Love is Never Wrong

Love is Never Wrong
Rencana dan Harapan



Akhirnya kedua insan itu mengakhiri kegiatannya.


"Semoga dia segera tumbuh di sini" Deon mengelus perut Sea yang masih rata.


"Apa mas benar-benar sangat mengharapkannya?" Tanya Sea


"Tentu saja, Bahkan jika Tuhan mengizinkan aku ingin memiliki anak lebih dari dua" Ucap Deon penuh harap.


"Ckk.. bukankah mas itu seorang dokter, menghimbau agar cukup dua anak"


"Ya sudah kalau begitu, ayo kita buat sebelas anak seperti apa yang kamu katakan waktu itu" Deon kembali menggoda Sea.


Sea mengerucutkan bibirnya dengan tajam. sungguh dia kesal dan malu mengingat kelakuannya di awal mereka bertemu.


"Apa kamu setuju" Deon kembali bertanya dengan senyum menghiasi bibirnya.


"Apa hamil dan melahirkam semudah itu" Sea menggelengkan kepalanya.


"Hahahaha" Deon tidak bisa menahan tawanya melihat wajah bingung Sea.


"Aku hanya bercanda sayang, berapa pun di kasih aku akan sangat bersyukur," Ucap Deon.


"Yang pasti, hidup bersamamu hingga kita menua bersama tanpa ada perpisahan itu harapan terbesarku" Tambah Deon.


Sea mencerna akan setiap perkataan Deon. Setiap perkataan menyiratkan cinta yang besar dan takut kehilangan.


"Tuntun aku agar bisa menjadi istri yang baik, mari kita saling melengkapi akan segala kelebihan dan kekurangan kita". kata Sea kemudian.


"Bahkan ketika ada masalah, jangan pernah mengambil keputusan ketika dalam keadaan marah ataupun ketika pikiran tidak dalam masa jernih" Tambah Sea lagi.


"Aku akan selalu berusaha berbicara terbuka agar kita bisa menjalani apapun dan bagaimanapun keadaan yang akan kita jalani ke depan" Ucap Deon.


"Kadang lelaki lebih mengedepankan emosi berbeda dengan kalian perempuan yang selalu menggunakan perasaan, dan aku tidak ingin menjadi lelaki seperti itu" Ucap Deon.


Sea memandang wajah Deon dengan seksama. Tentu saja dia bahagia dengan semua harapan Deon.


"Satu lagi, aku paling tidak suka penghiatan, Jika suatu saat kamu sudah bosan lebih baik katakan secara langsung, dari pada kamu berkhianat" Ucap Sea tiba-tiba


"Jauhkan pikiran seperti itu, ketika hati dan tubuhku sudah bersama mu maka kapan pun aku tidak akan pernah menghianatinu" Balas Deon dan mengecup kening Sea.


"Sama dengan mu, aku pun tidak suka penghianatan, Jangan pernah berniat ataupun mencoba melakukannya"


"Tidak akan mas, manusia dipertemukan bukan karena hanya kebetulan tetapi takdir dari yang Maha kuasa, ketika dipersatukan dengan tidak terduga itu artinya kita memang jodoh yang sudah diatur olehNya" Sea kian mengeratkan pelukannya.


Setelah hubungan mereka mulai menghangat Deon mulai mencari sebuah rumah yang cocok mereka tempati.


Dia membeli sebuah rumah di salah satu perumahan elite terbesar yang tidak terlalu jauh dari tempat Sea mengajar dan memakan waktu hanya tiga puluh menit ke rumah sakit miliknya.


Yang Deon pikirkan, dia tidak ingin Sea terlalu lelah untuk pulang pergi ke tempat kerjaannya.


Menurut Deon, istrinya adalah rumahnya. untuk mewujudkannya dia harus memberikan hunian yang lebih nyaman lagi.


Bukan karena apartemennya tidak nyaman, melainkan dia merasa keluarga yang dibina membutuhkan rumah dengan nuansa yang berbeda.


"Benarkah?" Terima kasih sudah memikirkan sampai sejauh itu" Sea tidak bisa lagi berkata-kata.


"Harapan terbesarku adalah menikah dan mempunyai suami yang memperlakukanku dengan sayang, tetapi Tuhan memberikan aku suami lebih dari yang aku minta" Ucap Sea dengan tulus dan haru.


Keduanya saling menatap dengan dalam, janji itu benar-benar meresap ke dalam hati mereka.


"Sayang, aku tidak menyangka kamu benar-benar wanita yang sangat bijaksana" Deon benar mengagumi akan pemikiran Sea.


"Dan aku juga sangat mengagumi suamiku yang sedikit tampan ini, aku benar-benar menjadi wanita yang beruntung" Balas Sea pula.


"Hanya sedikit?, apa benar sedikit?" Deon tiba - tiba menggelitiki pinggang Sea.


"Ahhh ampun mas ampun, geli" Sea tertawa dengan lepas karena rasa geli yang dibuat Deon.


"Tidak akan" Deon semakin menggelitiki Sea.


Tidak terkira lagi bagaimana berantakannya sprei tempat tidur mereka, bantal yang berjatuhan.


"Mas ampun, Ia suamiku yang tertampan" Sea mengaku kalah.


"Benarkah" Tanya Deon lagi dan menghentikan gelitikannya namun tidak melepas pegangannya dipinggang Sea.


"Ia suamiku yang tertampan, sangat tampan dan baik" Sea menyerah.


"Ya dan aku tahu itu, tanpa kamu katakan aku sudah tahu jawabanmu akan seperti itu" Deon tertawa penuh kemenangan.


Malam ini mereka banyak berbicara, bercerita dan harapan mereka ke depannya.


Harapan mereka adalah bisa hidup bersama dan berdampingan hingga maut yang memisahkan kelak.


Mereka tertidur dengan saling memeluk erat.