
.
.
Di tengah obrolan mereka yang terkesan tak berfaedah itu, tiba-tiba sebuah mobil berhenti disana. Reno menatap dengan seksama orang yang berada di balik kemudi. Jantungnya berdegup cepat ketika orang itu akhirnya keluar dari dalam mobil bersama wanita paruh baya yang mereka kenal.
"Mama?" Bisik Reno tanpa sadar.
Rania yang melihat itu langsung berdiri dan berjalan beberapa langkah menyambut kedua orang itu.
"Mama,, Kak Alfi." Sapa Rania dengan senyum di bibirnya.
"Hai, Nia. Apa kabar?" Balas Alfi. "Gimana babynya? Nggak rewel kan di perut bundanya?" Ucap Alfi lagi yang kini mengelus perut datar Rania.
Rania tersenyum lembut. "Alhamdulillah enggak, kak. Walau kadang aku tiba-tiba ngerasa mual. Tapi, nggak lama kok, kak." Jawab Rania.
"Syukur lah." Balas Alfi.
Mama Sari memperhatikan Reno yang hanya diam semenjak ia dan Alfi datang. Namun, tatapan putranya tak beralih dari gadis cantik di sebelahnya. Bu Sari pun merasa heran dengan kening berkerut masih menatap putranya itu.
"Mama sama Kak Alfi mau makan, nggak? Kalau iya biar aku pesen." Seru Rania membuat Bu Sari yang hendak berbicara mengurungkan niatnya.
"Aku nggak, Ran. Aku buru-buru, ada urusan." Tolak Alfi dengan halus. Sebenarnya ia ingin langsung pulang saja, karena tubuhnya lelah. Dan juga, ia merasa tak nyaman karena Reno terus menatapnya dengan tatapan aneh sedari tadi. Alfi benar-benar merasa terintimidasi karenanya.
"Kak Al, nggak apa-apa pulang sendiri?" Ujar Gian.
"Nggak apa-apa kok, Ian. Udah biasa pulang sendiri." Jawabnya diiringi senyuman. "Aman, kok."
Diam-diam Reno merasa berdebar melihat senyum manis yang mengembang di bibir gadis itu. Hatinya merasa sejuk melihat itu. Namun, berbeda dengan Alfi yang ditatap seperti itu. Wajahnya berubah sendu saat tatapannya bertemu dengan manik mata milik Reno.
Entah mengapa, masih ada rasa yang sedikit menyesakkan dadanya ketika melihat wajah lelaki itu.
Setelah Alfi benar-benar berlalu, Reno hanya bisa menatap nanar pemandangan di depan sana yang tidak lagi memperlihatkan mobil gadis yang beberapa menit lalu datang bersama mamanya.
Ia merasa sesak sendiri. Bu Sari yang mendengar putrinya berbicara meski tidak fokus, terus mencuri pandang pada putranya. Ia merasa yakin jika Reno sepertinya ada apa-apa dengan Alfi. Gadis baik yang mencuri hatinya sejak lama.
Ya, ia mengenal gadis itu cukup baik. Apalagi semenjak Rania dan Gian menikah, ia semakin sering bertemu dengan Alfi.
"Udah setengah 9 loh, Ren. Mama mau pulang." Ujar Bu Sari setelah lama mereka mengobrol.
"Mama pulang bareng kami aja. Aku sama Mas Gian juga udah mau pulang. Iya, kan Mas?" Ujar Rania menatap sang suami dengan wajah sumringah.
"Iya, Mah. Bareng kami aja." Gian mendukung perkataan sang istri.
"Boleh, deh." Bu Sari setuju. Karena memang arah rumah mereka sama.
.
.
Setelah mengantar sang mama, Rania dan Gian kini sedang dalam perjalanan menuju kediaman mereka. Gian menyadari sang istri yang sepertinya tengah memikirkan sesuatu pun mencoba menyahutinya.
Alhasil, Lamunan Rania berhasil buyar akibat suaminya yang mengagetkannya. Ya, Gian menepuk pelan bahu Rania dengan niat memang membuat istrinya itu tersadar dari lamunannya.
"Ih,, mas. Apaan sih? Ngagetin aja." Rania mengerucutkan bibirnya. Gian hanya tersenyum lebar melihat wajah istrinya yang cemberut.
Rania menatap aneh suaminya itu. "Aku lagi kepikiran Bang Reno sama Kak Alfi, mas." Ungkap Rania. Setelahnya mereka kembali hening.
Sesampai di depan gerbang rumah mereka, Gian berhenti, menunggu Mang Pardi membukakan gerbang. Saat hendak turun, Gian menahan tangan sang istri dan menatapnya lekat.
"Sayaang,,, kamu stop mikirin orang lain. Jangan mikirin sesuatu yang hanya akan nambah beban pikiran kamu." Ucapnya lembut.
Rania balas menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. "Setiap hari ada aja yang membebani pikiran kamu. Kalau kamu terus-terusan mikirin masalah orang lain, kamu bisa tertekan. Dan itu bahaya buat kandungan kamu." Gian menyentuh perut Rania yang sudah mulai menonjol.
Rania tersentak. Benar, ia terlalu banyak memikirkan hal-hal yang tidak seharusnya, hingga dirinya lupa dengan kandungannya.
"Maaf, mas." Ucapnya merasa bersalah. "Aku nggak bisa mengabaikan mereka. Makanya kalau ada masalah pasti aku ikut kepikiran." Rania menatap sendu Gian.
"Mulai sekarang, coba deh kamu enjoy. Nggak usah terlalu dibawa panik sama hal-hal yang nggak seharusnya kamu pikirin." Gian menggenggam tangan Rania erat.
Perlakuan seperti inilah yang membuat Rania semakin tersentuh. Rasa cintanya semakin bertambah setiap hari. Bahkan Rania kini merasa tak sanggup jika harus kehilangan lelaki yang ia cintai ini.
Gian adalah penyempurna hidupnya. Ia teringat kembali bagaimana lika-liku perjuangan mereka hingga akhirnya bersatu dan bisa merasakan kebahagiaan seperti sekarang. Rania tiba-tiba tersenyum mengingat saat dirinya mendapat kiriman bunga dari orang misterius. Dan ternyata orang itu adalah Gian.
"Kamu kenapa?" Tanya Gian saat mereka sudah sampai di kamar dan melihat sang istri yang tersenyum sendiri.
Rania menaikkan sebelah alisnya menatap Gian juga. "Enggak apa-apa. Cuma lagi ingat sesuatu aja. Dulu tuh ada yang suka ngasih aku bunga loh, mas. Tapi, sekarang udah enggak lagi." Rania berujar dengan wajah yang dibuat-buat sedih.
Gian menatap Rania dengan wajah datar. "Ooh,, kamu mau bunga?" Batin Gian mengerti maksud istrinya.
Namun, Gian berpura-pura tak peduli. Ia berjalan ke arah kamar mandi. Hal itu disaksikan Rania dengan wajah kesal karena respon suaminya yang di luar dugaannya.
"Iiihhhh,,, nggak peka banget jadi suami." Rania bersungut-sungut sembari mencubit-cubit bantal yang ia pegang.
Tak lama Gian keluar dengan wajah basah dan kemeja yang kancing teratasnya terbuka. Ia melipat lengan kemejanya itu hingga ke siku sembari melangkah menuju tempat tidur.
"Hiks,, hiks,,,, Hwaaaa,,, Maaaass,, Kamu udah nggak sayang lagi sama aku,,,, Hwaaaaa..." Tangisnya semakin menjadi.
Gian yang melihatnya berdecak malas. Mood istrinya benar-benar menjengkelkan. Rania sangat manja beberapa hari ini.
"Sayaang,, kenapa nangis, sih?" Ucap Gian saat ia telah merengkuh tubuh istrinya, mengusap kepalanya dengan sayang.
"Mas udah nggak sayang lagi sama aku. Mas nyuekin aku,, Hwaaaaa,,,," Keluh Rania dengan tangisnya yang makin lebay.
"Kamu ngomong apa, sih? Aku Sayang sama kamu. Dan aku nggak nyuekin kamu, loh. Kebetulan aku gerah banget dan pengen cuci muka. Makanya aku langsung masuk ke kamar mandi." Jelas Gian.
"Ya tapi kan tetap aja mas diam waktu aku ngomong...." Keukeh Rania karena kesal pada suaminya.
Gian mengusap kepala Rania yang mana gadis itu tengah bersandar di dada bidang suaminya.
.
.
Bersambung.......
.
.