Love is Never Wrong

Love is Never Wrong
Eps 102



.


.


Di balkon kamar, Tari termenung menatap langit malam. Hati ya benar-benar bimbang.


Bagaimana tidak? Perkataan Tante Leni tadi siang masih terngiang olehnya. Hatinya kian dilema memikirkan hal itu.


Flashback .


"Tante mohon satu hal sama kamu, Tolong bertahan ya, nak! Jangan tinggalkan Rafik!!"


"Kamu nanti akan mengerti mengapa Rafik menjadi oeang yang keras seperti itu. Tapi, percayalah, nak. Dia sangat rapuh. Kamu harapan tante satu-satunya untuk bisa membimbingnya berubah. Karena kamu adalah wanita yang berarti untuk Rafik." Tante Leni menatapnya penuh harap.


"Semenjak pertemuan kalian waktu itu, Rafik selalu mencari cara agar bisa meluluhkan hati kamu. Rafik sering bertanya pada tante, bagaimana dia harus bersikap agar kamu menerimanya."


"Sejak itu, Tante sadar. Bahwa dia sudah sangat jatuh hati pada kamu, sayang." Ungkap Tante Leni.


Tari bungkam. Pikirannya masih mencoba mencerna apa yang dikatakan oleh tante Leni.


Flashback off..............


.


Waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam. Batinnya sudah merasa lelah, namun rasa kantuknya tak kunjung datang.


Ia pun memilih masuk ke dalam kamar dan berbaring di tempat tidur. Memikirkan hal itu membuatnya semakin tertekan. Ingin mengabaikannya namun, perasaan itu muncul begitu saja.


Lama Tari berusaha untuk tertidur. Namun, nyatanya tetap saja ia tak bisa terlelap. Ia kembali duduk dan melihat jam di dinding. Sudah lewat setengah jam, namun suaminya tak juga muncul.


Ia bahkan, tak mendengar suara mobil. Dengan rasa resah yang tak ia sadari, Tari beranjak dari kamarnya dan melangkah ke ruang kerja sang suami.


Ia membuka pintu perlahan. Kosong. Itulah yang ia dapati. Berarti suaminya memang belum pulang.


"Tari?" Sahut seseorang dari kamar lainnya yang tak lain adalah Tante Leni.


"Tante?" Serunya.


"Kamu ngapain, nak? Kenapa belum tidur?" Tanya Tante Leni.


"Ini mau tidur, tante." Jawab Tari. "Aku masuk dulu ya, tan." Katanya.


Tari masuk ke kamar sementara Tante Leni menatap kepergian Tari yang perlahan menghilang di balik pintu. Setelahnya Tante Leni juga masuk ke kamar yang ia tempati. Ia menghubungi seseorang dengan ponselnya.


"Dimana kamu?" Tanya Tante Leni begitu panggilannya dijawab.


"Aku di Bali, tante." Jawab orang tersebut.


Tante Leni memejamkan mata menahan amarahnya. Ia benar-benar tersulut karena kelakuan Rafik.


"Tante minta kamu beri kejelasan tentang pernikahan kalian. Kamu perlakukan istri kamu dengan baik seperti pernikahan pada umumnya, atau,,,," Tante Leni menjeda kalimatnya sejenak.


"Lepaskan dia!" Kata Tante Leni.


"Maaf, tante. Aku belum bisa melakukan apa yang tante bilang."


"Itu berarti kamu mau tante yang bertindak." Putus Tante Leni sebelum memutuskan sambungan.


Tante Leni meremas benda pipih tersebut meluapkan emosinya. Ia melihat sendiri Tari masuk ke ruang kerja Rafik dan kembali keluar dengan wajah yang ditekuk. Hal itu membuatnya semakin terenyuh.


Ia tak sanggup melihat seorang gadis yang tersiksa karena ulah keponakannya. Meski ia belum tahu permasalahan sebenarnya, namun ia yakin Tari tidak bersalah.


.


.


.


 Rafik yang baru saja selesai bertemu klien, ia hendak mengganti pakaiannya dengan pakaian santai saat Tante Leni menelponnya.


Ia ragu mengangkat, karena ia sudah mengira pasti Tantenya itu akan membahas mengenai Tari. Saat ini suasana hatinya sedang tak mendukung untuk membahas wanita yang beratatus sebagai istrinya itu.


Namun, ia juga tak bisa mengabaikan panggilan dari wanita yang sangat ia sayang. Membuat Rafik menjawab panggilan tersebut.


"Dimana kamu?" Rafik menghela napas mendengar pertanyaan sang tante.


"Aku di Bali, tante." Jawabnya.


"Tante minta kamu beri kejelasan tentang pernikahan kalian. Kamu perlakukan istri kamu dengan baik seperti pernikahan pada umumnya, atau,,,," Rafik memijit pelipisnya, ia yakin tantenya akan mengajukan ancaman.


"Lepaskan dia!" Benar bukan.


"Maaf, tante. Aku belum bisa melakukan apa yang tante bilang." Rafik hanya bisa menjawab demikian.


"Itu berarti kamu mau tante yang bertindak." Putus Tante Leni dan setelahnya wanita paruh baya itu memutuskan sambungan.


Rafik meremas rambutnya. Sekarang bahkan semakin rumit dan sulit. Biarlah Tante Leni melakukan apa yang wanita paruh baya itu mau untuk saat ini. Ia akan menyelesaikan urusannya disini terlebih dahulu.


Barulah nanti ia menyelesaikan urusan rumah tangganya yang tidak jelas.


Rafik menghubungi salah satu orang kepercayaannya di Jakarta. Ia harus tetap memantau Tari. Agar ia bisa tahu harus bertindak bagaimana nantinya.


"Kamu awasi Istri saya. Apapun yang terjadi, kamu laporkan pada saya. Tapi, jangan mencegah Tante saya melakukan apapun. Biarkan saja, tapi tetap kamu awasi. Jangan sampai lengah!" Titahnya.


Rafik memang telah mengatur banyak pengawal di kediamannnya untuk menjaga sang istri dari musuhnya. Namun, Tyo khusus ia beri tugas mengawasi lebih detail karena ini juga menyangkut sang tante.


'Lagi-lagi, aku ingkar janji. Aku belum bisa membahagiakan kamu.' Gumamnya lirih setengah berbisik.


Rafik bahkan sekarang merasa bersalah karena ia pergi begitu saja setelah mencegah Tari yang ingin kabur kemaren. Ia tak berpamitan atau sekedar memberi kabar. Entah apa yang dilakukan gadis itu.


Merasa gundah, Rafik membuka koper. Ia mengeluarkan sebuah benda dari sana. Figura yang menampakkan foto pernikahannya dan Tari.


Ia memandangi foto tersebut. Ya, benda itu adalah salah satu barang penting yang selalu dibawa Rafik diam-diam. Ia tak bisa meninggalkan foto tersebut jika pergi jauh.


Jika bersama dengan Tari ia hanya bisa marah dan kesal. Karena itulah dengan menatap foto pernikahan mereka, ia bisa meresapi perasaannya untuk sang istri. Juga mengobati rasa rindunya karena tidak bertemu dengan wanita yang bertahta di hatinya itu sejak kemaren siang.


Puas memandangi foto tersebut, Rafik pun pergi ke kamar mandi untum bersih-bersih. Di bawah shower ia kembali teringat akan perkataan musuhnya tempo hari.


'Dengan gadis itu, kamu akan hancur. Benar-benar hancur.'


Ancaman keselamatan istrinya masih saja terngiang. Membuat jantung Rafik berdetak lebih cepat karena menahan amarah. Dan juga karena ia tak ingin membayangkan hal buruk terjadi pada Wanita yang dicintainya.


Ia tak akan pernah membiarkan Tari disentuh seujung kukupun oleh musuhnya dari bisnis gelap. Rafik tak bisa menahan emosinya terlalu lama. Ia pun berteriak dibawah guyuran shower yang deras.


Lalu ia memukul dinding dengan tinjunya. Berulang kali. Hingga akahirnya buku jarinya berubah memar. Namun, rasa sakit itu bukan apa-apa bagi Rafik. Ia bukan orang yang lemah.


"Aaaarrggghhh........." Teriaknya untuk yang ketiga kalinya.


"Mentariii...... Mengapa kamu masuk ke dalam hati saya? Bahkan sampai sedalam ini..." Marah Rafik kembali meninju dinding.


"Saya tidak bisa kehilangan kamu. Tidak bisa. Dan tak akan saya biarkan itu terjadi.." Ucapnya pada dirinya sendiri, seakan ia berbicara pada Tari.


Rafik keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih bawah dan handuk yang melilih hingga ke pinggangnya.


Ia segera berganti baju dengan pakaian santai. Lalu, ia merebahkan tubuhnya di tempat tidur.


Tak langsung terlelap. Rafik Menatap lurus ke arah langit-langit kamar. Mencoba untuk terpejam, namun tak bisa. Matanya masih ingin terus terbuka. Bayangan wajah Tari serasa ia lihat disana.


.


.


.


Next...


Jangan Lupa Vote dan Likenya ya bestie..


.


.


.