
Sebulan sudah pernikahan Sea dan Deon. Mereka yang sudah menjalani aktivitasnya seperti biasa. Jangan tanyakan perihal hubungan mereka. Belum ada perkembangan hanya perdebabatan kecil.
Hari ini Sea mendapatkan kepastian jadwal bimbingannya, setelah dosennya memberikan kabar bahwa sudah kembali dinas dari luar kota. Sedikit terburu-buru Sea memasuki kamar mandi.
Dengan membawa pakaian ganti Sea melaksanakan ritual mandinya, sementara Deon akhirnya harus mengalah untuk mandi di kamar mandi luar kamar. Setiap berdebat sudah pasti Sea yang lebih banyak unggul.
Keluar dari kamar mandi, Sea sudah berpakaian lengkap. Sedikit merias wajahnya dengan bedak dan lipgloss agar tidak kelihatan pucat.
Deon sedikit heran dengan Sea yang terlihat terburu - buru. Mulutnya terasa gatal ingin menanyakan tetapi takut dikatakan perhatian. Ia sea seringkali menjawab dengan “jangan perhatian dengan ku nanti kau jatuh cinta”.
“aku tau kau penasaran, baiklah kuberitahu aku mau ke kampus ada hal yang mau kukerjakan” Kata Sea narsis
“Siapa yang penasaran. Pergilah. Kau suruh mengantarpun aku tidak akan mau” Deon membalas
“ckckckckck, dokter duda.. kau pasti berharap aku minta tolong kau antar kan? Tidak perlu. Mobilku sudah di depan” JAwab Sea
“siapa yang mengantarkanmu, wanita aneh ini sebenarnya dari planet mana sih.. percaya diri sekali” Deon bersungut sungut namu Sea sudah tidak mendengarnya karena sudah keluar.
Deon memijit pelipisnya. Berhadapan dengan Sea memang membutuhkan kesabaran yang ekstra tinggi. Tetapi, entah kenapa Deon malah seolah menikmatinya.
Keberadaan Sea membuatnya berubah menjadi manusia cerewet, berbeda sekali ketika sedang bekerja di rumah sakit.
****
Deon dan Ares terlihat berbicara serius di ruang tamu. Sepertinya Ares membawakan kabar yang mengembirakan. Apalagi kalau bukan masalah kerja sama yang Deon perintahkan untuk Ares datangi.
Akhirnya perusahaan Maxton dan Rumah sakit milik Deon menyerahkan segala kebutuhan karyawan terkait Layanan kesehatan.
“Terima kasih Ares, kamu memang bisa diandalkan” Puji Deon
“Ah bukannya sudah diadakan pertemuan sebelumnya, aku hanya menyampaikan kekurangan berkas dan point - point yang mereka butuhkan” Ares menimpali
Soal pekerjaan dan profesionalisme Deon memang tidak bisa diremehkan. Bagi Deon apalagi menyangkut nyawa manusia dia tidak akan main-main. Untuk saat ini, Banyak perusahaan yang berlomba untuk bergabung dengan rumah sakit milik Deon. Sebagai pemasok obat-obatan ataupun kerja sama lainnya.
Selesai membahas pekerjaan mereka kembali seperti teman kocak yang mengobrol santai.
“Deon, apa tidak sebaiknya kau batalkan saja rencana yang kau bilang tempo hari, aku merasa kau sangat cocok dengan Sea”
“Tidak, tetap tidak. Aku sudah mengatakan aku akan tetap pada rencana awal. Setelah menemukan bukti aku dan Sea akan berpisah”
“Gila,,,, kenapa kau tidak mencoba dekat dengan Sea. Kau tidak tau Sea itu perempuan baik - baik yang bahkan laki - laki rela akan mengantri untuk bisa mendapatkannya”
“Kenapa tidak kau saja, yang penting bantu aku menyelesaikan masalah ini. Aku ingin segera lepas dari sahabatmu itu” Deon menegaskan
“Kau tidak tau, aku sudah lama menyukai Sea jauh sebelumnya. Semenjak SMA aku menyukainya. Dan kau dengan gampang malah menikahinya” Ares Sendu
“Kalau begitu setelah kami berpisah kau bebas memilikinya” Deon menjawab dengan kesal. Dia juga tidak tahu kenapa bisa kesal, Sehingga suaranya begitu keras.
“Aku tidak habis pikir, terbuat dari apa kerasnya hatimu” Ares membalas kesal.
Sea yang sedari tadi hendak masuk ke kamar mengurungkan langkahnya. Setelah mendengar kata rencana jiwa kepo Sea menahannya untuk tidak masuk dan memilih untuk mendengar dari dekat pintu.
Sea malah memilih duduk di kursi dekat pintu.
Hati Sea bergidik ngeri ketika Deon menyebutkan lebih memilih memiliki anak dari hasil bayi tabung dari pada kontak fisik dengan wanita.
“Mungkin saja dia berubah jadi penyuka sesama jenis setelah penghianatan yang dilakukan istrinya” Begitu pikiran Sea
“Tidak perlu kalian mempermasalahkan aku ke mana setelah pernikahan ini berakhir” Sea tiba - tiba menyela pembicaraan kedua sahabat itu
Ares benar - benar terkejut, demikian juga dengan Deon
“Kalian pikir aku wanita apa, bahkan sepuluh berjejer laki laki lebih dari seperti kalian aku masih berpikir berada di dekatnya” Lanjut Sea
Ares berusaha menghampiri Sea, “Jangan dekati aku, aku pikir kau sahabatku ternyata sama piciknya dengan orang ini. Sebaiknya kau pergilah aku tidak mau diganggu”
Ares masih ingin mengejar Sea, namun ditahan oleh Deon. “Aku akan berusaha menjelaskan”
Ares memilih keluar meninggalkan pasangan suami istri yang sedang salah paham tersebut.
“Maaf, tadinya aku tidak bermaksud menyinggungmu” Kata Deon Lirih
Sea yang dikalap emosi “tadinya saat Ares mengatakan kau tidak suka bersentuhan dengan wanita aku bersyukur, karena memang kenyataannya kau penyuka sesama jenis dan itu artinya aku aman tinggal berdekatan denganmu”
“Apa maksudmu penyuka sesama jenis?” Deon mulai terpancing
“Tidak usah berpura - pura, aku mendengar percakapan kalian. Laki-laki apa yang lebih menginginkan anak tanpa menyentuh wanita, kau laki -laki yang tidak masuk akal”
Deon tertawa sinis, “Kau akan menyesal mengatakan aku penyuka sesama jenis”
Entah dorongan dari mana tiba-tiba saja Deon menarik Sea. Memeluk dan menahan pinggangnya. Secepat kilat dengan kasar Deon menyambar bibir mungil milik Sea.
Mata Sea membeliak lebar, dengan sekuat tenaga Sea mendorong tubuh Deon,
“PLak” Sebuah tamparan mendarat keras di pipi Deon.
“Kurang ajar, beraninya kau” Sea mulai menangis
“Kenapa? Apa itu tidak cukup membuktikan aku masih ingin bersentuhan dengan wanita” Tanya Deon dengan menaikkan nada suaranya
“Kalau kau menganggap wanita itu hanya mainan, maka kau adalah laki -laki brengsek yang pernah aku kenal, gara - gara kau aku harus berada dalam pernikahan yang tidak jelas ini”
Sea mulai berapi api
“Kau tau, Seharusnya aku tidak menikah denganmu, impianku hancur, seharusnya aku bersanding dengan orang yang kucintai karena bagiku pernikahan itu hanya sekali. Menikah dengan orang yang aku cintai itu impianku, tetapi karena kau hadir di syukuran kakakku membuatku harus hidup denganmu”
“dan sekarang dengan seenakmu mengatakan, orang lain bebas mengambilku. Aku bukan wanita segampang yang kau bayangkan”
“Cihh… Cinta…. persetan dengan cinta yang kau sebutkan, aku tidak peduli. Bagiku semua wanita sudah sama saja lalu kau mau apa?” Deon membalas dengan sengit
“manusia mati rasa sepertimu memang tidak pantas diajak berdebat, kuanggap perkataanmu hanya diucapkan orang gila yang melintas” Kata Sea sambil menyeka airmatanya yang bergulir
Melihat Sea yang menangis Ego Deon seakan hilang, emosi yang runtuh seketika
“Maafkan aku, aku tidak bermaksud membuatmu menangis” Deon berkata dengan lirih
“Aku sudah memaafkanmu, sebaiknya tetaplah pada porsi masing-masing, aku keluar” Pamit Sea
Menyambar Kunci mobilnya, Sea membelah jalanan. Jika sebelumnya dia tidak pernah memikirkan arah pernikahannya kali ini dia disadarkan bagaimanapun juga cepat atau lambat setelah berpisah posisinya merupakan orang yang sudah pernah bersuami.
“Aaaahhhhhhh……” Sea meremas kuat setir mobilnya.
“Bukti, iaaa aku harus segera menemukan bukti itu” Tekad Sea. Menelpon sahabatnya Ona. Sea memutuskan menjumpai Ona.