
Malam itu Deon tidak bisa benar - benar konsentrasi akan pekerjaanya. Meletakkan laptopnya dia segera menyusul Sea ke kamar yang sudah nyenyak dalam tidurnya.
Merangkak perlahan ke ranjang king size tersebut berusaha agar tidak mengganggu tidur Sea yang nyenyak. Berbaring disamping Sea, Deon memandangi wajah Sea yang begitu tenang dan damai.
Tangan Deon terulur merapikan rambut sea yang menutupi wajahnya. Ingatannya Deon kembali ke saat mereka bertemu dengan Sea di rumah sakit. Tingkah konyol Sea yang begitu membuat Deon kala itu benar-benar kesal. Dan beberapa kali pertemuan mereka yang sering menimbulkan perdebatan.
“Aku pikir kamu waktu itu sudah benar-benar menikah, lucu sekali kamu mengatakan anak kamu 11, hmm tapi tidak masalah sepertinya itu bisa saja saja terjadi” Deon mengguman dalam hati namun kemudian dia menepis pikiran konyolnya itu.
Merasa kantuk mulai menyerang Deon memposisikan dirinya berbaring di samping Sea. Dengan perlahan tanggannya merengkuh tubuh Sea dalam pelukannya.
“Selamat Tidur Sea Wardana, semoga besok pagi kamu tidak berteriak melihat aku memelukmu seperti ini” Batin Deon
******
Malam kini berganti pagi. Sea mengerjapkan matanya merasa tubuhnya berat. Mencoba menggerakkan tubuhnya namun gerakannya tidak bisa seleluasa biasanya dia bangun pagi.
Begitu kesadarannya mulai terkumpul dia melihat Deon yang merengkuh tubuhnya dengan erat bahkan lengan Deon yang menjadi bantalan Sea saat tidur. Kaki yang terangkat ke atas perutnya membuat Sea membelalakkan matanya.
“Mungkin dia tidak sadar tidur memelukku seperti ini” batin Sea.
Sea mencoba melepaskan kaki Deon dari atas perutnya, kemudian perlahan melepaskan tangan Deon namun, bukannya terlepas Deon malah mengeratkan pelukannya.
“Kamu mau ke mana, bukankah ini masih terlalu pagi untuk bangun. tidur lah sebentar lagi” pinta Deon dengan mata tertutup
“Ish kamu sengaja ya peluk - peluk aku, kamu cari-cari kesempatan ya” Sea mulai kesal
“Bukankah kita sudah berteman, jadi tidak ada salahnya tidur berpelukan seperti ini” Deon semakin mengeratkan pelukannya.
“Tapi tidak harus seperti ini, kamu jangan macam-macam” Sea berusaha melepaskan pelukan Deon
“Jangan banyak bergerak nanti yang lain juga ikutan bergerak” Jawab Deon dengan santai
Sea semakin memberontak, dan Deon kian mengeratkan pelukannya.
Sea tidak kehilangan akal, Sea menggerakkan kepalanya ke atas membuat Hidung Deon terbentur dengan kepala Sea.
“Auuhhh… “ Deon mengaduh…dan refleks melepaskan pelukannya dari tubuh Sea.
Deon merasa sakit yang luar biasa, dia merasa seperti tulang hidungnya patah meskipun sebenarnya tidak sampai patah.
“Sepertinya tulang hidungku patah, sakit sekali. Tenagamu kenapa kuat sekali” Kata Deon sembari mengelus hidungnya
Sea memegang hidung Deon… “Ah kamu berlebihan dokter, hidungmu tidak patah tidak usah berdrama” kata Sea
“Kamu harus tanggung jawab kalau sampai hidungku kenapa-kenapa, bukannya minta maaf dikatai drama.. Kamu keterlaluan Se” Deon mulai berdrama.
“Tanggung jawab bagaimana? sudah tidak ada yang patah… sebentar lagi juga sakitnya hilang” Sela Sea
“Kamu tidak mau minta maaf ya?” Tanya Deon
“Tidak mau, itu salahmu.. Tapi daripada kita berdebat lagi ya sudah aku minta maaf.. Tadi tidak bermaksud membuat hidungmu kesakitan” Sea akhirnya mengalah.
“Minta maaflah dengan benar se” Kata Deon lagi
“Kan sudah dokter…. Harus bagaimana lagi yang benar?” tanya Sea mulai kesal
“Aku tahu cara minta maaf yang benar, kemarilah mendekat” Jawab Deon
Sea pun mendekat, “Bagaimana” Tanya Sea
“Mm Begini” Deon dengan secepat kilat mencium pipi Sea. “Mungkin dengan begini hidungku akan segera memaik” Senyum terkembang di bibir Deon.
“Ishhhh…. Mana ada seperti itu” Sea merasakan pipinya panas dan sudah pasti pipinya juga memerah.
“Bukankah impas, Kamu membenturkan kepalamu ke hidungku dan aku mencium pipimu” kata Deon dan sekali lagi dia mencium pipi Sea.
“Itu agar pipi yang sebelahnya tidak iri sudah dicium dokter duda” kata Deon sembari tertawa dengan lepas.
Sea menganga, dia benar-benar baru melihat sisi lain dari Deon. Namun, segera dia beranjak dan berlari ke kamar mandi. “Jantungku, bisakah kamu jangan menghianatiku, kenapa kamu selalu berdetak dengan cepat ketika melihat Deon tersenyum dan tertawa”. Sea bergumam.
Sea memegang kedua wajahnya yang dicium oleh Deon. Pipinya terasa sangat panas. Tetapi ada sesuatu yang membuncah di dalam hatinya.
Sungguh, pagi ini benar-benar tragedi yang membuat Sea kalang kabut.