
Sampai sore hari pasangan suami istri itu masih saja betah di dalam kamar hotel.
Fasilitas yang lengkap membuat mereka menjadi semakin enggan untuk keluar.
Padahal begitu banyak rencana yang sudah disusun Sea begitu sampai di Bali. Namun, tidak sesuai dengan rencana, malah berakhir di ranjang dengan berbagai macam gaya.
Sea mengerucutkan bibirnya dengan tajam. Bagaimana tidak, sampai sekarang jangankan untuk keluar berjalan - jalan menikmati keindahan Pulai Dewata Bali berjalan ke kamar mandi saja dia merasakan ada sesuatu yang mengganjal di intinya.
Bukankah akan sangat lucu jika Sea berjalan seperti bebek.
"Sayang, jangan menggoda dengan mengerucutkan bibirmu" Deon memperingatkan Sea.
"Aku kesal sama mas"
"Kesal kenapa, Dari semalam siapa yang menyebut nyebut nama mas" Deon menggoda Sea.
"Bukankah kita kemari hendak liburan, kapan aku menikmati liburannya"
"Sekarang juga bisa, itupun kalau kamu sanggup jalannya" Deon melirik ke inti Sea dengan senyum meledek.
Sea semakin kesal dan mencubit perut suaminya.
"Itu kan gara-gara mas" Sea mencebikkan bibirnya.
Deon tertawa lepas, "Habisnya istri mas ini menggemaskan, jadinya ingin memakan kamu terus".
"Menyebalkan" Sea menggerutu kesal. Tidak habis pikiri suaminya ternyata semesum itu.
"Menyebalkan tapi kamu juga suka mendesahkan di bawah mas" Deon kian menggoda Sea.
Sea yang kesal bangkit dan duduk di atas perut suaminya sembari memukul dada suaminya.
"Sayang, jangan lakukan itu, aku tidak yakin bisa menahannya"
Perkataan itu sontak saja membuat Sea turun dari atas perut Deon. Yang benar saja, satu harian hanya main kuda kudaan disentuh sedikit saja suaminya langsung on fire.
Deon mendudukkan tubuhnya, dan menatap ke arah Sea.
"Sayang, ayo buka" kata Deon.
"Maksudnya?" Sea bingung
Deon mengambil salep khusus untuk Sea. Dia yakin saat ini inti Sea pasti membengkak saat melihat cara berjalan Sea.
"Apa milikmu masih perih" Tanya Deon
Sea gelagapan menjawabnya.
"Jangan malu, bukankah aku sudah melihat semuanya" Deon membaringkan Sea dan mulai membuka yang menutup bagian inti Sea.
Sebagai dokter tentu saja Deon tidak ingin terjadi apa-apa dengan Sea.
Benar saja, inti Sea membengkak. Deon menjadi merasa bersalah seharusnya dia tidak se ekstrim itu untuk menggempur istrinya.
"Sayang, maafin mas ya milikmu sepertinya membengkak"
Meskipun sudah saling melihat satu sama lain, Sea masih saja kurang nyaman ketika intinya diperiksa oleh suaminya itu.
Mengambil salep, Deon hendak mengoleskan ke inti Sea. Secepat kilat Sea menangkap saleb tersebut dari tangan suaminya.
"Mas, biar aku saja, aku bisa sendiri" Sea mencoba duduk. Tetapi Deon menahannya.
"Tetap berbaring atau satu ronde lagi" Deon mengancam Sea.
Mau tidak mau Sea akhirnya menurut. Membiarkan Deon mengoles saleb tersebut ke intinya.
Melihat benda kesukaannya itu malah membuat tubuhnya tidak nyaman. Ingin rasanya dia menerkam Sea saat itu juga.
"Junior, tahu dirilah jangan terlalu cepat on fire ketika melihat sarangmu" Deon berusaha sekuat tenaga menahan hasratnya.
Mungkin karena Sea yang masih tahap pemula membuat Deon kian semangat ingin menggempur istrinya tersebut.
Akhirnya drama pengolesan saleb yang memacu adrenalin Deon pun selesai.
Deon berusaha mengatur nafasnya yang mulai memburu. Deon merasakan juniornya yang mulai beraksi.
"Bahkan dengan melihatnya saja dia sudah tidak tahu diri" Deon mendesah kesal.
"Sayang, kamu istirahatlah sebentar lagi. setelah itu kita turun ke bawah makan malam". Ucap Deon dan melesat pergi ke kamar mandi.
"Dasar tidak ada kesabaran, harusnya bertahanlah, Yang punya sarang masih kelelahan" Gerutu Deon ke Juniornya.
Setengah jam Deon di kamar mandi, karena tidak tega terpaksa dia menuntaskan hasratnya sendiri.
Sea heran dengan Deon yang begitu lama.
"Apa yang dilakukannya kenapa lama sekali" Bathin Sea.
Menunggu Deon keluar Sea hanya berbaring, namun tidak bisa tertidur.
"Mas, kamu kenapa lama sekali di kamar mandi?" Tanya Sea begitu Deon keluar.
"Menyelesaikan sesuatu yang mendesak" Deon menjawab dengan absurd.
Sea akhirnya mengerti dan hanya bisa tertawa lepas.
"Begitu kalau menjadi suami yang terlalu cepat on fire" Ejek Sea.
"Teruskan saja tertawa, maka sampai besok aku akan mengurungmu di kamar ini" Ancam Deon.
"Silahkan saja" Tantang Sea. Dia yakin suaminya tidak akan setega itu mengurungnya hanya di kamar.
Sekarang saja dia sudah melihat bagaimana suaminya menahan agar tidak sampai membuat dia kelelahan lagi.
Mendapat ejekan dari istrinya Deon menggelitiki istrinya hingga kelelahan.
"Ampun mas ampun" Sea menyerah.
Deon mengacak rambut Sea dengan gemas.
"Sayang kita turun ke bawah ya makan malam" Deon menyudahi bercandanya dengan Dea.
Sea menganggukkan kepalanya tanda setuju. Merapikan penampilannya di meja rias sebelum turun dengan suaminya.
sebelum mereka turun Deon mengubungi house keeping agar sekalian membersihkan kamar mereka.
Beruntung sprei malam pertama mereka sampai sudah Sea simpan, kalau tidak Sea pasti akan merasa malu.
"Sayang, apa bisa berjalan, kalau tidak aku bisa menggendongmu" Ucap Deon.
"Tidak usah mas, sudah enakan mungkin karena sudah dibuat saleb" Jawab Sea.
"Syukurlah kalau begitu" Deon lega mendengarnya.
Mereka makan malam dengan nuansa romantis yang sudah Deon rencanakan sebelumnya.
ilustrasi tempat dinner Sea dan Deon wkwkwkwkwk