
Sudah setengah jam Deon menunggu Sea di depan gedung. Sea sepertinya belum menunjukkan batang hidungnya.
Baru saja Deon hendak menyusul ke dalam, Sea sudah muncul berjalan beriringan dengan teman sekampusnya yang juga berjadwal sama ujian di hari itu.
Ben, seangkatan dengan Sea dan juga berada dalam ruangan yang sama mengambil studi. Mereka berjalan sambil berbincang. Sesekali mereka tertawa bersama yang Deon tidak tahu apa yang mereka perbincangkan.
Melihat Sea yang tertawa dan berbincang akrab seperti itu rasanya Deon tidak terima dalam hatinya.
"Siapa lelaki itu? ada hubungan apa mereka?" pikiran tanya berkecamuk dalam hati Deon.
ingin rasanya Deon menghampiri mereka, namun rasanya tidak etis jika tiba-tiba dia menyela mereka.
"ck bahkan berjalan untuk sampai kemari pun kenapa lama sekali, sebegitu asyiknya dia berbincang dengan lelaki itu" batin Deon.
Tak sabar menunggu akhirnya Deon menghampiri mereka.
"Sea, apa sudah selesai, aku sudah mengabari mama Hilda kalau kita akan ke rumah sekarang" Kata Deon sembari melirik lelaki yang disamping Sea.
"Oh ia, maaf membuat lama menunggu, bagian admin tadi keluar sebentar jadi harus menunggu" Jawab Sea.
"Siapa Se, apa dia kekasihmu?" tanya Ben dengan senyum.
"Saya, Deon suaminya Sea" Belum sempat Sea menjawab sudah dijawab Deon dengan cepat.
Deon mengulurkan tangannya dan menarik Sea berdiri dekat dengannya.
Melihat suami Sea yang posesif Ben hanya menanggapinya dengan tersenyum.
"Saya Ben temannya Sea, kebetulan satu ruangan dengan Sea dapat dosen pembimbing juga sama" Jawab Ben.
Mereka berjabatan tangan, hingga akhirnya Deon segera mengakhiri obrolan mereka.
"Kami pergi dulu ya Ben, sampai ketemu besok" Jawab Sea.
Deon segera menarik tangan Sea, "Dia siapa se?, apa dia mantan pacarmu, atau sedang dalam masa pendekatan?" cecar Deon.
"Ada - ada saja, pertanyaan macam apa itu, Dia Ben teman aku" Jawab Sea.
"Terus, kenapa harus membuat janji untuk bertemu besok, tidak boleh membuat janji dengan lelaki lain, bukankah kamu sudah bersuami" Deon menjawab dengan ketus.
"Ya ampun dokter, kamu ada masalah apa sih, tiba - tiba banyak bicara sekali" Deon menanggapi dengan malas.
"Kamu suka dengan lelaki tadi ya?" bukan menjawab tetapi kembali bertanya kepada Sea .
"Tidak, memanganya kenapa bertanya seperti itu?, dia itu dekat dengan sahabatku namanya Ona, berbicara jangan sembarangan" Sarkas Sea.
"Kenapa jadi kamu yang marah, aku kan hanya bertanya". jawab Deon dengan kesal.
Di sini dia yang kesal, tetapi Sea yang jadi lebih tinggi nada bicaranya.
"Mobilmu sudah aku suruh paman Mul saja yang jemput nanti, kita naik mobil ku saja" kata Deon.
Sea hanya mengangguk "baiklah, ayo kita berangkat sekarang".
Dalam perjalanan, suasana hanya hening, tanpa ada yang berniat membuka percakapan.
Deon yang masih kesal, dan Deon yang memilih diam agar menghindari tidak terjadi perdebatan yang tidak ada habisnya.
Deon membelokkan mobilnya menuju area perumahan orang tua Sea.
Tanpa berbicara Sea turun dari mobil, dan diikuti oleh Deon.
Mama Hilda byang sebelumnya sudah dikabari sebelum anak dan menantunya datang sudah mempersiapkan makan siang untuk mereka.
Mama Hilda menyambut Sea dan Deon.
"Akhirnya kalian sampai juga, mama tidak sabar bertemu kalian" sambut mama Ratih sembari memeluk Sea kemudian Deon.
"Selamat sayang, akhirnya impian kamu jadi S2 tercapai" ucap mama Hilda.
Mereka masuk ke dalam rumah. kemudian duduk diruang tamu bercerita dan melepas rindu.
"Nak Deon, apa kamu tidak sibuk, terima kasih sudah mengantarkan Sea kemari" kata mama Hilda dengan tulus.
"Berarti makan siang kita sempatlah makan di rumah mama saja, mama sudah masak, mama rindu makan bersama dengan kalian" ajak mama Hilda
"Baiklah ma, kebetulan juga Deon sudah lapar" Jawab Deon dengan antusius.
Sementara Sea heran melihat perubahan mood Deon yang sepertinya sudah sangat membaik.
"ish, tadi saja dekat-dekat dengan aku bisanya buat kesal, dekat dengan mama langsung berubah, apa dia berkepribadian ganda?" Batin Sea.
Melihat Sea yang masih duduk, mama Hilda segera mengajak Sea untuk membantu bibi Ratih menyiapkan makan siang.
"Sea, ayo siapkan makan siangnya, suami kamu sudah lapar" kata mama Hilda.
Sea beranjak, dan membantu menyiapkan semuanya.
Suasana di meja makan siang ini mama Hilda begitu antusias, makan bersama menantu dan putrinya membuat suasana hatinya begitu baik.
Deon juga makan dengan sangat lahap, bahkan sampai nambah. tentu saja membuat mama Hilda senang, Sea juga ikut senang melihat suaminya suka dengan masakan mamanya.
"Masih mau nambah, tidak?" tanya Sea ke Deon.
"Sudah se, perut aku sudah sangat penuh, masakan mama memang mantap" Puji Deon.
"Memujinya jangan berlebihan nak, karena kalian lapar saja maka semuanya terasa enak" jawab mama Hilda.
Selesai makan, Bibi Ratih membersihkan meja makan, Sea hendak membantu namun dilarang bibi Ratih.
"Bibi saja nak, kamu pasti lelah sekali, udah kalian istirahat saja" Jawab bibi.
"Ia bi, terima kasih, Sea memang sedikit lelah" Jawab sea akhirnya.
Sea kembali bergabung dengan Mama Hilda dan Deon yang masih berbincang bincang.
"Apa Sea menyusahkan mu nak Deon?" tanya Mama Hilda.
"Tidak ma, Sea tidak pernah menyusahkan hanya saja suka mengajak berdebat" Jawab Deon sambil terkekeh.
Sea yang mendengar Deon mengatakan dia suka mendebat segera menghampiri.
"Siapa yang suka mendebat, bukannya kamu yang suka mengajak berdebat" Jawab Sea dengan cemberut.
"Sea, tidak baik membantah perkataan suami, jadilah istri yang penurut" nasihat mama Hilda.
Sea melirik Deon dengan ekor matanya dan Deon membalas dengan senyum mengejek sembari menaik turunkan alisnya.
"Lagi pula nak Deon kan suami kamu Se, tidak baik memanggil suami dengan hanya aku kamu, berlakulah sopan terhadap suami kamu". ucap mama Hilda.
"Walau bagaimanapun kalian harus menjalani pernikahan kalian dengan mencoba menerima satu dengan yang lain" Nada sendu mama Hilda membuat Sea ikutan sedih.
"Kalian tahu nak, kami sebagai orang tua kalian mengharapkan yang terbaik buat anak-anaknya, mama yakin Nak Deon orang baik yang bisa menjaga Sea putri mama"
"Ia ma, mama tidak usah khawatir Deon pasti akan menjaga Sea dengan baik" Jawab Deon dengan mantap.
Sementara Sea hanya menjadi pendengar yang baik, dalam hatinya ikut merasa kehangatan hang menjalar melihat kesungguhan Deon dalam berbicara ke mama hilda.
"Kalian pasti lelah, istirahatlah nanti nak Deon juga harus ke rumah sakit lagi kan. Jangan sampai kurang istirahat" ucap mama Hilda.
Mama Hilda ke belakang, tinggallah Deon dengan Sea.
"Kamu pasti mendengar apa yang mama Hilda katakan" Tanya Deon.
"Aku tidak tuli sudah pasti aku mendengar" Jawab Sea.
"Mama Hilda pesan, belajarlah untuk bersikap tidak mendebat suamimu, kamu tidak lupa bukan" Tanya Deon lagi.
"Dan ya satu lagi, panggil suamimu dengan baik, pikirkan panggilan apa yang cocok untuk suamimu ini" kata Deon dengan tersenyum.
"Tolong antar suamimu istirahat, karena jam 6 Sore nanti dia harus bekerja lagi" Deon menatap Sea dengan tatapan meledek.
Benar-benar Sea dibuat hanya geleng geleng kepala. Ternyata dibalik wajah suaminya yang biasa datar, bisa berbicara begitu banyak. Membuat Sea kesal sekaligus ada rasa yang tidak bisa diucapkan.
"Suami" menyebut kata suami Sea tersenyum. "Ya, aku sudah memiliki suami, namanya Dokter Deon" batin Sea.