Love is Never Wrong

Love is Never Wrong
Bella datang lagi



Deon Berjalan bersama dengan Ares, keluar dari gedung Perusahaan Dark Company. sesuai perjanjian kerja mereka mulai melaksanakan kerja sama.


Perusahaan besar dengan puluh ribuan karyawan di dalamnya berhasil mengikat kontrak kerja sama dengan rumah sakit milik Deon.


Pembicaraan dengan CEO perusahaan tidak memakan waktu yang lama, karena sang CEO sudah terlebih dahulu mempelajari informasi tentang Deon dan seluk beluknya termasuk pelayanan dan fasilitas kesehatan yang ada di dalam rumah sakit milik Deon.


"Paman Johan pasti semakin bangga dengan semua pencapaian yang kamu peroleh saat ini" Puji Ares.


"Tanggung jawab harus dikerjakan dengan sungguh-sungguh, bukan?" Jawab Deon


Mereka kemudian meninggalkan perusahaan Dark Company dan kembali ke rumah sakit.


Mereka sampai di rumah sakit menunjukkan pukul dua belas siang.


"Aku sudah pesan makan siang, sebentar lagi pasti sampai" Ares memberitahu Deon.


"Baiklah, setelah makan siang aku harus ke ruang operasi lagi" Jawab Deon.


"Kenapa, apa ada masalah" Tanya Ares, karena sepengetahuannya sudah ada penambahahan Dokter obgyn dan dokter lainnya.


"Tidak ada masalah, hanya saja pasien ini hanya ingin ditangani oleh saya" Jawab Deon memberitahu.


"Oohhh, Apa aku harus ikut membantu?" Tanya Ares lagi.


"aku rasa, Tidak perlu sudah ada tim yang membantu aku" Jawab Deon.


Ares yang memang masih menyandang dokter umum, sudah beberapa kali Deon menyarankan agar memgambil spesialis namun Area beralasan masih betah menjadi asisten dokter Deon.


Ketukan pintu menjeda perbincangan ringan mereka,


"Sepertinya pesananku sudah datang" Ares membuka pintu dan mengambil pesanannya.


"Ayo kita makan sekarang, aku sudah lumayan lapar" Ajak Ares.


"Baiklah" Deon kemudian duduk bergabung dengan Ares di sofa.


Mereka makan tanpa banyak berbicara.


"Aku ke ruangan praktek sebentar ya, sekalian mengecek kondisi pasien" Ucap Deon begitu selesai makan


"Apa kamu tidak beristirahat sebentar bukankah masih di jam tiga jadwalnya"Tanya Ares.


"Hanya sebentar, kalau kau ingin istirahat kau boleh istirahat dulu" Balas Deon.


"Baiklah" Ares meregangkan otot ototnya yang kaku.


Deon berjalan menuju ruangannya, namun belum membuka pintu dia sudah dihadang Bella.


Entah sejak kapan dia berada di situ.


"Kenapa kau ada di sini?" Tanya Deon. Raut wajahnya menunjukkan ketidak sukaannya.


"saya sudah katakan, sudah tidak perlu lagi untuk menemui aku" Ucap Deon dengan penuh penekanan.


Bella tak habis akal, begitu Deon membuka pintu ruangannya secepat kilat dia mengikuti langkah Deon.


"Apa mau mu, silahkan keluar, saya tidak ingin diganggu" Deon mulai mengusir Bella


"Tidak mau, aku ingin berbicara denganmu, apa kau tidak dengar"


Deon mengembuskan nafasnya dengan kasar.


"Katakan apa yang ingin kau katakn, setelah itu segera keluar" Perintah Deon.


Bella mengangkat wajahnya dan menatap Deon dengan tatapan memuja


"Aku ingin kita kembali, aku ingin kita bersama seperti dulu lagi" Air mata Bella ikut mengalir


"Apa maksudmu" Deon terkejut


"Ya, aku masih sangat mencintaimu, aku tahu kaupun sebenarnya masih sangat mencintai ku, maksudku waktu itu kau hanya emosi" Ucap Bella lagi


Deon semakin murka dan memandang Bella dengan pandangan menjijikkan.


"Aku tidak akan memungut apa yang sudah menjadi barang bekas, apalagi sudah sempat dipergunakan orang lain" Deon berkata dengan tatapan tajam.


"Tidak, aku tidak percaya kau sudah melupakanku, kau pasti berbohong, Tinggalkan wanita yang kau akui sebagai istri, aku akan menjadi istri yang baik untukmu" Suara Bella sedikit mengeras dan kian memaksa Deon


"Tutup mulutmu, aku tidak mengizinkanmu menyebut atau menyinggung sedikit pun tentang istriku" Sarkas Deon dengan tangan mengepal.


"Berani sekali kau, silahkan keluar atau aku menyuruh petugas menyeretmu keluar" Deon semakin murka.


Bella tergugu dengan perkataan Deon yang penuh penekanan.


"Sial, sepertinya wanita itu sudah benar benar merebut Deon dariku" Batin Bella lagi


""Keluar!" Bentak Deon lagi.


Suara Deon yang keras membuat Bella terkejut.


"Kamu benar-benar sudah melupakanku" Bela mulai mengeluarkan air matanya.


"Tidak hanya melupakanmu, aku bahkan tidak ingin sedikit pun mengingat tentangmu dalam hidupku, sekarang keluar!" Perintah Deon lagi.


Mau tidak mau Bella dengan perlahan keluar dari ruangan Deon.


Senyum sinis terbit di bibirnya.


"Enak sekali wanita itu, kalau aku tidak bisa mendapatkan Deon maka diapun juga tida akan bisa"


Memandang gedung bangunan rumah sakit milik Deon "ini seharusnya menjadi milikku, sialan kau Alex semua ini gara - gara kau"