
Setiba di rumah, Deon tidak kembali ke apartemennya dan memutuskan menginap di rumah papanya. Memasuki kamar yang dia tempati Deon mendudukkan dirinya di sofa.
Menyugar rambutnya kasar, Deon merasa serba salah. Di lain sisi hatinya sudah tidak ingin terikat dengan wanita, di sisi lain Deon ingin membuatnya orang tuanya bahagia.
Mendapatkan wanita sebenarnya bukan hal yang sulit bagi Deon, bahkan di rumah sakit saja ada begitu banyak yang dengan terang terangan menunjukkan rasa sukanya kepada Deon. Namun, dia hanya menanggapinya datar.
"Apa yang harus aku lakukan, Aku benar-benar bingung" Deon terus bertanya dalam hati. Hingga akhirnya tangganya mendial nomer yang biasa dia jadikan teman bercerita. Ares.
"kamu di mana, aku ke apartemenmu" Deon berkata setelah Telepon tersambung. Menyambar kunci mobilnya Deon segera bergegas.
"Ma, Deon harus ke apartemen Ares ada yang perlu dikerjakan" Kata Deon yang melihat mama dan papanya mengobrol di ruang tamu. Terlihat sekali Agatha bahagia.
"Ada apa memangnya, apa tidak bisa besok pagi, ini sudah terlalu malam" Tanya papanya
"Sebentar aja kok pa, Deon keluar dulu" jawab Deon
"ya sudah pergilah, hati hati" Agatha berpesan
Melajukan mobilnya, Sekitar 15 menit Deon tiba ke apartemen Ares. Menekan bel, akhirnya pintu terbuka.
"Masuklah" Ares mempersilahkan. "Memangnya ada apa, kenapa sepertinya sangat penting sekali" tanya Ares setelah mereka duduk di sofa.
"mmm,, ini tentang mama, mama sepertinya ingin sekali aku menikah, menurutmu apa yang harus aku lakukan, melihat mama yang begitu bahagia menceritakan menantu dan cucu aku, jadinya aku berjanji untuk segera menemukan wanita" cerita Deon seperto frustasi
"Ya sudah menikahlah apa susahnya, ada banyak wanita yang mengantri Deon, memangnya wanita mana yang bisa menolak Deon? Jawab Ares.
"come on bro, seharusnya itu kamu sudah melakukan itu dari dulu, atau jangan bilang kau sudah mati rasa dan tidak tertarik dengan lawan jenis" Ares menambahkan sambil bergidik ngeri.
"Sialan, kau pikir dengan tidak membuka hati pada wanita aku berubah jadi gay" balas Deon dengan melempar bantal sofa ke wajah Ares dan secepat kilat ditangkap Ares.
Terkekeh geli "Aku hanya sedikit merasa aneh, pria sepertimu yang sudah pernah menikah bisa bertahan selama ini untuk tidak mencari landasan berbentuk terong ungu itu, sementara hampir setiap hari kau memeriksa pasien dengan berbagai bentuk landasan tersembunyinya" Ares mencerocos panjang lebar
"Kenapa kau jadi cerewet seperti ini, kau pikir aku sudah tidak normal, aku hanya tidak berselera" Serga Deon
Ares hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, dia yang dokter umum saja kalau melihat body mulus wanita untuk diperiksa sering membuatnya blingsatan menelan ludah apalagi melihat Landasan secara langsung.
Deon menatap Ares dengan tatapan curiga "wah aku tidak menyangka aku punya teman dokter mesum sepertimu, jangan sampai gara gara pikiran mesummu di rumah sakit ku dapat berita skandal dokter mesum ke pasien" kata Deon meledek
"Sialan, kau pikir aku semesum itu" Ares berkilah. ya Ares tidak akan sampai melakukan hal sememalukan itu. "Tadi kau kemari mau cerita, kenapa malah membahas hal yang tidak masuk akal gini" Ares mengalihkan percakapan
"Bukannya kau yang mulai" jawab Deon
"Santai bro, jangan tegang tegang gitu. aku kan hanya penasaran terbuat dari apa terong ungu mu hingga tidak bisa dalam mode on" Kata Ares sambil tertawa terbahak bahak
"Kau benar benar sudah gila. Aku sudah bilang tidak berselera" Deon mulai kesal
"Maaf, maaf bro hanya bercanda. Jadi apa rencanamu selanjutnya" jawab Ares melihat gelagat Deon yang mulai menggerahkan
"Bantu aku mencarikan wanita yang cocok untuk kunikahi, tidak perlu cantik yang penting penurut" Jawab Deon
"bukannya banyak sekali wanita yang mendekatimu, suster Anna misalnya sepertiya dia wanita penurut" Kata Ares
"Aku tidak mau berhubungan dengan wanita yang ada wilayah rumah sakit mutiara Bunda. itu akan membuatku susah menutupi bahwa aku ingin mencari istri. kau tau, niatku hanya menikah tanpa harus saling cinta" Deon menjelaskan
"apa maksudnya?" Ares bingung
"Ya aku akan menikah setelah kau mendapatkan wanita yang kumaksud aku akan menikahinya. Selesai menikah aku akan membawanya ke tempat yang jauh dari rumah papa, dengan demikian akan memudahkan rencanaku, aku akan mendapatkan anak tanpa harus berhubungan badan dengan wanita itu" Deon menjelaskan
"Maksudmu kau akan melakukan bayi tabung, ckkk kau benar benar tidak masuk akal, bagaimana mungkin? tapi sudahlah kau sahabatku, aku pasti membantumu" Ares akhirnya mengikuti kemauan Deon
"Shit, ide deon benar benar membuatku gila, kalau sudah menikah bukankah dia bisa mengoperasikan mesinnya yang sudah lama vakum secara langsung?, ah sudahlah memikirkannya besok saja lebih baik aku istirahat. Ares berbicara sendiri.
***
Pagi ini Sea jadwal menemui dosen pembimbing tesisnya. karena kesibukan dosennya yang tidak bisa dipastikan mengharuskan Sea untuk lebih sering berkomunikasi dengan dosennya untuk memastikan kapan bisa bimbingan.
Mengendarai mobilnya sambil mendengarkan lagu dari radio yang diputar You look so beutiful in white membuat Sea ikut bersenandung. Sea lebih memilih menyetir sendiri daripada disupiri mang Udin. alasannya logis, lebih bebas bepergian tanpa mereporkan mang Udin. Padahal memang begitulah tugas mang Udin.
Memasuki Area kampus, Sea menuju ruangan dosen pembimbing.
"Silahkan masuk" terdengar jawaban dari dalam ruangan setelah Sea mengetuk pintu
Perlahan Sea membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan.
"Selamat pagi Bu" Sapa Sea begitu masuk
" selamat pagi Sea! Silahkan duduk" Dosen pembimbing Sea bergelar Dr. Dessya, M.Pd. mempersilahkan Sea duduk.
"Baik bu, terima kasih, oh ia bu sesuai jadwal bimbingan hari ini saya sudah selesai Bab 1 nya, mohon ibu periksa" Sea menyerahkan ke dosennya.
"Oh ia baik Sea" Dessya menerima dan memeriksa dengan teliti, sembari mencoret beberapa kata bahkan kalimat yang dianggap tidak tepat.
1 jam di dalam ruangan Sea bernafas lega, karena tidak begitu banyak yang harus diperbaiki. Menyerahkan lembar bimbingannya, Dessya segera memparaf bukti Sea selesai bimbingan.
"Terima kasih banyak bu atas bimbingannya, Saya akan berusaha untuk segera memperbaiki dan berlanjut ke bab berikutnya" Kata Sea sopan.
" sama - sama Sea, Ibu akan berusaha agar tidak menyulitkan mu, semangat menggapai gelar mastermu. ibu tau kamu mahasiswa yang cerdas dan disiplin" Jawab Dessya sembari menyemangati Sea. Dessya tau, Sea mahasiswa yang cerdas sebab mengambil S1 Sea merupakam mahasiswa yang menyandang status cumlaude IP 4.00 dan mampu menyelesaikan di tahun ke 3. luar biasa.
"Kalau begitu saya ijin permisi keluar ya bu" pamit Sea
***
Di luar ruangan, Sea merasakan getaran di dalam tas ranselnya. membuka tas, Sea melihat Handphonenya berkedip pertanda seseorang memanggil.
"Nomer baru, siapa ya?" Gumam Sea
"Angkat sajalah mana tau perlu" Sea akhirnya mengusap layarnya belum sempat Sea berbicara seseorang terlebih dahulu menyapa.
"Hallo Nak Sea, ini tante Agatha"
"Oh tante Agatha, ada apa ya tante" Jawab Sea
"nggak, tante cuma mau nanya kabar kamu saja, Sea sekarang lagi apa, dimana?" Agatha bertanya dengan berturut turut
"Sea baik tante, ini lagi di kampus ketemu sama dosen, tapi sudah selesai kok, ini sudah mau pulang. kalau tante apa kabar?" Sea bertanya kembali
"Tante baik, apalagi sudah berbicara dengan Sea jadi lebih baik lagi, oh ia Sea kalau sudah mau pulang mampirlah kerumah, sesekali temani tante jangan nemani mama Hilda aja, biar tante juga bisa merasakan punya anak gadia" Agatha berbicara dari seberang
"Gimana ya tan," Sea menggaruk kepalanya yang tidak gatal. kalau dia kesana alamat bertemu Deon yang menyebalkan.
"Mau ya sea pliss, tante cuma sama asisten rumah tangga aja, om kamu kerja balik juga paling sore kalau nggak malam, Kalau Deon juga jarang pulang ke rumah sekalinya pulang juga malam" Agatha membujuk Sea
"Ya udah tant, Sea mampir, tapi ini mau ngabari mama dulu" Jawab Sea.
"Ia sayang, kamu hati-hati di jalan, tante tunggu di ruman" Agatha menjawab dengan senang hati
"calon menantuku" Batin Agatha.