
"ah betapa leganya” wajah berseri dan senyum manis terpatri jelas di wajah Sea sambil merentangkan tangannya begitu keluar dari ruangan pengelola program studi.
Meski harus tidur larut, bahkan terkadang sampai pagi Sea akhirnya menyelesaikan seluruh rangkaian dalam pembuatan tesisnya, dan telah di acc oleh dosen pembimbingnya.
Sesuai dengan persyaratan setelah selesai seluruh rangkaian pembuatan tesis mahasiswa wajib menyerahkan naskah tesis Satu minggu sebelum ujian tesis.
"Malam ini sepertinya aku bisa tidur tenang" begitu pikiran Sea seraya meninggalkan area kampus. Selama 3 bulan ini benar benar sea tidak memiliki waktu istirahat yang cukup, sehingga nampak kantung mata Sea seperti mata panda.
Mobil Sea memasuki area Apartemen mewah Deon yang sekarang berstatus suaminya. memarkirkan mobilnya Sea segera masuk, dia sudah tidak sabar untuk beristirahat.
Memasuki kamarnya, Sea melempar ranselnya sembarang dan menjatuhkan tubuhnya di ranjang empuknya. tidur itu yang di pikirannya sekarang.
Tidak berselang lama dengkuran halus dari Sea sudah keluar dengan teratur.
***
Rumah Sakit Permata Bunda
Deon memijit pelipisnya. Berkutat dengan berkas benar - benar membuatnya kelelahan.
Empat bulan sudah pernikahannya dengan Sea. Perdebatan yang selalu membumbui setiap mereka berdekatan sepertinya menjadi sebuah kebiasaan baru bagi Deon.
Namun, dua bulan belakangan ini Deon merasa kehilangan keributan yang Sea buat. Semenjak mereka bertengkar, mereka seakan mengatur jarak. Bahkan Sea saat ini memilih untuk pindah dari kamar Deon yang selama ini mereka tempati bersama.
Sea yang lebih banyak menghabiskan waktunya di kamarnya sendiri. Tidak jarang Deon berpura pura lewat di saat pintu kamar sea masih terbuka, namun Deon hanya melihat Sea duduk menghadap laptop.
Memang, mereka sudah sama - sama meminta maaf. tetapi nyatanya tidak membuat mereka makin dekat, malah semakin canggung.
Deon pikir Sea berusaha menghindar padahal nyatanya Sea sibuk dengan tesisnya, Sea tidak ingin waktunya terbuang sia sia.
Deon mendesah pelan, dia rindu dengan celetoh perempuan itu. Seperti orang frustasi Deon menyandarkan punggungnya dan menatap langit langit atap ruangannya.
"Bekerja terlalu lelah membuat otakku memikirkan wanita itu, ia aku hanya kelelahan" Deon berusaha menyangkal.
Namun, nyatanya Kakinya melangkah keluar dari rumah sakit menuju parkiran dan pulang ke apartemennya. Sesampainya, dia melihat mobil Sea sudah terparkir,
"Tumben sekali dia sudah pulang" Deon berbicara sendiri, tanpa sadar senyum terbit di bibirnya.
Memasuki apartemennya, Deon mengedarkan pandangannya Deon melihat pintu kamar Sea ditutup, tidak ada suara sama sekali, sepi.
mengambil kunci cadangan, Deon membuka kamar Sea dan pandangannya tertuju pada Sea.
Sea tidur dengan sangat pulas selama 3 jam.
Perlahan kakinya mulai mendekat, "sangat cantik meskipun saat tidur", namun diralat kembali "lumayan cantik" Deon bermonolog.
mengamati wajah Sea, pandangan Deon terusik dengan kantung mata Sea
"memangnya apa yang dia lakukan, kenapa jadi mata panda begini, apa dia tidak tidur setiap malam?" Deon bertanya tanya, tangannya terulur menyetuh rambut yang menutupi wajah Sea.
Tanpa Deon sadari tangannya kini mengelus elus rambut Sea. Ada rasa menyesal, tidak berusaha mengenal Sea dengan baik. sekelebat pikirannya membuatnya semakin khawatir, "Apa Sea begitu frustasi hidup denganku, sehingga kelihatan sekali tidak bisa tidur?" Deon menduga duga
"Jika sampai terjadi sesuatu yang buruk pada Sea, maka akulah yang patut disalahkan bukankah sekarang aku suaminya, berarti dia tanggung jawabku"
Sea merasa terusik dengan sentuhan Deon, ditambah perutnya yang lapar. Sea sudah melewatkan makan siangnya dengan tidur.
Membuka matanya, Sea terkejut melihat tangan Deon menyentuh kepalanya. "Apa yang kau lakukan, kenapa kau masuk kekamarku, apaan kau menyentuh kepalaku?"
Pertanyaan Sea menyadarkan Deon dari lamunannya. Dengan segera menarik tangannya, Dengan gelagapan deon menjawab,
"Aku kira kau kenapa, tidak ada suara sama sekali, makanya aku masuk pakai kunci cadangan, jangan besar kepala, aku hanya memastikan keadaanmu baik baik saja, Ya sudah aku keluar karna sepertinya kau baik baik saja" Deon berniat keluar. Namun langkahnya tertahan mendengar bunyi perut Sea.
"Kau tidur seperti kebo, sampai kelaparan, tunggulah aku pesan makanan" ucap Deon
Sea menatap Deon dengan heran "Apa kau salah makan, kenapa kau tiba tiba perhatian padaku?"
"ckk.. sudah kubilang jangan besar kepala, bukankah cacing diperutmu sudah berdemo" balas Deon
Selesai memesan makanan untuk Sea, Deon beranjak keluar.
"Terima kasih dokter duda" teriak Sea yang masih sangat jelas di dengar deon.
Tanpa membalasa teriakan Sea, Deon menuju kamarnya dengan senyuman menghias bibirnya.
Bel apartemen berbunyi, Deon segera beranjak. Benar saja, makanan yang dipesan sudah datang.
"Makanannya sudah datang, makanlah ini sudah sore, bukan makan siang lagi" Deon menghampiri Sea ke kamarnya yang baru selesai cuci muka.
"kenapa harus di bawa kemari, aku kan bisa keluar" Kata Sea sambil menerima dari deon
"sudah tidak usah cerewet makan saja, mumpung aku berbaik hati" Jawab Deon sambil tersenyum
Deggghh.. Jantung Sea berdetak. baru kali ini dokter duda ini tersenyum padanya. sungguh, kadar ketampanannya kian meningkat. Namun, segera Sea menetralkan detak jantungnua walaupun susah.
"wah dokter duda, kau bisa tersenyum, sepertinya benar, kau benar benar salah makan, jangan jangan kau ketularan penyakit dari pasienmu"
"Kau menyumpahiku ketularan penyakit, benar benar" perkataan Sea membuat Deon kesal
"Akukan hanya bercanda, aku kapan makannya, kalau kau ajak aku ribut terus?" Sea merengut
"Ya sudah makanlah, jangan cerewet lagi" jawab Deon
Deon mendudukkan dirinya di kursi. Memandangi Sea yang makan dengan lahap.
"Makanlah perlahan, kau seperti tidak makan bertahun tahun" mulut Deon benar benar tidak bisa berhenti berbicara melihat cara Sea makan yang terburu buru.
Sea mengabaikan Perkataan Deon, yang penting perut segera berisi begitu dipikirannya.
menenggak air minum yang disediakan Deon, Sea benar benar merasa kenyang.
"kenyangnya, sebenarnya makanannya tidak terlalu enak, tapi karena lapar aku menghabiskannya, lagiam kau sudah berbaik hati, jadi tidak baik kalau aku tidak menghabiskannya" Sea berkata sambil mengangguk anggukan kepalanya.
"Kalau mau bilang terima kasih, nggak usah berbelit belit begitu, aku tau kau mau bilang trima kasih" jawab Deon memutar matanya malas
Mendapati jawaban Deon Sea hanya tertawa.
"mmm apa yang kau kerjakan akhir akhir ini" Deon membuka percakapan
"Maksudnya?" Sea tidak mengerti
"Maksudku, kenapa kau betah sekali di dalam kamar, dan lagi kenapa lingkaran kedua matamu seperti mata panda" tanya Deon
"Apa separah itu?" Sea tiba tiba bangkit dan menuju kaca rias di kamarnya. Dan benar saja mata panda benar benar berpindah ke matanya.
"sepertinya ini akibat bergadang, menunggu balasan chating seseorang" jawab Sea asal sambil tertawa
Mendengar jawaban Sea, Deon kecewa Sea ternyata sudah punya seseorang yang dekat.
Tanpa membalas jawaban Sea, dia keluar meninggalkan Sea. Sea heran "Apa yang salah dengannya kenapa tiba tiba pergi begitu saja? dasar dokter duda aneh" Sea berbicara sendiri.