
"Akhirnya menantu Mama datang juga" mama Agatha segera menyambut anak dan menantunya.
"Maaf ma, baru bisa ke sini, kemarin -kemarin Sea sibuk" sembari memeluk mama Agatha
"Ia sayang... mama tau.. bukankah menantu mama lagi sibuk sibuknya, tapi sekarang kalian datang mama udah senang sekali" Mama Agatha balas memeluk dan menciumi pipi Sea
Deon yang melihat kedekatan Mamanya dan Sea, terbersit kehangatan dan senang berpadu dalam hatinya, tanpa disadari senyuman kecil terbi di bibirnya.
Semenjak mereka tiba di rumah orang tuanya, Deon merasa diabaikan. bagaimana tidak? begitu sampai, yang pertama disambut hanya Sea, dan saat ini seakan tidak ada penghuni lain di rumah itu, Mama Agatha dan Sea bercerita tanpa putus, bercanda bahkan sekarang menguasai dapur mencoba berbagai resep makanan.
Karena merasa keberadaannya tidak terlalu dibutuhkan, Deon memutuskan istirahat dikamarnya.
Dua jam di dalam kamar, Deon sudah mulai bosan, merasa kerongkongannya kering, Deon turun dan berniat mengambilkan minum ke dapur.
Dari tangga, Deon sudah mendengar suara cekikikan dan canda dari dua wanita beda generasi itu.
"Mama sepertinya dekat sekali dengan Sea, sepertinya mereka cocok" Deon berkata dalam hati sambil berjalan menuju dapur.
"Nak... lihatlah istrimu selain cantik juga pintar memasak, mama aja baru-baru menikah dengan papamu gak sehebat Sea dalam memasak" Mama Agatha memuji Sea.
Mendapat pujian dari mama mertuanya Sea hanya tersenyum dan menjawab "Mama berlebihan, Sea nggak sehebat yang mama bilang, ini juga masih belajar kok".
"nggak hebat bagaimana, gadis jaman sekarang jarang -jarang bisa masak, taunya berdandan aja, ini menantu mama, serba bisa, makanya Deon jadi suami itu harus banyak - banyak bersyukur". mama Agatha tidak hentinya memuji menantunya sambil melirik Deon.
Mendapati lirikan mamanya, Deon hanya mendengus pelan.
Sea yang mendapat pujian dari mertuanya merasa canggung. Dia berpikir dia tidak sehebat yang dikatakan mertuanya.
"Oh ia Se, apa Deon memperlakukanmu dengan baik, kalau tidak katakan sama mama!" Mama Agatha bertanya sambil membereskan peralatan memasak yang sudah tidak dibutuhkan.
Mendapati pertanyaan dari mamanya ke Sea, Deon khawatir Sea membocorkan rencananya ke mamanya.
"Mama pikir Deon sejahat itu, ya nggaklah ma, Sea sama Deon baik baik saja" Deon segera menjawab sambil menatao Sea.
Mendapat tatapan dari Deon, Sea membalas dengan senyum devil. Menaik turunkan alisnya, melihat kegusaran di wajah Deon, Sea tau apa yang dikhawatirkan suaminya tersebut.
"Sayang... kenapa menatapku seperti itu, katakan pada mama kalau aku tidak seburuk yang mama pikirkan" tiba tiba Deon mendekat ke Sea dan merengkuh pinggang Sea.
Sea yang mendapat perlakuan Deon, tentu saja terkejut, merapatkan giginya, Sea pura pura membalas senyum suaminya.
"Apa yang kau lakukan, pake peluk peluk segala" Sea berbisik
Mama Agatha yang melihat adegan kedekatan Deon dan Sea mengira mereka sudah sedekat itu. apalagi saat ini wajah Sea menampilkan rona merah selayaknya gadis yang malu malu.
"Hmmmm.... mama ada di sini, kalau mau peluk pelukan nanti saja.." mama Agatha berdehem seolah olah iri dengan pemandangan di hadapannya.
"Bilang aja mama iri, bukannya mama dan papa udah duluan dari sana" Deon berkata, namun tidak melepaskan rengkuhannya di pinggang Sea.
"Lepas gak, jangan kesempatan dokter duda" Sea sudah sangat malu, dengan kesal Sea mencubit lengan Deon.
"Awwww...." Deon mengaduh, "Kok dicubit sih"
"Rasakan, sok sok an dekat dekat ke aku, kita tidak sedekat itu, biasa saja" Sea balas dengan berbisik.
"Ma, Sea kan jadinya malu" Deon berkata dengan tidak tau malu
"Dan kau, seperti remaja puber saja" Mama Agatha berucap.
Sea tertawa terbahak bahak mendengar perkataan mertuanya. Melepaskan diri dari pelukan Deon, Sea berdiri di samping mertuanya.
"Remaja puber, sepertinya cocok untuk panggilan baru ke Deon, ia kan ma?" Sea merasa puas membalas keisengan Deon.
"Sialan, niat ingin mengerjai Sea malah aku yang kena tertawakan, tunggu saja Sea, pasti aku balas" Deon menggerutu dalam hati.
***
Malam hari selepas makan malam, pasangan suami istri itu pamit ke Mama Agatha dan papa Johan.
"Sering sering ke mari ya Sayang, mama berasa seperti gadis muda kalau sama Sea" Mama Agatha memeluk Sea
"Ia ma, pasti diusahakan" jawab Sea.
"Hati-hati" Pesan mama Agatha dan Papa Johan begitu Deon mengajak Sea pergi.
Meninggalkan kediaman Mama Agatha, Sea dan Deon kini berada dalam mobil, tidak ada yang mencoba membuka suara, hening.
Sea yang merasa kepalanya pusing, memilih menyenderkan tubuhnya ke kursi memejamkan matanya dan tidur.
Namun, semakin lama rasa pusing semakin menyerang ditambah berdenyut . tidak lama akhirnya Sea tertidur.
Sesekali Deon melirik Sea, "Sepertinya dia lelah sekali, sampe tertidur pulas begini"
memasuk areal Apartemen, Deon memarkirkan mobilnya. melihat Sea yang tidur pulas, membuat Deon tidak tega membangunkannya.
"Lebih baik diangkat saja, kasihan dari tadi pagi tidak istirahat" rasa kemanusiaan Deon sepertinya tumbuh kembali.
Mencoba mengangkat tubuh Sea, Deon merasakan tubuh Sea sangat panas. Menyibak rambut di kening dan menempelkan punggung tangannya benar benar sangat panas.
"Dia sepertinya demam" Segera Deon mengangkat Sea dengan cepat.
sampai di dalam apartemen, Deon membaringkan Sea di kasur kamar tidur. Mengambil air dalam wadah, Deon segera mengompres Sea.
"Kenapa tiba-tiba demam, sebenarnya apa yang kau kerjakan, sepertinya kau sangat kelelahan," Deon berbicara namun tidak ada jawaban dari Sea.
Dengan telaten Deon memeriksa Sea. Deon yang seorang dokter, segera mengambil peralatan yang selalu dia siapkan di apartemennya.
"Dingin" Sea tiba tiba mengigau dan tubuhnya menggigil.
"semakin panas, kalau tidak turun sebaiknya dibawa kerumah sakit saja" Deon kembali berbicara sambil Memeriksa suhu tubuh Sea.
Melihat pakaian yang dikenakan Sea yang lumayan tebal, mau tidak mau Deon terpaksa mengganti dengan pakaian tidur yang tipis dan menyerap agar Sea merasa nyaman.
"Dia istriku, perkara marah atau tidak nanti aja dipikirkan" batin Deon, segera beranjak menuju lemari pakaian Sea. dan memilih pakaian untuk Sea.
Perlahan, Deon mulai membuka kancing kemeja yang Sea kenakan.
"Apa yang kau lakukan" Sea berucap, menatap Deon dengan lemah.
00
"Jangan macam-macam" Sea kembali berucap, melihat Deon yang tidak memperdulikan ucapannya.
"Udah, bisa diam nggak, badan kamu panas sekali, biar lebih nyaman tidurnya. kalau mau marah marah ntar aja, kamu sembuh dulu" balas Deon.
Sea yang merasa badannya lemas dan dingin yang luar biasa memilih mengalah.
sebagai lelaki dewasa yang normal, tentu saja membuat Deon panas dingin melihat tubuh Sea yang putih mulus.
"Shit... kenapa malah begini, ada yanh tidak beres, bukannya banyak sekali pasien yang aku hadapi, tidak pernah bereaksi seperti ini" Deon merutuki dirinya sendiri.