Love is Never Wrong

Love is Never Wrong
Episode 85



"Ada apa sih, mas?" Tanya Winda terlihat kesal.


Lelaki yang merasa bahwa Winda berbicara padanya seketika menjadi kikuk dan menggaruk tengkuknya. Ia memandang sekeliling dimana pengunjung resto juga melihatnya aneh.


"Maaf,, maaf." Ucap lelaki itu. Ia pun kembali duduk di kursinya. Sementara Rania dan teman-teman terlihat menahan kesal karena tingkah lelaki aneh tersebut.


"Udah, deh. Gue mau balik ke kantor. Nanti kita bahas lagi." Kata Winda. "Ada yang mau bareng?" Tanyanya pada teman-temannya.


"Gue mau disini dulu, deh." Ujar Elina. Rasa penasarannya mungkin masih belum hilang. Karena ia terlihat masih berpikir-pikir.


"By, lo nggak mau balik ke Coffee shop?" Tanya Winda ke arah Debby.


"Mm,, boleh, deh. Tapi, nggak apa-apa kan lo harus muter jauh, Win?" Debby merasa sungkan.


"Enggak, kok. Ya udah. Yuk!" Ajak Winda.


"Oke. Kita pergi dulu, gaes." Pamit Debby yang ikut berlalu mengikuti langkah Winda yang tadinya telah melambaikan tangan pada mereka yang masih stay di tempat duduk masing-masing.


Selepas kepergian Debby dan Winda, Anggi menghela napas berat dan berdecak saat melihat Hilmi memasuki restoran. Lelaki itu membuat suasana hatinya jadi tidak bagus lagi.


"Hai." Sapa lelaki itu yang dibalas oleh Anggi, Rania, dan Elina.


"Gue ada perlu sama Anggi. Boleh pinjam sebentar?" Kata Hilmi hati-hati.


"Boleh, kok. Lama juga nggak apa-apa." Ujar Elina cepat.


Elina dan Rania pun mengulum senyum. Apalagi melihat reaksi Anggi. Rania memberi kode agar Anggi tenang saja. Ia harus meluruskan masalah antara dirinya dan Hilmi, begitu pikir Rania.


"Nggi. Ke depan sebentar yuk! Kita harus bicara." Kata Hilmi.


Anggi menghela napas. Lalu bangkit dari duduknya dan mengekor di belakang Hilmi.


"Ada apa?" Tanya Anggi dingin.


Hilmi menatapnya. "Aku udah lamar kamu ke papa dan mama kamu." Ucapnya.


Anggi membulatkan matanya karena terkejut dengan pernyataan Hilmi. Ia tak habis pikir dengan lelaki buaya di depannya ini. Mengapa selalu memberi harapan untuknya. Sementara posisi Anggi saat ini benar-benar rumit.


Jika ia menuruti Hilmi maka akan semakin banyak para wanita pemujanya di luar sana yang sewaktu-waktu bisa melabraknya. Sementara, hatinya juga mencintai lelaki itu.


"Nggi!" Sahut Hilmi karena tak kunjung ada respon dari Wanita yang dicintainya itu.


"Apa, sih?" Jawab Anggi yang terlihat frustasi.


Hilmi menghela napas berat. Sulit sekali baginya untuk melunakkan gadis ini. Bahkan, lebih sulit dibandingkan Rania dulu. Ah, berbeda. Dulu ia hanya sekedar menyayangi Rania, bahkan tak lebih dari seorang saudara. Namun, pada gadis ini, Hilmi merasakan hal berbeda. Semenjak dekat dan merasakan getaran aneh di dadanya ketika bersama Anggi, Hilmi benar-benar berhenti dari hobinya mengoleksi pacar.


Anggo telah berhasil membuatnya menutup rapat hatinya dari godaan untuk sekedar mempermainkan para wanita lagi. Fokusnya telah terkunci pada Anggi saja.


"Nggi, kamu mau kan nikah sama aku?" Tanya Hilmi. Ia benar-benar ingin memastikan dulu bagaimana perasaan gadis ini padanya.


"A,, aku,,, aku,,," Anggi menelan salivanya. Sungguh ia sangat gerogi.


"Apa selama ini kamu nggak ada perasaan apapun buat aku? Apa semua sikap kamu itu cuma tipuan untuk aku?" Hilmi berkata dengan mata yang sendu menatap Anggi.


Anggi mengalihkan tatapannya, berusaha menyembunyikan matanya yang sudah berkaca-kaca menahan tangis.


"Hilmi! Kita nggak akan bisa semudah itu untuk lebih lanjut. Terlalu banyak yang membuat aku terancam karena dekat sama kamu. Dan aku rasa kita nggak bisa,,," Anggi berkata dengan suara tertahan.


"Kenapa? Apa maksud kamu" Tanya Hilmi dengan wajah menahan emosi.


"Semenjak kita dekat, ada aja yang datangin aku. Komplain karena aku dekat sama kamu. Mereka ngelabrak aku. Ada yang ngancam bakalan nyelakain aku kalau aku sampai berani ngelanjutin hubungan ini ke arah yang lebih serius." Anggi mulai bercerita.


"Dan aku nggak mau kalau sampai aku disakitin oleh mereka. Aku juga nggak mau ngeladenin mereka. Jadi, lebih baik aku menjauh dari kamu. Kita jaga jarak, cari kebahagiaan masing-masing." Anggi menahan air matanya agar tak mengalir.


Hilmi mendengus dengan tatapan menusuk menatap Anggi. "Jadi, percuma aku ngelamar kamu? Semua sia-sia?Kamu nolak aku, Nggi?"


Hilmi terlihat frustasi. Ia benar-benar kecewa. Hatinya sakit. Sangat sakit mendengar penolakan dari gadis yang ia cintai.


Anggi bangkit dari duduknya. Tak kuat jika ia berlama-lama berdekatan dengan Hilmi. Hatinya rapuh. Tak pernah ia merasa serapuh ini.


"Anggi!" Seru Hilmi namun tak membuat Anggi menghentikan langkahnya yang telah kembali ke dekat sahabat-sahabatnya.


Anggi menghapus cepat air matanya yang membasahi pipi sebelum ia sampai di tempat sahabat-sahabatnya berada. Kemudian, Anggi menyambar tas nya yang ada di kursi dan pergi begitu saja. Hal itu menimbulkan tanya di antara mereka.


"Anggi!" Panggil Elina pada Anggi.


"Tunggu,, kita lihat dulu." Kata Rania mencegah Elina yang hendak mengejar Anggi. Karena, di depan sana Anggi dicegah oleh Hilmi.


"Mereka kenapa, ya? Kayaknya lagi berantem." Ujar Elina yang beralih menyandarkan punggungnya ke kursi. Ia menghela napas panjang.


"Ujian percintaan kita berat banget ya, Ran." Gumam Elina menatap kosong ke depan.


Rania yang mendengar lirihan Elina pun hanya bisa diam sembari menghela napasnya dan kemudian melepasnya dengan wajah pasrah.


"Allah selalu punya skenario yang bagus, yang jauh dari perkiraan kita, El. Nggak ada yang bisa mengelak dari Takdir-Nya. Harus tetap bersyukur, gimanapun hasil akhirnya walau nggak sesuai dengan ekspektasi dan keinginan kita." Ucap Rania panjang.


Elina tersenyum mendengar penuturan panjang sahabatnya. Ia menatap Rania berbinar.


"Kisah sedih yang berakhir indah. Gue baper banget, Ran sama kisah dan perjuangan cinta lo sama Gian. Kalian itu memang ditakdirkan untuk bersama. Dan akhirnya kalian menikah juga. Gue salut banget sama kalian berdua." Puji Elina pada Rania.


Rania mencebikkan bibirnya mendengar pujian dari sahabatnya itu.


"Tapi, kalian juga loh. Aku juga gimanaa gitu, ya sama kisah kalian. Vano itu cinta banget sama kamu kayaknya, El. Sampai berbagai cara dia lakuin supaya bisa dapetin kamu." Rania balik menggoda Elina.


Mendengar ucapan Rania, Elina mendengus pelan. Menggelikan sekali jika ia mengingat bagaimana Vano menculiknya, mengancamnya dan memaksanya untuk menerima lamaran lelaki itu. Namun, walau bagaimanapun Vano tetaplah satu-satu lelaki yang menempati ruang hatinya sejak lama.


Elina tak dapat memungkiri hal itu. Walau Vano selalu membuatnya kesal, namun ia kini percaya bahwa laki-laki itu mencintainya. Bahkan, ia rela melakukan apapun untuk Elina.


.


.


Bersambung...


.


.