
Sudah seminggu Sea disibukkan pembuatan tesisnya. lelah sudah pasti, apalagi pikirannya. Tetapi bukan sea namanya jika gampang mengeluh. Tekadnya sudah bulat selesai sesuai waktu yang ditargetkan.
Akhir pekan Sea memutuskan bersantai di rumah saja. Siang ini, Sea menemani Keponakannya Carlos di kamar kakaknya.
"kamu tidak ada jadwal Se" tanya Kania
"kebetulan tidak ada kak, mau keluar juga malas, ingin istirahat saja bersama si mungil aunty ini" jawab Sea
"Lalu kapan kamu menemukan kekasih kalau kamu hanya memikirkan pekerjaan, kuliah, setelah itu tiduran,benar -benar payah" Kania berkata dengan nada mengejek
"Nanti juga datang sendiri kak, tenang aja. Lagian juga belum memikirkan kesana" jawab Sea sekenanya
Kania memilih tidak menjawab, berdebat dengan Sea memang tidak ada habisnya.
***
Sore hari, Bu Hilda bersama dengan Bik Inah sibuk di dapur. setelah siangnya mendapatkan telepon dari Agatha ingin berkunjung ke rumah Hilda. jadilah Bu hilda dengan antusias memasak kan beberapa menu untuk mereka makan malam bersama Agatha.
"Mama kelihatannya sibuk sekali, masak nya juga sepertinya banyak ma, tidak biasanya?" tanya Sea yang baru turun dari kamarnya
"Ia ni.. nanti kita kedatangan tamu, temannya mama, tadi mama ditelpon" jawab hilda
"Maksudnya, teman mama dari mana, kok Sea belum pernah tahu mama punya teman" Seloroh Sea "apa jangan - jangan teman laki laki mama yang dulu cintanya belum selesai trus jumpa lagi sekarang, seperti film film bollywood itu ma?" canda sea tanpa bisa menahan tawa
"husshh.. Sea ada ada saja. Mana ada seperti itu, sahabat mama ini perempuan, dari mama kecil sudah sahabatan. udah ah, jangan ganggu mama dulu" jawab hilda..
"hahahahha, kirain mama mau kasih papa baru buat Sea" Sea kembali menggoda mamanya.
"memang kamu mau papa baru, ya udah cari dong Sea, terus nanti biar mama yang sudah keriput duduk di pelaminan". Hilda membalas candaan Sea
"Horor Sea dengarnya ma,, gak jadi deh Sea pengen punya papa baru" jawab Sea
Hilda dan Sea akhirnya tertawa bersama, melihat majikannya bercanda bik inah akhirnya ikutan tertawa.
***
Di kediamannya Agatha sibuk dengan telepon genggamnya. sesekali dia melirik Jam tangannya.
"Deon kenapa lama sekali sih pa, tadi katanya ia, tapi kenapa kok tidak datang-datang?" tanya Hilda ke suaminya
Ya, Agatha dengan berbagai alasan akhirnya mampu membujuk Deon untuk ikut berkunjung ke rumah Hilda. Alasan salah satunya tidak ada yang menemani, dengan sengaja menyuruh suami berpura-pura banyak kerjaan yang harus diselesaikan malam itu juga.
"Deon pasti datang ma,, sebenarnya papa ingin ke sana, sudah lama tidak bertemu" kata Johan
"Nanti setelah Deon mama kenalkan ke keluarga Hilda, papa boleh ikut ke sana tapi jangan sekarang, nanti malah gagal rencana mama" Pinta Hilda
"Papa benar - benar tidak pernah menyangka kalau Hendra sudah meninggal" kata Johan Sendu
"Ia, tapi sepertinya Hilda sudah bisa mengikhlaskan suaminya, waktu mama bertemu kemarin dia terlihat baik baik saja" jawab Agatha
Obrolan terhenti ketika sebuah mobil sport hitam memasuki halaman rumah.
"Pa sepertinya Deon sudah datang, maafkan mama sudah sedikit berbohong, tapi untuk kebaikan Deon kok, semoga saja putri Hilda dan Deon sama sama tertarik" Agatha berbicara pelan dengan penuh harapan.
Dengan salam Deon memasuki rumah, Melihat mama dan papanya di ruang depan segera Deon mencium punggung tangan kedua orangtuanya.
"maaf Deon terlambat, tadi ada pekerjaan mendadak" Deon memberi alasan
Deon memang terlambat karena banyaknya pasien yang berkunjung untuk memeriksakan kandungan dan cek up.
"Mama bisa memakluminya, tidak apa-apa yang penting Deon mau menemani mama" kata Agatha dengan semangat
"Deon ke kamar ya ma, mau mandi biar sekalian siap siap". kata Deon
Naik ke lantai atas, Deon memasuki kamarnya dan segera ke kamar mandi. Deon sebenarnya ada rasa enggan, namun melihat mamanya Deon tidak tega menolaknya.
Memakai pakaian santai, Kaos putih dengan jacket dipadukan Jeans Deon keluar dari kamarnya. Tidak memakai pakaian kerja, tidak mengurangi kadar ketampanan Deon.
"Ayo ma, kita berangkat" ajak Deon
"Ah ia, pa, mama sama Deon berangkat" pamit Agatha sembari mencium punggung tangan suaminya diikuti Deon
Di sepanjang perjalanan menuju rumah Hilda, senyum menghiasi wajah Agatha.
"mama senang kamu mau menemani mama Deon" kata Agatha
Deon membalas senyuman mamanya.
"maksud mama?" tanya Deon.
"Sekarang anak anaknya Hilda sudah menikah, sudah punya anak. Hilda kelihatannya sangat bahagia. Mama sedikit iri mendengarnya" Jawab Hilda. Nada bicaranya sepertinya menahan tangis.
"maafkan mama ya Deon, mama tidak bermaksud memaksa kamu untuk segera menikah kembali" lanjut mamanya.
Deon terdiam, hatinya sakit melihat harapan mamanya yang begitu besar.
"Maafkan Deon juga ma, Deon telah salah memilih pasangan, gagal memberikan mama dan papa kebahagiaan" Akhirnya Deon menjawab
Hening, Tidak ada yang membuka percakapan. Agatha hanyut dalam pemikirannya Sedangkan Deon fokus dengan setir meski hatinya sedang kurang baik.
Satu jam perjalanan Agatha dan Deon sampai ke rumah Hilda.
"Deon, sepertinya kita sudah sampai, nomer rumahnya juga sama" kata Agatha sembari melihat alamat yang ditulis Hilda tempo hari.
Deon segera menepikan mobilnya. Mang Udin yang kebetulan hendak ke depan Agatha segera bertanya "Pak, ini rumahnya Pak Hendra bukan"?
"ohh betul bu, ada apa ya" jawab Mang Udin Sopan
"saya temannya Hilda, tadi pagi janji berkunjung. Hildanya ada di dalam?" tanya Agatha
"O iaaa buk ada. mari saya antar" jawab mang Udin "Den, mobilnya dimasukkan ke dalam aja" lanjut mang Udin sembari membuka pagar.
Hilda yang melihat mobil memasuki halaman rumahnya bergegas ke depan. Senyum ramah menyambut kedatangan sahabatnya.
"Agatha, mari masuk aku sudah tidak sabar menunggu kedatanganmu" menuntun Agatha masuk setelah saling berpelukan menautkan pipi kanan dan kiri.
"kamu bersama siapa, Mas Johan di mana?" tanya Hilda setelah mereka duduk
"kemari bersama Deon, lagi markir mobil, papanya sepertinya ada pekerjaan" jawab Agatha tanpa memberitahu alasannya
"Tidak apa-apa Agatha, oh iaa aku tinggal sebentar manggilkan Kania dan Sea" Pamit Hilda setelah sebelumnya meminta Bik Inah menyiapkan minum
Belum sampai memijakkan kakinya ke tangga, Kania sudah muncul
"Kania, kamu sudah turun nak," kata Hilda "itu sahabat mama yang mama ceritakan sudah datang, ayo di salam dulu" kata Hilda
Kania bergegas menghampiri Agatha, "senang bertemu dengan tante, aku Kania" memperkenalkam diri kania memberi salam dan mencium punggung tangan Agatha.
Tidak berapa lama Deon berdiri di depan pintu dan memberi salam kemudian masuk setelah Hilda menyuruh masuk. Deon menyalami sembari Mencium punggung tangan Hilda.
"Deon tante, anaknya mama Agatha" Deon memperkenalkan diri
belum sempat Hilda membalas Kania langsung menyela, " Dokter Deon, tante ini anaknya tante" tanya kania
"Ia, Kania. Deon anak tante satu satunya, memang kalian saling kenal" tanya Agatha
"iaa tante, kenal di rumah sakit waktu Kania melahirkan, kebetulan caesarnya di rumah sakit tempat Deon bekerja" jawab Kania
Deon hanya menganggukkan kepalanya tanda mengiakan perkataan Kania.
Kini mereka sudah duduk mengelilingi meja makan untuk makan malam bersama.
"Kania, Sea kok belum turun" tanya Hilda
"Sea tadi di atas katanya mau mandi dulu sehabis menidurkan Carlos, biar aku panggil ma" kafa Kania sambil bangkit dari duduknya
Naik ke atas, Kania memanggil Sea. melihat kamar Sea yang sudah terbukasang pemilik tidak di dalam. Kania melihat kamarnya ternyata Sea ada di dalam menggendong Carlos yang terbangun.
"Sea dipanggil mama, sahabat mama sudah datang, segeralah turun" kata Kania sambil memindahkan Carlos ke tangannya.
"baiklah, aku turun ya kak" kata Sea.
"Ia pergilah temui dokter tampanmu" batin sea sambil tersenyum
sampai di bawah, Sea segera menghampiri tamu. "Ma, maaf tadi Carlos bangun lagi, makanya Sea lama turunnya" kata Sea
Melihat ke arah Agatha Sea segera menyalam "Sea tante" kata Sea memperkenalkan diri
Sedangkan Deon yang melihat Sea sangat terkejut. Tanpa sadar Deon berdiri, membuat Sea segera menoleh ke arah Deon.
"Dokter duda" kata Sea tiba tiba
"dan kamu wanita aneh, kenapa ada di sini" balas Deon