
Happy Reading.
.
.
Gian mengantarkan Rania ke butik. Tadinya ia sudah pergi ke kantor lebih pagi. Namun, Rania tiba-tiba mengidam ingin makan ketoprak yang ada di dekat kantor Gian. Dengan segera ia memenuhi keinginan istrinya itu. Dan kini, mereka dalam perjalanan ke butik.
"Mas." Ujar Rania setelah tadinya ia hening menatap jalanan.
Sebenarnya Gian sudah merasa ada yang aneh dengan istrinya. Karena, dari semalam Rania banyak melamun. Meski begitu, Gian tak memaksanya untuk bercerita.
"Iya, ada apa?" Tanya Gian.
"Mm,, nggak jadi, deh." Ucap Rania. Gian menatapnya heran.
"Kenapa sih, sayang? Kamu aneh, deh. Dari semalam aku lihat kamu banyak ngelamun." Ungkap Gian.
Rania menatap Gian dengan wajah tegang. Ia sendiri bingung harus mengatakan apa. Perasaannya berkecamuk. Mungkin sebaiknya ia tak mengatakan dulu dan menunggu sampai ia tahu yang sebenarnya.
"Aku masuk dulu, ya mas." Kata Rania.
"Iya, sayang." Jawab Gian.
Rania mencium tangan Gian. Lalu lelaki itu mencium kening sang istri.
"Nanti aku jemput jam berapa?" Tanya Gian saat Rania hendak menutup pintu mobil.
"Mm,, aku kabarin aja deh nanti." Jawab Rania lalu melambaikan tangannya.
Gian berlalu. Sementara Rania berjalan memasuki butik. ia langsung mencari Yanti dan Dini. Ia harus membicarakan masalah ini pada mereka. Ia butuh teman untuk berdiskusi sekarang karena setelah ia pikir, tak bisa dirinya menahan untuk tidak mencaritahu tentang perihal itu.
Mungkin jika ia membicarakannya dengan sahabat-sahabatnya semua akan terasa lebih ringan dan tak menjadi beban lagi baginya.
"Yanti!" Sahut Rania saat melihat Yanti tengah berdiri di depan manequin.
Yanti menatap Rania dengan heran.
"Ayo kita kedalam dulu. Ada hal penting yang harus aku bicarain." Ucap Rania menarik Yanti ke ruang kerja mereka.
"Ada apa sih, Ran?" Tanya Yanti.
"Tunggu, deh. Dini mana?"
"Dini belum datang." Kata Yanti.
"Oke. Jadi, Winda kemaren bilang kalau dia ketemu Tari di jalan waktu pulang dari resto. Nah, Tari sama laki-laki yang katanya itu adalah suaminya." Rania mulai bercerita.
"What?" Yanti dibuat melongo oleh perkataan Rania. "Suami? Yang bener aja, Ran. Tari kan belum nikah."
"Nah, itu dia masalahnya. Kita harus caritau apa bener Tari diam-diam nikah tanpa kita tau. Dan kalau memang bener, alasannya apa?" Rania menatap Yanti.
"Kenapa kita nggak nanya langsung aja ke Tari?" Ucap Yanti heran.
"Yanti,,, Tari tuh sekarang kayaknya belum mau ngasih tau kek kita. Kalo dia mau kita tau soal masalah ini, pasti nggak bakal dirahasiain dari kita." Jelas Rania.
Yanti mengangguk paham. Benar juga yang dikatakan oleh Rania.
.
.
Problema yang terjadi semakin hari semakin rumit. Winda merasakan hal itu dengan jelas. Ia masih mengingat rentetan masalah yang membuatnya dan sahabat-sahabatnya dilanda keresahan. Mungkin memang benar bukan dirinya langsung yang didatangi polemik itu, namun tak menampik bahwa dirinya juga merasakan kegalauan karena masalah yang dihadapi sahabat-sahabatnya.
Baru saja ia ingin beranjak dengan ria dari masalah dilema cinta Dini, kini ia harus dibuat memutar otak dan menguji emosi karena teka-teki menyangkut pernikahan rahasia Tari.
Walau bagaimanapun ia juga tersenggol oleh problema sekecil apapun yang tengah terjadi pada sahabatnya. Toh juga nanti bila sampai pada titik puncak, solusinya juga akan mereka rembukkan bersama.
Siang ini setelah jam istirahat masuk, Winda berniat mendatangi Dini di tempat gadis bekerja. Dan kini ia sudah sampai di depan sebuah gedung bertingkat tempat Bimbingan Belajar itu. Ia turun dari mobilnya dan memandangi gedung itu. Ia mendatangi sekuriti dan bertanya disana.
"Permisi, pak." Sapa Winda.
"Iya, mbak. Ada yang bisa dibantu?" Tanya lelaki yang Winda perkirakan berusia empat puluhan tahun.
"Saya kesini mau ketemu sama guru bimbel yang namanya Mentari. Bisa nggak, pak?"
"Oh, mbak Mentari. Hari ini mbak Mentari nggak masuk, mbak." Kata Sekuriti tersebut.
Winda meninggalkan gedung itu dengan berbagai tanya di dalam pikirannya. Apa mungkin ia harus mendatangi tempat itu? Ia yakin Dini sekarang tinggal disana.
Merasa bingung, Winda menghentikan mobilnya di depan sebuah coffee shop. Mungkin sebaiknya ia menenangkan pikirannya dulu. Siapa tahu ia bisa lebih mudah berpikir setelah ini.
Saat turun dari mobil, tiba-tiba tas yang dipakai Winda terjatuh dari bahunya. Ia pun terkejut, namun buru-buru mengambilnya. Namun, saat ia bangkit tiba-tiba tubuhnya terjatuh ke belakang setelah ada yang menyenggolnya.
"Awwh,,," Winda memekik pelan.
Ia melihat ternyata seorang gadis berpakaian kurang bahan tengah menatapnya dengan angkuh.
"Eh, mbak. Jalan tuh liat-liat dong. Niat banget kayaknya bikin saya jatuh. Itu padahal masih luas loh, mbak." Ucap Tari kesal
"Salah lo sendiri ngapain tadi ada disitu. Lagian terserah gue dong, lo nya aja yang lagi apes."
"Emang nggak ada etika ya, lo. Udah salah malah nggak mau minta maaf. Dasar tante-tante rempong lo. Dandan aja segitu menornya." Ucap Tari semakin tersulut emosi.
"Kurang ajar ya, lo. Elo tu yang dandanan sama penampilan lo kolot gitu." Balas gadis asing itu.
Suara lain menghentikan pertengkaran mereka.
"Memang nggak salah gue udah nolak dijodohin sama lo." Ucap seseorang menghampiri mereka. Orang itu lalu mengulurkan tangannya membantu Winda berdiri.
"Mending sekarang lo minta maaf dan pergi dari sini." Ucap Lelaki itu. Winda masih menatapnya dengan tajam.
"Ihhh.." Gadis asing itu menggeram kesal dan berlalu begitu saja.
Sementara, Winda menghela napas dan menghembuskannya dengan lega.
"Lo nggak apa-apa, kan?" Tanya lelaki itu.
"Enggak. Gue nggak apa-apa, kok. Mm,, makasih, ya." Ucap Winda.
"It's okey. Oh, iya. Lo mau ke dalam?" Tanya Lelaki itu yang diangguki oleh Winda.
"Ya, udah. Bareng aja." Ajak lelaki itu.
Meski sebenarnya Winda merasa ragu, namun ia menurut saja. Toh ada baiknya ia mencoba bersikap baik dan bisa berdamai dengan lelaki ini. Ya, lelaki itu adalah Satria.
Satria mengajak Winda menempati aalah satu meja yang sudah tersedia dua buah minuman kopi. Sepertinya tadi lelaki ini berada disini bersama gadis asing itu, pikir Winda.
"Lo mau pesan apa?" Tanya Satria.
"Greentea Latte aja." Jawab Winda.
Satria memesankan pesanan Winda. Setelah itu ia mulai berbincang dengan gadis itu.
"Oh, iya. Lo temannya Rania, kan?" Tanya Satria.
"I,, iya." Jawab Winda terlihat canggung.
Satria menatapnya. "Lo kenapa gitu, sih? Santai aja kali." Winda tersenyum canggung.
"Oh, iya. Sori ya masalah yang tadi. Itu cewek tadinya mau dijodohin sama gue. Tapi, gue nggak srek aja. Makanya gue tolak. Eh, dia malah langsung cabut, dan akhirnya nyenghol ko tadi." Satria menjelaskan.
"Mm,, nggak apa-apa, kok. Gue juga nggak masalah, sih. Tapi, sikapnya aja yang ngeselin." Jawab Winda.
Satria mengangguk-angguk. Ia tersenyum melihat sikap Winda yang sepertinya masih canggung. Entah apa yang ada di pikiran gadis itu sekarang, yang pasti bagi Satria terlihat menggemaskan.
"Oh, iya. Rania kabarnya gimana?" Tanya Satria.
"Hah?" Winda terlihat bingung ingin menjawab apa.
"Eh, tenang aja. Gue cuma mau nanya. Tapi, gue nggak bakal gangguin Rania lagi, kok. Gue udah sadar kalau ternyata dulu gue cuma terobsesi buat ngedapetin Rani. Buktinya pas tau Rania udah sama Gian, gue baik-baik aja. Dan gue cuma kesal pas di awal doang." Jelas Satria lagi.
"Ohh,,." Winda hanya merespon dengan kata Ohh dan senyuman canggungnya.
.
.
Bersambung....
.
.