
Di rumah Ona, Sea memberondong dengan banyak pertanyaan. Harapan Sea agar bisa segera terlepas dari pernikahannya yang tidak bertujuan jelas itu.
"Jadi kau sudah menikah dengan lawan mu si dokter tampan? " Ona malah balik bertanya ke Sea
"Itu tidak penting untuk dibahas, yang aku butuhkan apa yang kau ketahui malam syukuran di rumah kakakku, maksudku apa kau ada melihat sesuatu yang mencurigakan dari Deon?" Ucap Sea
"Aku tidak melihat apa-apa, hanya saja setelah mengantar kau istirahat, Deon duduk mengobrol dengan kak Sebastian" jelas Ona
"Ona, menurutmu siapa yang berusaha menjebakku, aku tidak punya musuh. anehnya lagi kenapa harus dengan dokter duda itu, tolong aku Ona, bantu aku memecahkan masalah ini, bukankah kita sahabat" Sea sepertinya mulai putus asa
"Kenapa tidak kau jalani saja pernikahan kalian, lama-lama juga kalian pasti menerima, kalian hanya kurang komunikasi, menurutku tidak ada salahnya saling membuka hati, memang apa yang salah dengan dr. Deon?, aku yakin Deon itu orang nya baik" Ona berucap panjang
"Ona, masalahnya kau tau sendiri, aku hanya mau hidup dengan orang yang aku cintai, bukan dengan orang yang tidak suka dengan perempuan, dan kau tau, Si duda itu malah memiliki rencana gila, memiliki anak tanpa menyentuh wanitanya, menikah tanpa komitmen, dan lebih gila lagi dia hanya memikirkan kesakitannya di masa lalu, tanpa memikirkan perempuan yang akan dijadikan pabrik pencetak anak. Dia menganggap wanita hanya pajangan" Sea mengeluarkan segala uneg unegnya
"Astaga,, kok bisa gitu ya Se, Aku jadi ikut prihatin deh Se, tapi kenapa kau tidak mencoba memikat hatinya, buktikan dong kalau wanita itu tidak semuanya penghianat" Ona kembali memberi semangat
"Issshhh.. aku kan bilang mau lepas dari si duda, kenapa kau malah menyuruhku memikatnya." tanya Sea sewot
"Bukankah di awal pertemuan kau bilang dia dokter tampan, kau menggodanya dengan kata kata agar dia kesal, kau tau itu artinya apa, Allah malah mendengarkan kata kata yang kau anggap candaan itu, lihatlah kau sekarang benar benar jadi istrinya Deon, brarti memang kalian jodoh. Hidup ini gak ada yang kebetulan Se, semua karena seizin Allah"
menghela nafasnya panjang, "Lalu, apa yang harus aku lakukan? aku benar-benar bingung Na, aku merasa hidupku dibercandai dengan hal yang paling tidak masuk akal"
"Jangan katakan hidupmu dibercandai, kau hanya sedang dalam masa mengenal siapa sebenarnya suamimu itu, bahkan jika kita diposisi dikhianati pasti tidak akan mudah mengembalikan kepercayaan kepada orang lain, Pecaya padaku Se, belajarlah lebih mengenal Deon, anggap teman misalnya" Ona menggenggam tangan Sea berusaha meyakinkan dan menguatkan Ona.
Berusaha mencerna kata kata Ona, Sea tidak bergeming sedikitpun. sampai Ona kembali berkata,
"Kalian menikah sudah dalam hitungan bulan, cobalah Se berbicara baik-baik, setidaknya mulailah perankan bahwa kau sekarang sudah menjadi istri, hal sederhana saja dulu" Ona kembali memberi saran
"Kalau malah ditolak mentah mentah kan buat sakit hati Na?"
"Se, bukankah mamanya Deon sudah menceritakan masa lalu Deon, itu artinya kau dipercaya bisa mengembalikan kepercayaan Deon, aku yakin mama Deon tau bahwa kau orang yang tepat untuk Deon" Ona berbicara dengan penuh keyakinan
Ona menatap Sea dengan penuh kasih persahabatan. dia juga sebenarnya terkejut dengan pemberitahuan Sea yang mengatakan sudah menikah dengan Deon. Sea yang selalu bertekad tidak mau menjalin hubungan dekat apalagi serius dengan laki laki manapun sebelum menyelesaikan S2nya.
Ona kembali mengingat Sea sering sekali mengatakan "Ona, kau tau setelah aku menyelesaikan S2, baru aku mencoba menemukan laki laki yang baik, dan mencintai aku dan aku mencintainya, aku membayangkan pasti sangat indah"
"Se, kau tidak apa-apa kan? maaf bukan mengguruimu, aku hanya tidak mau, kau mempermaikan pernikahanmu, apa kau mau janda?" Ona yang memang sahabat Sea yang dewasa walaupun tidak beda jauh dengan Sea kalau bicara suka asal.
Mendengar perkataan Ona, Sea terharu.
"Makasih Ona, kau memang sahabatku. Baiklah akan kupertimbangkan apa yang kau katakan, kali ini mendengarkan ocehanmu sepertinya tidak terlalu buru" ucap Sea dengan mata berkaca-kaca. "Aku tidak menyangka, sahabatku benar benar sangat dewasa, makasih Ona" kata Sea tulus, memeluk erat sahabatnya
"Sahabat memang seharusnya begitu, sudah jangan merengut gitu, nanti wajah mu berubah tidak cantik lagi bu guru". Ona menepuk nepuk punggung Sea.
***
Pulang dari rumah Ona, Sea merasa lega. Saran Sea membuatnya sadar kalau dia memang benar-benar istri Deon. suka tidak suka itulah kenyataannya.
Bergegas ke dapur Sea memasak menyiapkan makan malam untuk mereka berdua.
"hmmmm Yummi, sepertinya masakan nasi goreng yang aku buat tidak terlalu buruk" Sea bergumam dengan tersenyum
Namun, sepertinya tafsiran Sea salah. sudah 1 jam menunggu Deon belum juga menampakkan batang hidungnya. sedikit kecewa, Sea memilih makan malam sendiri.
Selesai makan malam, Sea kembali ke kamarnya berniat melanjutkan pembuatan tesisnya.
Membuka laptopnya Sea mulai berselanjar dengan otaknya dan menuangkan lewat jarinya ke keyboard.
Tidak terasa waktu malam kian larut, belum ada tanda tanda Deon pulang. "Sudah jam 12 malam, mungkin dia tidak pulang, sudah lah tidak perlu kupikirkan sebaiknya aku tidur" Sea bermonolog seraya membaringkan tubuhnya tidak lama dengkuran halus terdengar.
Sementara di rumah sakit, Deon merasa sangat bersalah kepada Sea. Melihat kemarahan Sea tadi, Deon memilih kembali ke rumah larut malam. berharap Sea sudah tidur. Dia berpikir Sea tidak akan mau melihat dirinya lagi.
Mengingat apa yang dilakukannya tadi pagi, dengan lancangnya menyentuh bibir Sea dengan bibirnya. entah dorongan dari mana, Deon benar benar tidak bisa mengendalikan dirinya.
Lamunan Deon buyar dengan kehadiran Ares,
"Apa kau tidak pulang,?" Tanya Ares
"sebentar lagi"
Jawaban Deon menandakan Ares juga harus berada di sana sebelum di suruh pulang duluan.
"Duduklah" Deon menyuruh Area duduk
"Apa masalah percakapan kita yang didengar Sea belum selesai? aku minta maaf, kalian jadi semakin ribut" Ares merasa bersalah
menarik nafasnya panjang, Deon memijit pelipisnya.
"kalau kau memang kepikiran sebaiknya minta maaflah" saran Ares
"Aku sudah mencoba tadi, tapi dia semakin marah" jawab deon frustasi
"Deon, hidup seatap dengan Sea, apa kau benar benar tidak tergoda sedikitpun, jangan -jangan..." Area menganga
"Maksudmu apa, sama dengan yang dikatakan Sea, aku gay, tidak suka perempuan, jangan gila, aku masih normal. kau pikir laki laki mana yang tahan tiap hari, tiap malam disuguhkan godaan, aku mati matian menahan. aku benar benar ingin segera lepas dari dia, aku mau hidup tenang" ceracau Deon
"Kau yakin, melepasnya hidupmu semakin tenang. kalian sudah saling dilibatkan satu sama lain. atau kau mau, Sea tiba tiba menemukan lelaki idamannya, Aku sudah pernah bilang. Sea itu bukan wanita sembarangan, kau hanya mengenalnya sekilas, laki laki banyak yang menyukainya, aku sudah mengenalnya jauh sebelum kau berdebat dengannya" Ares menambahkan
Deon merasa tersentil dengan kata kata Ares, dia memang tidak berusaha mengenal Sea dengan baik.
"Sea, apa dia memiliki sahabat laki-laki" Tanya Deon
"Aku salah satunya. setahuku sea berteman dengan semua orang karena dia memang orang baik, tapi kalau laki laki yang menaruh hati pada Sea, jelas aku tahu, banyak, banyak sekali malah" Ares memanasi hati Deon
Mendengar perkataan Ares, Deon merasa kesal.
"Sebaiknya kita pulang, telingaku sakit mendengar kau berbicara terus" Kata Deon berusaha menyembunyikan kekesalannya.
mengingat kejadian tadi, lembutnya bibir Sea, Deon mendesah gusar. Bayang bayang Sea yang selalu berbicara tanpa jeda, cerewet dan suka berdebat berkeliaran di pikiran Deon.
Deon yang akhir akhir ini selalu berusaha pulang lebih awal. Tanpa Deon sadari perdebatan setiap bertemu dengan Sea telah membuat Deon memiliki arah untuk pulang.