
.
.
Happy Reading....
.
.
Debby menghempaskan tubuhnya untuk duduk di sofa. Masih belum dapat ia cerna dengan benar semua ini. Apa yang telah ia lihat rasanya seperti sebuah roda film yang berputar. Mengapa begitu nekad Tari membohongi mereka semua? Apa alasannya? Bukankah selama ini mereka selalu terbuka satu sama lain?
Memijat pangkal hidungnya, Debby mencoba berpikir. Siapa kira-kira lelaki itu? Ia sepertinya merasa familiar dengan wajahnya. Tapi, siapa?
"By!" Sahut seseorang yang memasuki ruang kerja Debby, membuatnya tersentak.
"Mama?" Ucapnya.
"Kamu ngapain ngelamun? Anak gadis nggak boleh bengong-bengong begitu. Pamali." Bu Dila bergidik ngeri.
"Ihh, Mama apaan, sih? Mama ada apa kesini?" Tanya Debby.
"Mama mau beli kue buat teman mama yang ulang tahun. Kamu pilihin kue yang bagus tampilannya, ya." Pinta Bu Dila.
"Oke. Aku cariin dulu." Kata Debby.
"Eh, mama ikut." Ucap Bu Dila yang kemudian mengikuti langkah Debby.
Debby membawa ibunya ke etalase tempat memajang kue di tokonya. Ia meminta Bu Dila untuk memilih kue yang diinginkan. Saat tengah asik memilih, seorang wanita paruh baya datang dan sepertinya mengenali Bu Dila.
"Jeng Dila." Suara wanita itu membuat Debby dan mamanya menoleh.
"Eh, Jeng Leni. Wah, kebetulan ketemu disini." Balas Bu Dila menyapa.
"Iya, Jeng. Saya mau beli roti disini. Jeng Dila juga langganan di toko ini?" Ucapnya antusias.
Bu Dila mengulum senyum dan melirik Debby. Sementara wanita paruh baya bernma Leni tersebut menatap keduanya bergantian.
"Mmm,, ini toko punya anak saya, jeng. Ini dia, namanya Debby." Bu Dila memperkenalkan.
"Oh,," Bu Leni terlihat terkejut dan menutup mulutnya dengan telapak tangan.
"Wah, saya nggak tau. Aduh, maaf ya, jeng." Ucapnya tak enak hati.
"Iya, nggak apa-apa, jeng." Jawab Bu Dila.
"Kalau gitu saya mau liat-liat dulu, jeng." Ucapnya kemudian berjalan mengitari etalase berisi kue tersebut.
Debby menemani Bu Leni memilih roti dan kue yang dibutuhkan wanita paruh baya itu. Di sela memilih, Bu Leni sepertinya merasa nyaman berbicara dengan Debby.
"Mbak ini hebat, ya. Masih muda tapi udah sukses." Kata Bu Leni.
"Ya, Alhamdulillah tante. Oh, iya. Ngomong-ngomong ini kuenya buat siapa, tante?" Tanya Debby sedikit penasaran.
"Ini, tuh buat menantu tante. Lebih tepatnya, tante punya keponakan dan baru nikah beberapa hari yang lalu. Nikahnya itu mendadak banget. Makanya belum sempat tante ketemu." Bu Leni bercerita.
"Oh, gitu." Debby mengangguk. Entah mengapa hatinya berkata bahwa cerita Bu Leni ada kaitannya dengan kebingungannya saat ini. Namun, Debby berusaha menepisnya.
.
.
Mobil yang dikendarai oleh Rafik memasuki gerbang rumahnya saat gerbangnya terbuka. Ia memarkir mobil di teras dan keluar dengan buru-buru. Lalu, ia berjalan ke pintu sebelah kemudi dan membukanya.
Tari hanya diam dan tak berkutik sama sekali. Hal itu membuatnya geram namun berusaha menahan amarahnya. Walau bagaimanapun ia tak boleh melepaskan emosinya pada Tari. Ia tak ingin menyakiti istrinya lagi. Ia tahu dan bahkan sangat tahu, bahwa Tari tak sangat tersiksa menikah dengannya. Tari tak bahagia. Namun, ini semua terpaksa ia lakukan.
"Keluar!" Titahnya dingin.
Tari yang merasa takut mencoba memberanikan diri untuk menoleh menatap Rafik. Ia dapat melihat dengan jelas wajah Rafik yang memerah. Sepertinya lelaki itu berusaha menahan amarahnya dan Tari takut jika sewaktu-waktu Rafik bisa saja kelepasan.
"Ayo!" Lagi, Rafik bersuara.
Dengan gemetar, Tari mulai bergerak keluar daru mobil. Rafik menutup pintu mobil dengan menghempaskannya, membuat Tari terkejut. Tanpa bicara lagi Rafik kembali memasuki mobil dan berlalu begitu saja meninggalkan Tari.
Tari menghembuskan napas lega sembari menatap kepergian Rafik. Ia kira Rafik akan memarahinya habis-habisan, namun kenyataannya Rafik tak melakukan.
Berbeda dengan Rafik. Lelaki itu kini melampiaskan kemarahannya di dalam mobil. Ia berteriak dan memukul setir. Lagi dan lagi, emosinya diuji. Kini Rafik merasa cemas dan takut. Ia rakut jika sewaktu-waktu tak bisa lagi menahan amarahnya pada Tari.
Tiba-tiba ponselnya berdering. Rafik menjawab panggilan tersebut yang ternyata dari Mario, asistennya.
"Halo!" Ucapnya.
"............."
Rafik menghela napas berat. Info yang diberikan Mario membuatnya semakin kalut. Akhir-akhir ini Rafik menyesali salah satu profesinya yang sudah berjalan sejauh ini. Ia tak menyangka jika pekerjaannya itu akan mengancam keselamatan wanita yang dicintainya.
Dengan hati yang gusar, Rafik menatap layar ponselnya. Ia menyentuh layar tersebut dengan jemarinya. Foto pernikahannya dengan Tari. Semenjak mereka menikah beberapa hari yang lalu, Rafik telah memajang foto tersebut di walpaper ponselnya.
"Maaf, Tar. Aku terpaksa ngelakuin semua ini. Semua demi keselamatan kamu. Karena aku nggak mau kamu kenapa-napa." Gumam Rafik.
.
.
Di Resto, Rania terlihat gelisah. Ia menunggu kedatangan sahabat-sahabatnya. Tadi, ia telah mengirim pesan pribadi kepada mereka semua, kecuali Tari. Ia berpikir untuk membahas masalah Tari dengan mereka semua.
Ya, memang awalnya Rania berniat untuk memberitahukan pada Yanti dan Dini saja. Namun, setelah Debby menghubunginya tadi karena melihat Tari, sahabatnya itu langsung mengabarkan pada Rania mengenai apa yang ia lihat. Akhirnya Rania memutuskan untuk membicarakan perihal Tari ini dengan mereka semua.
Rania menegakkan badannya saat melihat Winda dan Elina datang. Ia juga bernapas lega saat melihat Debby yang keluar dari taksi. Tinggal menunggu Anggi dan Yanti. Sementara Dini tadi sudah mengatakan pada Rania bahwa ia tak bisa ikut berkumpul karena Aina yang rewel, sepertinya balita itu sedang kurang sehat.
"Ran?" Sapa Winda. Rania terlihat menghela napas. Sebenarnya ia merasa sedikit pusing.
"Eh, gimana?" Tanya Elina. Ia menyentuh punggung tangan Rania yang ada diatas meja.
Rania menggeleng pelan. Ia memberi isyarat menunjuk Winda.
"Win? Ayo lah. Kok lo nggak mau bilang langsung ke gue? Dari tadi loh gue nanya." Protes Elina akan tindakan Winda.
"El, gue bilang tunggu yang lain dulu. Biar gue nggak ngulang-ngulang ceritanya. Mumet, tau!" Jelas Winda terlihat lelah.
"Huhh,, ya udah." Elina pasrah.
"Itu Anggi!" Ucap Debby. Anggi dan Yanti berjalan menghampiri mereka. Terlihat berbeda. Ada gurat lelah di wajah Anggi.
"Oke!" Winda memulai pembahasan mereka.
Semuanya melihat ke arah Winda. Termasuk Elina, yang sedari tadi sudah sangat penasaran, karena tak mau memberitahukannya sama sekali selama mereka di perjalanan menuju resto.
"Gue sebenarnya nggak tau juga apa ini bener atau hoax, yang pasti gue liat dan denger sendiri. Ata udah menikah!" Ucap Winda dengan mengeja per suku kata di kata menikah.
"What?" Reaksi terkejut Elina membuat Rania mengelus keningnya. Sedangkan Elina membungkam mulutnya dan menoleh ke sekeliling memastikan pengunjung. Ia malu karena tiba-tiba berteriak. Debby membenarkan posisi duduknya.
"Dari aman lo tau, Win?" Tanya Anggi.
"Abis dari sini kemaren, gue liat Ata lagi berdiri di tengah jalan sama cowok. Terus dia masuk ke mobil lain sama cowok itu, anehnya Ata kayak lagi tegang banget. Gue ikutin, ternyata mereka pergi bukan ke rumah Ata, tapi komplek lain." Winda bercerita.
"Gue liat Mario juga. Terus, gue tanya ke sekuriti, katanya Ata sama cowok itu suami istri. Gue kaget, sumpah." Winda menghela napas kasar, lalu hening setelahnya.
Elina yang mendengar cerita Winda dengan serius, kini terlihat bingung. Masih tak percaya dengan apa yang ia dengar barusan.
"Gue juga ketemu Ata tadi. Dia juga sama cowok, dan cowok itu bilang kalau Ata istrinya." Ucap Debby terdengar lesu.
"Ata kok bisa sih ngelakuin ini ke kita? Padahal kita udah sahabatan lama, loh." Anggi berucap sendu. Entah mengapa ia menjadi terbawa perasaan.
"Tari pasti punya alasan kenapa dia sampai ngelakuin hal ini. Ngerahasiain pernikahannya dari kita." Rania mencoba menenangkan perasaan mereka berlima.
"Bener. Pasti Ata punya alasan, karena selama ini kan kita selalu terbuka tentang hal apapun, nggak ada yang dirahasiain." Debby menimpali.
"Gue rasa, kita harus cari tahu sendiri apa alasanya Ata sampai ngelakuin ini. Karena, gue yakin kalau kita tanya langsung pasti Tari nggak bakalam mau ngaku. Ingat kan kemaren, waktu kuta tanya kemana dia nggak ada kabar beberapa hari yang lalu." Kata Yanti.
"Dia nggak jawab kan. Tari kayak gelisah gitu, loh." Lanjut Yanti setelah ia menatap kelima sahabatnya.
Mereka hening. Semuanya. Tak ada yang berbicara, melainkan bergelut dengan pikirannya masing-masing. Hingga tak lama, sebuah suara mengalihkan fokus mereka semua.
Gedebuk.. Pukulan di meja mengejutkan semua pengunjung. Terlihat seorang lelaki berperawakan dewasa berdiri dari duduknya di salah satu kursi.
.
.
Bersambung..
.