. Meski Rafik adalah suaminya, namun semua itu belum menumbuhkan rasa cinta di hati Tari.


Menjauhi Rafik adalah keinginannya saat ini. Bahkan ia menyesali semua perkataan songongnnya dulu itu pada lelaki yang berstatus sebagai suaminya kini. Sedetik kemudian, Tari tersadar.


Ia tersadar bahwa, tak ada sesuatupun yang terjadi yang telrepas dari takdir Allah. Semua sudah ditetapkan oleh sang Maha Kuasa. Pernikahannya adalah takdir Allah. Dan kini ia sedikit menyesal karena mengumpati takdir. Meski sebenarnya bukan maksudnya untuk mengumpati kehendak Allah.


"Huhh,, Udah cukup Tari. Cukup lo mengeluh terus. Terima apa yang terjadi. Karena ini takdir Allah." Ucapnya pada dirinya sendiri. Sengaja ia berkata demikian, berbicara dengan dirinya untuk meluapkan kekesalan dan keresahannya selama ini. Toh dengan begitu ia merasa sedikit lega.


.


.


Bersambung ....


.


..