
Tari terpaku dengan wajah terkejut saat melihat siapa yang turun dari mobil. Wajah datar Rafik namun mata yang tajam membuat Tari semakin dilanda keresahan.
"Mau kemana kamu?" Ucapnya semakin mendekat.
Rafik kemudian menggenggam tangan Tari dan menariknya untuk masuk ke mobil. Tari pun berusaha memberontak.
"Lepasin aku! Aku mohon!" Ujar Tari.
"Cepat masuk!" Ucap Rafik lagi dan kali ini benar-benar memaksa sang istri untuk masuk ke mobil.
"Enggak! Aku nggak mau. Lepasin."
Tari berusaha melepaskan genggaman Rafik. Meski lelaki itu terus menahannya dan hampir berhasil membuatnya benar-benar masuk ke mobil.
Namun, semakin lama Tari semakin nekat. Ia memukul-mukul tubuh besar sang suami yang pastinya tak akan berpengaruh apapun untuk Rafik.
Dengan rasa kesal Rafik yang tadinya berusaha sabar dan tidak membentak pun akhirnya mendorong Tari dengan kuat hingga gadis itu pun kini terhempas ke bangku bagian belakang.
Tari yang terkejut pun merasa sesak di dadanya karena perlakuan tak terduga dari sang suami. Ia kini melepaskan tangisannya tanpa takut lelaki di depannya itu marah.
"Halo, tante. Tante langsung pulang aja. Tari ada sama aku" Ucap Rafik yang berada di kursi kemudi.
Sepertinya ia menelpon Tante Leni. "Aku mau turun." Ucap Tari.
Rafik bersikap tak peduli. Ia fokus menyetir dan membiarkan Tari yang kini masih menangis terisak.
"Kenapa kamu memperlakukan aku seperti ini? Aku juga mau bebas, bukan kamu kurung di rumah besar yang gak ada orang itu. Kamu kira aku suka kamu perlakukan begini?" Ucap Tari yang merasa marah dan kesal akan perlakukan Rafik padanya.
"Cukup Mentari!" Teriak Rafik yang sudah tak bisa bersabar lagi mendengar omelan Tari.
"Kamu cukup terima dan patuhi apa yang katakan.. Kamu nggak perlu protes karena saya nggak butuh protes dari kamu." Ucapnya.
Tari benar-benar tak habis pikir. Apa sebenarnya yang ada di jalan pikiran suaminya. Sikapnya benar-benar membuat Tari muak.
Sementara itu Tante Leni masih kebingungan. Sebenarnya apa yang terjadi sehingga Tari menghilang dan tiba-tiba ada bersama Rafik? Ia sungguh bingung.
Tentang Rafik yang bertemu Tari, okelah. Ia melihat anak buah Rafik ada di sekitar mereka di mall ini. Namun, mengapa Tari bersikap demikian. Dan akan kemana gadis itu?
"Apa yang sebenarnya akan dilakukan Tari? Dan tadi juga aku mendengar kalau Tari bilang mau turun, suaranya juga seperti mau menangis." Gumamnya sendiri.
Ia terus berjalan menyusuri mall tersebut hingga keluar. Di depan gedung bertingkat itu Bu Leni langsung menghampiri supir yang datang bersama mereka tadi.
Di perjalanan Bu Leni masih berpikir.
"Pak,, Bapak tadi lihat nggak kalau Tari keluar dari mall?" Tanyanya.
"Lihat buk. Tadi bu Tari saya lihat ditarik sama Pak Rafik untuk masuk ke mobil." Jawabnya.
"Apa?"
"Maaf, bu. Karena saya lancang membicarakannya pada ibu." Ucap Pak Tarmin takut-takut.
"iya, nggak apa-apa. Kita pulang, pak!" Titahnya yang kemudian Pak Tarmin berlalu mengemudikan mobil.
.
.
Rafik menarik paksa Tari keluar dari mobil. Ia membawa paksa sang istri ke kamar mereka di lantai dua. Perasaan Tari benar-benar gusar melihat Rafik yang kembali mengamum seperti sekarang.
Ia sudah mempersiapkan diri dan mentalnya untuk menghadapi dan menerima apa yang akan dilakukan Rafik setelah ini. Karen itu semua sudah menjadi konsekuensi bagi dirinya yang telah nekat untuk kabur, dan gagal.
"Saya sudah bilang sama kamu. Jangan pernah melakukan hal bodoh kalau kamu nggak memikirkannya dengan matang." Ucap Rafik dengan nada datar namun menusuk di telinga Tari.
"Kamu mau mencoba kabur, tapi gagal." Rafik mendengus. "Harusnya kamu pikirkan lagi bagaimana caranya yang benar agar saya tak bisa menemukan kamu."
Rafik melangkah ke arah pintu berniat untuk keluar. Namun, perkataan Tari menghentikan langkahnya.
"Lebih baik kita bercerai." Ucap Tari.
"Apa kamu bilang?" Jawabnya berbalik menghampiri Tari.
"Nggak ada gunanya pernikahan ini tetap berjalan. Lebih baik kamu ceraikan aku.." Ucap Tari lagi
"DIAM MENTARI! DIAM...!!!" Rafik tak bisa lagi menahan amarahnya.
Ia menatap Tari dengan tatapan menusuk. Lalu, dengan amarah yang kian memuncak, ia mencengkeram dagu sang istri membuat Tari meringis.
"Kamu jangan pernah berpikir untuk kabur, jangan pernah berpikir untuk lepas dari saya. Karena, saya nggak akan melepaskan kamu..." Ucapnya penuh penekanan.
Tari hanya bisa diam dengan air mata yang berderai. Sungguh perlakuan Rafik sudah melewati batas.
Ia tak pernah membayangkan akan mengalami hal ini. Sekali lagi ia kembali mengingat, apakah dosanya selama ini terlalu banyak hingga Tuhan menghadirkan cobaan dan ujian hidup seperti ini.
Bahkan Tari belum pernah merasakan yang namanya keindahan dalam urusan percintaan. Tapi ia malah mengalami kesakitan dalam rumah tangganya. Apakah ia mampu untuk bertahan dan mencoba menumbuhkan rasa cinta untuk suaminya?.
"Yaa Allah,, ampuni dosaku selama ini ya Rabb. Tapi, sungguh aku tak ingin mengalami semua ini? Kuatkan aku melewatinya. Berikan kesabaran untukku." Doanya di sela tangisannya.
.
.
Malam hari
Selepas shalat Maghrib Gian dan Rani menghabiskan waktu di balkon kamar mereka. Tadi Rania mengidam ingin duduk di teras berdua melihat langit malam yang bertabur bintang.
Alhasil Gian menuruti keingin sang istri. Dan disinilah mereka. Rania yang asik menyantap potongan demi potongan buah jambu kristal, dan Gian yang bertugas memotong-motong buah tersebut.
Memperlakukan sang istri sedemikian baik, adalah niatnya sedari dulu. Gian memandang wajah sang istri yang menggemaskan. Ia tersenyum sendiri. Semakin hari ia merasakan perasaannya kian mendalam mencintai Rania.
Bahkan ia tak bisa mengabaikan keinginan wanitanya itu. Sebisa mungkin Gian selalu berusaha membuat Rania sellau tersenyum.
Gian tak menyadari bahwa ia sudah berhenti memotong buah jambu. Rasanya Rania begitu hebat mengalihkan dunianya saat ini. Perasaannya tak menentu. Ia kembali teringat perkataan sang adik dulu sebelum mereka menikah.
Ada rasa iba saat ia membayangkan bagaimana sang istri memendam perasaannya. Dan itupun karena ia terlambat menyadari bahwa dirinya juga mencintai sang istri. Bahkan, Rania mengalami berbagai dilema, namun tetap Rania tak mau mengungkapkannya meski sudah berada di hadapannya langsung. Rania malah memilih untuk menghindar.
Sungguh ia tak dapat mengungkapkan dengan kata-kata bagaimana ia begitu kagum karena kesabaran Rania. Tak terasa air matanya menetes begitu saja. Terharu memang saat ia merasa dicintai sedemikian besar oleh seseorang, yang syukurnya sekarang menjadi pasangan halalnya.
Namun, Rania menyadari keterdiaman suaminya itu. Ia menaikkan pandangannya melihat ke wajah Gian.
"Mas,, kok bengong sih?" Tanya Rania membuat Gilang tersentak.
Rania menata Gian lekat. "Mas nangis?" Ucap Rania dengan wajah begitu menggemaskan.
Gian gelagapan. "Eh, enggak." Jawabnya mengelak.
"Nih, makan lagi."
Rania mengabaikan perkataan Gian. Ia memandang wajah sang suami. "Apa yang mas pikirkan?" Tanyanya.
Gian tertegun. Tatapannya kian mendalam. Hal itu membuat Rania semakin bingung. Namun, Gian tiba-tiba memeluknya.
"Terima kasih! Terima kasih karena kamu sudah menjadi anugerah terindah dari Allah untuk aku. Aku benar-benar bersyukur karena Allah telah menciptakan kamu untukku. Aku berjanji,, selamanya akan berusaha membuat kamu bahagia. Dan menjadikam kamu satu-satunya pasangan hidup aku." Ucap Gian memeluknya erat.
Rania merasakan Gian kembali mengisak, menandakan lelaki itu menangis.
Jujur saja, Rania merasa sedikit berbunga-bunga di hatinya kala Gian begitu menghargai dirinya. Ia hanya tersenyun mendapat perlakian begitu dari Gian.
.
.
Next....
.
.