Love is Never Wrong

Love is Never Wrong
Menikah



Sesuai keputusan kedua belah pihak keluarga maka pernikahan dilaksanakan malam ini. Lewat panggilan Telepon Hilda mengabarkan kepadanya putrinya Kania. Kania yang penasaran kenapa bisa secepat itu hanya bisa menahan rasa penasarannya karena mamanya tidak menjelaskan.


“Simpan rasa penasaranmu, malam ini dilaksanakan akad nikah, untuk resepsinya akan dimusyawarahkan kemudian” hanya itu jawaban Hilda ke Kania


Dengan sangat menyesal, Kania tidak bisa hadir. Ada kesedihan tidak bisa melihat adik bungsunya melaksanakan akad nikah. Namun, ketika mamanya mengatakan akan ada resepsi dia berpikir akan hadir di acara itu saja.


Maka disinilah Sea, dikamarnya bersama dengan Clara kakak iparnya. Sudah beberapa kali perias mengulang make up yang dikenakan Sea. Menangis itu hanya itu yang Sea bisa lakukan.


Clara sudah berusaha membujuk namun hasilnya tetap nihil. “Sea, semua yang kita jalani takdir Allah, jalanilah jangan menangis” Bujuk Clara


Namun, bukannya berhenti tangis Sea semakin menjadi. Dia tidak bisa membayangkan hidup dengan orang yang tidak dia cintai.


“Kak, apa aku lari saja” Sea akhirnya buka suara


“Ya ampun Sea, jangan lakukan itu, kamu mau mama semakin sedih, seandainya kakak ada cara yang bisa membatalkan tanpa membuat keluarga malu, sudah kakak lakukan, tapi kamu kan mengenal kakakmu keras dan tidak bisa dibantah” kata Clara sambil mengusap punggung Sea


Bagaimanapun juga Clara yakin tidak ada yang terjadi malam itu, pasti ada yang berusaha menjebak mereka. “kakak percaya, kamu tidak ada niat apalagi melakukan apa yang terjadi tadi pagi” Clara menguatkan Sea


“Terima kasih kak” Kata Sea sembari menguatkan pelukannya


“Sea apa sudah siap” Terdengar suara dari luar kamar, Mama Sea memanggil


“Ia sebentar ma” Akhirnya Clara yang menjawab


Masuk ke dalam kamar Hilda mendapati Sea dengan mata sembab. “Jangan menangis Nak, maafkan mama yang membentakmu tadi pagi, mama benar-benar terkejut”


“Seharusnya mama mendengar penjelasan Sea kan ma” Sea semakin menangis


“Maafkan mama yang sempat tidak percaya, tapi mama yakin kamu tidak melakukan apa - apa dengang Deon, semua sudah diputuskan dan mama juga tidak mau sesuatu yang buruk menimpa putri mama” runtuh sudah pertahanan Hilda, menangis sesunggukan memeluk Sea dengan Erat.


“Mama yakin, Deon anak yang baik hanya saja masa lalunya yang tidak enak membuat dia menjadi dingin dan kaku. Percaya pada mama, Semua pasti baik-baik saja”


Setelah menumpahkan airmata yang mengganjal, akhirnya Sea selesai dirias. Sea yang cantik semakin cantik dengan riasan senatural itu. Mengenakan kebaya menjuntai putih yang disiapkan Agatha Sea segera dibawa ke meja akad nikah.


Setelah pertemuan singkat keluarga tadi pagi, Agatha dengan semangat langsung menemui butiq langganannya. Sedikit memaksa, akhirnya sepasang kebaya itu disiapkan butiq langganan Agatha.


Deon yang tampak mengenakan Jas stelan putih, semakin menambah ketampanannya. Deon semakin gelisah, setengah jam menunggu belum ada tanda - tanda Sea muncul.


“apa jangan - jangan Wanita aneh itu kabur?” Deon membatin “Kalau kabur, tidak apa-apa jadi aku tidak perlu bertanggung jawab dengan apa yang tidak harus kupertanggungjawabkan”


“tapi kalau dia kabur, mama pasti sangat Sedih” Pikiran Deon semakin berkecamuk


Sejam kemudian muncullah Sea, mengenakan Kebaya dan riasan naturalnya. Cantik sudah pasti. Deon Memandang sea dengan pandangan datar tanpa ekspresi meskipun hatinya mengakui Sea cantik malam ini.


Akhirnya Ijab kabul terlaksana dengan walinya Sea adalah kakak laki lakinya Sebastian. Deon tanpa ada halangan meski sedikit gugup mampu melafalkan ijab kabul dihadapan dua belah pihak keluarga dan penghulu.


Akhirnya kata SAH pun terlontarkan.


Deon akhirnya memasangkan cincin nikah ke tangan Sea. Jangan tanyakan kenapa bisa, semuanya Agatha yang atur, meskipun dadakan tetapi Agatha mampu menghandelnya.


Selesai memasangkan cincin, Sea dengan enggan mencium punggung tangan suaminya, dan Deon dengan setengah hati mencium kening Sea


Senyum merekah di bibir Agatha dan Johan. . “Selamat ya sayang, kamu sudah sah menjadi menjadi menantu mama” Senyum Agatha mengembang sempurna


Sea hanya menerima pelukan Agatha yang sekarang menjadi mertuanya. Hilda yang sedari tadi menahan tangis memeluk Sea dengan erat demikian juga Sebastian dan Clara.


Sedangkan Deon hanya diam tanpa mengucapkan sepatah katapun ketika dipeluk mamanya dan papanya.


Menjelang tengah malam Johan dan istrinya kembali ke kediamannya sedangkan Sepasang suami istri yang baru saja melangsungkan akad menginap di rumah keluarga Sea.


Sebastian dan Clara yang kebetulan akan beristirahat sebelumnya juga sudah mengatakan hal yang sama kepada pasangan suami istri tersebut.


“Sea, kalian beristirahatlah ajak suamimu” kata Sebastian. Mendengar kata suami Sea seperti ada yang menggelitik telinganya, terdengar aneh, batin Sea


Deon benar benar bingung apa yang harus dilakukannya. “dok, maaf” Lirih Deon


“Sekarang kita keluarga, panggil aku kakak seperti Sea memanggilku” kata Sebastian sembari menepuk bahu Deon dan berlalu meninggalkan pasangan pengantin tersebut.


Hening, tidak ada yang membuka percakapan sampai akhirnya mamanya Sea menghampiri mereka berdua


“Nak, Sudah larut malam kalian pasti capek beristirahatlah, sekarang kalian sudah sah suami istri sebaiknya kalian tidur di kamar Sea” Hilda Mendatangi Sea dan Deon yang belum beranjak dari ruang tempat akad berlangsung


Keduanya masih tidak bergeming, “apa tidak sebaiknya Deon tidur di kamar tamu saja ma” tanya Sea pelan


“Tidak bisa sayang, kalian sudah menikah. Perlakukan lah Deon dengan baik”


“Nggak apa - apa tante, aku di kamar tamu saja” Deon akhirnya buka Suara


“Tidak bisa begitu nak, Seperti pasangan suami istri lainnya belajarlah, meskipun menikah mendadak. Mulai sekarang nak Deon panggil mama, karena kamu sudah menjadi menantu mama” Kata Hilda seraya pamit menuju kamar beristirahat.


Menghela nafasnya Sea akhirnya mengajak Deon Istirahat. “Betul kata mama dan kakak sebaiknya kita istirahat.” Ajak Sea


Seperti Beo, Deon hanya bisa mengikuti langkah Sea. Memasuki kamar Sea, Deon mengedarkan pandangannya. Kamar Sea bersih dan nyama untuk tempat istirahat.


“Jangan berharap lebih dari pernikahan ini, aku tau kita tidak melakukan apa apa semalam. Jalani saja, sampai bukti bahwa kita tidak melakukan apa apa ditemukan” Kata Deon tegas


“memangnya apa yang kuharapkan, tidak ada, sama sepertimu aku pun tidak mengharapkan apa - apa. Lakukan semaumu, tanpa harus melibatkan satu dan lainnya” Balas Sea


“Sudah larut, tidurlah di sofa aku tidak terbiasa berbagi tempat tidur dengan orang asing” Sea melanjutkan sambil memberikan bantal ke Deon. “satu lagi, aku lelah, jangan ajak aku berdebat, simpan saja tenagamu” kata Sea dengan ketus


Mengambil bantal Deon akhirnya membaringkan tubuhnya di Sofa. Mungkin karena lelah keduanya langsung tertidur pulas.