
Waktu terus berlalu, bahkan dua minggu telah berlalu sejak Sea sakit. kini Sea kembali melakukan rutinitas sebagai mana biasanya.
Hubungan antara pasangan suami istri ini juga sudah terbilang cukup ada kemajuan. ketika berbicara sudah tidak dalam nada mengajak berdebat, seperti pagi ini keduanya sarapan bersama.
"Apa kamu tidak bekerja hari ini?" Deon memulai percakapan di sela sela makannya
"tidak, aku harus menyiapkan diri, besok aku sidang tesis" jawab Sea
"iya sebaiknya memang seperti itu, kamu harus persiapkan diri denhan sebaik baiknya, apa kamu udah merasa siap?" tanya Deon
"Ya harus siaplah, kalo gak siap ya ga akan selesai selesai lah" jawab Sea
"Baguslah, persiapkan dirimu sebaik baiknya, santai saja jangan terlalu dibuat pusing, jatuhnya nanti malah blank" pesan Deon
"mm ia terima kasih"
selesai sarapan bersama Sea segera membereskan meja makan dan mencuci peralatan makan mereka.
Mengambil tas dan Jas dokternya, Deon segera beranjak menghampiri Sea.
"Sea, aku berangkat hari ini aku sepertinya pulang sampai malam". ada nada kecanggungan ketika akan berpamitan dengan Sea
begitupula dengan Sea, dia juga heran dengan perubahan Deon yang semakin menunjukkan kalau mereka berdua benar benar sepasang suami istri.
"ia tidak apa - apa, hati hati di jalan" Sea bingung menyebut Deon dengan sebutan apa, apakah dia harus membuat panggilan Dokter duda lagi, ah tidak dia sudah menikah sekarang berarti bukan duda lagi.
Sea menggeleng gelengkan kepalanya membuat Deon bingung "kamu kenapa? apa ada masalah?"
"ah tidak tidak.. pergilah nanti kamu terlambat" putus Sea
Deon segera keluar dan meninggalkan Sea,
Sea menatap punggung Deon ada banyak pertanyaan di benak Sea sekarang.
"kenapa Deon banyak berubah, ah tidak jangan sampai aku salah mengartikan perubahan sikap Deon". batin Sea
ah ntahlah, dijalani saja semua pasti baik - baik saja, bukankah sebenarnya juga Deon sudah jadi suamiku, kenapa tidak dimulai saja dengan berusaha membuka komunikasi yang baik. urusan nanti pasti akan ada jalan keluarnya.
mengingat kata suami membuat Sea mengembungkan pipinya ada rasa percaya dan tidak percaya kalau dia benar benar sudah menikah.
"Dari pada pusing mending aku siapkan diri buat besok" Sea memutuskan masuk ke kamar dan mencoba membuka buka tesisnya.
Di lain tempat Deon yang baru saja sampai ke rumah sakit, segera masuk ke ruangannya. semenjak dari apartemen dia merasa suasana hatinya menghangat. sedikit banyak dia mulai merasakan nyaman se atap dengan Sea.
tanpa sadar senyumnya mengembang, membuat Ares yang baru saja masuk merasa heran.
"Apa kamu ke sambet setan ketika dalam perjalanan sampai rumah sakit,kamu senyum senyum membuat bulu kudukku merinding?". sarkas Ares
"Sialan, apa apaan siapa yang senyum senyum, lagian kamu datang bukannya ketuk dulu?" Seketika Deon terkejut kedatangan Ares
"Ya ampun, dari td juga sudah ketuk ketuk dokter, atau jangan - jangan kamu sudah jatuh cinta dengan Sea?". Ares menyelidik
"Jatuh cinta apaan, kalau berbicara jangan sembarangan?" sarkas Deon
"Aku tidak percaya, apa sudah ada getaran di sini ketika berdekatan dengan Sea?" Ares menunjuk dada Deon dengan senyum meledeknya.
"Kamu ke sini mau bermain atau bekerja?" Deon beranjak menuju Ruangan prakteknya meninggalkan Ares yang tertawa terbahak bahak.
"Selamat pagi dokter" sapa suster yang biasa membantu dokter Deon
"Apa saja jadwalku hari ini sus? Apa ada yang operasi?" tanya Deon
"Untuk hari ini jadwal operasi kosong dok, cuma konsutasi saja beberapa orang" jawab Suster tersebut
"Baiklah, terima kasih sus" kata Deon
Deon sedikit lega, artinya dia bisa pulang dengan cepat hari ini. Entah kenapa hatinya berdebar memikirkan kembali ke rumah.
"Sea, lagi apa dia sekarang? Batin Deon, namun segera dia menepis, tidak aku harus fokus untuk hari ini.