
Kedua bocah itu menerima ajakan Deon dengan antusias. Mereka dengan riang mengikuti Deon berlari pagi.
Mereka berlari mengitari sekitar komplek.
Mengajak anak anak tentu saja membuat Deon tidak bisa melakukan lari seperti biasa dia lakukan.
Dia harus berhenti beberapa kali guna menunggu kedua bocah tersebut.
"Paman doktet, ternyata lelah berlari pagi pagi" keluh Ade dengan nafas ngos ngosan.
"Lelah tapi tubuh Sehat dan kuat" Jelas Deon.
"Apa nanti kalau kami rajin olah raga memiliki tubuh besar seperti paman? timpal Joy.
",Tentu saja" Jawab Deon dengan mengacak rambut kedua anak itu dengan sayang.
"Tapi paman, aku sudah sangat lelah" keluh ade.
"Kamu cengeng de, aku masih kuat, aku mau punya tubuh besar seperti paman" Ejek Joy.
Mendengar ejekan Joy membuat Ade kembali bersemangat untuk melakukan lari pagi.
Tidak terasa mereka bertiga sudah satu jam berolah raga dan kembali ke rumah.
"Papa, mama, nenek, aunty kami pulang" Teriak Ade dan joy dengan riang.
"sayang, tidak usah berteriak" Istri Sebastian menyambut kedua anaknya.
"Telinga mama bisa pecah mendengarnya" Keluh wanita itu.
"Maaf ma... Tidak sengaja, kami kan lagi senang sudah berolah raga dengan paman dokter" Jawab Ade.
"Paman dokter bilang, kalau rajin olah raga kami akan memiliki tubuh tinggi dan besar seperti paman" Joy ikut menimpali.
" kenapa ingin seperti paman Deon, berarti Papa pendek dan kecil ya" Sebastian ikut menimpali.
Kedua anak itu langsung menoleh ke arah papanya, "Tidak, papa yang terbaik" puji kedua anak itu.
"Dan anak papa yang tertampan" Puji Sebastian pula.
Kedua anak itu langsung senang.
"Selesai olah raga harus mandi terlebih dahulu baru kita sarapan" pesan Sebastian.
"Siap pa" Kedua anak itu langsung bergegas menuju kamar mandi.
"Mereka anak yang baik dan penurut" Ucap Deon ke Sebastian
"Syukurlah kalau mereka tidak merepotkan mu" Jawab Sebastian.
"Tidak kak, saya malah sangat senang bermain bersama mereka".
Deon melihat Sea turun dari kamarnya. Sudah mandi dan rapi tentunya.
"Kak, aku mandi dulu keringat" pamit Deon.
"Baiklah, setelah itu langsung turun kita langsung sarapan, kakak harus ke rumah sakit pagi ini" Pesan Sebastian.
Deon berjalan menuju tangga.
"Kenapa tidak mengajak aku" Tanya Sea dengan cemberut.
"Kamu tidurnya pulas, mana tega membangunkan mu Se" Jawab Deon.
"Se, tunggu sebentar aku mandi kita turun bersama saja" Pesan Deon sebelum masuk ke kamar mandi.
Sea menunggu suaminya sembari memainkan ponselnya.
Lima belas menit Deon keluar dengan melilitkan handuk sebatas pinggang.
Melihat pemandangan itu Sea memalingkan penglihatannya ke arah lain.
"Kenapa tidak berganti di dalam saja mas" Tanya Sea.
"Kenapa?" Tanya Deon.
"Ya, apa tidak risih berganti ada orang" Sea tetap memalingkan pandangannya.
"memangnya kenapa harus risih, bukannya disini hanya istri aku saja" Deon mulai mengerti arah pertanyaan Sea.
"Lihat saja kemari, memang apa salahnya, anggap saja latihan sebelum kamu melihat semuanya" Deon semakin menggoda Sea.
"Apa-apaan sih mas, tidak tahu malu" Cebik Sea.
mendengar itu Deon hanya tertawa, Sea memang menggemaskan kalau sedang cemberut.
Deon segera mengenakan pakaian yang disiapkan oleh Sea.
"Sudah selesai, kita turun sekarang" Ajak Sea.
"boleh, tapi ada yang belum selesai" Jawab Deon.
"Apa lagi" Tanya Sea dan membalikkan tubuhnya menghadap Deon.
"ini" Deon langsung mengecup Kening Sea, kemudian menyambar bibir manis bibir sea.
"Ucapan Selamat pagi dari suami untuk istrinya" Ucap Deon.
Sea kembali merasakan getaran dan deguban jantung yang terpompa lebih cepat.
"Selesai sarapan kita harus kembali ke apartemen untuk berkemas" kata Deon.
"berkemas kemana?" tanya Sea bingung.
"Ares sudah menyiapkan semuanya, jam tujuh malam kita berangkat ke Bali" terang Deon.
"Secepat itu?" tanya Sea pula.
"Anggap saja kita liburan, bukankah kamu juga masih cuti beberapa hari lagi, jadi sebaiknya kita ke sana saja"
"Apa kamu keberatan" Tanya Deon lagi melihat tidak ada jawaban Sea.
"Tidak, aku hanya terkejut saja kenapa tiba tiba" Jawab Sea.
"Tapi bagus juga, sudah lama juga aku tidak liburan" Kata Sea lagi.
Mendengar jawaban Sea Deon tersenyum senang.
"Kita di sana tiga hari, apa terlalu sebentar, apa seminggu saja?" Tanya Deon lagi.
"Tiga hari saja cukup, cutiku juga tinggal empat hari" Terang sea.
Keduanya kemudian turun untuk sarapan bersama keluarga Sea.