Love is Never Wrong

Love is Never Wrong
Selain Tua kau juga Jelek



Deon memasuki apartemennya setelah Jogging di pagi hari. semakin Sibuk dengan kegiatan kantor dan rumah sakit, membuat Deon selalu menyempatkan diri untuk berolah raga. Dengan handuk kecil Deon Lelehan keringat yang belum mengering dari wajah dan keningnya.


Haus, Deon melangkahkan kakinya menuju dapur. Menuangkan air putih ke dalam gelas dan meneguknya hingga tandas. Indra penciumannya menghirup aroma masakan yang menggugah seleranya membuat pandangannya juga terarah ke wanita yang sering dia sebut aneh.


Sea yang merasa dipandangi mendekat ke arah Deon. "Aku tau kau sudah sangat ingin mencicipi masakanku, karena aku dalam mood yang bagus, aku juga menyiapkannya untukmu dokter duda" Sea berkata dengan senyuman manisnya.


Deg.. Jantung Deon berdetak"Wanita aneh ini kenapa senyumnya pagi ini manis sekali" Deon bergumam dalam hati. Namun dengan cepat Deon mengalihkan pandangannya.


"yaa, seperti yang aku lihat, karna dalam good mood maka narsismu juga naik berlipat lipat" Balas Deon


"Terserah kau saja dokter duda, yang jelas pagi ini aku lagi senang, aku mau hari liburku jangan kau rusak, sekarang pergilah mandi, keringatmu bau," Sea berkata sambil menutup hidungnya.


"Biar pagimu makin menyenangkan, nih" Deon melewati Sea sambil mengibaskan handuk kecilnya ke arah Sea, "Apa bau sekali? aku rasa tidak, wangi ia" Kata Deon sambil berjalan cepat.


"Dokter duda sialan, jorok, Bau" Sea berteriak sambil bergidik karena handuk Deon hampir mengenai wajahnya.


"Ia, aku tau kau menyukai aromanya," Deon membalas teriak sebelum melesat masuk ke dalam kamarnya.


"Apaan sih, menyebalkan, jorok" Sea yang benar benar kesal dengan tingkah Deon menggerutu tidak henti henti.


Selesai dengan masakannya, Sea menata di meja makan. karena memang setiap hari minggu asisten rumah tangga Deon hanya datang di sore hari untuk bersih bersih.


Menuju kamar Deon, Sea mengetuk pintu, beberapa ketukan belum ada tanda tanda pintu akan dibuka. karena tidak ada sahutan Sea menggedor pintunya semakin kuat.


Deon yang baru selesai mandi dengan handuk yang melilit di pinggangnya, sambil menggosok rambutnya yang basah akhirnya membuka pintu.


"Ada apa," tanya Deon


Sea yang melihat Deon hanya menggunakan handuk dan rambut nya yang masih basah salah tingkah.


"ada apa" Deon kembali bertanya sambil menautkan alisnya, karena melihat Sea hanya diam


"Hei, ada apa, kenapa malah bengong?"


mendapat pertanyaan membuat Sea tersadar, dan langsung memalingkan pandangannya dari tubuh Deon.


" kenapa kau keluar tidak memakai baju, Kau mau pamer bentuk tubuhmu yang tidak berbentuk itu?" kata Sea, padahal dalam hati dia memuji bentuk badan Deon yang sispek dan ideal itu, karena Deon yang memang rajin olah raga.


"Ckk.. bukannya kau yang menggedor pintu, aku kira apaan, memangnya ada apa?


"bukannya aku bilang tadi aku dalam mood yang bagus, aku sudah siapkan sarapan, cepat pakai bajumu, mataku sakit melihat bentuk tubuh mu itu, tidak ada menarik menariknya," Sea mencerocos


"Memangnya aku ada menyuruhmu melihatnya,?" jawab Deon kesal sambil menutup pintu


Menatap dirinya di cermin, "Apa ia, tidak berbentuk? sepertinya tidak ada perubahan, matanya saja yang bermasalah" Deon berbicara pada dirinya sendiri


mendapati jawaban Deon, Sea tersenyum penuh kemenangan. rasa kesalnya seakan sudah berbayar.


Deon keluar dari kamarnya dengan pakaian rumahannya. Mendudukkan dirinya di kursi Deon melihat tampilan semua makanan yang dimasak Sea sepertinya enak.


"Sepertinya moodmu benar benar bagus, makanan ini sepertinya lumayan enak untuk dicicipi" kata Deon


"tentu saja enak, nggak lumayan, sangat enak malah" Sea membalas sambil memberikan piring yang sudah berisi ke Deon.


Mendapat perlakuan dari Sea, hati Deon menghangat. Dia merasa benar benar menjadi suami yang diperhatikan istrinya. Ada rasa membuncah di dalam hatinya.


"Terima kasih" untuk pertama kalinya senyum lebar terbit di bibir Deon untuk Sea


"selamat makan" kata Sea, Meski terkejut dengan senyuman Deon, karena biasanya wajah suaminya itu selalu mengetat seperti kolor ijo yang baru beli.


Mereka menikmati sarapanya. "Dia benar benar ahli memasak, aku pikir dia tidak tau apa apa, " Puji Deon dalam hati karena masakan Sea memang pas di lidahnya.


"piringnya tidak usah dicuci, nanti sore bibi kemari" Kata Deon


"Tidak apa apa, sedikit kok. lagian juga hitung hitung bantu bibi" kata Sea.


Sea mulai membersihkan piring, segera Deon membantu Sea.


"Tidak usah dibantu, bukannya kau mau ke rumah sakit, pergilah" kata Sea


"tidak, aku hari ini libur" jawab Deon


"tumben.. apa sudah tidak ada pasien lagi yang mau berobat ke rumah sakit milik mu?" tanya Sea tiba tiba


"ck,, pertanyaanmu seperti menyumpahi saja agar rumah sakit milikku tutup. bukan tidak ada pasien. aku memang mau istirahat" jawab Deon


" ya maaf, aku pikir seperti itu." Sea berkata pelan, dan merasa bersalah


melihat ekspresi Sea Deon hanya menggelengkan kepalanya.


"Kenapa semakin ke sini, wanita ini semakin menyebalkan, tapi juga menggemaskan?"


"kau kenapa, apa lehermu bermasalah?" Sea mengernyitkan keningnya melihat Deon yang geleng geleng


Mendapat pertanyaan Sea, terlintas di benak Deon untuk mengerjai Sea.


"Ia sepertinya bermasalah, aku rasa urat leherku ada yang putus" jawab Deon asal


"Ia, urat lehermu pasti putus, makanya kau jadi manusia aneh dan suka berdebat" Sea berkata sambil manggut manggut


"Kau, bisa tidak berbicara jangan asal? Apa maksudmu aneh" Deon yang ingin mengerjai Sea malah dia yang dibuat kesal.


"Seperti tidak merasa saja..." tetapi belum sempat meneruskan perdebatannya Deon tiba tiba menatap lekat wajah sea.


"Ada apa kau menatapku seperti itu? tanya Sea kebingungan dengan tatapan Deon


"kenapa kau bisa kurang tidur? lingkaran hitam dan dan mata yang berkantung sungguh membuat mu tambah jelek" ucap Deon tiba tiba


Sea mengernyitkan keningnya, "Sejak kapan kau suka memperhatikan aku?"


"Bukan seperti itu, kalau kau tiba tiba sakit, kan aku juga yang repot" jawab Deon


"tenang saja, aku tidak akan sakit, tapi tadi malam apa kepalamu ada terbentur sesuatu" tanya Sea


"maksudnya?"


"hari ini kau banyak berbicara, biasanya juga taunya buat kesal, apa jangan jangan kau sudah menyukaiku, astaga jangan sampai dokter duda, aku pasti menolakmu" kata Sea sambil menaikturunkan alisnya.


"kau suka sekali asal bicara, aku kan hanya bertanya, yang benar saja aku menyukaimu, menyesal aku nanya jadinya!" Deon memalingkan wajahnya


"Dokter duda, nggak usah ngambek gitu, kau tidak seimut itu, lagian sudah tua juga tidak cocok ngambek-ngambekan" Sea berkata sambil tertawa


"Siapa yang ngambek, ada ada saja,"


"oh ia, tadi mama nelpon nanti siang kita ke rumah mama, katanya rindu, aku juga heran apa yang dirindukan darimu" kata Deon


"Tentu saja mama merindukanku, bukankah menantunya cantik begini, mama Agatha bilang juga kau terlalu jelek untuk ku" kata Sea


"kok ada wanita yang berbesar kepala sepertimu" Deon kesal selain dikatai tua juga jelek.